THE GUARDIAN JOB #Dia Jonas

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 November 2017
THE GUARDIAN JOB #Dia Jonas

Kilatan cahaya di gelapnya malam berkali-kali saling menyambar. Air masih menetes dengan ritme yang sama dari langit. Tak begitu deras namun kelamnya awan membuat suasana begitu dramatis. Bahkan kerlap kerlip bintang pun enggan menyorotkan sinarnya. Binatang malam saling sahut sejak matahari menggelinding ke arah barat, namun tiba-tiba senyap. Lembah itu kini hening dan hanya hembusan angin yang kian kencang menggema di dindingnya.

            Kelebat sosok manusia bertubuh tegap melompat dari celah dinding lembah. Hinggap sesaat di bebatuan cadas hingga akhirnya berhenti diatas lembah. Beridiri tegap menantang malam. Siluet wajah tegas dengan rahang kokoh dan lekuk hidung bengkoknya mempertajam pancaran aura sadis nan mengerikan. Sorot mata hitamnya – iris, pupil dan sklera yang berwarna hitam, menyisir seisi lembah seolah ia tengah mencari sesuatu.

            Dialah Jonas. Sosok yang paling ditakuti oleh Kim. Secara fisik Jonas pun sama dengan manusia di bumi. Hanya saja matanya sedikit berbeda layaknya Kim. Siklus hidup Jonas sangat pendek. Ia adalah salah satu penduduk dari Galaksi Black Eye yang ditakdiran memburu Kim untuk memperpanjang kelangsungan hidupnya. Jonas terlahir normal. Saat usianya beranjak remaja dan takdir yang telah memilihnya sebagai seorang Jonas, membuatnya jatuh tertidur dan tak pernah bangun lagi hingga batas usianya 25 tahun. Sampai ada seorang manusia dari galaksi Kim yang membangunkannya. Namun jika sampai batas usianya tak ada yang membangunkan Jonas, maka Kim akan aman. Sampai pada beberapa ribu tahun lagi takdir yang sama terulang pada keturunan heterochromia di galaksi Kim.

Kim memang tak seharusnya datang ke bumi agar Jonas tidak terbangun – karena sentuhan fisik antara dirinya dengan makhluk bumi. Kim sendiri datang ke bumi secara tak sengaja. Ia tengah melakukan teleportasi dari bintang tempatnya tinggal ke bintang lain untuk mengunjungi sahabatnya. Namun karena sebuah hujan Meteor Perseid – yang berasal dari serpihan debu ekor komet Swift-Tuttle, yang tiba-tiba terjadi telah mengacaukan koordinat tujuan Kim. Hingga akhirnya ia pun terdampar di Galaksi Milky Way sebagai salah satu galaksi terdekat dari Galaksi Small Magellanic Cloud – dimana Kim tinggal.

            Sekilas lalu tak ada yang aneh pada diri lelaki itu. Penampilannya layaknya pemuda kekinian pada umumnya. Celana jeans, t-shirt hitam, sneakers dan tak ketinggalan jaket parka berwarna hitam begitu pas membalut tubuhnya. Ditambah sebuah kacamata rayban hitam untuk mentutupi mata hitamnya.

            “Akhirnya, saat ini pun tiba. Tunggu aku, Kim.” Senyum jahat mengembang di bibir lelaki itu. Sesaat kemudian ia melesat cepat didalam gelapnya malam.

**********

            Berulang kali Max menatap layar smart phone miliknya – seolah memastikan sesuatu. Sesekali ia mendesah pelan. Satu menit kemudian matanya kembali beralih ke layar smart phone di genggaman tangan kanannya.

            “Haruskah aku menghubunginya?” gumamnya seorang diri.

            “Sebaiknya tidak. Karena hal itu bisa membahayakan dirinya.” Kembali mulut Max berkomat-kamit meyakinkan dirinya sendiri.

            “Tapi aku harus menjelaskan semuanya pada Rossi, kesalah pahaman ini tak akan kubiarkan berlarut-larut. Aku tak mau kehilangan dirinya lagi.” Volume suara Max bertambah, kembali meyakinkan dirinya untuk berbuat sesuatu.

            Ia pun beranjak, namun sesaat kemudian kembali menghenyakan tubuhnya seraya mengacak-acak rambutnya.

            “Tapi aku tak bisa. Aku harus bagaimana?” rutuknya seorang diri.

            Dan tiba-tiba terdengar suara getaran dari smart phone Max, sebuah pesan telah masuk.

            “Kita harus bertemu. Kau harus menjelaskan semuanya padaku.” Sebuah pesan singkat dari nomor Rossi membuyarkan kegundahan hati Max. Setidaknya ia tak perlu cemas lagi memikirkan harus menghubungi Rossi atau tidak.

            Max belum membalas pesan itu. Ia mengulik kembali pesan Kim agar tidak melibatkan Rossi dalam urusan berbahaya ini. Begitulah cara otak Max mengambil keputusan. Namun tidak dengan hati Max. Hati itu masih begitu kuat ingin kembali merengkuh cinta Rossi. Ia harus menjelaskan semua hal mengenai Kim dan Jonas.

