CINTA TAK PERNAH SALAH

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Mei 2017
CINTA TAK PERNAH SALAH

Diantara hujan itu Adam bertemu kembali dengan Bunga. Suasana yang begitu mendukung dan romantis. Keduanya terlanjur basah kuyub. Berdiri mematung berhadapan dalam derasnya guyuran air hujan. Waktu telah memisahkan mereka begitu lama namun tanpa harus bertanya nama, mereka berdua sudah sangat mengenal siapa sosok yang berdiri di hadapan mereka masing-masing.

                Kala itu Bunga yang berdiri di sebuah halte tengah menunggu taksi yang sudah dipesannya lewat aplikasi online yang biasa digunakannya. Namun entah mengapa taksi yang seharusnya sudah datang 15 menit yang lalu terlambat datang ke alamat yang sudah dimasukkan dalam aplikasi itu. Hingga akhirnya saat taksi telah perlahan berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan halte, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang berlari menerobos guyuran hujan menyerbu taksi itu. Serta merta lelaki itu memegang outer handle pintu taksi tersebut. Bunga pun berteriak nyaring tak terima karena taksi pesanannya diserobot oleh seseorang yang tak dikenalnya.

                “Hei!” pekiknya nyaring memecah derasnya air hujan. Bunga tak perduli lagi jika kini tubuhnya pun terkena guyuran air hujan.

                Lelaki itu menoleh dan menatap Bunga lekat, ia ingin memastikan bahwa wanita yang berteriak begitu kencang adalah sosok yang kini datang mendekat padanya.

                “Itu taksi pesanan saya,” hardik Bunga kencang dan semakin mendekat.

                Sampai akhirnya jarak mereka berdua hanya terpisah beberapa senti dan serempak mereka terdiam dibawah guyuran air hujan.

                Kisah lama yang telah terekam dalam memori mereka berdua kembali terulang begitu jelas. Dan kelebat serpihan-serpihan episode kebersamaan mereka samar tergambar di pelupuk mata keduanya.

Hati itu masih saling terpaut satu sama lain. Hati yang saling membutuhkan namun tak sempat tuk diutarakan. Hati yang sama namun telah berada di dunia yang berbeda. Yang dulu diam tak bersuara dan kini mulai memekik dan memanggil namanya.

 

 

 

                “Sayang aku nanti pulang terlambat lagi,” ucap Reihan pelan dengan nada menyesal.

                Wanita yang duduk dihadapannya hanya mengangguk pasrah. Suapan terakhir yang telah masuk ke mulutnya sudah terasa hambar kini. Namun ia paksakan untuk mengunyahnya sampai tuntas dan menelannya cepat.

                “Maafkan aku. Tapi kau tahu aku hanya seorang karyawan biasa dan tak bisa menolak tugas dari atasan. Aku janji setelah proyek ini selesai, kita akan pergi ke Malang untuk berlibur dan mengunjungi orang tuamu.” Reihan mencoba merayu istrinya lagi.

                Bunga masih tertunduk lesu tanpa sedikitpun membalas ucapan Reihan.

                Reihan menatap lekat Bunga penuh kasih. Ia berada dipersimpangan antara keluarga dan karirnya. Keduanya sungguh berharga namun harus dipilihnya. Dan Reihan mau keduanya meski harus mengorbankan perasaan Bunga, istrinya.

                Seraya menggapai telfon pintar di meja makan, Reihan beranjak dan mendekat pada Bunga. Dikecupnya mesra kepala wanita yang telah menemani hidupnya selama 10 tahun ini.

                “Aku berangkat dulu,” bisik Reihan pelan dan berlalu meninggalkan Bunga yang masih terpaku di tempatnya.

                Bunga tersungkur sesenggukan diatas meja makan. Ini sudah yang kesekian kalinya Reihan membatalkan janji untuk berakhir pekan bersama. Setelah membatalkan janji sebelumnya satu minggu yang lalu. Dan janji sebelumnya satu bulan yang lalu. Kemudian janji sebelumnya lagi dua bulan yang lalu. Selalu begitu. Kini ia pun harus pergi meninggalkan Bunga menangisi hari-hari sepinya seorang diri. Demi karir katanya.

                Awalnya Bunga curiga dan diam-diam menyelidiki Reihan melalui beberapa temannya. Yang secara samar dan tersusun rapi, skenario itu telah sukses menguntit Reihan dan pekerjaannya. Suaminya itu memang benar-benar bekerja dan menghabiskan waktunya di kantor. Bunga pun lega.

                Namun lambat laun kesibukan Reihan makin menjadi dan Bunga tak lagi menjadi nomor 1 bagi Reihan. Bunga pun resah.

 

 

                Malam telah begitu larut. Bunga tertidur di sofa ruang tamu. Reihan belum pulang dan Bunga dengan sabar menunggunya hingga terlelap disana.

                “Sayang, bangun. Kenapa kau tidur disini?” gugah Reihan pelan sembari menggoyang tubuh Bunga pelan.

                Bunga membuka matanya tertahan dan didapatinya Reihan duduk di ujung kakinya.

                “Aku menunggumu.” Bunga bangun dan terduduk dihadapan Reihan.

                “Maaf, setelah rapat tadi teman-teman mengajakku makan malam dahulu sampai lupa waktu.” Reihan beralasan.

                Bunga menahan diri untuk tak melampiaskan kekesalannya. Ia pun beranjak meninggalkan Reihan menuju meja makan.

