THE GUARDIAN JOB #Takdir Pengikat

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Oktober 2017
THE GUARDIAN JOB #Takdir Pengikat

Entah ia datang darimana. Apakah dia manusia atau bukan, Max bahkan tak bisa menerkanya. Semua yang dialami oleh Max beberapa hari ini sudah diluar nalarnya – sebagai manusia biasa. Semua berlangsung begitu cepat. Mimpi itu. Wanita itu – yang ternyata bernama Kim. Dan hilangnya pekerjaan impiannya – sebagai seorang jurnalis di sebuah stasiun televisi ternama.

            Yang lebih aneh lagi adalah kedua bola mata Kim yang berbeda warna. Orang bilang itu adalah heterochromia – sebuah kelainan genetik, dimana iris mata kiri dan iris mata kanan berbeda warna. Namun kasus Kim ini sedikit berbeda karena selain mempunyai warna yang berbeda, bola mata itu seperti mempunyai kekuatan untuk menghipnotis siapa pun yang menatapnya. Kekuatan macam apa yang sebenarnya dimiliki oleh Kim? Membuat Max penasaran dan ingin tahu lebih jauh lagi.

            Sampai akhirnya Max pun menyanggupi untuk menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Kim. Selain memang ia membutuhkan penghasilan untuk bertahan hidup, Max juga merasakan ada sebuah tantangan yang sudah pasti akan memacu adrenalinnya. Ia menyukai hal itu – kecuali kegelapan tentunya.

            “Jadi sebenarnya aku harus menjagamu dari apa?” tanya Max mulai menyelidik.

            “Dari Jonas,” jawab Kim singkat.

            “Siapa Jonas? Pacarmu yang tak terima kau putuskan?” Samar kekeh Max memenuhi kamar tidurnya.

            Kim menanggapi gurauan Max dengan sebaris senyuman khas miliknya.

            “Sorry, aku bercanda. Siapa Jonas itu?”

            “Tak apa, aku suka candaanmu…”

            “Tentu saja.” Max memutar bola matanya. “Ok jelaskan, siapa Jonas?” ulang Max lagi.

            “Dia seseorang yang seharusnya tak mengetahui keberadaanku. Seumur hidupku aku harus menjauh darinya. Namun beberapa tahun yang lalu, menurut penanggalan di bumi ini, aku tak sengaja telah membangunkannya.”

            “Tunggu, apa maksudmu penanggalan di bumi ini. Memangnya kau berasal dari mana? Apakah mungkin tebakanku benar bahwa kau bukan manusia? Oh tidak!” Max menutup mulutnya yang terbuka – dengan kedua telapak tangannya.

            Kim spontan terkekeh menyaksikan mimik lucu lawan bicaranya ini.

            “Tenang, aku tak akan menculikmu dan memakan jantungmu, Max.”

            “Tidak lucu, Kim!” hardik Max gusar.

            “Aku datang dari atas sana.” Kim menunjuk atap apartemen Max – maksudnya adalah dari luar angkasa. “Kita hanyalah tetangga antar galaksi, dan aku manusia sepertimu. Hanya saja sistem kerja tubuh kita berbeda dan itu otomatis mempengaruhi semua segi kehidupan kita. Nanti akan aku ceritakan bagaimana dunia asalku. Kini yang terpenting adalah kau harus melindungiku dari Jonas.”

            “Ok. Baiklah. Aku pun masih syok mengetahui dirimu tidak berasal dari bumi ini. Tak perlu terburu-buru menceritakan tempat asalmu.” Max menyeka dahinya yang tak berpeluh. “Lalu apa yang terjadi hingga kau telah membangunkan Jonas tadi?”

            “Waktu itu aku terpaksa menolong seorang anak kecil yang tenggelam. Kedua mataku mempunyai kemampuan menembus air dan tanah. Dan aku bisa melihat anak itu masih hidup saat ia tenggelam. Tapi aku tak bisa menolongnya dengan menggunakan kekuatan telekinesisku karena terlalu banyak orang di tepi jembatan. Begitu pula beberapa orang yang sudah masuk ke dalam sungai terlebih dahulu. Aku tak kuasa melihat orang tuanya yang menangisi anaknya itu. Akhirnya aku pun ikut masuk menyelam ke sungai karena hanya aku yang mengetahui koordinat dimana persisnya ia tenggelam. Sampai akhirnya anak itu selamat dan aku bisa merasakan bahwa Jonas telah bangun,” cerita Kim menjelaskan.