            “Temui aku di café tempat kita kemarin bertemu, pukul 8 pagi. Aku akan menjelaskan semuanya padamu.” Max akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Rossi dan menjelaskan semuanya.

**********

            Tubuh Kim tiba-tiba melemah. Ia bahkan nyaris tak bisa menopang dirinya sendiri. Max yang menyadari hal itu bergegas menolong, namun Kim menghentikan niatnya.

            “Jangan! Jika kau menyentuhku, aku tak akan punya waktu lagi untuk membantumu menemukan kekuatanmu.” Kim melarang dengan telapak tangan mengarah pada Max.

            Lelaki ini mundur beberapa langkah.

            “Hey, kau begitu mengkhawatirkan. Aku hanya tak tega.”

            “Ini artinya Jonas sudah semakin dekat. Energiku terserap oleh kekuatan mata hitamnya.”

            “Itu terdengar mengerikan, Kim. Ok sebaiknya kau berdiri perlahan dan sebentar…” Max berlari menjauh mencari sesuatu. Dan kembali dengan sebuah balok kayu panjang. Kemudian menyerahkan balok kayu itu pada Kim. “Ini! Mungkin bisa kau jadikan tongkat untuk menopang tubuhmu.”

            Kim tersenyum sebagai tanda terima kasih. Max membalas senyuman itu sebagai tanda simpati.

            “Terima kasih. Tapi aku tak akan kuat berjalan sampai ke apartemenmu dengan kayu ini. Yang aku perlukan hanyalah berteleportasi ke suatu tempat untuk memperbaiki energiku.” Kim mencoba bangkit dengan ranting kayu di tangan kanannya.

            “Baiklah, kau bisa berteleportasi sekarang. Tak perlu malu melakukannya di depanku.” Max berseloroh.

            “Tapi aku tak bisa, energiku tak cukup untuk melakukan teleportasi. Kecuali…”

            “Kecuali apa?”

            “Kecuali kau membantuku.”

            Max mengernyitkan dahinya. “Kau bilang kau tak boleh bersentuhan fisik denganku. Jangan tersinggung Kim, sebenarnya aku pun tak ingin bersentuhan fisik dengan seorang wanita yang baru saja aku kenal.”

            “Maxi, yang aku maksud adalah, aku memerlukan bantuan kekuatan supranaturalmu bukan tenagamu.” Kim mencoba melangkah pelan.

            “Maxi? Hey, jangan pernah kau panggil aku begitu.”

            “Bukankah itu panggilan sayang Rossi padamu. Anggap saja aku sebagai pengganti dirinya untuk sementara.”

            “Hah…tidak lucu, Kim.”

            Langit mendadak kelam dan angin kencang menyelimuti seluruh penjuru kota. Sedetik kemudian Kim tersungkur.

            “Jonas,” gumam Kim.

            Angin masih terus bergemuruh. Tak memberi kesempatan sedikit pun bagi Max dan Kim untuk berlari mencari tempat berlindung.

            “Dia sudah semakin dekat, Max. Cepat kau harus segera menolongku,” perintah Kim kencang.

            “Iya, tapi bagaimana Kim? Aku tak tahu caranya.” Max memekik tak kalah kencang diantara gemuruh angin.

            “Max, pusatkan fikiranmu pada kegelapan yang paling gelap, biarkan ketakutan itu menghampirimu. Dan saat ketakutan yang paling menakutkan telah kau rasakan, berkonsesntrasilah untuk mengeluarkan kekuatan yang ingin kau keluarkan. Lakukan Max. Cepat!”

            Max mencoba menuruti perintah Kim. Ia pejamkan mata dan berkonsentrasi pada sesuatu yang dianggapnya paling gelap dan menakutkan. Meski beberapa kali gagal karena ia selalu membuka matanya dan bergidik merasa ngeri.

            “Coba lagi Max. Jangan menyerah!”

            Kim melindungi dirinya dari hempasan ranting dan daun di jalanan dengan kedua tangan menyilang di depan wajahnya. Meski hal itu sia-sia – karena sebagian besar masih menerpa wajah dan tubuhnya.

            Max kembali memusatkan fikirannya. Kini yang ia ingat adalah kegelapan dalam sebuah sumur tua dimana ia pernah terjatuh kedalamnya saat bermain – di masa kecilnya. Karena itulah ketakutan yang paling menakutkan yang pernah ia alami. Max merasa kejadian itu mendatanginya lagi. Ia menggigil saking takutnya. Untuk sesaat Max larut dalam ketakutannya dan tiba-tiba ia ingat apa yang Kim katakana tadi - keluarkan kekuatan apapun yang ingin kau lakukan untuk menyelamatkanmu dari sumur tua itu. Max pun memekik kencang untuk mengekspresikan keinginannya saat itu.

            Sebuah dentuman keras memecah langit malam. Bahkan gemuruh angin kencang pun kalah oleh suara dentuman itu. Gemuruh angin kini membentuk sebuah kumparan hitam nan pekat yang kemudian menghampiri tubuh Kim dan mengangkatnya ke atas. Seolah tahu bahwa itu adalah salah satu kekuatan yang dihasilkan oleh Max, tubuh Kim pun mengeluarkan cahaya biru safir dan hijau zamrud yang menyala terang. Namun beberapa detik kemudian tubuh Kim pun lenyap bersama dengan cahaya itu.

