REMEMBER LOVE YOU #IMetYou

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 April 2017
REMEMBER LOVE YOU #IMetYou

Debur ombak begitu keras menghantam karang. Sambaran angin nan kencang adalah kekuatan terbesar air laut yang bergulung menerjang. Awan hitam pun berarak menutupi sore yang tadi cerah. Menghalangi seluruh pandangan mata Bima pada kilauan matahari senja di ufuk barat nan jingga.

            Hatinya terluka karena tak bisa mengabdi pada cinta. Hatinya pedih karena harus menahan gejolak kasih yang seharusnya ia teruntukan terkasih. Akhirnya hati itu pun harus mati perlahan dalam balutan dinginnya es yang membeku dalam kalbu.

            “Bintang,” gumamnya lirih.

  

            Setahun yang lalu di sebuah lorong gelap antara gedung pencakar langit sosok itu terseok berusaha berjalan menggapai temaram cahaya lampu di ujung lorong. Tangan kanannya sibuk memegang perut kanannya yang tertusuk benda tajam hingga darah segar membasahi kemeja warna hijau lumut dan jas hitam yang dikenakannya. Sementara itu tangan kirinya berusaha sekuat tenaga menahan berat tubuhnya dengan menumpukan telapak tangan pada tembok gedung yang bisa digapainya.

            “Ahh…” erangnya tertahan. Sesekali digigitnya ujung bibir bawahnya mencoba menetralisir rasa nyeri yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

            “Tolong!” Pekikan itu tertahan di kerongkongannya yang kering. “Ahhh….”

            Sudah 20 menit lebih dia berusaha sekuat tenaga menarik kakinya yang semakin berat berusaha mencari pertolongan, namun dirasanya sia-sia karena dari begitu banyak pejalan kaki yang lewat di ujung lorong itu, tak satupun dari mereka yang mendengar erangannya.

            “Tolong…ahhh…” Lelaki ini akhirnya terjatuh dan tubuhnya terhempas menerjang tumpukan kardus dan kaleng bekas yang teronggok di lorong itu.

            “Siapa itu?” Tiba-tiba terdengar suara dari ujung lorong sana.

            Sekuat tenaga ditendangnya kaleng yang tergeletak di ujung kaki lelaki itu. Dan bunyi gelontang pun menggema di dalam lorong.

            “Siapa disana?” pekik seorang wanita yang penasaran dan mulai mendekat.

            “Tolong saya,” ucap lelaki ini sekeras yang dia bisa.

            Setelah meyakinkan diri selama beberapa detikbahwa ada seorang manusia di dalam lorong itu yang tengah membutuhkan bantuan, dengan langkah cepat wanita ini mendatangi sumber suara.

            “Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan anda?” tanyanya mencari tahu. Dan dilihatnya darah segar mengalir dari balik jas lelaki itu. “Ya ampun anda terluka.”

            “Tolong.” Lelaki ini masih mengerang menahan sakit yang semakin menjadi. Tubuhnya terasa semakin lemah.

            “Ok, ok, anda tenang dulu, saya akan memanggilkan bantuan.” Segera dikeluarkan sebuah telfon genggam dari dalam saku mantel oversize nya dan ia pun menghubungi seseorang.

            “Tolong,” ucap lelaki ini sekali lagi dengan tangan menggapai padanya.

            “Saya sudah memanggil ambulance. Saya akan menekan luka anda ini dengan syal saya agar pendarahan bisa terhenti sementara.” Wanita ini melepas syalnya dan melipatnya kemudian meletakkan pada luka di perut lelaki itu.

            “Ahh!” pekiknya kesakitan.

            “Ini akan terasa sedikit sakit tapi bisa mengurangi pendarahan luka anda,” jelasnya tenang.

            “Terima kasih…” ucap lelaki ini lirih hampir tak terdengar dan dia pun menutup matanya.

 

            Sehari setelah kejadian di lorong gelap itu. Bima nama lelaki yang merasa berhutang budi pada penyelamatnya tak pernah sekalipun bertemu dan mengucapkan terima kasih pada wanita yang telah menolongnya hingga ia mendapatkan bantuan dan sampai ke rumah sakit.

Karena saat Bima tersadar hanya ada lelaki tua yang tak lain adalah asisten pribadi yang telah mengabdi pada keluarganya sejak ia berumur 5 tahun. Hingga saat kedua orang tua dan seorang kakak perempuannya meninggal dalam sebuah tragedi kebakaran hebat dalam villa peristirahatannya saat Bima tengah menempuh pendidikan disebuah universitas negeri ternama di ibu kota. Akhirnya dia menjadi yatim piatu dan hanya Pak Bastian yang menemani hari-hari sepinya.   