                “Hei, malam-malam begini kau mau makan?” tanya Reihan membuntuti. Ditariknya sebuah kursi dan duduk di sebelah Bunga.

                “Aku lapar,” jawab Bunga pendek.

                “Memangnya kau belum makan?”

                Bunga menggeleng pelan tanpa berkomentar sedikit pun. Setelah menyendok nasi dan mengambil beberapa lauk yang telah dimasaknya, Bunga pun melahap makanan dihadapannya.

                Reihan pun tersadar jika istrinya ini belum makan karena menunggu dirinya.

                “Maafkan aku. Sini biar aku suapin.” Reihan menarik piring dihadapan Bunga dan wanita yang sejak tadi memasang muka cemberut ini menahannya cepat.

                “Aku bisa makan sendiri.”

                “Ayolah, maafkan aku. Besok kita bertiga makan malam diluar ya, tadi Mahesa sudah makan kan?” tawar Reihan mencoba menghibur Bunga. Mahesa adalah putra tunggalnya yang telah berusia 7 tahun.

                Bunga masih terdiam dan melanjutkan hajatnya.

                Reihan menyadari kesalahannya, ia pun beranjak seraya membelai kepala istrinya sesaat.

                Pekerjaan telah melahap habis waktu Reihan untuk anak dan istrinya, meski semua itu untuk kebahagian keluarga mereka. Setidaknya begitulah doktrin yang telah tertancap dikepala Reihan.

                Sudah berkali-kali Bunga memprotes hal itu dan memohon pada Reihan untuk mencari pekerjaan lain yang setidaknya bisa menyisakan waktu yang cukup bagi keluarganya. Namun Reihan terlanjur menikmati dan jatuh cinta dengan pekerjaannya ini.

 

 

                Hati Bunga kembali berdesir kala sebuah pesan singkat menggugah kenangan lama yang sudah jauh terkubur di reruntuhan memori jaman sekolah dulu.

                “Apa kabarmu hari ini?” begitu bunyinya.

                Dahulu kata-kata itu sering menyapanya dalam secarik kertas. Dirobek dari halaman belakang buku catatan seorang lelaki yang baru-baru ini ditemuinya secara tak sengaja. Adam.

                Ternyata Adam telah mencari tahu tentang dirinya dari media sosial dan beberapa temannya. Hingga akhirnya Adam memberanikan diri menyapa Bunga dalam sebuah messenger salah satu media sosial miliknya.

                Bunga tak langsung membalas pesan singkat itu. Ia ragu meski desir halus itu sangat disukainya.

                “Kuharap aku tidak mengganggumu…” kembali sebuah pesan singkat itu menyapanya.

                Dan Bunga pun memutuskan untuk membalasnya dengan dalih untuk menghindari kesan sombong yang bisa jadi akan dituduhkan pada dirinya. “Hai, kabar baik,” ketik Bunga masih ragu kemudian memencet tombol send.

                “Bunda,” panggil Mahesa nyaring. “Aku akan main bola dulu ya,” pekiknya lagi tak kalah nyaring dari teras depan.

                Bunga beranjak mendatangi putra semata wayangnya ini.

                “Jangan terlalu sore, ingat kau harus lebih dahulu pulang sebelum ayahmu pulang.” Bunga menasehati Mahesa.

                “Beres, Bunda. Ayah kan pulangnya malam terus, pasti Mahesa sudah dirumah lebih dulu dari ayah. Mahesa janji.” Sebuah kalimat sederhana yang menusuk hati Bunga. Ia paksakan sebuah senyum kepedihan di ujung bibirnya.

                “Hei, kau ada waktu? Bisa kita bertemu? Aku berhutang semangkok mie ayam dan segelas coklat dingin padamu. Kuharap kau masih ingat itu.”

                Hati Bunga berdegup kian kencang saat membaca pesan terakhir dari messenger itu.

                Dia masih mengingatnya. Bahkan aku tak akan ingat jika dia tak menyinggungnya, fikir Bunga sesaat.

                Memori Bunga kini melayang pada kejadian 24 tahun yang lalu. Siang itu Bunga dan Adam tak sengaja bertemu di pertigaan –jalan yang biasa Bunga lewati. Adam berdiri bersandar di sebuah tiang telfon umum dan Bunga berjalan melewatinya. Karena merasa mengenal sosok abg di depannya, Bunga pun antusias menyapa Adam.

                “Kamu ngapain disitu? Lagi nungguin siapa?” tanya Bunga polos meski sebenarnya dadanya berdegup kencang karena telah memaksakan diri bertanya pada seorang lelaki yang diam-diam telah membuatnya jatuh hati.

                Dengan gaya cueknya Adam menoleh pada Bunga. “Nungguin kamu,” goda Adam membuat wajah Bunga memerah.

                Bunga tertunduk, hatinya senang tapi ia tahu bahwa Adam hanya menggodanya.

                “Mmm…aku duluan ya,” pamit Bunga tanpa berani melihat wajah Adam.

                “Hei, kenapa wajahmu jadi seperti kepiting rebus gitu?” tanya Adam sengaja membuat Bunga semakin kelimpungan.

                Mata Bunga berputar dan kepalanya semakin dalam disembunyikannya hingga ujung dagunya menyentuh dada.

                “Hei, aku bercanda kali.” Adam menyadari keadaan Bunga dan mencoba mencairkan suasana.

                Bunga bernafas lega meski hatinya mendadak ciut karena ternyata Adam benar-benar hanya menggodanya.