            Max merubah posisi dengan duduk di tepi ranjang masih serius memperhatikan Kim bercerita. Hanya saja tatapan mata Kim mengarah pada jendela kamar untuk menghindari mata Max.

            “Kau membangunkan Jonas hanya karena kau menolong orang lain tanpa menggunakan kekuatanmu? Itu aneh…”

            “Aku membangunkan Jonas karena aku telah menyentuh anak itu secara langsung saat aku membawanya ke daratan. Aku menolongnya dengan tanganku sendiri tanpa menggunakan kekuatan telekinesisku. Disitulah kesalahanku hingga Jonas terbangun dari tidurnya yang panjang.”

            “Wow.” Max terheran. “Jadi selama kau hidup di dunia ini, maksudku di duniaku, kau tak pernah bersentuhan dengan spesiesku?”

            Kim menggeleng pelan.

            “Memangnya kau sudah berapa lama tinggal di bumi?”

            “Menurut penangggalan duniamu atau duniaku?”

            Max menarik nafas panjang, mencoba bersabar menghadapi ‘bos barunya’. “Keduanya. Aku penasaran dengan penanggalan duniamu itu juga.”

            “Usia kami tidak berdasarkan hari, bulan atau tahun. Usia kami berdasarkan rotasi bintang tempat kami tinggal. Jika bintang itu kehilangan kemampuannya untuk berotasi maka usia kami pun akan terancam.”

            “Jadi jika bintang tempatmu tinggal itu terus berotasi maka usia kalian bisa sampai ribuan tahun?”

            “Ya begitulah.”

            Max mengangkat kedua tangan dan mengusap wajahnya. Ia berusaha memahami cerita Kim dan mencoba mempercayainya. “Wow, sepertinya angka kematian di tempatmu nyaris tak ada…”

            “Tentu saja ada, duniaku juga mengenal sakit, kecelakaan dan juga bencana alam. Dan yang selamat akan meneruskan hidupnya.”

            Malam makin larut dan suara derum kendaraan di sekitar apartemen Max pun mulai menghilang. Jalanan makin sepi. Beberapa kali suara petir menggelegar dari kejauhan. Mendung pun mulai berarak mendekat.

            “Lalu kenapa kau begitu takut pada Jonas?” lanjut Max lagi.

            “Karena ia menginginkan kedua bola mataku. Itu berarti aku harus mati ditangannya dan usia bintang kami pun terancam.”

            Max terhenyak, sedetik kemudia ia sadar bahwa yang akan dihadapinya bukanlah perkara mudah. Karena Kim yang memiliki kekuatan saja begitu takut pada Jonas - apalagi dirinya. Pastilah yang bernama Jonas ini seseorang yang sakti dan memiliki kekuatan melebihi kekuatan Kim.

            “Jika kau saja yang memiliki kekuatan takut pada Jonas, lalu untuk apa kau memerlukanku untuk menjagamu, Kim?” Max menyuarakan unek-unek di hatinya.

            “Karena kau memiliki sesuatu yang ditakuti oleh Jonas.”

            “What? Yang benar saja…Aku? Pada gelap saja aku takut, eh maksudku…bukanlah takut seperti arti kata yang sebenarnya. Maksudku, aku merasa tak aman jika berada didalam kegelapan.” Max terbata menjelaskan menutupi rasa malunya, tapi gagal.

            “Kau takut pada kegelapan karena kekuatanmu ada pada kegelapan itu, Max.”

            Max kembali dibuat melongo dan tak percaya dengan kalimat Kim.