            Tak beberapa lama kemudian langit kembali terang, gemuruh angin berubah menjadi semilir. Beberapa lampu jalan yang menerangi sudut-sudut jalanan kembali terang benderang. Bahkan lebih terang dari nyala lampu sebelumnya. Derum kendaraan kembali terdengar. Seolah kehidupan malam kota telah kembali lagi.

            Max tersadar dan mencari Kim di sekitar jalanan itu. Dirinya berkali-kali menyusuri trotoar jalan dengan mata waspada, tapi Kim tak ditemukannya.

            “Sepertinya Kim telah berhasil melakukan teleportasi. Semoga saja aku tak mengirimnya ke tempat yang salah. Akhirnya aku tahu cara mengendalikan kekuatanku.” Max bersorak kegirangan. “Hmm, seperti mimpi saja. Aku? Max? ternyata mempunyai kekuatan supranatural. Wow.”

            Ketakjuban pada dirinya sendiri berulang kali Max sematkan di senyumnya. Senyum jumawa yang ia pamerkan pada setiap orang yang ditemuinya – di jalan menuju apartemennya.

**********

            Beberapa kilometer di belakang Max, sosok tegap berkelebat cepat dan berhenti di trotoar jalan tempat Kim berhasil membantu Max mengeluarkan kekuatannya. Mata hitam dibalik kacamata itu nyalang menyapu inci demi inci jalanan dan taman – beberapa meter dari trotoar itu. Kadang ia mengendus kemudian menarik nafas panjang seolah tengah mendeteksi bau sesuatu yang dicarinya.

            “Hmm, rupanya kau telah melakukan teleportasi dari tempat ini Kim.” Suara serak itu begitu berat dan terucap samar dari mulut lelaki yang tak lain adalah Jonas.

            “Rupanya ada yang membantumu…”

            Sepertinya Jonas tak mengetahui keberadaan Max sebagai ‘penjaga’ Kim dari dirinya. Demikian halnya dengan Max yang tak pernah mengetahui takdirnya hingga Kim datang memberitahu dirinya.

            Semua penduduk Galaksi Small Magellanic Cloud terkenal dengan tingkat kecerdasan yang tinggi. Mutasi genetik yang telah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu di galaksi ini telah menghasilkan manusia-manusia unggul - dengan ketahanan tubuh super dan kekuatan supranatural, yang mampu bertahan hidup hingga ribuan tahun lamanya.

            Dan hanya keturunan heterochromia yang bisa melihat takdir yang berlaku pada dirinya di masa yang akan datang. Ia tak hanya mengetahui siapa yang akan menghancurkan dirinya, tapi ia juga tahu siapa yang akan merelakan hidupnya untuk menjaga dirinya.

            Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya Jonas memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Ia melesat cepat. Hingga tak menyadari telah melewati Max yang masih berjalan santai menuju apartemennya.

**********

            Max berusaha keras untuk berkonsentrasi. Ia mencoba melatih kekuatan supranaturalnya seorang diri – setidaknya begitulah ide yang saat ini muncul di kepalanya. Berkali-kali mencoba tenggelam dalam ketakutan yang pernah dirasakannya, tapi selalu gagal. Tenaganya pun mulai terkuras dan kepercayaan dirinya – yang menggunung, kini perlahan tenggelam ditelan bumi.

            Apakah kekuatan itu hanya akan muncul pada saat-saat mendesak saja? Max bergumam dalam hati. Atau mungkin harus ada Kim didekatku untuk memancing kekuatan itu. Jika demikian, bagaimana aku bisa tahu kekuatan terbesarku yang bisa aku gunakan untuk mengalahkan Jonas? Kembali Max berpikir keras.

            Di detik-detik terakhir keputusasaannya itulah mendadak sosok Kim muncul tak jauh dari hadapan Max.

            “Sepertinya kau memerlukan bantuanku, Max,” ucap Kim yakin membuyarkan lamunan lelaki tampan, penjaga dirinya.

            Max menggeser kepalanya beberapa derajat demi mendapati sosok Kim, namun secepat kilat ia buang pandangannya kala menyadari tak ada tabir penutup mata heterochromia milik Kim.

            “Maaf, aku lupa memakai kacamataku.” Kim menyadari sikap Max.

            “Untuk apa kau kemari, bukankah kau harus mengumpulkan energimu?” tanya Max spontan.

            “Kau yang memanggilku, Max.”

            “Aku? Tidak.”

            “Tidak secara langsung, tapi melalui kekuatan telepati yang tak kau sadari. Bukankah kau memikirkanku tadi?”

            Max terdiam, mengulik kembali isi kepalanya. Apa benar ia tadi memikirkan Kim. Ia pun mendesah pelan. “Maaf, aku tadi hanya mencoba berlatih.”