            “Dimana dia?” tanya Bima parau setengah membuka matanya.

            “Siapa?” tanya Pak Bastian bingung.

            “Wanita yang telah menolong dan membawaku ke rumah sakit,” jelas Bima pelan.

            “Tak ada wanita atau siapa pun disini saat saya datang, Tuan Muda.” Pak Bastian mencoba meyakinkan Bima.

            Bima memberi isyarat agar diambilkan segelas air putih oleh Pak Bastian. Dengan sigap Pak Bastian yang sudah mulai tampak tua dan lelah dengan kerutan yang begitu jelas diwajahnya ini mengambilkan segelas air minum dari meja disebelah ranjang Bima.

            “Terima kasih, Pak.” Bima menyambut segelas air itu dan perlahan meneguknya habis.

            “Sebaiknya, Tuan Muda beristirahat dahulu. Apalagi nanti polisi akan datang dan menanyai Tuan perihal kejadian semalam. Sepertinya Tuan kerampokan semalam karena semua barang-barang berharga Tuan hilang. Saya bisa sampai kesini pun karena ada seorang wanita yang menghubungi saya, mungkin dia perawat rumah sakit ini karena saya tak sempat bertanya lagi,” jelas Pak Bastian panjang lebar.

            Bima mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Dia ingat bahwa dia pingsan saat masih di lorong itu setelah ia bertemu dengan malaikat penyelamatnya. Namun saat dia di dalam ambulance menuju rumah sakit, Bima ingat betul bahwa dia tersadar selama beberapa menit dan bergumam pelan memberikan nomor HP yang bisa dihubungi oleh wanita penolongnya itu. Seorang wanita muda itu pun dilihatnya mencatatkan nomor itu pada sebuah buku kecil yang dikeluarkan dari dalam tasnya. Dan Bima pun sepintas lalu mengingat wajah manis gadis itu. Wajah dengan bekas luka sayat di pelipis kirinya. Begitu jelas….

 

            Akhirnya secara tak sengaja Bima pun bisa bertemu dengan penyelamatnya disebuah toko DVD dan Blu-ray yang terletak 3 blok dari apartemennya.

            “Kau?” tanya Bima ragu.       

            “Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu? Anda sedang mencari DVD atau Blu-ray film atau lagu?” tanyanya santun layaknya seorang penjual pada pembeli langganannya.

            “Maaf.” Bima menyadari sesuatu. Dia tak mungkin mengatakan bahwa kau adalah malaikat penyelamatku. Meski dirinya yakin 100% bahwa memang gadis inilah yang telah menolongnya. Bekas luka sayat di pelipis kirinya begitu jelas meski poni rambutnya mulai panjang dan menutupi luka itu.

            “Tuan!” panggil gadis ini lagi. “Bisa saya bantu?”

            “Iya, tentu.” Bima gelagapan. “Saya ingin Blu-ray film Dunkirk”

            “Sebentar saya cek dulu,” jawab wanita itu beralih pada sebuah PC di meja kasir.

            Mata Bima tak lepas menatap gadis itu, dilihatnya sebuah nama yang tertera dibajunya, namanya Bintang. Bima pun tersenyum puas karena telah mendapatkan yang sebenarnya sangat dibutuhkannya. Yaitu sebuah nama penyelamatnya.

            “Maaf, Tuan. Tapi film itu belum sampai ke tempat kami. Kemungkinan minggu depan baru datang bersama dengan film-film terbaru lainnya. Kami akan menghubungi, Tuan, jika berkenan meninggalkan nomor yang bisa kami hubungi nanti.” Bintang menjelaskan begitu fasih pada pelanggan barunya.

            “Tentu,” sahut Bima canggung dengan bias bahagia diwajahnya karena itu berarti dia akan bertemu dengan Bintang tanpa harus mencari alasan lain.

            Setelah mencatatkan sebuah nomor HP diselembar kertas, Bima menyodorkan pada Bintang dengan sebaris senyum tipis di ujung bibirnya.

            “Ok, nanti Tuan akan segera kami kabari jika film yang Tuan pesan sudah datang. Boleh tahu nama anda, Tuan?” tanya Bintang sekedar ingin tahu nama pelanggan barunya.

            “Bima Sakti.”

            Bintang mencatat nama itu pada selembar kertas yang tadi diterimanya.

            “Baiklah, terima kasih, Tuan.” Senyum manis itu pun mengembang.

            Bima terpesona sesaat dan berpamitan pergi dari tempat itu.

