REMEMBER LOVE YOU #IHateYou

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Mei 2017
REMEMBER LOVE YOU #IHateYou

Dalam sebuah kamar mungil bergaya bohemian, Bintang menghabiskan malamnya dengan banyak air mata. Hatinya yang dahulu berdesir kala melukis wajah seorang lelaki yang baru dikenalnya dalam ruang fantasinya kini berubah dingin dan benci. Mengapa ia baru sadar bahwa selama ini semua perhatian dan kebaikan dibalik sikap dinginnya itu adalah sebuah arena balas budi.

            Seandainya saat pertama kali lelaki itu datang ke tokonya dan secara langsung menyampaikan rasa terima kasihnya tanpa ada sebuah kisah yang menyakitkan ini, drama itu tak kan mungkin terjadi.

            “Bima Sakti,” gumamnya pedih.

 

             Seminggu yang lalu, malam itu Bintang harus menutup tokonya seorang diri karena Aster sudah pergi sore tadi, dia bilang ada kelas malam itu. Meski sebenarnya Bintang sudah berencana untuk menutup tokonya lebih cepat bersama Aster, namun karena toko miliknya begitu ramai akan pengunjung akhirnya ia pun rela membatalkan niat awalnya itu.

            Setelah pengunjung terakhir pergi, Bintang pun buru-buru menutupnya sebelum datang pengunjung lainnya. Saat itu jam telah menunjukan pukul 9 malam.

            Dan kala Bintang membalikkan badan sesaat setelah ia mengunci pintu tokonya ia terlonjak kaget seraya memegang dadanya.

            “Bima? Ngapain kamu disitu? Kau mengagetkanku!” hardik Bintang gusar.

            Ternyata Bima telah berdiri tepat dibawah tiang papan nama toko Bintang, The Star. Karena saat Bintang akan menutup tokonya ia telah mematikan lampu penerang papan nama tokonya itu, hingga di area itu nampak remang-remang dan hanya terkena sorot lampu etalase tokonya yang selalu menyala dimalam hari.

“Maaf, aku tak bermaksud mengagetkanmu.” Bima berjalan mendekat.

“Tokoku sudah tutup. Ada DVD atau Blu-ray yang ingin kau beli?” tanya Bintang penasaran.

Bima menggeleng pelan. “Tidak.”

“Lalu, apa yang kau lakukan disitu tadi?” selidik Bintang.

“Menunggumu,” jawabnya pendek.

Bintang tak mau terjebak dengan pesona Bima yang seolah telah melupakan sikap menyebalkannya pagi tadi dan entah sudah berapa kali Bima bersikap dingin padanya. Sedikit keramahannya ini tak boleh diasumsikan sebagai hal yang baik bagi Bintang. Karena Bintang tak mau sakit hati atau salah mengartikan lagi nantinya.

“Tapi sepertinya kita tak ada janji untuk bertemu malam ini. Maaf aku buru-buru ingin pulang karena ada seorang kenalan yang melarangku tidur terlalu malam,” tutur Bintang menyidir kalimat Bima pagi tadi.

Senyum tipis menghiasi bibir Bima menyadari siapa yang dimaksud oleh Bintang.

“Ok, sebaiknya kuantar kau pulang agar bisa cepat sampai rumah,” ajak Bima pada Bintang.

Bintang menarik alis matanya. “Terima kasih, tapi…”

Belum habis Bintang menyelesaikan kalimatnya Bima telah melangkahkan kaki mendahului Bintang menyusuri trotoar. Bintang terkejut dan segera mengikuti irama langkah kaki Bima.

“Kau sudah makan?”

“Sudah,” sahut Bintang cepat.

Bima menganggukkan kepalanya.

“Kita berjalan kaki?” tanya Bintang kini tanpa basa-basi.

“Kau ingin naik kendaraan?” Bima balik bertanya.

“Kau bilang kau akan mengantarkanku agar cepat sampai di rumah,” pancing Bintang mengingatkan ucapan Bima.

“Oh. Ok.” Bima memiringkan kepalanya dan menyipitkan matanya tanda mengerti. Seolah melupakan siapa Bintang sesungguhnya, Bima tak sungkan menarik tangan Bintang berjalan menuju mobil miliknya yang diparkir tak jauh dari tempat itu. Bintang terkesiap dan buru-buru menarik tangannya cepat. Bima tercekat dan membalikkan badan menatap Bintang.

