Surat Untuk Aprilia

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Puisi
dipublikasikan 19 Februari 2016
Surat Untuk Aprilia

Hai Manis,
Aku langsung saja memberikan kabar untukmu tentang diriku.
karena semenjak beralih di tempat kerja seperti ini,
sulit sekali membedakan kapan terbit matahari dan terbenamnya.
Ah, Semoga tak demikian di ruang kamarmu,
seperti yang aku tanyakan sedari dulu pula,
?apakah kau masih sering lupa menutup tirai jendela saban malam??
seandainya aku di sana pun tetap akan sama keadaannya,
mungkin itu pula yang menyatukan binar pandangan matamu
dengan butanya hatiku yang berjatuhan.
Diluar jendela banyak cahaya taman, juga kunang-kunang.
Aku jadi rindu menggoda para penjaja makanan,
pasangan muda-mudi saat curi-curi waktu untuk mengaitkan bibir-bibir mereka,
dan penjaga malam yang lari tunggang langgang
lantaran merasa tak ada mahluk secuilpun yang nampak,
tapi hanya mendengar suara-suara kita berdesis.

ya, aku baik saja,
mengkin perlu sedikit berbenah di sana-sini,
merapikan beberapa sudut ruangan,
menata dokumen dan
tentu saja memajang foto kita
berdua.

Sayang,
beberapa kali aku terserang flu,
Cuaca makin tak menentu,
untungnya aku tak pernah lupa membawa syal pemberianmu.

Dan ya, Ada tempat yang pasti kau suka,
meskipun taman disini tak saja hijau seperti di kota kita,
tapi banyak bunga ditanam dan tumbuh baik;
merah, kuning, ungu, merah muda, biru, jingga kesukaanmu,
dan entah berapa lai, aku kurang mengingatnya.
Andai saja aku bisa mengajakmu sesekali, berjalan mengitarinya,
lalu duduk di kursi kayu mahoni.
Menikmati sore,
Menunggu Lampu-lampu taman menyala.

Ha, ha, ha?terkadang tempat ini sering mengingatkanku pada saat pertama kali
aku menyatakan cinta padamu, tapi aku tak akan membahasnya,

Sayang,
Hanya di akhir minggu aku bisa beristirahat dari tekanan pekerjaan,
membunuh waktu di depan televisi, menonton Oprah,
memasak pancake apel dan menenggak sekotak susu bebas lemak,
atau menghabiskan sore berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya.
Di sini banyak sekali penjual barang antik, cenderamata, depot-depot makanan, kedai kopi,
dan tentu saja bagian yang paling kita suka?
Toko Bunga.

Minggu depan aku pulang,
aku sudah teranjur memesan tiket.
sudah pula sebuket bunga untukmu,
aku paksa si penjual merangkaikannya sebaik mungkin,
kubilang padanya ?aku ingin kekasihku sampai ?melongo? ketika melihatnya?
Aku pilihkan tulip warna-warni, krisan sebagai penghias lingkarnya,
dan akar-akar hijau muda yang aku sulit sekali mengeja namanya,
dibungkus kertas ketela warna gading.

Dan cantik,
aku tak bisa berlama-lama menulis surat ini,
pekerjaan sudah menunggu, berkas menumpuk seperti tai kebo,
Tunggu saja aku pulang sayang,
nanti pasti kubersihkan tiap milimeter pusaramu,
akan aku cat ulang paduan jingga seperti kue lapis...

  • view 124