THE GUARDIAN JOB #Perjumpaan Max dengan Kim

THE GUARDIAN JOB #Perjumpaan Max dengan Kim

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Oktober 2017
THE GUARDIAN JOB #Perjumpaan Max dengan Kim

Max terbangun dengan peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia bermimpi lagi. Mimpi yang sama. Sudah satu minggu ini ia terbangun gara-gara mimpi itu. Wajah Samar itu kembali menghiasi pelupuk matanya. Mengapa selalu sosok kurus itu yang mendatanginya dalam mimpi. Max bahkan tak bisa mendeskripsikan siapa dia – pria atau wanita. Karena rambut cepak dan tubuh rampingnya yang berbalut coat oversize gelap menghalangi matanya untuk memastikan dia pria atau wanita. Setidaknya ia mengetahui bagian-bagian tertentu yang bisa membedakan seseorang itu pria atau wanita. Yang membuatnya semakin penasaran adalah ada yang lain dari bola matanya. Max tak pernah mendapati bola mata semacam itu dalam kehidupan nyatanya. Tidak pada seorang manusia. Kini Max semakin galau, apakah sosok dalam mimpinya itu benar seorang manusia atau bukan.

            Max meregangkan kedua tangannya dan memaksakan diri untuk bangun. Ia masih mencoba mencari jawaban atas mimpinya namun waktu mendesaknya agar segera bergegas. Karena jika ia terlambat lagi datang ke tempat kerjanya bisa jadi bos kecilnya itu akan memecatnya dengan tidak hormat. Bos yang sangat menjengkelkan. Hanya karena ia adalah anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja, serta merta ia langsung menempatkan dirinya di jajaran direksi dan orang paling berpengaruh di perusahaan itu. Sebuah kondisi yang sudah pasti diinginkan oleh setiap manusia saat ia lahir dan bisa menentukan sendiri di keluarga mana ia akan tinggal.

            Setelah mengabiskan waktu beberapa menit untuk mandi dan kemudian menghabiskan sisa makanan semalam – anggap saja itu sebagai sarapan, Max pun bergegas pergi meninggalkan apartemen – yang tidak begitu mewah. Karena ia tak memiliki kendaraan pribadi, seperti biasa ia ikut berdesakan dalam sebuah angkutan umum agar bisa sampai ke tempatnya bekerja.

            Perjalanan ke tempat kerja awalnya lancar, ia mendapatkan tempat duduk yang nyaman – tidak seperti biasanya ia harus rela berdiri di dekat pintu keluar-masuk kereta api. Sampai pada akhirnya ia menangkap sosok dalam mimpinya yang duduk tepat di depannya. Entah darimana datangnya sosok itu tiba-tiba begitu saja duduk di hadapannya. Sosok itu menarik ujung bibirnya beberapa mili. Dan saat mata Max mencoba menatap dalam-dalam bola mata di hadapannya ia mendadak terhenyak beberapa detik. Hingga saat ia berusaha menguasai dirinya, sosok itu pun lenyap.

            Kini ia sibuk harus mencari kemana perginya sosok itu. Dan baru saja disadarinya bahwa saat ini ia tidak dalam keadaan tidur. Ia sadar dan seratus persen terjaga dengan kesadaran penuh dan mata terbuka lebar. Lalu mengapa sosok itu menjumpainya?

            Akhirnya kereta api berhenti di stasiun berikutnya. Max pun bergegas turun dalam keramaian penumpang lainnya. Beberapa kali diliriknya Rolex di tangan kanannya – hadiah dari Rossi yang sangatlah sayang jika harus ikut dibuang.

            Terlambat, batinnya mengeluh.

            Bergegas langkah kaki panjang Max memasuki gedung pencakar langit tempat dia bekerja. Kantornya sendiri berada di lantai 55, itu berarti ia harus menambahkan beberapa menit lagi untuk sampai disana. Beberapa menit terlambat.

            Pintu lift pun terbuka dan sosok mungil dengan sorot mata lebarnya yang tajam itu telah menyambut Max tepat satu meter di hadapannya.

            “Kau terlambat!” tuduhnya pongah.

            “Aku tahu. Maaf,” ucap Max lemah.

            “Kau diskors, kau boleh kembali lagi minggu depan.”

            Mulut Max menganga lebar. “Apa?”

            “Kau tidak dengar? Apakah suaraku kurang keras atau kalimatku yang kurang jelas?” Wanita bertubuh mungil dengan sanggul tinggi di kepalanya dan kacamata bulat di ujung hidungnya ini berlagak innocent.

            “Entahlah, aku hanya berpikir mengapa aku harus diskors? Aku hanya terlambat..” Max kembali melirik tangan kanannya. “Sepuluh menit saja.”