“Maaf,” ucapnya seolah menyadari kesalahannya. “Aku tak bermaksud untuk…”

“Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?” todong Bintang kesal.

Bima menatap lekat tak mengerti. “Aku hanya menarik tanganmu, aku lupa diri dan…”

“Cukup!” perintah Bintang tegas.

Kumpulan tanda tanya memenuhi wajah Bima dan masih lekat menatap Bintang.

“Sikapmu ini…,” ucap Bintang sesaat. “Kau seolah mengenal lama diriku dan seenaknya memperlakukanku. Kau tiba-tiba menjadi pelanggan tokoku dan terlalu sering membeli DVD atau Blu-ray ditokoku dan aku yakin kau pasti belum melihat semua kaset yang kau beli itu. Di lain waktu kau tak menganggapku ada namun kau berbicara padaku. Kadang kau baik kadang kau menyebalkan dan kau meninggalkan tanda tanya besar dikepalaku… Apa sebenarnya maumu?” cerocos Bintang dengan suara bergetar.

Bima terdiam namun bola matanya semakin lekat menatap tajam menembus mata Bintang.

“Aku menunggu jawabanmu…” pinta Bintang menunggu.

Tapi Bima masih diam terpaku. Hanya matanya yang berkedip beberapa kali dan hembusan nafasnya yang berat terdengar sampai di telinga Bintang. Suasana menjadi tegang.

Seraya menggigit bibir bawahnya, Bintang yang sudah tak sabar ini mendengus kesal. Ia pun berbalik meninggalkan Bima.

“Tunggu!” sergah Bima menghentikan langkah kaki Bintang.

Gadis manis yang selalu menguncir ekor kuda rambut panjangnya ini terhenti namun tak membalikkan badannya kearah Bima. Ia masih memunggungi Bima dan menunggu penjelasannya.

“Kau ingat malam itu?” tanya Bima mulai berkisah.

“Aku tak mengerti,” jawab Bintang masih di posisinya.

“Malam itu seorang lelaki mengerang kesakitan meminta pertolongan di ujung lorong gelap beberapa blok dari sini. Malam itu nyawanya hampir melayang karena orang-orang bodoh yang telah merampoknya. Malam itu tak seorang pun yang mendengar dan membantunya keluar dari lorong gelap itu. Malam itu lelaki itu berjanji dalam hati jika ada seseorang yang akan menolongnya… ia akan membalas kebaikannya itu dengan semua yang dia miliki. Malam itu kau datang menyelamatkanku…” panjang lebar Bima menceritakan pengalaman tragisnya.

Kini Bintang terdiam tak bersuara. Digalinya ingatan setahun yang lalu. Ingatan yang hampir saja tenggelam oleh waktu karena hari itu adalah hari dimana ia menerima berita kesedihan yang kadang masih menghantuinya. Lambat laun dia sadar dimana ia pernah berjumpa sebelumnya dengan Bima, seorang lelaki tak dikenalnya di sebuah lorong gelap. Yang kala itu, ia hanya bermodalkan nekat untuk masuk ke dalam demi mengikuti instingnya bahwa ada seseorang yang tengah membutuhkan bantuannya disana.

“Apakah kau ingat, Bintang?” tanya Bima menyebut nama Bintang.

Kecamuk berbagai pertanyaan dan pernyataan memenuhi kepala Bintang. Kini ia sadar akan semua sikap Bima. Hanya sebuah balas budi. Tak lebih. Dan Bintang kecewa.

“Jadi semua ini hanya balas budi?” tanya Bintang dengan suara masih bergetar menahan emosi.

Malam semakin larut lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki pun mulai berkurang. Sepi dan dingin tak hanya melanda jalan ini. Hati Bintang pun menggigit perih.

“Kenapa kau lakukan semua ini?” Bintang masih gusar dan tak mau membalikkan badannya.

“Melakukan apa?” Bima pun bertanya. “Aku hanya ingin memenuhi janjiku malam itu.”

“Omong kosong!” hardik Bintang berkelebat membalikkan badan menatap tajam kearah Bima. “Jika kau ingin membalas budi kau cukup mengatakan terima kasih di awal kita bertemu.”