            “Oh ayolah…” Max pun beranjak dan dengan cepat meraih tombol lampu di tembok. Namun apa yang didapatinya? Kim tiba-tiba menghilang. Mata Max nyalang menyusuri seisi ruangan mencari makhluk yang bernama Kim tadi. Dan beberapa kali ia mencoba mematikan tombol lampu dengan harapan agar Kim muncul kembali. Namun sia-sia.

            “Hey, kita bahkan belum sepakat mengenai gaji bulananku,” pekik Max seorang diri.

**********

                        Mata Kim terpejam. Tubuhnya tegap melayang dalam kumparan cahaya biru safir yang mulai meredup. Ia mencoba memusatkan energinya - namun sia-sia, karena kekuatan itu pada akhirnya tak akan berguna jika Jonas semakin mendekat. Desisan serak samar terdengar dari mulut mungil Kim, haruskah ia menyerah pada takdir bahwa sebentar lagi guncangan hebat akan melanda bintang tempatnya tinggal. Tak semua penduduk bintang – tempat tinggal Kim, memiliki mata heterochromia seperti dirinya. Karena ini adalah bagian dari genetik yang didapat Kim dari nenek moyangnya. Semua keturunan heterochromia mempunyai kewajiban untuk menjaga dan melindungi bintang tempat tinggalnya.

Meski pemilik heterochromia tersebar di seluruh bintang - di galaksi Kim, namun saat ini Kim adalah keturunan terakhir di bintangnya, yang harus menjauh dari Jonas agar kehidupan di bintangnya bisa terus berlangsung. Sampai nanti jika Kim mempunyai keturunan dan keturunannyalah yang akan melanjutkan tugasnya sebagai pelindung bintangnya. Namun Jika Jonas sampai berhasil mengambil kedua bola matanya, bintang tempat tinggal Kim akan mendekati akhir hidupnya. Temperatur bintang akan turun, kemudian tekanan di pusat bintang akan membesar dan mulai menyerap energi seluruh penghuni di dalamnya. Dalam waktu beberapa detik bintang ini pun akan runtuh, kemudian meledak menjadi supernova. Itu artinya Kim dan semua kehidupan di bintang – dunia Kim, akan berakhir.

            Perlahan kaki Kim mendarat di atas tanah. Ia pun membuka matanya.

            Max. Dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkanku, batin Kim lesu.

            Seolah ragu dengan kenyataan bahwa Max bukanlah seorang penjaga seperti yang dibayangkannya, namun Kim tak bisa mengelak bahwa Max adalah seseorang yang telah ditakdirkan untuk menolong dirinya. Dan Max tak menyadari bahwa ia mempunyai kekuatan yang sangat besar. Ia lahir di hari dan waktu yang sama dengan Jonas - di galaksi yang berbeda. Sebuah kekuatan magis telah mengikat takdir mereka berdua untuk saling menjaga dan menghancurkan. Kejadian ini hanya bisa dijumpai satu kali dari milyaran manusia dari seluruh penduduk galaksi. Sementara itu ada 18 galakasi di dunia ini. Diantaranya Galaksi Milky Way – tempat tinggal Max, Galakasi Small Magellanic Cloud – tempat tinggal Kim, sebuah galaksi kerdil yang memiliki diameter sekitar 7000 tahun cahaya dan berisi beberapa ratus juta bintang saja. Salah satunya adalah bintang dimana Kim tinggal. Kemudian Galaksi Black Eye – tempat tinggal Jonas.

            Kini yang harus dilakukan Kim sebelum Jonas menemukannya adalah ia harus segera membantu Max untuk mengenali kekuatannya. Agar ia bisa menggunakan dan mengendalikannya. Dengan demikian keselamatan Kim akan terjamin. Karena usia Max sebagai makhluk bumi mempunyai Batasan, Kim tak ingin sampai semuanya terlambat.