            “Kau tahu berapa yang dihasilkan oleh perusahaan ini setiap sepuluh menitnya? Mungkin bagimu sepuluh menit itu suatu hal yang sepele. Namun tidak bagi perusahaan ini. Kau telah merugikan perusahaan sebanyak sepuluh juta hanya karena kau menyia-nyiakan sepuluh menitmu itu.”

            “Ini tidak masuk akal…” gerutu Max.

            “Ini sangat masuk akal Tuan Max.” Senyum kemenangan tertoreh di bibir tebal wanita menyebalkan yang kerap kali dipanggilnya bos kecil di hadapan teman-temannya. Tatapan matanya sinis menusuk hati Max. Ia telah diperlakukan secara tidak adil oleh makhluk yang bernama wanita ini.

            Sejak kedatangan Miss Lauren di kantornya dan mengambil alih salah satu kursi direksi  - yang telah ditendang secara tidak hormat karena skandal korupsi dan perselingkuhan dengan salah satu karyawan di kantor ini, membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi wanita menyebalkan itu. Dan Max sudah bisa merasakan aura negatif yang kerap muncul saat Miss Lauren melangkahkan kakinya untuk pertama kalinya di kantor ini.

            “Hey, kau masih ingin mematung disitu atau menyingkir dari hadapanku? Kau menghalangi langkahku,” hardik Miss Lauren ketus.

            Max menahan emosinya dan berusaha tenang. Ia pun menggerakkan kakinya satu langkah ke samping kanan, menyingkir seperti perintah bos kecilnya.

            Miss Lauren pun melangkah memasuki lift yang bersiap turun.

            Max berbalik cepat dan menangkap Miss Lauren dengan sorot mata yang tak kalah tajam.

            “Kau tak perlu menskorsku, hari ini juga aku berhenti dari perusahaan ini.” Kemudian Max pergi meninggalkan wanita itu dalam kebingungan. Ia bergegas menuju meja kerjanya dan berniat mengumpulkan semua barangnya.

            Wajah Miss Lauren masih setengah sadar kala pintu lift tertutup.

            “Apa yang kau lakukan? Mengapa kau tak mengalah saja tadi?” tanya Alex teman sekantor Max.

            “Kau pikir aku akan melakukan itu?” timpal Max.

            “Well… tidak sih.”

            “Sudahlah, aku toh masih bisa mencari pekerjaan lain, kawan.” Max menepuk pundak Alex seraya memasukan beberapa barang pribadinya ke dalam tas ranselnya dari atas meja kerja.

            “Aku akan merindukanmu, kawan. “ Alex tak kuasa menahan diri dan memeluk Max sesaat.

            “Tolong sampaikan salam perpisahan dan terima kasihku pada yang lainnya. Jangan beritahu mereka sebelum aku pergi dari sini. Aku tak ingin yang lain terkena masalah hanya karena mengucapkan simpatinya padaku, OK?”

            Alex mengangguk lemah. Memang hanya dia lah yang mendapati Miss Lauren dan Max berdebat di depan lift beberapa waktu yang lalu.

            “Aku pergi dulu, kawan. Sampai jumpa. “

            Alex menatap punggung Max sampai hilang dibalik pintu lift yang kembali menutup pelan.

            Mungkin ini adalah keputusan terbodoh yang harus aku ambil saat ini. Namun sisi baiknya adalah aku tak akan melihat wajah menyebalkan bos kecil itu lagi, fikir Max menghibur diri.

**********

            Malam ini Max tak bisa memejamkan matanya. Begitu banyak hal yang berlalu lalang mengisi tempurung kepalanya. Ia telah menghabiskan beberapa gelas susu hangat, telah membaca beberapa lembar halaman novel Origin karya Dan Brown - yang belum habis dibacanya. Hingga melakukan push up dan plank agar ia bisa tertidur karena kelelahan. Namun semua itu sia-sia.

            Akhirnya satu hal yang sangat dibencinya harus ia lakukan agar bisa segera terlelap. Mau tak mau ia harus mematikan lampu kamarnya dan hanya menyalakan sebuah lampu tidur di sisi kanan ranjangnya. Suatu hal yang begitu dihindarinya. Karena lelaki tampan bertubuh tegap dengan rambut semi gondrong - yang selalu dikuncirnya rapi saat ia bekerja ini ternyata takut pada kegelapan. Sungguh ironis.

