SUAPAN TERAKHIR

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juli 2017
SUAPAN TERAKHIR

"Mak, aku lapar." Rodiyah memelas meminta suapan nasi terakhir di tangan emaknya.
"Ini jatah Rohaya, nduk, adikmu." Tangan emak siap mendaratkan kepalan nasi ke mulut Rohaya.
Spontan Rodiyah menarik tangan emaknya cepat. "Mak, aku masih lapar, " ulangnya.
Tangan Juminten tertahan oleh tarikan jemari mungil Rodiyah.
Tetes air kedua telaga bening Juminten tak tertahan lagi. Hidup semakin terasa berat jika mati pun bukan solusi terbaik untuk melaluinya.
Kembali tangan Juminten yang terlepas meluncur ke mulut si mungil Rohaya yang terdiam.
"Mak!" Rodiyah refleks menarik langsung kepalan nasi di tangan Juminten dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Hap."
Juminten sontak kaget dan berniat memukul gadis kecil yang belum genap 5 tahun ini. Namun tangan Juminten tertahan oleh lengan Kar, suaminya.
Juminten menengadah masih dengan linangan air mata di pipinya, menatap Kar sedih.
"Rohaya sekarang tak memerlukan suapan nasimu lagi, Jum. Dia sudah tenang di alam sana."
Tangis Jum pun semakin menjadi. Ditatapnya tubuh mungil berbalut kafan putih di hadapannya.
Ya, si mungil nan lucu Rohaya telah tiada karena serangan demam berdarah di kampung kumuh itu. Ia pergi untuk selama-lamanya.

#FlashFiction


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Pilihan redaksi kali ini agak beda dari biasanya. ‘Flash fiction’ karya Wiwit Astianing ini mungkin jadi yang pertama kami ambil jadi pilihan redaksi. Agak susah menulis fiksi kilat seperti ini sebab pemilihan kata tepat menggambarkan emosi jadi salah satu kuncinya. Wiwit melakukan ini secara apik.

    Judul yang miris dilanjutkan ke badan tulisan yang menjelaskan semuanya. Berkisah tentang keluarga yang sangat miskin hingga untuk makan pun sangat terbatas. Untuk lebih menyedihkan lagi, Wiwit mengambil fokus pada dua bocah cilik yang sama-sama sedang kelaparan. Dimana akhirnya si bungsu, Rohaya, akhirnya meninggal dunia karena kelaparan, saat sang kakak, Rodiyah, masih ingin meminta makan lagi sebab masih kelaparan. Ditulis dengan banyak memasukkan elemen gerakan dengan minim dialog dengan penempatan tepat, fiksi singkat ini nampol banget sedihnya.