            Kim mengangguk lemah. Wanita ini kini jarang sekali tersenyum – seperti saat pertama kali Max bertemu dengannya. Max menyadari hal itu dan ia mulai khawatir. Mungkinkah Kim merasakan bahwa Jonas telah begitu dekat dengan dirinya. Hanya masalah waktu dan momen yang tepat saja, Jonas akan muncul di hadapan mereka berdua.

            “Bisakah kita mulai sekarang?” pinta Max sedikit memaksa.

            “Tentu saja, kapan pun kau siap.”

            Max pun perlahan menutup matanya, kembali berkonsentrasi. Mulai mengobrak abrik memorinya demi mendapatkan kenangan menakutkan yang pernah ia rasakan. Namun entah mengapa selalu gagal. Meski pada hal yang begitu menakutkan telah ia fikirkan, tapi Max tak bisa sedikit pun mengeluarkan kekuatan itu.

            “Berkonsentrasilah, Max.” Kim memberi semangat.

            “Aku tak bisa, Kim,” desah Max masih dengan mata terpejam.

            “Cobalah lagi, Max. Kau pasti bisa. Yang harus kau lakukan adalah berkonsentrasi pada titik ketakutanmu itu.”

            Kembali Max berusaha keras menemukan titik itu. Dahinya pun berkerut. Kepalanya terasa berat dan berputar-putar. Sampai akhirnya tubuh Max pun terhuyung dan roboh.

            Dan pada saat itulah mendadak angin kencang bertiup menyelimuti rooftop apartemen Max – tempat dimana Max dan Kim saat itu berada.

            “Jonas,” gumam Kim pelan namun terdengar nyaring di telinga Max.

            Dengan sekuat tenaga Max kembali bangkit. Kim bergerak mendekat di sisi kanan Max. Tubuhnya mendadak lemah dan ia pun tersungkur jatuh.

            “Kim!” panggil Max spontan.

            Dalam gemuruh angin berkelebat sosok tegap dengan coat over size hitam yang tiba-tiba berdiri menantang beberapa meter di depan Max. Dari celah rambut poninya, Kim melirik menangkap sosok yang tak lain adalah Jonas.

            Kini Max memahami situasi yang saat ini terjadi. Jonas telah muncul di hadapannya.

            Angin mulai mereda meski dinginnya kini serasa menusuk tulang. Kaki Max bergeser menutupi Kim – mencoba melindunginya dari tatapan tajam Jonas. Ia hanya berasumsi bahwa mata hitam Jonas – yang menyerap kekuatan Kim, terhalang oleh tubuhnya.

            Senyum jahat Jonas mengembang.

            “Oh, rupanya Kim mempunyai seorang bodyguard,” seloroh Jonas. “Hai Kim!” Kepala Jonas melongok dari balik badan Max – berusaha melihat Kim.

            “Kau yang bernama Jonas?” tanya Max serius.

            “Pentingkah itu?” balas Jonas berteka-teki – seperti kebiasaan Kim.

            Max memutar bola matanya. Kalian dari galaksi lain hobi sekali berteka-teki, fikir Max.

            “Untuk apa kau kemari?” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak memerlukan jawaban.

            Mulut Jonas mengerucut. Matanya yang kelam begitu menakutkan, meski ia berusaha melucu sekalipun.

            “Dia!” Jonas menunjuk Kim dengan ujung bibirnya. “Aku menginginkannya.”

            “Bagaimana jika aku tak mengijinkan kau untuk membawanya.”

            Mata hitam itu terbelalak. Angin di sekitar mereka kembali menderu. Tubuh Max terhuyung sesaat, ia pun berusaha memasang kuda-kuda sekuat mungkin.

            “Siapa kau berani melarangku?”

            “Bisa dibilang…” Max berhenti sesaat. “Aku memang penjaganya.”

            Jonas terbahak lepas. Kalimat Max terdengar lucu di telinganya. Namun beberapa menit kemudian suasana menjadi hening. Sorot mata Jonas menusuk menatap mata Max. Kim bergumam tak jelas berusaha meningatkan Max agar tak menatap mata Jonas. Tapi terlambat.

            Bibir Jonas tersenyum puas. Ia telah membaca seluruh isi kepala Max tanpa diketahui oleh lelaki itu hanya dalam hitungan detik.

            “Sayang sekali, kawan. Jika kau tak menyerahkan Kim padaku maka terpaksa aku akan membawa Rossi bersamaku.”

            Max tersentak. Bagaimana bisa Jonas mengetahui tentang Rossi. Bahkan janji temunya dengan Rossi beberapa hari yang lalu akhirnya dibatalkan oleh Max.

            “Bagaimana…?” Kalimat Max terpusus.

            “Jangan kau tatap matanya Max, ia telah membaca semua yang ada di kepalamu.” Akhirnya, dari sisa-sisa tenaganya, Kim berhasil memberitahu Max.

            Jonas terkekeh mengejek. Saat ini ia berada di atas angin. Kim semakin lemah dan tubuh Max mulai menggigil.

            “Jadi namamu Max? Dan kau penjaga Kim. Seorang manusia biasa. Apa kau sudah begitu putus asa, Kim?

            “Max, kau… kau harus berkonsentrasi pada kekuatanmu. Jangan terkecoh oleh..oleh permainan ilusinya. Max!” Kim sekuat tenaga menyemangati Max.