                Tiba-tiba datang seorang abg lain yang langsung menyergap Adam. Dia adalah Dika teman sebangku Adam. Dan Bunga pun mengenalnya karena mereka bertiga berada di kelas yang sama.

                “Hai Bunga,” sapa Dika tersenyum lucu pada Bunga.

                Bunga membalas senyuman Dika dengan lambaian tangan.

                “Sudah lama aku menunggumu disini, jadikan kita makan mie ayamnya?” cecar Adam pada Dika.

                Dan sebuah kenyataan pahit harus diterima Bunga bahwa Adam tengah menunggu Dika bukan dirinya.

                “Jadi dong,” jawab Dika antusias.

                “Oh ya, kamu ikut juga yuk!” ajak Adam pada Bunga yang berdiri mematung memperhatikan tingkah Adam dan Dika.

                “Aku?” tanya Bunga terkejut.

                “Iya, yuk.”

                Bunga memandang Adam dan Dika bergantian. Mereka memang teman satu kelas Bunga namun Bunga tak biasa keluar dan pergi makan bersama dengan teman-teman lelakinya. Aneh saja rasanya bagi Bunga.

                “Kenapa? Kamu gak mau?” selidik Adam memandang Bunga lekat. Terbersit kekecewaan pada nada bicaranya.

                “Maaf aku tidak bisa,” tolak Bunga sopan.

                Adam menatap Dika mencari jawaban, sementara Dika hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti.

                “Ok, mungkin lain waktu ya. Aku janji kapan-kapan aku akan traktir kamu makan mie ayam dan coklat dingin di TT 77.” Adam tersenyum sumringah menatap wajah Bunga. Mata Bunga berbinar mengiyakan.

                “Bagaimana? Kapan aku bisa mentraktirmu?” Sebuah pesan singkat kembali mengejutkan Bunga. Kini Bunga harus kembali ke masa kini.

                Selang beberapa menit Bunga belum juga membalas pesan singkat dari seseorang yang pernah dekat denganya di masa lalu. Ia bimbang karena suatu keputusan yang salah akan membuat semuanya menjadi runyam.

                Bunga sadar bahwa saat ini ada sebuah ujian kecil dalam kehidupan pernikahannya. Namun bukan alasan baginya untuk kembali mengenal kisah lamanya. Meskipun itu adalah cinta pertamanya.

               

 

                “Kau melamun?” tebak seseorang yang kini sudah duduk disampingnya. Bunga menoleh dan mendapati Adam tersenyum manis memamerkan deretan gigi putihnya.

                Bunga menarik tubuhnya sedikit menjauh, ia mati gaya jika berada didekat Adam.

                “Nglamunin apa sih?” sekali lagi Adam mencari tahu.

                “Gak nglamunin apa-apa kok,” jawab Bunga lugu.

                Setelah beberapa waktu lamanya mereka terpisah karena berbeda sekolah, akhirnya sore itu Adam menyempatkan diri untuk bertemu dengan Bunga. Iya Bunga terpaksa tak satu sekolah dengan Adam karena SMU favorit mereka yang berbeda, meski demikian mereka masih menyempatkan diri untuk bertemu namun masih hanya sebagai teman.

                “Bohong. Dari tadi aku perhatiin kamu. Kamu nglamunin aku ya?”           

                Bunga tersipu malu, lagi-lagi pipinya memerah.

                “Lulus SMA nanti kamu masuk perguruan tinggi mana, Bi?” tanya Adam serius. Begitulah ia memanggil Bunga dan Bunga suka.

                “Aku belum tahu,” Mata Bunga sesekali mencuri pandang cowok keren disebelahnya. Setidaknya begitulah dulu yang telah terukir dibenak Bunga. Adam itu keren.

“Kamu?”

                “Aku juga belum tahu,” sahut Adam tenang.

                “Sepertinya aku akan pindah ke kota lain.” Tatapan mata itu kini kosong dan murung.

                Adam tercekat dan ia mengalihkan pandangannya. Adam berusaha menutupi kegelisahan hatinya namun gagal. Bunga tiba-tiba berdiri didepannya dan membungkukan badan melongok menatap mata Adam.

                “Kamu kenapa?”

                “Aku nggak pa-pa,” sergah Adam cepat dan beranjak meninggalkan Bunga dengan tatapan heran.

 

 

                “Apa yang kau lakukan didalam sana? Aku sudah lama menunggumu dari tadi,” sungut Adam memprotes sikap istrinya yang selalu lupa waktu jika sudah berkumpul dengan teman sosialitanya.

                “Aku hanya ngobrol sebentar dengan teman-temanku. Bukan masalah besar,” sahut Nia santai.

                Adam tersenyum kecut dan berhenti berkomentar. Sia-sia, menurutnya.

                “Kita singgah sebentar ke salon langgananku, ada yang ingin kuambil disana.” Nia berseloroh tenang seolah ia tak merasakan beban yang akan dipikul oleh Adam saat menunggu dirinya yang sudah pasti akan lebih lama lagi berada didalam salon.

                “Oh ayolah, ini sudah malam, Nia.” Adam mengingatkan. “Kita sudah seharian keliling kesana-kemari hanya untuk melampiaskan semua keinginanmu.

                “Sudahlah jangan bersikap konyol, apa yang kau lakukan ini kan karena kau ingin membahagiakan aku…”

                “Aku tidak ingin kau membuang waktumu dengan teman-temanmu itu. Tak bisakah kau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat?” potong Adam menjelaskan.