“Kenapa kau begitu marah?” tanya Bima bingung.

“Hah?!” ejek Bintang sinis. “Caramu memperlakukan aku selama ini sungguh menyebalkan.”

Bintang melangkah mendekat dan emosinya semakin tak terkontrol. Dia begitu marah.

“Aku muak dengan semua sikapmu. Aku tak memerlukan terima kasihmu. Simpan itu untukmu sendiri.” Ia pun berlalu meninggalkan Bima dengan hati terluka dan wajah penuh kebencian.

Bima sadar bahwa sikap dinginnya selama ini membuat Bintang marah. Karena ia tak tahu cara mengekspresikan isi hatinya. Niat awal Bima adalah sekedar ingin mengucapkan terima kasih. Namun saat ia mengenal Bintang lebih jauh, ada sesuatu pada diri gadis itu yang menariknya terus masuk kedalam kehidupannya. Ia ingin Bintang bahagia tak kekurangan satu apa pun, namun Bima bingung bagaimana harus memulainya. Dan ternyata dia telah mengambil keputusan yang salah dan membuat Bintang marah.

Bima pun ingin menjelaskan semua alasannya pada Bintang. Namun argumentasi yang telah disiapkannya terkikis oleh kemarahan yang telah menguasai akal sehat Bintang. Bima tahu percuma saja jika saat ini dia memaksa Bintang untuk mendengarkan semua pembelaannya dan untuk itulah Bima membiarkan Bintang pergi.

Sinar Bintang kini redup dan mulai menjauh dari pandangan mata Bima. Dan Bima tak tahu harus bagaimana.

 

Di sebuah meja panjang dengan 8 bangku di samping kiri-kanan yang saling berhadapan dan 2 bangku lainnya di masing-masing ujung meja itu, duduklah seorang lelaki berumur 27 tahun disalah satu ujung meja, berperawakan tinggi, tegap dengan kulit bersih dan wajah tampan. Namun raut wajahnya yang sayu dan tatapan matanya yang teduh membuat sebagian pesona yang dimilikinya larut dalam lamunan panjangnya. Sudah 1 jam lebih ia duduk di ujung meja dengan hidangan yang nyaris tak disentuhnya. Kedua tangan diatas meja dengan jari jemari yang saling bertautan dan menopang dagunya, pandangannya jauh menembus dinding kaca yang membatasi ruang makan dan ruang baca di apartemen mewah bergaya futuristik itu.

Pikirannya terbang jauh dalam angan yang membuatnya terjebak dalam semua skenario yang telah disusunnya rapi. Dan semua itu tak berjalan lancar sebagaimana seharusnya.

“Dia marah,” gumamnya lirih seraya memainkan garpu dan pisau diatas piringnya.

            Terbayang wajah kesal Bintang di pelupuk mata Bima, begitu jelas dan menusuk egonya.

            “Tapi mengapa dia jadi begitu marah?” Bima masih bergumam seorang diri, dia tak menyadari akan semua sikapnya yang membuat Bintang marah.

            “Dia selalu marah. Aaarrrgghhh dasar wanita…” Bima pun beranjak dari kursinya meninggalkan sarapan yang tak disentuhnya.

Tiba-tiba Pak Bastian memasuki ruang makan dan menghadang langkah Bima. Bima pun berhenti dan menatap Pak Bastian heran. Dimasukan kedua tangannya kedalam kantong celana, Bima menyambut Pak Bastian ramah.

“Ada apa, Pak?”

“Sebaiknya Tuan datang ke kantor karena rapat direksi dimajukan lebih cepat dari schedule menjadi hari ini,” jelas Pak Bastian mengingatkan jadwal penting yang harus dihadiri Bima.

“Hari ini? Bukannya minggu depan?” tanya Bima seraya mengingat sesuatu.

“Sekertaris, Tuan Muda, baru saja menelfon dan rapat direksi harus dipercepat hari ini juga.” Pak Bastian menyampaikan pesan yang diperolehnya.

