GUNDUL-GUNDUL PACUL

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 April 2016
GUNDUL-GUNDUL PACUL

"Gundul gundul pacul-cul, gembelengan

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar?"

(Sunan Kalijaga)

Pada saat masih kecil seringkali saya dan kawan-kawan menyanyikan lagu ini baik kala senggang dan saat melakukan beberapa permainan yang menyenangkan di ?tegalan?, sebuah lahan kosong bekas panen palawijo.

Para orang tua siring waktu juga mengajarkan syair ini kepada anak turunnya, jadi intinya tak hanya menjadi kebiasaan, bahkan dalam beberapa periode hingga hari ini-pun masih banyak dijumpai di desa-desa yang mengajarkan syair ini menjadi lantunan lagu sehari-hari.

Entah karena iramanya menyenangkan, ceria, atau lirik yang lucu manakala disuarakan, atau memang ada makna khusus di dalamnya yang harus ditularkan kepada generasi baru untuk akhirnya menelaahnya lebih jauh.

Dari hasil obrolan dengan beberapa kawan dan sesepuh yang hampir separuh hidupnya menyelami filosofi perihal budaya lokal. Ada beberapa pejelasan mendalam terhadap makna dan arti yang disampaikan oleh kanjeng sunan Kalijaga saat itu. Yang jelas adalah adanya pengaruh situasi politik saat itu yang memang harus selalu dikritisi.

Gundul-gundul pacul-cul, gembelengan

memiliki makna kepala sebagai lambang mahkota dan kehormatan atau harga diri, dan gundul adalah kondisi dimana tanpa memakai mahkota-pun yang sebenarnya. Atau kehormatan tanpa mahkota.

Pacul adalah lambang ?wong cilik? dimana petani dianggap sebagai kaum bawah. Jadi menjadi pemimpin haruslah membawa pacul untuk mencangkul, bukannya mahkota untuk sekedar bergaya.

Gembelengan artinya sombong, besar kepala dan suka bermain-main dalam melaksanakan tanggungjawabnya.

Nyunggi wakul, adalah membawa wadah nasi,

Wakul Sebagai simbol sumber daya, kesejahteraan. Juga sebagai penggambaran kesejahteraan hidup. Seorang pemimpin harus mampu menopang kesejahteraan rakyatnya.

Wakul ngglimpang, segone dadi sak latar

(Bakul terguling dan nasinya tumpah ke mana-mana)

Jadi intinya adalah jika seorang pemimpin bermain-main dalam kepemimpinannya,? pada akhirnya akan menafikkan kesejahteraan rakyatnya.


(terinspirasi dari beberapa sumber dan artikel)