Ia pun bergegas mencari koordinat posisi Max saat ini agar ia bisa segera berteleportasi untuk berjumpa dengan lelaki itu. Kemarin malam ia terpaksa harus menghilang karena secara tiba-tiba Max menyalakan lampu kamarnya. Untuk saat ini Kim harus menghindari cahaya terang karena sifat cahaya yang dapat memantulkan sangat berbahaya bagi keberadaannya. Mata Jonas mempunyai kemampuan yang melebihi mata Kim. Kedua bola mata hitamnya mampu menembus ruang dan waktu – dengan memanfaatkan gelombang cahaya. Sehingga Jonas akan dengan sangat mudah menemukan Kim jika dirinya berada di tempat dengan pencahayaan terang.

            Sedetik kemudian tubuh Kim lenyap.

*********

            Sore itu Max menghabiskan waktunya di sebuah café di tepi pantai. Sekedar bernostalgia mengenang saat-saat kebersamaannya bersama Rossi dulu. Wanita cantik yang telah menjadi kekasihnya sejak mereka bersua di bangku kuliah. Hampir setiap hari Max dan Rossi menghabiskan waktu di beberapa café di tepi pantai itu. Setiap pulang dari kampus mereka berdua sepakat untuk mencoba satu-persatu menu – yang disajikan di café, dan duduk bersantai menikmati sun set, hingga bersama mengerjakan tugas kuliah. Sampai akhirnya Rossi mengakhiri hubungan mereka berdua karena ia lebih memilih untuk mengembangkan karirnya di kota lain. Max pun kecewa namun ia tak bisa berbut apa-apa.

            Matahari perlahan merayap dan semburat jingga pun begitu indah menyeruak di ufuk barat. Max menikmati keindahannya seraya menyeruput blue ocean soda yang dipesannya. Setelah semua keindahan itu sirna, Max pun memutuskan untuk beranjak dan pergi dari Butchers Club café.

            Selang beberapa langkah dari café itu, tiba-tiba terdengar sebuah suara memanggil Max. Merasa namanya dipanggil, lelaki ini pun membalikkan badan mencari sumber suara.

            “Hai, apa kabar?” sapanya.

            Mata Max terbelalak, ia bahkan tak percaya dengan obyek yang tampak dihadapannya.

            “Kau baik-baik saja?” ucapnya lagi.

            Max berusaha menguasai diri kemudian mengembangkan senyum lebarnya. “Rossi?” tanyanya meyakinkan diri. “Yeah, aku baik-baik saja.” Langkah kaki Max bergerak mendekat.

            “Kau sudah akan pergi?”

            “Yeah, maksudku tadi, tapi sekarang tidak…”

            “Ok. Bisa kita…” Rossi menatap bangku di luar café itu. “Duduk sebentar.”

            “Tentu,” sahut Max cepat.

            Rossi tampak begitu cantik dan elegan. Dia telah berubah 180 derajat sejak Max terakhir melihatnya dahulu. Sekarang Rossi mendadak muncul dan mengejutkan Max.

            “Kau kembali ke kota ini? Liburan?” tanya Max sedikit canggung.

            “Yup, begitulah,” jawab Rossi singkat.

            “Ok.”

            Hening sesaat.

            “Kau ingin minum sesuatu?” Max menawarkan.

            “Tidak, terima kasih. Aku sudah minum tadi. Blue ocean soda, seperti minumanmu.”

            Max tersadar, ternyata Rossi telah berada di café yang sama dengan dirinya sejak tadi.

            “Oh, kau sudah berada di café ini sejak tadi? Kenapa tak bergabung denganku?”

            “Aku tak begitu yakin. Mungkin saja kau masih marah padaku.”

            “Nope, tidak. Hal itu sudah berlalu.”

Rossi melemparkan senyum termanisnya. Senyum yang sangat digandrungi oleh Max dan Rossi tahu itu.

Oh tidak, batin Max berusaha menghindar dan mengalihkan pandangannya pada bibir pantai yang mulai menghilang tergerus keremangan malam yang mulai menyapa. Sementara sinar lampu dari dalam café temaram sampai di meja Max dan Rossi – yang berada agak jauh di luar café.

“Hai, Max.” Suara khas yang baru saja dikenalnya tiba-tiba menyapa Max. Kim telah berdiri di seberang meja, dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya – menyembunyikan kedua bola mata miliknya.

Serempak Max dan Rossi menoleh dan sama-sama terkejut.