Bima menarik nafas panjang sesaat, ditengadahkan kepalanya seolah tengah berpikir. Sebenarnya ia tak ingin pergi ke kantor hari ini. Terlalu banyak hal yang dipikirkannya. Namun tiba-tiba rapat direksi yang dimajukan karena suatu alasan ketepatan waktu yang diajukan oleh chairman membuat para anggota dewan direksi pun harus patuh, sebagai eksekutif muda yang tengah berada di puncak karirnya dengan berat hati Bima harus datang ke kantor pagi ini juga.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, akhirnya Bima yang berangkat tanpa ditemani oleh Pak Bastian memarkirkan mobilnya di basement gedung bertingkat 15 ini.

Bima memencet tombol dengan angka 10 karena ruang rapat direksi yang ditujunya berada di lantai 10. Namun tiba-tiba lift berhenti di lantai 2 dan beberapa orang karyawan masuk kedalam lift tersebut. Kala pintu lift akan perlahan menutup nampak seorang gadis tergopoh berlari mendekat dan menyerbu masuk kedalam lift. Bima yang berdiri di barisan paling belakang tak begitu memperdulikan gadis itu. Namun kala lift kembali berhenti di lantai 3 keluarlah beberapa karyawan, demikian juga saat lift berhenti di lantai 4. Kini hanya tinggal Bima dan gadis yang berada satu langkah didepannya.

Lift pun kembali merayap naik dan Bima belum menyadari bahwa gadis yang saat ini berada satu lift dengannya adalah Bintang. Awalnya Bintang pun tak menyadarinya namun entah mengapa tiba-tiba Bintang menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya dia saat didapatinya sosok Bima yang awalnya tertunduk kini terpaku memandangnya. Mereka berdua sama-sama terkejut akan keberadaan masing-masing.

Bintang, batin Bima terperangah.

Sementara itu Bintang tak sengaja mengucapkan nama Bima lirih, “Bima…”

Bintang merasakan tubuhnya kaku dan berharap agar lift segera merayap naik ke lantai 9. Pagi ini dia harus mengantarkan beberapa DVD dan Blu-ray pesanan beberapa pelanggannya, salah satunya seorang karyawan di kantor ini yang berada di lantai 9. Karena pelanggannya ini telah lama menjadi pelanggan tetap Bintang, gadis manis ini pun tak segan untuk mengantarkannya langsung ke kantornya. Kini dia berharap agar lelaki dibelakangnya tak akan menegur atau mengajaknya bercengkrama karena Bintang masih marah padanya. Perlahan Bintang menyeret kakinya menjauh dari Bima dan berdiri di ujung dekat dengan pintu lift.

Waktu terasa begitu lama dan entah mengapa selama perjalanan naik ke lantai 9 ini, lift terus melaju tanpa berhenti dilantai-laintai berikutnya. Hingga selama beberapa waktu hanya 2 anak manusia ini saja yang terjebak didalamnya. Namun demikian yang dirasakan oleh keduanya adalah sebuah siksaan jangka panjang karena harus bertemu di dalam lift dalam keadaan saling diam, menahan diri satu sama lain dan hati keduanya berdebar kencang.

Bima menyadari hal itu, ia hanya bisa memandang punggung Bintang dalam diam. Bahasa tubuh Bintang menyatakan bahwa ia menjauh dan menolak keberadaan Bima. Tatapan mata Bima tak lepas dari sosok gadis didepannya. Begitu dekat namun terasa sangat jauh dari jangkauannya. Sungguh menyiksa.

Hingga akhirnya lift pun berhenti di lantai 9, saat itulah Bima tak kuat lagi menahan diri.

“Bintang!” panggilnya tertahan. Namun Bintang seolah tak mendengar dan melangkah keluar dari dalam lift itu. Secepat kilat Bintang melangkahkan kakinya dan menghilang diantara tembok kaca dan partisi di lantai 9 ini.

 

 

Hari masih terlalu dini untuk disebut malam, karena sebersit sinar mentari masih menampakan diri di ujung barat cakrawala. Meski gelap perlahan merayap menapaki angkasa dan akhirnya bersemayam diseantero jagat raya, bagi Bintang malam ini masih terlalu cepat untuk memanjakan diri diperaduan.

Dalam diam Bintang terduduk dibangku rotan diujung ruangan rumah kostnya, disebelah jendela yang mengarah langsung pada jalan raya. Lalu lalang kendaraan membuat matanya lelah karena tak henti menghitung jumlah roda yang menggelinding diatas aspal yang telah basah oleh rintik air hujan.