                Nia tercekat dengan kedua gigi saling bergemeretak menahan kesal. Ia pun melipat kedua tangannya di dada dan membuang mukanya keluar jendela mobil.

                Tanpa menunggu perintah kedua untuk singgah di salon, Adam memutar kemudi mengambil jalan pulang. Meski Nia semakin menekuk mukanya Adam tetap tak memperdulikannya. Baginya istrinya ini sudah keterlaluan dan harus diberi pelajaran.

 

 

                Siang itu, 21 tahun yang lalu Bunga tak pernah merasa begitu cemburu kala melihat Adam tengah bersenda gurau dengan beberapa teman wanitanya di aula sekolah. Sesekali gadis-gadis itu bergelanyut di pundak Adam atau bahkan mengacak-acak rambutnya yang ikal itu. Tangan mereka pun tak bisa diam, bergantian saling tepuk dan dorong sesuka mereka. Hati Bunga mendadak bergemuruh. Kesal dan marah.

Mereka berlima dan hanya 2 lelaki diantaranya adalah Adam, mereka tengah menceritakan sebuah kisah lucu karena tak lepas sedikitpun dari tawa dan wajah ceria. Bunga yang baru saja menginjakan kakinya di pintu aula dan di detik yang sama kakinya pun terpaku tak mampu bergerak lagi.

Memang sekolah mereka berbeda namun ada 1 aula yang bisa dipakai oleh 3 SMU yang terkenal sebagai SMU favorit di kota Malang, dan aula itu menjadi ruangan penghubung bagi seluruh siswa yang menempuh pendidikan di tempat itu.

                Setelah beberapa menit berlalu dan Bunga tertahan dalam cemburu yang mengguncang jiwanya, tiba-tiba Adam melihatnya dan berpamitan pada teman-temannya untuk mendatangi Bunga.

                “Hai!” Adam menyapa Bunga dengan wajah sumringah. Tak urung Bunga semakin cemberut kecut.

                “Sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat,” ucap Bunga dengan nada kesal.

                Adam menarik kedua alisnya bingung.

                “Kau kenapa, Bi? Lagi bad mood ya?” tanya Adam tak menyadari kesalahannya. Itulah yang dipikirkan Bunga bahwa penyebab bad mood nya adalah Adam dengan teman-teman ceweknya.

                “Sebaiknya aku pergi,” sergah Bunga seraya mengangkat kaki kananya

                “Hai, tunggu dulu. Kamu kenapa sih, baru datang kok marah-marah,” cegah Adam cepat mencekal pergelangan tangan Bunga.

                Bunga menarik tangannya cepat masih marah.

                Kini Adam mulai menyadari akar masalah yang membuat gadis yang selalu ditunggu senyumnya ini mendadak sewot.

                “Mereka teman sekelasku, kami biasa ngobrol dan bercanda seperti itu,” jelas Adam berharap Bunga mengerti.

                “Sepertinya cara bercanda kalian kelewatan.” Bunga menunjuk teman-teman Adam dengan ujung dagunya.

                “Ayolah, jangan kau bilang kalau kau cemburu….”

                “Aku? Cemburu? Hah…yang benar saja.” Bunga mengelak.

                Adam tersenyum senang menatap gadis di depannya semakin sewot.

                “Ayolah, apa salahnya dengan cemburu? Tak masalah kalau kau cemburu,” goda Adam lagi.

                Bunga mendengus kesal khawatir Adam mengetahui isi hatinya. Bibirnya semakin mengerucut dan matanya menatap tajam kearah Adam.

                “Aaaahhh sudahlah, aku mau balik ke kelasku lagi…” Bunga beranjak cepat meninggalkan Adam yang masih geli melihat cara Bunga menunjukkan perasaanya. Tapi ia suka dengan permainan tebak-tebakan isi hati mereka masing-masing. Bagi Adam kala itu ia ingin memiliki Bunga dengan caranya. Membuatnya tersipu malu, marah dan cemburu. Hingga akhirnya Adam terlena dengan permainannya sendiri hingga melupakan bahwa waktu terus bergulir dan hati pun bisa berubah.

 

               

                Setelah melalui perang batin yang cukup lama, Bunga pun mengambil keputusan untuk menemui Adam. Itupun karena Bunga kembali dibuat kesal oleh Reihan. Hari ini harusnya Reihan libur dan ia sudah berjanji akan menemani Bunga ke acara walimahan salah seorang teman kantornya dulu. Karena sejak Bunga menikah dengan Reihan, secara sukarela Bunga fokus mengurus suami dan anaknya. Dan kala seorang teman kantornya mengundangnya, ini menjadi hal yang istimewa baginya karena bisa kembali berjumpa dengan begitu banyak teman-teman lamanya.

                “Tapi kan kau sudah janji, Mas,” rengek Bunga memelas.

                Dalam kamarnya itu Bunga mencurahkan semua kekesalannya yang telah bertumpuk pada Reihan. Meski berulang kali Reihan memohon maaf dan meminta agar Bunga mengecilkan volume suaranya karena ada Mahesa di rumah itu, namun Bunga tak perduli. Ia sudah tak bisa lagi membendung semua duka di hatinya.

                “Aku tahu, sayang. Tapi mau bagaimana lagi, ini tuntutan pekerjaanku.”

                “Ini hari minggu, hari libur. Memangnya kalender di kantor, Mas, gak ada tanggal merahnya apa?” celoteh Bunga marah.