            Kini cahaya temaram lampu tidur menemani Max dalam sepi. Max pun mulai memejamkan mata dengan selimut menutupi tubuhnya sampai batas pinggang.  Kedua lengan kekarnya bersendekap. Beberapa menit pertama suasana hening dan penerangan yang redup ternyata berhasil menghantarkan Max pada masa transisi dimana tubuhnya mulai tertidur namun otaknya masih bekerja. Hingga tiba-tiba Max mendadak terbangun dan terduduk di atas tempat tidur.

            Nafas Max memburu dan jeda beberapa menit itu telah membuat tubuh Max bermandi keringat dalam ruanga berpendingin itu.

            Mata Max terbuka lebar dan menatap lurus ke depan.

            “Kau kah itu?” tanyanya dalam kamarnya yang remang dan sunyi.

            Hening.

            Mata Max masih sibuk menyisir seluruh ruangan kamarnya. Karena merasa terhalang oleh cahaya yang kurang memadai, Max pun menggapai tombol di sisi kanan ranjangnya – di tembok belakang lampu  tidurnya. Dan bersamaan dengan itu terdengar suara pekikan seorang wanita.

            “Jangan!”

            Serta merta Max menarik tangannya cepat. Sedetik kemudian tampak sosok wanita berambut cepak dengan tubuh semampai berdiri di ujung ranjang.

            “Kau?”

            Wanita itu tersenyum. Sangat manis hingga mata Max bisa menangkap senyum itu dalam keremangan.

            “Hai, Max,” sapa wanita itu pelan. Suaranya merdu mendayu seperti sebuah desau angin.

            “Siapa kau sebenarnya?” tanya Max penasaran. “Bukankah kau beberapa kali muncul dalam mimpiku? Untuk apa kau mendatangiku dalam mimpi? Dan kini tiba-tiba kau keluar dari mimpiku dan nyata berada di depanku.”

            “Kau yakin ini bukan mimpi?” Wanita itu mencoba berteka-teki.

            Max mencubit lengannya dan mengaduh menahan sakit. Wanita itu pun terdengar terkekeh pelan.

            “Kau sengaja membuatku mencubit diriku sendiri hah?”

            Bodohnya aku, fikir Max sesaat..

            “Aku mencoba memberitahumu  bahwa ini bukan mimpi.”

            “Baiklah, terserah saja. Apa sebenarnya maumu? Kenapa kau menggangguku?”

            “Bukan aku yang mengganggumu, tapi kau lah yang menggangguku.” Wanita itu berbalik memojokkan Max.

            Max terkekeh sinis. “Ayolah! Kau yang selalu datang dalam mimpiku, dan kau sebut aku yang mengganggumu. Kau pasti bercanda.”

            Wanita itu tersenyum lagi. Kali ini lebih manis dari yang tadi.

            “Kumohon berhentilah tersenyum,” perintah Max cepat. “ Senyummu itu sangat menggangguku.”

            Yup, sebuah senyum manis bagaikan sebuah candu bagi Max. Seperti senyum Rossi.

            Wanita itu menarik alisnya.

            “Maafkan aku jika ternyata senyumku bisa sangat mengganggumu. Aku baru tahu itu.” Ditariknya kedua bahunya sepersekian detik.

            “Baiklah kembali ke pokok masalah. Untuk apa kau mendatangiku? Dalam mimpi dan kini secara real di depan hidungku.” Max meminta penjelasan.

            “Kau tak ingin tahu namaku terlebih dahulu?”

            “Owh, kau ternyata mempunyai nama. Baiklah, siapa namamu?” Max menarik kedua kakinya dan melipatnya – duduk bersila.

            “Namaku Kim.”

            “Ok, Kim, sekarang kumohon jelaskan apa maumu?”

            “Aku ingin menawarimu sebuah pekerjaan.” Tatapan lembut Kim sejenak memaku mata Max untuk menatapnya. Sejurus Kemudian Kim menunduk dan Max terhenyak sesaat menyadari dirinya telah larut dalam sesuatu yang tak bisa dijelaskannya.

            “Kau tadi bilang apa?” ulang Max.

            Kim tertawa kecil dan Max menikmati tawa itu.

            Ya Tuhan, kenapa aku ini. Max mulai tersadar.

            “Cukup! Apa yang kau lakukan padaku? Kau menghipnotisku?” tuduh Max.

            “Bukan aku yang melakukannya. Kau sendiri yang menginginkannya,” ucap Kim datar.

            Max beranjak dari ranjangnya. Ia tak mengerti apa yang saat ini telah terjadi pada dirinya. Sesuatu pada diri Kim telah membuatnya larut dan tersesat. Ia tersesat saat Max menatap bola mata itu dalam keremangan. Ada sesuatu disana yang tak dimengerti Max. Meski ia tak bisa melihat dengan jelas namun sesuatu yang kuat menarik dirinya untuk masuk dan tersesat di dalamnya.