Kemarahannya belum reda meski waktu telah mengukir banyak hal dan air hujan pun telah mengguyur kota ini sepanjang hari. Kala kenangan itu kembali menghampiri ingatan masifnya, Bintang pun seolah dipaksa kembali pada peristiwa didalam lift beberapa hari yang lalu. Sudah lebih dari 3 hari suara itu tak henti terngiang di telinga Bintang.

Bima memanggilnya tertahan dan Bintang menutup telinganya rapat-rapat berlagak tuli. Untuk apa lelaki itu memanggilnya, setelah sekian lama sejak kejadian malam itu ia hanya diam tak mencoba untuk memberi penjelasan yang bisa memuaskan batinnya. Semua pembelaan diri terus terulang dikepala Bintang.

Namun kadang Bintang merasa kemarahannya adalah kemarahan lebai yang terlalu berlebihan. Mengapa ia bisa semarah ini pada Bima. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, pada hatinya. Samar namun pasti Bintang menyadari bahwa hatinya telah terlibat terlalu dalam dalam drama ini. Dan itu sungguh menyudutkannya.

Tiba-tiba suara pemberitahuan dari telfon pintarnya berbunyi, sebuah pesan singkat menariknya untuk menjangkau HP miliknya dan menyalakan layarnya.

“Hai, apa kabar?” ketik seseorang yang tak lain adalah Bima.

Bintang menarik nafas sesaat sebelum memutuskan untuk membalas pesan singkat itu. Dan akhirnya Bintang meletakkan HP nya diatas meja mungil disamping kursi rotan yang didudukinya saat ini. Bintang ragu. Ia tak mau menyerah pada sebuah pertemuan singkat didalam lift kala itu.

 

 “Selamat malam.” Suara seorang lelaki tua telah mengejutkan Bintang kala dia tengah menghitung pendapatannya hari ini di meja kasir.

Bintang mendongakan kepada mencari sumber suara dan didapatinya Pak Bastian menatapnya teduh.

“Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bintang ramah seraya menutup laci mesin kasirnya perlahan. Berbagai pertanyaan muncul dikepala Bintang kala diketahuinya siapa yang datang, untuk apa Pak Bastian mengunjungi tokonya malam ini.

Pak Bastian tersenyum tipis. “Saya datang kemari ingin sekedar menjernihkan masalah antara Tuan Bima dan nak Bintang. Saya tahu saat ini ada kesalahpahaman antara Tuan saya dengan nak Bintang.”

Bintang sedikit gusar. “Maaf, apakah Bima yang menyuruh Bapak datang kemari?”

“Tidak. Saya datang atas kemauan saya sendiri.”

Bintang mencoba menahan diri dan berupaya seramah mungkin demi mendengarkan penjelasan Pak Bastian.

“Sekali lagi saya mohon maaf, saya tidak bermaksud untuk mencampuri urusan anda berdua, tapi Tuan Bima sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri sejak kedua orang tua dan kakaknya meninggal 5 tahun yang lalu dalam sebuah tragedi kebakaran. Dia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi sejak saat itu…” Pak Bastian tertunduk sedih.

Bintang kini menyadari mengapa Bima begitu marah saat ia menanyakan perihal keluarganya.

“Sebenarnya Tuan Bima ingin membalas budi atas pertolongan anda karena sudah menyelamatkannya pada malam itu. Dan jika ada sikapnya yang tidak berkenan dihati nak Bintang, mohon agar dimaafkan,” jelas Pak Bastian tenang. Begitu jelas sifat seorang ayah yang ditunjukkannya, seorang ayah yang ingin melindungi anaknya.

Bintang tak mampu berkata-kata, ia hanya menatap bergantian akan wajah Pak Bastian dan lantai dibawah kakinya.

“Apakah Bima sudah mempunyai kekasih?” Oops kenapa pertanyaan itu yang muncul dari bibir ini, batin Bintang sembari menutup bibirnya dengan telapak tangannya.

Pak Bastian tersenyum kecil mendapati kekeliruan yang terlanjur terucap oleh Bintang.

