NAMAKU RATRI

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 April 2016
NAMAKU RATRI

Namaku Ratri, adalah hal yang lumrah jika orang-orang takut padaku. Meskipun beberapa lelaki sering terhenti oleh waktu saat kami bertatap mata atau melihatku melenggang melewati gang-gang kampung. Ini adalah tahun kelima aku menekuni pekerjaan ini, memberikan kebahagiaan kepada siapapun yang membutuhkannya. Dan ini adalah yang kesekian kali beberapa pria menyatakan cintanya padaku, seringkali juga dengan sedikit paksaan dan sikap kasar, meskipun aku selalu saja bisa menampik dan lari dari mereka. Bukannya aku terlalu pemilih dalam sebuah hubungan, hanya saja caraku memahami perihal asmara tak akan mampu mereka pahami, anggap saja itu pengalaman terburuk untuk tiap hati yang berjiwa, bahwa dalam mengarungi sebuah tubuh tak akan selalu menemukan makna akan persetubuhan, betapapun lelah dan keringat mereka membuatku seakan mengapung di samudra malam, apalagi menyelaminya.
Dengar  saja suara rintihan mereka, saat meronta, mengejan dan eforia menggerogoti logikanya. Lalu saat pedangnya telah terhunus dan menumpahkan kemenangan dalam peperangan mendadak mereka lunglai dan melupakan sumpah-sumpahnya. Meninggalkanku terdampar bugil di kamar lembab penuh benih-benih kehidupan.

Namaku Ratri, mungkin ini adalah minggu terakhir aku mendekam dalam rumah kontrakan yang lebih mirip kemah pengungsian, obat dari mantri masih tinggal beberapa butir dalam plastik, kakiku terkadang seakan mati rasa, kain lap harus sering diperas denagn air agar bersih untuk membasuh cairan yang lumer dari selangkangku, berwarna kuning kehijauan dan kadang bercampur darah bening. Tiap malam para langganan hanya melirik sebentar saat melewati teras rumah lalu melenggang cepat mampir ke tetangga, mereka berbincang sambil seringkali melihat ke arahku dan sesekali menutup hidungnya.

Namaku entah, melonggok isi dompet berisi lembaran uang ribuan, memandang meja mahoni, tumpukan kain perca, dan telepon genggam yang hampir kehilangan daya, tanpa ada pesan atau panggilan masuk. Aku rebahkan tubuh perlahan dia atas ranjang, menyaksikan plafon seakan tembus pandang, langit biru tua, bintang jatuh, dan wajah kanak-kanak pergi sekolah melewati pematang sawah, aku mengikutinya, menyanyikan lagu-lagu daerah, melewati jembatan panjang berwarna coklat tua, coklat muda, kuning gading, putih...
semakin benderang dan membutakan.