            Fikiran Max masih tertuju pada Rossi. Ia tak boleh terlibat dalam hal ini. Ia tak boleh tersakiti. Ketakutan akan kehilangan diri Rossi mulai menguasai diri Max.

            “Itu semua tergantung padamu, Max. Rossi akan aman jika kau serahkan Kim padaku. Mudahkan?”

            Max menunduk dengan sorot mata terpaku pada sosok Jonas – namun berusaha menghindari matanya. Tubuhnya yang tadi menggigil sekarang kembali tenang. Namun giginya samar terdengar bergemeretak. Kini ia mengosongkan isi kepalanya dan hanya memikirkan sosok musuh didepannya.

            “Hey, aku tak punya banyak waktu lagi,” hardik Jonas tak sabar.

            “Aku juga.” Max kemudian berteriak sekeras dan sekencang yang ia bisa dan berlari menyerang Jonas. Kelebat Jonas menghindar dengan satu loncatan saja. Namun Max tak memberinya kesempatan untuk berdiam lama. Kembali Max menyerang, kali ini dengan kibasan kedua tangannya yang tiba-tiba mengeluarkan bayangan hitam pekat.

            Jonas tersentak, ia tak pernah menyangka bahwa lawan yang ia anggap manusia lemah ternyata mempunyai kekuatan. Seinci saja jika ia terlambat mengelak, tubuhnya pasti sudah tersambar bayangan hitam itu.

            “Wow. Kau penuh dengan kejutan, Max.”

            Max masih fokus menyerang dan tak memberi kesempatan pada Jonas untuk berhenti atau membalas serangannya. Bayangan hitam pekat itu mengeluarkan suara berdesing yang memekakkan. Bahkan Max sendiri tak memberi kesempatan pada dirinya untuk mengagumi kekuatan miliknya, karena ia pun tak menyadari bahwa kibasan tangannya ternyata mampu mengeluarkan sambaran mematikan.

            Tubuh Kim yang terkulai lemas tak mampu lagi bergerak, hanya bola matanya yang mengikuti semua gerakan Max kesana-kemari dan berharap agar penjaganya itu mampu mengalahkan Jonas.

            Sampai pada gerakan menghidar kesekian kalinya, akhirnya Jonas mempunyai kesempatan untuk membalas serangan Max. Max sigap menangkis serangan itu. Sebuah cahaya terang-benderang menerjang tubuh Max. Meski Max berhasil menghindarinya namun sebagian serangan itu mengenai lengan kirinya – dan meninggalkan luka sabetan beberapa inci.

            Tubuh Jonas kini melayang di udara, menatap Kim dan Max secara bergantian. Max masih berdiri di dekat tubuh Kim – berusaha melindunginya.

            “Sepertinya ini akan semakin sulit. Kau yang membuatnya semakin sulit, Max. Dan aku tak punya pilihan lain. Rossi untuk Kim.” Dan tubuh Jonas pun melesat meninggalkan mereka.

            Max terkesiap. Itu berarti saat ini Rossi dalam bahaya besar. Ia pun bergegas menyusul Jonas dengan cara layaknya sebagai manusia – karena ia tak tahu caranya untuk melesat secepat kilat seperti Jonas. Tangan Kim mencoba menggapai Max. Max melihatnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menolong Kim terlebih dahulu.

            “Bagaimana ini, Kim? Jonas mengincar Rossi. Ia pasti dengan mudah bisa menemukan Rossi. Aku harus menyusulnya.”

            “Aku tahu.” Kim pun berusaha untuk bangkit dan duduk.

            Semakin jauh Jonas dari Kim, maka Kim pun akan mendapatkan energinya kembali.

            “Baiklah. Aku minta maaf. Aku harus pergi dan meninggalkanmu sendiri. Ok?”

            “Tidak, aku ikut denganmu.”

            “Apa? Kau bercanda, aku tak bisa menggendongmu Kim.”

            Tampak seulas senyum tipis di bibir Kim demi mendapati kalimat Max.

            “Terima kasih, tapi tak perlu. Yang harus kau lakukan hanyalah membantuku dengan kekuatanmu dan kita akan berteleportasi bersama menuju tempat Rossi.”

            Mulut Max menganga seperti biasa – saat orang lain berpikir selangkah ke depan dari dirinya.

            “Sekarang berkonsentrasilah, fikirkan koordinat Rossi saat ini dan salurkan kekuatanmu itu agar bisa bersatu dengan kekuatanku.”

            Max mengangguk dan sedetik kemudian mereka berdua melompati ruang dan waktu.

**********

            Rossi memekik kencang saat tubuhnya telah ia dapati melayang di udara. Karena beberapa jam yang lalu ia telah terlelap dalam mimpi indahnya. Dan kini tubuh miliknya telah melayang di halaman rumahnya.

            Waktu telah menunjukan pukul satu malam. Awalnya Rossi mengira ini adalah sebuah mimpi. Hingga beberapa menit lamanya tubuhnya tak kunjung mendarat di atas tanah dan ia pun memastikan bahwa kini dirinya telah terjaga. Dan tanpa sengaja matanya menangkap sosok tegap berdiri tak jauh dari dirinya, saat itulah ia kembali memekik sekencang yang ia mampu.