                Reihan menelan ludah tak kuasa menahan kekesalan istrinya. Ia bukannya tak sayang keluarga namun intensitas kerja dikantornya ini memang gila-gilaan. Tapi semua itu berbanding lurus dengan pendapatan yang ia hasilkan selama ini. Karirnya semakin menjanjikan seiring dengan isi dalam dompetnya.

                “Aku mau pergi ajak Mahesa cari hiburan sendiri di luar.” Bunga meminta ijin dengan nada kesal.

                Reihan menatap istrinya dengan perasaan bersalah.

                “Kalian mau kemana? Hari mendung dan cuaca kurang bagus,” jelas Reihan menahan keinginan Bunga.

                Bunga menatap tajam mata Reihan. “Jadi Mas bisa keluar dan kami tidak?”

                “Bukan begitu sayang, aku kan kerja…”

                “Iya. Mas selalu kerja dan tak ada waktu lagi buat kami. Kami juga butuh hiburan, Mas.” Bunga sesenggukan.

                Dan Reihan pun memilih untuk mengalah. Ia menunduk dalam-dalam hingga kacamatanya melorot hingga ujung hidungnya.

                “Kalian mau kemana? Biar Mas antar, sekalian Mas pergi ke kantor.”

                Bunga beranjak menyambar tas dan HP nya tak menghiraukan Reihan. Ia pun keluar dari kamarnya menuju lantai atas kekamar Mahesa putranya.

                Reihan masih terduduk lesu. Kebimbangan merajai dirinya. Beberapa hari terakhir ini ia memang memikirkan untuk mencari pekerjaan lain agar ia bisa membagi waktunya untuk keluarga tercintanya. Hanya saja sebagai seorang yang profesional, Reihan harus menyelesaikan proyek yang saat ini ditanganinya. Karena dialah penggagas proyek tersebut.

                Akhirnya Bunga pergi ke tempat yang telah ia dan Adam sepakati untuk bertemu. Sementara Mahesa lebih memilih untuk berkunjung kerumah salah satu sepupunya yang tinggal satu kota dengannya. Sebisa mungkin Bunga memilih tempat yang ramai dan tak terkesan private untuk menghindari suasana romantis yang saat ini tidak baik bagi kesehatan hati Bunga.

                Karena Bunga harus mengantar Mahesa terlebih dahulu, mau tak mau jarak yang ditempuh untuk menuju café La Vida –tempat yang telah mereka berdua sepakati, menjadi agak jauh. Bunga harus memutar balik dan kondisi jalanan saat ini begitu padat karena hari libur.

                Ditengah perjalanan, Bunga memikirkan semua kekesalannya pada Reihan. Kemarahan masih begitu lekat dibenaknya. Ia pun mulai membandingkan karakter Reihan dengan Adam. Tak ayal nama Adam pun jadi begitu sejuk dihatinya. Bagaimana ia dulu sampai saat ini masih begitu memperhatikannya. Mengingat janjinya meski hal itu sudah sekian tahun berlalu. Berbagai pembenaran membuat Bunga gundah.

                Sampai akhirnya di sebuah tikungan saat gerimis mulai membasahi bumi, seorang Ibu dan balita digendongannya tiba-tiba berlari menyeberang jalan. Bunga yang melaju sedikit kencang tak bisa menguasai mobil Honda Jazz yang ditumpanginya. Demi menghindari ibu itu, Bunga membanting setirnya ke arah kiri hingga sebuah pohon trembesi yang banyak ditanam sebagai peneduh di pinggir jalan ditabraknya dengan hebat.

 

 

                “Halo? Bunga…”

                “Ya halo, maaf Pak, mohon agar segera datang kerumah sakit karena istri bapak telah mengalami kecelakaan,” sahut seorang wanita diseberang sana.

                “Maaf, saya…”

                “Mohon untuk datang ke rumah sakit Persada Nusantara karena kondisi beliau saat ini sangat kritis. Terima kasih.” Dan telfon pun tak berbunyi lagi.

                “Bunga?” pekik Adam kalut. Dengan cepat ia pun segera menuju rumah sakit yang telah diinformasikan tadi.

                Kini Adam tahu kenapa sejak satu jam yang lalu Bunga tak kunjung datang di tempat yang telah mereka sepakati berdua untuk bertemu. Awalnya Adam mengira bahwa Bunga mengingkari janji mereka. Hingga ia pun berinisiatif untuk menelfonya dan sebuah berita mengejutkan datang dari seorang perawat yang menjawab telefon pintar Bunga.

                Sesaat setelah sampai di rumah sakit, Adam langsung menuju ruang UGD. Di setiap langkahnya menuju ruangan itu, ia berharap agar tak terjadi hal-hal mengerikan pada Bunga. Ia begitu cemas akan seseorang yang pernah menjadi begitu spesial dihatinya. Namun sebuah kondisi yang memisahkan mereka membuat kedekatan mereka semakin renggang dan akhirnya benar-benar terputus tanpa mengetahui kabar satu sama lain.

                Adam masih tak diperkenankan masuk karena tim dokter masih memeriksa kondisi Bunga yang begitu parah, begitulah informasi yang didapatnya dari perawat di situ.

                Setelah beberapa saat lamanya seorang perawat kembali keluar dan menyebut nama seseorang yang ternyata bukan namanya. Adam pun kecewa.

                “Bapak Reihan?” panggil seorang perawat dengan mata mencari keseluruh ruangan.