“Saya..saya hanya ingin memastikan jika keberadaan saya tidak akan membuat seseorang yang dekat dengan Bima akan salah paham, begitu pak…” Bintang beralasan.

“Tuan Bima saat ini tidak mempunyai seseorang yang dekat dengannya. Dahulu ada saat dia masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi.”

“Owh…”

“Jadi saya harap nak Bintang mau memaafkan Tuan Bima, setidaknya tolong dengarkan penjelasannya. Karena dia tipe lelaki yang tak terlalu banyak bicara dan selalu mengekspresikan perhatiannya langsung dengan tindakan. Hingga terkadang menimbulkan salah paham.”

Bintang hanya tersenyum sekilas menanggapi penjelasan Pak Bastian. Ego itu masih menguasai sebagian besar dirinya meski hatinya telah luluh dan berpihak pada Bima. Tapi ia masih marah karena Bima telah mengacaukan hatinya.

 

 Sudah hampir satu bulan Bima menahan diri untuk tak berkunjung ke Toko The Star milik Bintang. Meski telah beberapa kali ia mencoba menghubungi Bintang melalui pesan singkat yang tak satu pun dibalas oleh gadis itu. Ia masih mencoba untuk tak menemui Bintang secara langsung dengan dalih karena Bintang masih marah padanya.

Di minggu pagi ini Bima mengunjungi taman tempat ia biasa menunggu Bintang mengantarkan DVD atau Blu-ray pesanannya berharap bisa berjumpa dengan Bintang disana. Dan harapannya ternyata membuahkan hasil meski tak maksimal seperti harapannya.

Saat itu Bintang tengah berjalan berdua dengan teman dan juga pegawai di toko miliknya. Dari jauh Bima hanya bisa menatap dan mengawasi semua gerak-gerik malaikat penyelamat yang telah berubah menjadi malaikat maut yang begitu membencinya.

Setelah mengumpulkan semua keberaniannya, Bima melangkah mendekati Bintang yang tengah duduk santai membaca sebuah buku ditangannya. Dan Aster lah yang menyadari kehadiran Bima meski lelaki itu belum begitu dekat dengan mereka.

“Bin…” colek Aster pada Bintang yang masih menunduk menekuri buku dipangkuannya.

“Hai!” Terlambat, Bima sudah sampai ditempat mereka.

Bintang mendongak dan terhenyak sesaat mendapati sosok lelaki yang ingin dihindarinya ini.

“Hai!” Aster berbaik hati membalas sapaan Bima.

Bintang menutup bukunya, Bima menyadari gelagat Bintang yang sudah pasti akan melarikan diri darinya.

“Bintang, tunggu!” sergah Bima menghadang niat Bintang.

Aster beringsut menjauh. Tak diperdulikannya tatapan mata Bintang yang mengancam dirinya agar tak meninggalkannya hanya berdua dengan Bima.

“Kumohon, aku ingin menjelaskan semuanya padamu,” pinta Bima memelas.

Bintang terdiam tak mengiyakan atau menolaknya.

“Apakah semua itu masih perlu? Kurasa tidak.” Bintang bertanya dan menjawabnya sendiri. Ia pun beranjak dan membersihkan tubuhnya dari rumput kering yang menempel di baju dan celananya.

“Kumohon! Bisakah kau tidak terlalu keras kepala? Please!” Bima memohon.

“Tak ada yang perlu dijelaskan lagi, karena kau salah, Tuan. Aku bukan orang yang telah menolongmu,” kilah Bintang beralasan.

Bima tersenyum kecut. Ia menyadari bahwa Bintang berusaha menggiringnya ke sebuah opini yang akan mematahkan argumentasinya.

“Aku sangat yakin itu kau.”

“Dan keyakinanmu itu salah.”

Mereka berdua pun beradu pandang dengan tatapan tajam mencari kebenaran pada masing-masing sosok didepannya.                                                                                                     

            “Kenapa kau begitu keras kepala?” tuduh Bintang dengan nada kesal. “Sudah kukatakan bahwa aku bukanlah orang yang menolongmu.”

            “Dan kau begitu keras hati, dengarkan dulu penjelasanku.”

            Bintang masih berkeras tak ingin lagi mendengarkan semua penjelasan Bima.

            “Setidaknya dengarkan hatimu…” ucap Bima mendadak melow.