            “Hai, Rossi. Apa kabar?” sapa Jonas menggoda.

            “Apa yang terjadi?”

            “Tunggu saja dan kau akan tahu jawabannya.”

            Benar juga, tak beberapa lama sebuah cahaya biru safir dan hijau zamrud berputar dibagian lain halaman rumah Rossi. Dan tak berselang lama munculah Kim dan Max begitu saja.

            “Mengapa kalian begitu lama. Tak kasihankah kalian pada Rossi.” Jonas mengalihkan matanya kembali pada Rossi. “Ia telah menunggu lama.”

            Max merasakan tubuhnya begitu ringan. Ia pun melesat cepat menghampiri Rossi. Namun Jonas sadar dengan gelagat Max dan ia pun menarik tubuh Rossi mendekat pada dirinya dengan kekuatan telekinesis.

            “Tak semudah itu, Max.” Jonas tertawa jahat.

            Sementara Kim kembali terkulai lemah di atas tanah. Max pun melesat kembali di sisi Kim.

            “Lepaskan dia!” perintah Max marah.

            “Aku tak akan membuang waktuku lagi Max. Aku toh pasti akan merebut Kim dengan mudah darimu. Karena kau tak bisa diajak bekerja sama, maka aku tak memerlukan Rossi lagi. Dan kujamin kau akan menangis seumur hidupmu, karena dirimulah Rossi harus menderita.”

            Tiba-tiba tubuh Rossi terpental beberapa kali menabrak batang pohon dan terhempas jauh diatas semak belukar. Tubuh itu pun tak bergerak. Bahkan tak terdengar pekikan kencang yang sejak tadi memecah heningnya malam.

            Max murka. Ia tak menyangka jika pada akhirnya Rossi akan terlibat dalam masalah ini. Bahkan tak pernah terpikirkan olehnya jika wanita yang dicintainya ini harus kesakitan dan menderita seperti itu.

            Tiba-tiba sebuah kabut hitam pekat menutupi seluruh tubuh Max. Suara berdesing pun memekakkan telinga. Kabut hitam itu berputar menyelimuti tubuh Max beberapa menit lamanya dan lambat laun menghilang, berbaur dengan gelapnya malam meninggalkan sebuah sayap putih nan indah – yang tertangkup melindungi seluruh tubuh Max. Begitu kontras dengan gelapnya malam.

            Jonas begitu terkejut. Ia pun tak menyangka bahwa manusia yang diremehkannya ternyata mempunyai kekuatan yang tak pernah terfikir olehnya. Kim yang ternyata masih sadar – meski tubuhnya masih diam tergeletak tak bergerak, menatap Max dengan sebaris senyum tipis di bibirnya.

            “Kau…berhasil…Max. Itu sayap impianmu.”

            Sedetik kemudian Max melesat ke udara mengepakkan sayapnya. Meninggalkan hembusan angin yang sangat kencang dengan gemuruh yang ikut menerbangkan banyak material di halaman rumah Rossi.

            “Siapa dia sebenarnya.” Jonas masih terpaku tak percaya.

            Tanpa menunggu lebih lama lagi, Max yang telah siap dengan dirinya saat ini menyerang Jonas cepat. Lelaki berparas bengis itu berusaha mengelak, namun kecepatan Max tak mampu dihindari oleh Jonas. Alhasil ia pun terpental jauh hingga jalan raya di seberang rumah bergaya Victoria milik Rossi.

            Cairan hitam kental mengalir dari ujung bibir Jonas. Sebuah serangan tak terduga telah melukainya.

            Kim kembali tersenyum. Kali ini ia tersenyum puas.

            Namun tidak dengan Max. Belum saatnya bagi dirinya untuk tersenyum. Ia harus segera menghabisi Jonas agar ia bisa bergegas menolong Rossi dan Kim.

            Kembali ia bergerak cepat menyerbu Jonas. Kali ini Jonas telah siap. Ia pun menangkis pukulan Max dengan sambaran petir yang diserapnya dari cahaya beberapa lampu merkuri penerang jalan. Max melesat ke belakang untuk menghindari serangan Jonas. Kakinya pun mendarat di atas tanah.

            “Kau pikir bisa semudah itu mengalahkanku meski kau sudah memiliki kekuatan? Tidak kawan, tak semudah itu.” Jonas tersenyum bengis. Ia masih percaya diri bahwa dia mampu mengalahkan Max dan segera membawa pergi Kim dari galaksi ini.

            Max ingat bahwa kalung pendulum dari Kim masih tersimpan di saku celananya. Ia sengaja membawa kalung itu kemanapun ia pergi. Entah ide apa yang ada di kepalanya, Max pun merogoh saku celananya dan megeluarkan kalung itu. Kini kalung itu pun menggantung di lehernya. Sebuah cahaya biru safir dan hijau zamrud samar menyelimuti kalung itu sebelum Max memakainya. Dan sinar itu pun hilang seolah masuk kedalam tubuh Max kala kalung itu menyentuh kulitnya.