                “Iya, saya.” Seorang lelaki berperawakan tegap dengan kacamata menghiasi hidungnya menghampiri perawat tersebut.

                “Bapak suami ibu Bunga?” tanyanya pelan namun begitu menggelegar di telinga Adam. Mata Adam tak kuasa menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki lelaki yang telah mencuri hati Bunga selama ini.

                Adam tahu jika Bunga telah berkeluarga. Sudah begitu banyak informasi yang didapatnya dari beberapa teman Bunga yang pernah ditemuinya. Namun ia tak pernah menyangka bahwa ia harus bertemu dengan Reihan di rumah sakit ini. Bukankah ia yang dikira sebagai suami Bunga saat ia ditelfon oleh perawat beberapa jam yang lalu?

                Ternyata selang beberapa waktu setelah kecelakaan terjadi dan Bunga dilarikan kerumah sakit, Pihak kepolisian memeriksa STNK mobil yang dikendarai oleh Bunga. Dan menemukan bahwa STNK mobil yang tersimpan di dalam laci dashboard itu ternyata atas nama Reihan suaminya. Akhirnya polisi menghubungi pihak rumah sakit dan meminta mereka untuk mencari contact person Reihan melalui telfon genggam Bunga yang ada dalam tasnya, yang terlebih dahulu telah diamankan oleh perawat yang membawanya bersama dengan ambulance. Hal itu dilakukan perawat lain setelah Adam mendapat perintah untuk menuju rumah sakit secepatnya.

                Adam tak tahu hal itu dan kini ia sadar bahwa posisi itu telah diambil alih oleh Reihan. Hatinya pun perih dan dia memaksakan diri untuk pergi dari ruangan UGD karena merasa tak berguna lagi.

 

 

                Sudah 5 hari setelah berbagai operasi dilakukan oleh Bunga paska kecelakaan yang dialaminya, sampai saat ini ia belum jua membuka matanya. Reihan yang selalu berada disisinya tak pernah sedetik pun hatinya berhenti tuk memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa, untuk memberikan mukjizat bagi istri tercintanya.

                Penyesalan mulai menyusup di kisi-kisi hatinya, karena selama ini tak pernah memberi waktu yang berharga bagi istri dan putranya. Ia terlalu sibuk mengejar karir. Ternyata semua yang ia anggap benar selama ini adalah awal sebuah kesalahan yang akhirnya hanya berbuah penyesalan. Berulang kali kata maaf pun meluncur dari bibir Reihan yang dibisikkan kedalam telinga Bunga lembut.

                Sore itu akhirnya Bunga membuka matanya pelan. Yang tampak dihadapannya adalah Reihan, Mahesa dan kedua orang tuanya yang baru saja datang dari Malang kemarin. Perlahan ia menoleh kepada Reihan dan bibirnya bergerak seolah ia berusaha untuk mengatakan sesuatu. Tapi lidahnya masih kelu dan tenggorokannya terasa kering. Kemudian Bunga memberi tanda kepada Reihan untuk mendekat.

                “Iya, sayang.” Tubuh Reihan condong kedepan dan mendekatkan telinganya pada bibir Bunga.

                “Maafkan a….aku M-as,” ucapnya terbata.

                “Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Sudah sebaiknya kau istirahat dulu,” ucap Reihan pelan seraya membenarkan letak selimut ditubuh Bunga.

                Mahesa mendekat dan hati-hati memeluk tubuh Bunga. Reihan memberi isyarat pada Mahesa agar berhati-hati karena Bunga baru saja menjalani operasi.

                Kedua orang tua Bunga pun gembira mengetahui putrinya telah sadar kembali. Mereka banyak bercerita hal-hal lucu untuk menghibur Bunga. Meski kadang wajah Bunga tampak mengernyit kesakitan menahan rasa pedih pada beberapa bagian luka dan jahitan bekas operasi. Sekuat tenaga Reihan menahan diri untuk lebih tegar lagi dihadapan Bunga, meski sejatinya rasa pilu itu begitu kuat bersemayam didadanya.

                Sudah hampir 3 minggu Bunga harus menjalani perawatan di rumah sakit. Reihan begitu mengkhawatirkan keadaan istrinya hingga ia meminta Bunga agar bersabar sampai ia benar-benar dinyatakan sembuh 100 persen dan siap meninggalkan rumah sakit. Meski nantinya harus menjalani beberapa terapi dan rawat jalan, setidaknya Reihan yakin bahwa istrinya bisa kembali beraktifitas dengan aman.

                Hari itu Bunga sudah mendapatkan ijin dari dokter yang menanganinya untuk bisa kembali pulang. Begitu gembira dan wajahnya bersinar ceria. Senyum di sudut bibirnya itu tak lepas sedikitpun. Begitu juga dengan Reihan ia sangat senang melihat istrinya yang kembali bersemangat. Mahesa tak bisa ikut hari itu karena ia harus sekolah. Dan Reihan pun harus mengurus semua keperluan Bunga yang harus dibawanya pulang kerumah. Karena selain membereskan beberapa potong baju dan barang-barang lainnya, Reihan harus menebus resep dari dokter untuk melanjutkan perawatan Bunga dirumah.

                “Sayang, aku harus mengurus administrasi dan menebus resep dokter ini terlebih dahulu. Tak apa kan aku tinggal sebentar?” tanya Reihan lembut sembari mengelus kepala Bunga perlahan. Reihan memang selalu menunjukan rasa sayang itu salah satunya dengan membelai lembut kepala istrinya.