            Ini sebuah kalimat jebakan yang sudah pasti akan membuat Bintang masuk kedalam perangkap yang sudah disusun oleh Bima, begitu pikir Bintang menerka. Dan dia semakin mengeraskan hati untuk tidak begitu saja menjadi seseorang yang lemah.

            Tatapan mata Bintang menggambarkan bahwa ia tak ingin berlama-lama lagi dengan Bima Ia pun melangkah meninggalkan Bima. Tapi Bima yang sudah tak tahan membendung isi hatinya mengejar Bintang cepat dan mencengkeram lengannya.

            “Kita harus bicara!” ucap Bima tegas kali ini benar-benar memaksa.

            Bintang menarik lengannya namun sia-sia.

            “Percuma, aku tak akan melepaskan lenganmu jika kau tak mau berbicara denganku.”

            Bintang mendelik menghardik Bima, masih berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan Bima. Tapi tetap sia-sia.

            Akhirnya Bintang menyerah dan membuang mukanya ke arah lain, dimana yang dirasa tak ada wajah Bima disana. Ia murka namun tak bisa melampiaskannnya.

            Bima melepaskan lengan Bintang pelan dengan tatapan tajam dan kesiagaan penuh.

            “Saat aku bertemu denganmu aku tahu itu dirimu karena luka sayat di pelipis kirimu. Dan aku semakin yakin karena aku tahu kau mengenaliku tapi kau tak bisa mengingatnya lebih jelas dimana kita pernah bertemu.”

            Bima berhenti bercerita sesaat dan memastikan Bintang mendengarkan penjelasannya. Meski Bintang memasang tampang tak mau tahu namun Bima yakin dia mendengarkan.

            “Awalnya aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan memberimu hadiah. Itu saja. Namun saat kau mulai berbicara, aku tak kuasa menjauh darimu. Tanpa ku sadari aku telah terikat denganmu…”

            “Omong kosong,” sanggah Bintang kesal.

            “Kenapa kau begitu marah padaku?” tukas Bima jengkel.

            Bintang terkekeh mengejek. “Ya, aku marah padamu dan tak ingin berurusan denganmu lagi.”

            “Aku masih tak mengerti kenapa kau begitu marah padaku.”

            Aku marah dan membencimu karena kau telah mempermainkan hatiku dengan semua sikap menjengkelkanmu itu, yang selalu kau selipi dengan sebuah perhatian yang membuat hatiku berdegup kencang dan kau tak menyadari hal itu sedikit pun, batin Bintang.

            Perlahan kata-kata Pak Bastian menyusup didalam kepalanya. Lelaki tua itu memohon padanya agar ia mau memaafkan Bima.

            “Kumohon maafkan aku,” pinta Bima memelas.

             Bintang diam.

            Tatapan tajam Bima membuat Bintang grogi.

            Beberapa kali Bintang berdeham untuk menutupi salah tingkahnya.

            Tanpa menunggu lebih lama lagi, Bintang pun berlalu pergi dan Bima tak bisa lagi menahannya.

           

            “Setidaknya dengarkan hatimu,” gumam Bintang terkekeh. “Untuk apa dia berkata seperti itu?”

            Bintang menyusun kembali satu persatu kalimat yang disampaikan oleh Bima. Mengulangnya dan mencoba memahaminya. Sebagian dirinya masih membenci Bima dan bagian lainnya mengharap sebuah cinta. Hatinya mulai bertanya-tanya apakah benar tuduhan Bima itu.

            Mungkinkah kekerasan hatinya adalah salah satu cara untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya pada Bima.

            Tak bisa dielakkan oleh hatinya meski mulutnya berdalih seribu macam alasan, bahwa sejak perjumpaan dengan Bima, Bintang telah menaruh hati pada sosok yang penuh pesona dimatanya ini. Bukan karena dia adalah lelaki tampan yang gemar membeli DVD atau Blu-ray ditokonya. Namun dia adalah lelaki menyebalkan yang selalu memperhatikan hal-hal kecil pada dirinya. Dan kala Bintang menyadari bahwa semua sikap itu hanyalah sebuah balas budi, hatinya pun terluka.

 

Next chapter – Remember Love You #ILoveYou

  • view 153