“Kim!” panggil Max parau. “Kau, kau muncul disini?”

Max beranjak dan berdiri di sisi meja. Rossi bergantian menatap Max dan Kim.

“Siapa dia, Max? Kau tak ingin memperkenalkannya padaku?” tanya Rossi spontan. Terselip nada cemburu di kalimat Rossi.

“Hai, Rossi. Senang bertemu denganmu. Perkenalkan, aku Kim,” sapa Kim lembut sembari melambaikan tangannya. Ia tak ingin menjabat tangan Rossi karena hal itu akan membuat Jonas menemukannya lebih cepat lagi.

Rossi pun terkejut karena Kim menyapanya terlebih dahulu. Dan ia mengetahui namanya. Bagaimana bisa?

Wanita ini pun beranjak. “Maaf, aku tak tahu jika aku telah mengganggu acara kalian berdua. Aku, aku tak tahu jika Max ternyata menunggumu Kim. Sebaiknya aku pergi.” Reaksi Rossi sedikit berlebihan.

“Rossi, tunggu! Ini tidak seperti dugaanmu. Kami hanya berteman. Dan aku tidak menunggu siapa-siapa tadi,” sergah Max mencoba menahan kepergian Rossi.

“Teman? Maafkan aku Rossi, perkenankan aku untuk sedikit membetulkan kalimat Max tadi. Dia bekerja untukku.” Tunjuk Kim jumawa. “Dia adalah penjagaku…”

Wajah Rossi bersemu merah. Ia sangat gusar dan sedikit kecewa. Ia mengharapkan lebih pada diri Max saat ia kembali ke kota ini. Namun ternyata semua sudah berubah.

Max pun melotot tajam ke arah Kim – lebih tepatnya ke kacamata Kim.

“Mungkin lain kali Max. Kita akan bertemu lagi, semoga. Aku pergi dulu. Bye.” Rossi bergegas melangkahkan kakinya selebar mungkin. Ia begitu ingin segera pergi dari situ. Ia kecewa.

Max sadar tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia pun terkulai lesu duduk di bangkunya kembali. Diikuti oleh Kim yang menepati kursi Rossi – yang telah pergi.

“Kau merusak hariku, Kim.”

“Maaf, tapi itu demi kebaikan Rossi juga.”

“Oh ya!” Max berseru tak percaya.

“Jonas akan menganggap Kim sebagai kelemahanmu dan bisa jadi ia juga akan memburu Kim untuk mendapatkanku.” Kim menjelaskan berharap Max mempercayainya.

Max membisu. Matanya nanar menatap deburan ombak. Ia masih berharap banyak pada Rossi, Max masih mencintai wanita itu. Dan Kim datang menghancurkannya.

“Baiklah, sekarang kau sudah mendapatkan keinginanmu. Rossi telah pergi dan aku terjebak disini bersamamu. Mari kita mulai berbicara mengenai bisnis, OK?”

Kim mengangguk pelan. “Tentu, dengan senang hati.”

“Berapa gajiku perbulan?”

“Hmm, apakah kau tipe lelaki yang selalu berterus terang pada kencan pertama?” seloroh Kim melucu.

“Keadaan yang memaksaku, Nona. Sebutkan berapa gajiku? Jangan kau katakan kau tak memiliki mata uang dari dunia kami.”

Senyum itu menjawab kegundahan hati Max. Sesaat Max menangkap senyum termanis itu dengan leluasa karena kacamata Kim melindunginya dari pengaruh hipnotis matanya. Dan Max menikmatinya tanpa mengeluh.

“Kau akan mendapatkan semua yang engkau mau saat Jonas benar-benar kau musnahkan. Karena aku tak ingin berlama-lama di duniamu ini. Aku sudah rindu kampung halamanku.” Kim setengah berbisik pada kalimat terakhir yang diucapkannya.

“Apa jaminannya? Siapa tahu kau melarikan diri setelah aku berhasil memusnahkan Jonas.”

Kim melepas sebuah kalung dari lehernya. Selama ini bandul kalung itu tertutup oleh pakaian Kim. Setelah menimang sebentar kalung itu, Kim pun menyerahkannya pada Max.