                Bunga mengangguk patuh melepaskan kepergian Reihan.

                Beberapa menit setelah kepergian Reihan, pintu kamar Bunga diketuk beberapa kali oleh seseorang.

                “Ya, masuk.” Bunga mempersilakan tamunya untuk masuk. Karena jika itu dokter atau perawat mereka hanya mengetuk sekali dan kemudian masuk kedalam kamarnya.

                Dan alangkah terkejutnya Bunga kala yang dilihatnya adalah seseorang dari masa lalunya. Adam.

                “Kenapa? Kenapa kau kemari?” tanya Bunga dengan suara bergetar. Ia takut jika Reihan datang dan mengetahui Adam mengunjunginya. Meski sebenarnya Reihan tak pernah tahu kisah diantara mereka berdua namun entah mengapa Bunga begitu ketakutan.

                “Maaf, aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu.” Adam memberi alasan kenapa ia nekat mengunjungi Bunga kerumah sakit.

                Wajah Bunga pucat pasi. Ia yang tadi tengah membereskan beberapa barang yang terlupakan oleh Reihan, kini Bunga terduduk lemas diatas ranjangnya.

                “Maaf, sebaiknya kau pergi sebelum suamiku datang,” pinta Bunga pelan dan kepalanya itu tertunduk tak kuasa menatap lelaki didepannya. Ia tahu benar bahwa Adam adalah tipe lelaki yang akan memperjuangkan sesuatu yang dianggapnya benar.

                “Aku senang kau sudah kembali pulih. Setidaknya aku tak menanggung beban merasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa saat kau mengalami kecelakaan,” jelas Adam tak mengindahkan permintaan Bunga.

                Bunga diam dan berharap agar Adam segera pergi.

                “Aku tahu kita bertemu kembali pada saat yang tidak tepat. Tapi setidaknya dengarkan dahulu kata-kata yang tak pernah kuucap dulu.” Adam masih bertahan mencoba meyakinkan Bunga.

                Keringat dingin mulai membasahi tubuh Bunga. Matanya sesekali melongok ke arah pintu

                Sorot mata Adam masih sama seperti dahulu begitu penuh arti pada wanita yang berjarak dua meter didepannya. “Bi, aku…”

                “Adam!” tukas Bunga cepat mencoba menghentikan kalimat Adam. “Kumohon, yang lalu biarlah berlalu.”

                “Tidak! Kau harus dengarkan dulu kata-kataku.” Adam bersikukuh.

                Bunga mendesah kesal karena tak kuasa menahan Adam agar tak membahas masa lalu mereka lagi.

                “Seharusnya kukatakan sejak dahulu bahwa aku menyukaimu. Dan rasa sukaku itu telah membesar menjadi sebuah rasa cinta padamu.”

                “Kumohon, sudahlah!” Bunga beranjak dan memunggungi Adam menghadap jendela kamar mengalihkan pandangannya dari wajah Adam dan berharap agar lelaki itu segera pergi dari kamarnya. Ia tak kuasa mendengar kalimat yang telah ditunggu-tunggunya dahulu. Kini kalimat itu sudah bukan hal penting lagi bagi Bunga meski kadang Bunga masih begitu penasaran akan isi hati Adam.

                “Aku harus mengatakannya padamu, Bi. Bahwa perasaanku tak pernah berubah sampai saat ini. Pernikahanku dengan Nia karena perjodohan oleh kedua orang tua kami yang tak bisa aku tolak. Dan kami tak pernah bahagia…”

                Bunga membalikan badannya perlahan. Kepalanya berpikir keras mencoba mencerna kata-kata Adam. Ia tak percaya jika Adam baru saja menceritakan keadaan rumah tangganya pada Bunga.

                “Apapun ceritamu itu, tak akan merubah keadaan, Adam.”                                                                           

                Sorot mata Adam memohon, ia berharap sedikit pengakuan dari Bunga akan perasaan cinta yang telah lama dipendamnya.

                “Aku telah membuat kesalahan dengan memenuhi ajakan untuk bertemu denganmu waktu itu.” Bunga kembali duduk diatas ranjang. Matanya pun masih sibuk menatap pintu kamar.

                “Kesalahan?” Adam tercekat dan mencoba mendekat, namun Bunga memberi isyarat dengan tangannya agar Adam tak meneruskan langkah kakinya.

                “Iya, karena kita bukan lagi anak belasan tahun. Saat ini kita adalah pribadi dewasa yang harus bertanggung jawab dengan pilihan kita masing-masing,” ucap Bunga mencoba menasehati Adam dan hal itu pun berlaku pula untuknya.

                “Katakan padaku sejujurnya, bahwa kau juga mempunyai perasaan yang sama padaku!”

                Bunga menggeleng pelan. Bersusah payah membunuh perasaan 20 tahun yang lalu, yang tiba-tiba muncul seiring dengan pertemuan singkatnya dengan Adam kala itu.

                Adam menarik ujung bibirnya mengejek sikap Bunga. Intuisinya mengatakan bahwa Bunga juga menyimpan rasa yang sama dengannya. Namun kini Bunga mengelak dan mencoba meyakinkannya bahwa ia tak mempunyai rasa itu. Adam sangat kecewa.

                Tiba-tiba pintu terbuka dan Reihan masuk membawa sebuah kantong plastik berisi obat-obatan Bunga yang telah ditebusnya.

