RAPUH

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 22 Maret 2016
RAPUH

Telah tumbuh keyakinan besar di dalam tiap hati masyarakat kami, bahwa suatu kekuatan terbesar hanya mampu kita rasakan, seperti halnya aksioma, bahwa dari menutup mata dan semedi dalam kekhusukan kita mampu bertemu dengan kesejatian. Sang maha besar adalah ketidakmampuan kami untuk menjelaskan secara gamblang apalagi visual berupa materi keber-ada-an. Sang maha besar-lah yang justru hadir dengan sendirinya meskipun pada awalnya merupakan hasil olah pikir sederhana, pencarian-pencarian kecil, dan keajaiban-keajaiban yang tak pernah tuntas dijabarkan pula.

Hingga kata-kata ini dituliskan, kegundahan adalah pengganti makan pagi dan kopi, tak lagi dibutuhkan. Entah terlalu peka untuk mencerna, atau terlalu besar ego dibudidayakan saat memikirkan sekitar.

Masa kecil kami telah habis di jalanan tanah berlumpur, ladang hijau, bunga 'kecrutan' dan akasia yang gugur daunnya mampu menyumbat pematang. Kabut tak segan mampir saban pagi dan petang, dan rimbun bambu menyimpan banyak rahasia di sela-selanya. Jika kita berenang di bening sungai, terlihat di dasarnya kerikil-kerikil kecil, pecahan batu sedimen, ikan warna-warni, lumut yang menari-nari, bayangan sendiri, juga sesekali ampas kuning dari kamar mandi umum. Dan manakala hujan menyerbu, kami menengadah ke langit, memandu daun-daun purba dan menghiasi genangannya dengan wajah-wajah riang. Kami tak takut kebasahan, karena semenjak lahir ibu selalu menembangkan kebahagiaan turunnya hujan.

Tiga dasawasa setelah itu, jalanan sudah penuh sesak, tak lagi laju sapi dan pengiring bebek. Kini kendaraan dengan berbagai label saling menunggu antrian. Udara juga penuh warna, kuning, abu-abu hingga menyaingi pelangi. Tapi tak sedikit pula dari kami masih di pematang, memandang gunung, dan menancapkan benih-benih baru untuk makan esok hari. Dan di tiap kisi jalannya; pohon-pohon trembesi, kamboja, furing, dan jenis-jenis yang menumbuhkan buah-buahan.
Karena biru atau tak, langit telah diwariskan untuk kita jaga warnanya, begitu pula tanah yang terpijak, harus tetap dipaksa menumbuhkan harapan-harapan baru. Benih hidup, bukan saja gedung-gedung menanjak ke angkasa, semen, besi, bata, dan sampah-sampah beton, plastik dan apapun. Meskipun pada awalnya dilahirkan dari tanah ini juga.

Semestinya kami akan selalu bersama, bergandengan hati, mengutarakan tujuan yang sama, tanpa salah kaprah apalagi jalan. Pegangan begitu rapuh, apapun sandarannya, keyakinan telah runtuh perlahan-lahan, hanya terkadang kami begitu merindukanNya kala terhimpit, berkeluh kesah dan galau tak tertahankan. Setelah menangis tersedu, tersenggal, lalu kembali riang untuk lupa diri sekali lagi.

  • view 74