Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 13 Juli 2017   14:21 WIB
SUAPAN TERAKHIR

"Mak, aku lapar." Rodiyah memelas meminta suapan nasi terakhir di tangan emaknya.
"Ini jatah Rohaya, nduk, adikmu." Tangan emak siap mendaratkan kepalan nasi ke mulut Rohaya.
Spontan Rodiyah menarik tangan emaknya cepat. "Mak, aku masih lapar, " ulangnya.
Tangan Juminten tertahan oleh tarikan jemari mungil Rodiyah.
Tetes air kedua telaga bening Juminten tak tertahan lagi. Hidup semakin terasa berat jika mati pun bukan solusi terbaik untuk melaluinya.
Kembali tangan Juminten yang terlepas meluncur ke mulut si mungil Rohaya yang terdiam.
"Mak!" Rodiyah refleks menarik langsung kepalan nasi di tangan Juminten dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Hap."
Juminten sontak kaget dan berniat memukul gadis kecil yang belum genap 5 tahun ini. Namun tangan Juminten tertahan oleh lengan Kar, suaminya.
Juminten menengadah masih dengan linangan air mata di pipinya, menatap Kar sedih.
"Rohaya sekarang tak memerlukan suapan nasimu lagi, Jum. Dia sudah tenang di alam sana."
Tangis Jum pun semakin menjadi. Ditatapnya tubuh mungil berbalut kafan putih di hadapannya.
Ya, si mungil nan lucu Rohaya telah tiada karena serangan demam berdarah di kampung kumuh itu. Ia pergi untuk selama-lamanya.

#FlashFiction

Karya : Wiwit Astianing