            Hatinya kini bimbang. Niat awalnya adalah untuk mengucapkan terima kasih pada penolongnya dan memberikan sebuah hadiah jika memang itu nanti diperlukan. Namun yang terjadi adalah hatinya berdesir kala sosok yang telah lama dicarinya ini menyambutnya dengan sebuah senyuman. Bima tak kuasa menolaknya.

            Seminggu kemudian Bintang menghubunginya. Ia hanya mengirimkan sms pemberitahuan pada Bima. Sebenarnya Bintang ingin menelfon langsung namun hal itu segera diurungkan kala ia sadar bahwa ia tak pernah melakukan hal itu pada semua pelanggannya. Bintang hanya seperlunya saja mengirimkan sms pemberitahuan jika memang diperlukan. Entahlah namun Bintang merasa pernah melihat lelaki yang ditafsirnya berumur sekitar 27 atau 28 tahun. Dari sikap dan cara berbicaranya dia bukan seperti orang kebanyakan. Ada sebuah magnet yang seolah menarik dirinya untuk mendekat dan menanyakan banyak hal tapi Bintang tak bisa menerka itu apa.

            “Ini film yang Tuan pesan,” ucap Bintang sopan menyodorkan sebuah Blu-ray yang terbungkus dalam sebuah paper bag berukuran sedang dengan logo toko miliknya. The Star.

            Bima menerima paper bag itu dengan ramah namun tak tampak sebaris senyum tersungging dibibirnya. “Terima kasih,” ujarnya pendek. Kemudian menyerahkan 5 lembar uang ratusan ribu.

            “Ini terlalu banyak, Tuan.” Bintang menyodorkan lagi uang yang menurutnya terlalu banyak karena harga Blu-ray itu hanya 300 ribu.

            “It’s Ok, anggap saja itu uang muka untuk film terbaru lainnya,” jelasnya menolak uang yang telah disodorkan oleh Bintang.

            Bintang tampak bingung karena baru kali ini ia mendapati seorang pembeli seperti ini.

            “Maaf, Tuan. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Bintang tiba-tiba.

            “Maaf?” Bima balik bertanya heran.

            “Ya, karena saya merasa kita pernah bertemu sebelumnya tapi saya lupa dimana. Atau mungkin saya salah orang. Maafkan saya.” Bintang menyadari kesalahannya dan mengatupkan kedua tangannya pada Bima.

            Bima menarik ujung bibirnya sekilas dan semakin yakin bahwa Bintang adalah malaikat penyelamatnya. Namun ia tak bisa membuka kedoknya. Bima merasa masih belum tepat waktunya.

            “Terima kasih, Bin..tang,” ucapnya pelan berlagak mengintip nama Bintang di bajunya. “Saya akan datang lagi.”

            Bintang memaksakan dirinya untuk tersenyum karena kini dia berada dipersimpangan antara yakin dan tidak akan identitas pelanggan barunya ini.

 

            Sudah 1 bulan lebih Bima menjadi pelanggan tetap di toko DVD milik Bintang. Entah sudah berapa banyak DVD dan Blu-ray yang dibelinya. Namun hanya beberapa yang telah ditontonnya. Dan sore ini Bima menunggu Bintang disebuah taman di pusat kota.

            “Maaf, sudah lama menunggu ya?” sapa Bintang yang merasa bersalah karena terlambat datang.

            Bima melirik sekilas tanpa berekspresi meski hatinya begitu senang saat melihat Bintang datang dan kini duduk 1 meter disebelahnya. 

            “Ini pesananmu!” sodor Bintang menatap sekilas kearah Bima. Bintang tahu bahwa Bima memang jarang tersenyum namun karena dia adalah pelanggan setianya, Bintang tak ambil pusing dengan sikap dingin Bima.

            “Ohh sejuknya angin ditaman ini,” ucap Bintang bahagia seraya membentangkan kedua tangannya menyambut semilir angin yang mulai mengalun lembut membelai wajahnya yang berpeluh karena telah menempuh perjalanan yang rumayan jauh dari toko milliknya. Nafasnya pun kadang masih memburu.

            Bima menyodorkan segelas caramel frappuccino dariStarbucks, minuman kesukaan Bintang. Wajah Bintang yang tadi tampak begitu lelah kini berubah ceria demi melihat minuman kegemarannya.

            “Thanks,” sambut Bintang senang. “Untukmu mana?”

            “Aku tidak minum kopi,” ujar Bima datar.

            “Owh, Ok.”