            Max pun merasakan perubahan pada dirinya, kini ia merasakan energi tubuhnya begitu kuat. Semua indera dalam dirinya berfungsi melebihi normal. Bahkan matanya bisa menembus tembok rumah Rossi.Telinganya menangkap semua suara binatang malam di halaman rumah Rossi. Kulitnya terasa berdesir setiap kali angin malam menerpanya. Bahkan hidungnya mampu mengendus bau lasagna panggang keju dari dapur rumah Rossi. Ia merasakan sebuah getaran halus menyerupai sengatan listrik kala kalung pendulum itu menyentuh dadanya. Mungkinkah kalung itu memberinya kekuatan yang sama dengan kekuatan yang dimiliki oleh Kim?

            Ia melirik Kim sesaat dan mendapati wajahnya yang semakin pucat.

            “Kau sudah siap, kawan?” tanya Jonas dengan nada mengejek.

            Sudah kepalang tanggung, toh jika Jonas tak mendapatkan Kim ia pun akan lenyap dari dunia ini. Dengan sisa-sisa kepercayaan dirinya, Jonas mengumpulkan semua kekuatan yang ia miliki. Kemudian secara mengejutkan ia menghilang dari tempatnya berdiri. Dan mendadak muncul di depan Max. Sebuah pukulan telak menghantam dada Max. Kalung pendulum yang dikenakannya pun hancur berkeping-keping dan tubuh Max tersungkur jauh ke belakang. Max terbatuk dan darah kental pun muncrat dari mulutnya.

            Bersamaan dengan itu, Kim pun harus menyaksikan satu-satunya barang pusaka peninggalan leluhurnya hancur di tangan Jonas. Itu artinya ia tak bisa kembali lagi ke bintangnya. Karena kalung pendulum itu adalah satu-satunya benda yang bisa ia tunjukan pada seluruh penduduk bintangnya bahwa dia adalah keturuan terakhir heterochromia yang akan menjaga kelangsungan hidup mereka.

            Dengan cepat Max berusaha kembali menguasai keadaan. Ia menyeka darah yang masih membasahi mulutnya dengan tangan kanannya.

            “Baiklah, kawan.” Max menekankan nada bicaranya pada kata terakhirnya. “Kini giliranku…”

            Sekejap mata, Max melesat dan berhenti mendadak tepat di hadapan Jonas. Namun anehnya tubuh Jonas kaku dan tak bergerak menghindar. Hanya mata hitam Jonas yang bergerak liar menatap Max.

            “Apa yang kau lakukan padaku?” Tersirat nada takut pada kalimat Jonas.

            Max hanya diam dan sorot matanya yang semakin tajam mengunci lawan didepannya.

            Perlahan sayap putih Max mengepak dan tubuhnya pun naik ke atas. Diikuti oleh tubuh Jonas yang masih terpaku di hadapannya. Sementara Jonas masih kebingungan. Desir ketakutan Jonas kini begitu jelas dirasakan oleh Max.

            Max pun tersenyum mengejek sesaat.

            Setelah sampai di udara – pada ketinggian yang dirasa cukup oleh Max. Max pun berhenti namun sayap indahnya masih tetap mengepak pelan.

            “Kau tahu, kawan.” Max mencoba mempermainkan emosi Jonas. “Sebentar lagi akulah yang akan membuatmu menderita di sisa hidupmu.”

            Berkali-kali Jonas mencoba melepaskan kuncian dari kekuatan fikiran Max, namun selalu gagal. Akhirnya ia menyerah dan hanya terpaku diam menatap Max dengan amarah yang bergolak di hatinya namun tak bisa ia lampiaskan.

            Sejurus kemudian, tiba-tiba Jonas memekik kencang. Sebuah pekikan kesakitan yang begitu menyayat. Tubuhnya menegang - otot-otot pelipis dan tangannya menonjol kepermukaan, dan dari sudut matanya mengalir air mata berwarna hitam pekat.

            “Aaarrggggghhhhhhhh! Akan kubalas kau nanti.” Jonas mengancam Max di sela-sela rasa sakitnya.

            “Tentu saja, itu pun jika kau masih hidup setelah ini.” Max tak mau kalah.

            “Kau hanyalah makhuk bodoh yang diberdaya oleh Kim. Dia hanya memperalatmu.”

            “Oh ya? Kalau begitu, anggap saja aku suka diperalat oleh dia.”

            “Aaaarrrggghhhhhh! Sebenarnya makhluk apa kau ini?”

            “Aku? Aku adalah seorang manusia biasa yang beruntung mendapatkan kekuatan seperti yang kau lihat saat ini. Kekuatan menakutkan yang akan membuat nyalimu semakin menciut.”

            “Hah, kau bahkan tak tahu nama kekuatan yang kau miliki. Sungguh menyedihkan,” ejek Jonas mencoba menyudutkan.

            “Dan aku tak perduli itu.” Max mendekatkan mulutnya di telinga kiri Jonas dan berbisik pelan. “Baiklah. Kau mempunyai pesan terakhir, kawan? Sebelum aku akhiri cerita ini.”

            “Ya. Aku benci sayap jelekmu itu.”