“Kalung itu adalah barang turun temurun dari leluhurku. Saat ini, sebagai keturunan terakhir, sampai aku menikah dan mempunyai keturunan heterochromia, kalung itu adalah barang pusaka ku.”

Mata Max menyipit dan mendekatnkan kalung itu, ia mengamatinya dengan sangat teliti. Sepertinya tak ada yang istimewa dengan kalung itu. Hanya sebuah kalung perunggu dengan bandul berbentuk kerucut. Lebih mirip pendulum untuk menghipnotis orang.

“Baiklah. Akan aku simpan kalungmu ini sebagai jaminan.” Max berseru sembari memasukkan kalung itu ke dalam kantong celananya.

Kim pun menghembuskan nafasnya lega. Komprominya dengan Max telah berhasil. Perlahan jari-jari Kim menyentuh gagang kacamata yang dikenakannya. Ia berniat melepaskan kacamata hitam itu.

“Jangan coba-coba untuk melepaskan kacamata itu, Kim. Atau aku akan membatalkan kesepakatan kita,” ancam Max serius.

“Baiklah. Jika memang itu membuatmu nyaman.”

“Omong-omong, bagaimana caraku menggunakan kekuatanku. Bukankah kau katakana bahwa akuk mempunyai kekuatan…”

“Pusatkan fikiranmu pada ketakutanmu. Disanalah kekuatanmu akan muncul dengan sendirinya.”

Max mengangkat tangan kanannya dan menopangkan kepalanya diantara jari-jari tangannya. “Berhentilah memberiku teka-teki, Kim.”

“Ini bukan teka-teki Max. Ini petunjuk yang bisa kuberikan padamu. Karena aku pun tak tahu kekuatan besar yang bagaimana yang kau miliki. Aku hanya bisa merasakan aura kekuatanmu itu. Seperti halnya kau mampu merasakan aura negatif atau positif pada diri seseorang.”

Mata Max menyipit kembali. Ia merasa ditelanjangi oleh Kim. Karena Kim begitu banyak mengetahui dirinya.

“Bukankah kau takut pada gelap, Max?”

“Tak perlu diperjelas, Kim.”

Kim terkekeh lucu.

“Hey, aku hanya ingin mengatakan bahwa kekuatanmu ada pada ketakutanmu, yaitu kegelapan.”

“Jika aku sudah menemukan kekuatanku. Bisakah aku memiliki sayap, Kim. Seperti di film-film science fiction. Seorang guardian angel tampan memiliki sayap indah di punggungnya.”

Kembali Max membuat Kim tertawa.

“Aku serius, Kim.” Max gusar karena keseriusannya dianggap lucu oleh Kim. Kim pun mencoba menahan tawanya dengan menutup mulutnya.

“Ok, maaf. Sayap seperti apa yang kau inginkan? Sayap merpati, sayap kelelawar atau sayap capung?”

“Kim!!!”

  • view 119

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Bagian kedua ini lebih bagus dari penggalan awal, yang juga sempat terpilih mewakili pilihan redaksi beberapa waktu lalu. Dalam fiksi ini, kepiawaian Wiwit merangkai cerita lebih terlihat dimana ia memperhatikan rincian imajinasinya lalu berhasil menuangkan detil tersebut menjadi jalinan alur yang cermat.

    Walau sebenarnya ide fiksi semacam ini, berbau sci-fi, bukan hal yang baru, patut kita acungi jempol bagaimana Wiwit menggambarkan kekuatan Jonas, kelemahan Kim, misalnya. Wiwit juga sukses menyinggung secuil kehidupan di dunianya Kim, yang meski rekaan, menjadi sesuatu yang penting. Pada bagian terakhir, si kreator turut menyinggung kehidupan asmara Max, menjadikan fiksi ini mempunyai bumbu hiburan keren sebab soal hubungan pria dan wanita tetap menarik buat dibaca. Ditunggu kisah selanjutnya ya, Wit. Benar-benar harus dituntaskan loh.