TEKAD

TEKAD

Donny coffeeaddict
Karya Donny coffeeaddict Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 21 Maret 2016
TEKAD

Kini saya mulai mengerti alasan lik Jafar menolak lamaran kerja mas Yuli di bengkel miliknya. Waktu itu saya masih kelas 2 SMP dimana lingkungan sekitar dipenuhi usaha pembuatan gerabah, keramik dan berbagai barang seni juga kerajinan dan menjadi salah satu sentra industri kecil terbaik di Jawa Timur bahkan banyak yang mengatakan jika sebagian besar produk dari kampung ini telah diekspor ke beberapa negara di asia dan eropa.

Lik Jafar merintis karirnya sejak menjadi tukang angkut tanah liat, penjaga oven, tukang cetak gips hingga dengan tangannya sendiri mampu membuat guci air berlukiskan motif cina dan wayang yang kemudian menjadi laris di pasaran hingga pesanan mulai berdatangan.
Kini ia membuka sendiri bengkel pembuatan keramik kecil-kecilan di ruang tamunya yang ia sulap menjadi seperti toko oleh-oleh. Satu bagian tembok ia ganti dengan kaca bening, lalu memasangkan diantara sisinya sekat-sekat kayu yang hampir menyerupai rak buku dan memajang beberapa hasil karyanya; vas kecil, mug kopi, asbak, miniatur hewan, boneka jepang, dan bentuk-bentuk aneh namun enak dipandang. Dan ruang kerja produksi ia tetapkan di tanah belakang rumah yang sebelumnya berisi semak dan tanaman hias. Dipasangnya kanopi sebagai peneduh, beberapa rak alat-alat dan 'amben' untuk istirahat.

Semenjak usahanya mulai berjalan mulus, beberapa tetangga mulai menawarkan diri untuk ikut membantunya. Sebagian memang telah ia ajak terlibat di dalamnya; Lek Sigit yang dulunya bekerja di toko bangunan ia pekerjakan menjadi sopir pengantar pesanan, Mas Bambang dan Andre yang menjemur hasil cetakan dulunya juga bekerja di pabrik yang sama, Ibu Sum tukang jahit kebaya kadang membantunya mengecat boneka keramik kecil dan sederhana, dan Sofyan anak bu Sum yang hobi menggambar kadang membantu ibunya menyelesaikan detail bagiannya.
Tapi Yuli, yang masih keponakan lik Jafar sendiri tak pernah sekalipun mendapatkan kesempatan bekerja di bengkel miliknya. Kalaupun memaksa, ia hanya mendapatkan jatah membersihkan rak dan menata kiriman bahan baku di ruang belakang.

Pernah sekali Yuli diberi tugas membantu Sofyan menyelesaikan pesanan suvenir pernikahan yang akhirnya hampir separuhnya tak dibayar oleh pemesan sebab tak sesuai contoh. Lalu gelas teh dengan ukiran bunga, patung gajah, sampai 'kepeng' gerabah pelengkap upacara siraman juga mengalami nasib serupa....