            Dengan cepat Max pun mengangkat tubuh Jonas semakin tinggi ke angkasa. Meliuk-liukkan tubuhnya berulang kali. Pekikan ketakutan Jonas tak sedikitpun menyentuh hati nuraninya. Sampai kemudian Max menjatuhkannya. Suara berdebam membentuk cerukan kecil di atas tanah. Jonas terkulai lemah tak berdaya, diikuti oleh Max yang mendarat pelan.

            Max berjalan gagah mendekati Jonas. Sayapnya terkatup indah di punggungnya. Senyum puas mengembang di bibirnya. Meski saat ini ia belum mengetahui keaadan Kim dan Rossi, setidaknya ia berhasil membalas penderitaan mereka berdua saat ini. Dan anehnya saat Max mendekati tubuh Jonas, musuh besar Kim itu bergerak dan membuka matanya menatap Max ketakutan. Ia masih hidup.

            “Ini akibatnya jika kau menghina sayapku, kawan. Sekarang kau akan berjalan di atas muka bumi ini layaknya manusia biasa. Nikmatilah sisa hidupmu yang hanya sesaat sebagai makhluk yang kau bilang bodoh tadi.”

            “Apa? Tidak! Kenapa tak kau bunuh saja aku?” Jonas masih ketakutan seraya meraba seluruh bagian tubuhnya. Mencoba mengeluarkan kekuatannya untuk membalas Max. Tapi semua sia-sia.

            “Membunuhmu? Itu akan sangat menyenangkan, tapi aku lebih memilih melihatmu hidup menderita sampai batas akhir usiamu. Omong-omong aku pun benci mata hitammu itu. Jadi kurubah sedikit warnanya. Lihat saja nanti kau pasti suka.”

            Max pun berlalu pergi meninggalkan Jonas yang masih merengek dan merutuki dirinya sendiri. Ia bergegas menghampiri Rossi yang tergeletak tak jauh dari tubuh Jonas.

            Rossi masih diam tak bergerak, perlahan Max merengkuh tubuh itu dan memeriksa keadaannya. Max memastikan apakah wanita itu masih hidup atau sudah tak bernyawa. Alangkah senangnya hatinya saat diketahuinya masih ada hembusan nafas lemah dari hidung Rossi. Serta merta ia bopong Rossi dan membawanya untuk menemui Kim. Max pun berharap sama pada keadaan Kim.

            Namun alangkah terkejutnya Max, karena tak bisa menemukan Kim dimanapun. Dia lenyap entah kemana. Apakah Kim berteleportasi ke tempat lain untuk memulihkan tenaganya? Fikir Max penasaran. Atau Kim kembali ke bintangnya tanpa berpamitan padanya? Namun hal itu tidak mungkin terjadi karena kalung pendulum warisan keluarganya kini telah hancur. Kemana dia?

            Setelah lelah mencari Kim yang tak kunjung ditemukannya, akhirnya Max pun memilih untuk mengurus Rossi. Tubuh wanita cantik itu sebelumnya telah direbahkan perlahan di atas rumput – di halaman rumah Rossi. Untuk sesaat Max menatap nanar wanita yang sangat dicintainya ini. Entah apa yang terjadi padanya jika ia harus kehilangan Rossi untuk selamanya. Max tak sanggup membayangkannya. Saat itu ia memang merelakan Rossi pergi untuk kebahagiaan wanita itu, tapi kini ia tak akan membiarkannya pergi karena dialah yang akan menciptakan kebahagiaan itu.

            “Rossi!” panggil Max lembut.

            Rossi merintih sesaat dan ia membuka matanya pelan. Pandangannya kabur, matanya menyipit berusaha memfokuskan semua benda yang dilihatnya. Beberapa kali Max telah memanggil namanya. Dan dengan sekejap Max tersentak menghindar. Rossi menatap Max lekat dengan kedua bola mata milik Kim.

             

***end***

  • view 122

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    21 hari yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Akhirnya tamat sudah fiksi sang pengawal bernama Max. Penuntasan cerita yang menurut kami adil sekaligus seru, dimana Rossi dan Kim berpadu menjadi satu badan yang merupakan jodoh sesuai bagi Max sendiri. Kami memberikan salut kepada Wiwit Astianing yang kami rasa bekerja keras menulis fiksi ini. Ini bukan jenis tulisan yang gampang dieksekusi. Detil fantasi, emosi para tokoh hingga pergerakan tiap figur tertuliskan secara bagus sehingga tiada celah untuk mengkritik dengan pertanyaan, seperti “Sepertinya ini tidak masuk akal, dll” apabila siapa yang membacanya terlebih dahulu paham genre fiksi adalah fantasi.

    Secara ide, gagasan umum yang melatarbelakangi rekaan ini bukan barang baru. Yang membuatnya beda, di antaranya pada tokoh Max dan akhir cerita yang memuaskan sekaligus membuat ada penasaran tersisa di dalam hati. Keren, Wiwit!

  • Puji Astuti
    Puji Astuti
    19 hari yang lalu.
    kerennnnn

  • Farid Tri Wicaksono
    Farid Tri Wicaksono
    20 hari yang lalu.
    baguus