            Max tak bisa menahan diri lagi. Ia berjalan mendekati Kim. Mencoba untuk mengenal lebih dekat sosok misterius yang akhir-akhir ini mengganggu tidurnya. Sementara Kim membisu mengamati segala gerak-gerik Max. Mimik mukanya yang sejak tadi penuh dengan senyuman kini datar dan tak berekspresi.

            “Kau menyelidikiku?” Suara desauan dari mulut Kim kembali terdengar begitu merdu.

            Max menggeleng. “Aku hanya penasaran makhluk apakah sebenarnya dirimu?”

            “Baiklah. Jika kau sudah selesai, kita bisa kembali membicarakan bisnis…”

            “Hah, bisnis…”

            Max berhenti disamping kanan Kim. Wanita ini masih diam tanpa merubah posisi berdirinya.

            “Sudah selesai?”

            “Ya.”

            “Baiklah. Kini biarkan aku menyelesaikan kalimatku.” Kim menarik nafas panjang sesaat. “Aku ingin menawarimu sebuah pekerjaan.”

            Lelaki ini bersendekap dengan kepala setengah mendongak menatap rambut cepak Kim yang sekilas memang tampak seperti potongan rambut seorang lelaki.

            “Kenapa kau pikir aku sedang memerlukan sebuah pekerjaan?” Max bertanya angkuh.

            “Karena kau memang memerlukan pekerjaan,” jawab Kim singkat.

            Memang benar, batin Max dalam hati.

            “Pekerjaan apa?” Rasa ingin tahu Max menggelitik dirinya untuk bertanya lebih jauh.

            “Menjagaku.”

            “Kau bercanda?”

            Kim menggeleng, masih dengan posisi semula. Tidak demikian dengan Max, ia semakin penasaran dan beranjak melangkahkan kakinya berdiri tepat dihadapan wanita misterius ini.

            “Kenapa kau memerlukanku untuk menjagamu? Aku bukan seorang bodyguard. Kau salah alamat, nona. Lebih baik kau cari yang lain saja. Aku tidak tertarik.”

            “Aku bisa saja membuatmu patuh dan menuruti keinginanku. Tapi itu tidak mengasyikan bukan? Mempekerjakan seseorang dibawah pengaruh hipnotis.”

            Max ternganga lebar. Berarti benar bahwa dirinya sejak tadi sempat terhipnotis oleh Kim.

            “Jadi benar kau tadi telah menghipnotisku?” selidik Max menatap Kim yang masih menunduk. “Hello, jangan berlagak tak berdosa seperti itu.”

            “Jadi bagaimana, kau mau menerima tawaranku?”

            “Entahlah…”

            Sedetik kemudian Kim menengadah dan menatap mata Max. Dalam temaram sinar lampu tidur Max samar melihat kedua bola mata Kim menyala dan mata itu mempunyai warna yang berbeda. Mata kanan Kim berwarna biru safir dan mata kirinya berwarna hijau zamrud. Sesuatu dari dalam mata itu menarik Max untuk masuk lebih dalam dan tiba-tiba ia merasa tak berdaya. Hingga Kim mengedipkan matanya dan kembali menunduk.

            Kembali Max terhenyak. Ini sudah kesekian kalinya Max terhipnotis dan ia baru saja menyadari bagaimana cara kerja mata Kim mempengaruhi dirinya.

            “Kau!” Max terkagum dengan rasa takut yang terselip di nada suaranya.

            “Bagaimana? Kau setuju? Jika kau mau menerima tawaranku, aku akan menjelaskan semuanya padamu.”

            Max yang dipenuhi rasa penasaran pun tak mempunyai pilihan lain. Ia ingin mengetahui bagaimana caranya Kim bisa hadir dalam mimpinya selama satu minggu berturut-turut hingga akhirnya wanita ini menampakkan dirinya secara nyata di hadapannya.


*) Bersambung

  • view 301

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Yang menarik dari fiksi ini rasa penasaran yang masih tetap berlanjut hingga penggalan cerita ini berakhir. Si kreator, Wiwit Astianing, sanggup memenuhi janjinya di akhir tulisan yang akan menyambungkan fiksi ini di bagian berikutnya.

    Selain poin tersebut, hal lain yang bagus dari rekaan ini adalah kemampuan sang penulis dalam menampilkan dialog menggigit disesuaikan dengan karakter tokoh-tokohnya. Sehingga kita pun bisa mengetahui bahwa Max merupakan tokoh yang tegas dan teguh pada pendirian. Sedangkan, Kim, di lain pihak adalah wanita yang periang dan suka teka-teki sekaligus lembut. Ditunggu bagian berikutnya, Wiwit!