                “Oh ada tamu? Hai, saya Reihan!” sapa Reihan mengulurkan tangan. Adam tak kuasa untuk tetap diam dan menyambutnya ramah. Bunga menatap cemas dan berusaha sekuat tenaga untuk menguasai dirinya agar tetap tenang.

                “Sayang, ini obatmu.” Reihan menyodorkan obat-obatan Bunga agar ia menyimpannya dalam tas koper di sampingnya -diatas ranjang. “Maaf, apa anda teman istri saya?” tanya Reihan sekedar ingin tahu.

                Adam mengangguk cepat. “Iya, kami bersahabat sejak duduk dibangku SMP, saya Adam.”

                Kini Bunga pasrah, yang terjadi terjadilah. Toh aku tak berbuat terlampau jauh, hatiku sempat tergoda untuk sesaat dan Allah Yang Maha Tahu menegurku melalui kecelakaan yang aku alami, pikir Bunga menerawang menatap Adam nanar.

                “Oh, maaf karena istri saya tak pernah bercerita kepada saya jika mempunyai seorang sahabat sejak duduk di bangku SMP, jadi saya tadi sedikit kaget. Maafkan saya,” komentar Reihan melempar seutas senyum kepada Adam. Tangan kananya kini merangkul erat bahu Bunga yang masih duduk di ranjang –disamping Reihan. Sesekali tangannya pun membelai kepala Bunga lembut.

                Adam mencoba menahan diri, ia merasa bahwa sikap yang ditunjukan Reihan terlalu berlebihan. Sebuah rasa yang tak seharusnya hinggap di hatinya kini sontak menyerangnya. Ia cemburu.

                “Baiklah saya harap kau segera sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala. Aku pamit dulu karena ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan.” Adam tak kuasa lagi melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Reihan pada Bunga. Meski Bunga tampak tak nyaman namun Reihan tak memperdulikan hal itu.

                “Kenapa buru-buru? Silakan duduk dahulu.” Reihan mempersilakan Adam yang berdiri kaku di ujung Ranjang.

                Sebaris senyuman sinis dipamerkan oleh Adam. Matanya masih mencuri pandang pada Bunga.

                “Maaf mungkin lain kali. Ok, Bi dan… Rei-han, aku pamit dulu.” Adam berlalu pergi menarik kakinya yang masih terasa berat dan sebagian hatinya yang tertinggal di ruangan itu bersama Bunga.

                Bunga hanya menunduk dan sesekali melirik Reihan, ia tahu bahwa Reihan telah mendengarkan kalimat Adam sebelum ia masuk kedalam kamar mengejutkan Adam. Entahlah tapi dari mimik wajah Reihan yang begitu percaya diri ia tahu benar bahwa suaminya itu telah menyadap semua kata-kata Adam.

                Kala pintu kamar tempat Bunga dirawat tertutup perlahan. Reihan pun memutar badannya menghadap kearah Bunga yang tak merubah posisi duduknya.

                “Sayang,” panggil Reihan lembut.

                Bunga tak kuasa menahan air matanya yang telah menetes bebas membasahi pipinya. Ia merasa bersalah karena keputusannya hari itu untuk menemui lelaki lain tanpa seijin suaminya. Hanya karena rasa kesal pada Reihan yang tak mewujudkan keinginannya.

                “Maafkan aku, Mas.” Bunga sesenggukan, suaranya parau tertahan.

                Reihan menekuk lututnya dan berjongkok didepan Bunga. Digenggamnya kedua tangan Bunga yang terkulai diatas ranjang.

                “Tidak sayang, aku lah yang seharusnya meminta maaf padamu. Karena terlalu asyik dengan pekerjaanku hingga melupakan keberadaanmu dan putra kita. Aku yang seharusnya minta maaf.”

                Tangis Bunga semakin menjadi dan dipeluknya erat tubuh Reihan. Didekapnya suami tercintanya yang selalu penuh kasih dan sayang menemani harinya. Memahami dirinya, mencintainya dan begitu sabar mendengarkan omelannya. Meski Reihan sibuk bekerja, namun ia tak pernah membawa pulang kerumah masalah kantornya. Ia selalu lembut dan penuh kasih sayang pada Bunga dan Mahesa. Begitu tenang menghadapi keegoisan Bunga yang kadang memuncak karena rasa kesalnya.

                “Allah telah menghukumku dengan kecelakaan yang aku alami. Hari itu aku berencana untuk menemuinya tanpa ijinmu, Mas. Maafkan aku…” ucap Bunga lagi disela-sela isak tangisnya.

                Reihan mencoba menenangkan Bunga dengan membelai kepala dan menepuk lembut punggung Bunga. Ia tahu benar bahwa semua yang disampaikan Bunga itu karena kekesalannya pada diri Reihan.

                “Sudah, sayang. Aku memaafkanmu apapun kesalahanmu.” Reihan menarik tubuh Bunga dan kini menatap mata sayu itu lekat. “Maafkan aku juga yang telah mengabaikanmu…”

                Bunga mengangguk beberapa kali dan dengan wajah bergetar dipaksanya menarik kedua ujung bibirnya. Ia tersenyum semanis yang ia bisa. Senyum khusus untuk Reihan. Cinta yang telah dipilihnya.

                Cinta memang tak pernah salah, tapi kadang mengetuk pintu yang salah. Sambutlah! Karena Tuhan telah memilihkan yang terbaik meski bukan yang terindah. Nikmati dan ambil hikmahnya karena cinta tak hanya hidup di dunia namun pasti kekal di surga.            

  • view 188