            Selalu seperti ini. Setiap kali Bintang bertemu dengan Bima, tak banyak kosakata yang keluar dari mulut Bima. Terkadang Bintang sendiri yang merasa terlalu banyak berbicara. Dan tatkala Bintang malas berkata-kata akhirnya waktu yang mereka habiskan bersama adalah duduk berdua dibangku taman, tenggelam dalam fikiran masing-masing dan menikmati semilir angin sampai waktu yang dirasa cukup oleh Bintang berakhir dan Bintang berpamitan karena tak kuat dengan keadaan seperti itu.

            “Bagaimana tokomu hari ini?” tanya Bima tiba-tiba.

            “Toko ramai seperti biasanya, tak ada kejadian aneh atau special,” cerita Bintang pendek seraya menyeruput minuman kesukaannya itu.

            Mata Bima masih menatap lurus kedepan, sesekali mencuri pandang seperlunya.

            “Kau sendiri bagaimana? Pekerjaanmu lancar?” Bintang balik bertanya mencoba menghangatkan suasana agar ia tak merasa bosan.

            “Baik. Tak ada yang special,” balas Bima.

            Bintang tersenyum kecut.

            “Sebenarnya kau bekerja dimana? Kau tak pernah memberitahuku,” Bintang memberanikan diri menanyakan hal riskan ini kepada Bima. Karena dia yakin bahwa Bima bukanlah karyawan biasa. Dia terlalu banyak dan sering menghabiskan uangnya untuk membeli DVD atau Blu-ray ditokonya.

            “Kau tak pernah bertanya,” ucap Bima tenang.         

            “Sekarang aku bertanya,” kejar Bintang tak mau kalah.

            “Apakah kau ingin menemuiku di kantor?” Kepala Bima menoleh pada Bintang dan menatapnya sesaat.

            Bintang merasa terjebak dengan pertanyaannya sendiri. “Tidak, aku hanya ingin tahu saja.”

            Bima kembali menarik ujung bibirnya sekilas. “OK.” Dan kembali menatap lurus kedepan.

            “Jadi dimana kau bekerja?” tanya Bintang lagi.

            “Bukankah kau tak ingin mendatangiku di kantor, jadi untuk apa kuberi tahu dimana aku bekerja,” elak Bima menang.

            Benar-benar menyebalkan ini orang, batin Bintang gusar.

            “Bagaimana dengan keluarga?” coba Bintang lagi menggali informasi.

            “Keluarga siapa?” Bima kembali balik bertanya. Rahangnya yang mulus tanpa sehelai bulu halus tumbuh disitu tampak begitu kokoh. Namun saat lesung pipit di pipi kirinya terlihat, wajah itu menjadi begitu tampan.

            “Keluargamu…” Bintang merubah posisi duduknya serong kekanan menghadap Bima.

            Wajah Bima tampak tegang. “Aku tidak mempunyai keluarga.”

            “Aneh, tak mungkin kau tak mempunyai keluarga,” ucap Bintang tak percaya.

            “Tak bisakah kita membicarakan yang lain saja?” Bima berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

            Bintang tampak berpikir sejenak.

            “Kau mempunyai kekasih?” tembak Bintang tanpa sungkan. Matanya tak berkedip sedikitpun menunggu jawaban dari Bima di hadapannya.

            “Pertanyaan macam apa itu, kenapa semua pertanyaanmu menyudutkanku?” Bima balik menyerang tanpa harus menatap balik pada Bintang.

            “Aaahh…kau benar. Sepertinya obrolan kita ini sia-sia.” Bintang menoleh kekiri dan kekanan tanpa alasan.

            Karena merasa tak mendapatkan jawaban memuaskan dari semua bahan obrolannya, Bintang pun berencana untuk pulang saja.

            “Baiklah. Aku sebaiknya pergi karena hari sudah hampir gelap.” Bintang beranjak dari duduknya.

            “Kau marah?” todong Bima santai.

            “Tidak, untuk apa?” jawaban yang terkesan dipaksakan. Karena sejatinya memang Bintang sedikit kesal. Semua bahan obrolannya sukses masuk kedalam tong sampah.

            “Baiklah.” Bima masih duduk dibangku taman, tak bergerak sedikitpun meski sekedar untuk mengganti posisi duduknya.

            “Kau akan duduk disini semalaman? Kau tak pulang? Oh ya tak perlu kau jawab, karena itu bukanlah urusannku. OK, bye,” Bintang berpamitan dan pergi meninggalkan Bima. “Menyebalkan,” sungutnya lirih hampir tak terdengar.

            “Bye.” Bima menyahut sembari tersenyum demi mendengar kalimat terakhir Bintang yang ternyata sampai ke telinganya.

            Matahari pun merambat turun dan terlelap diperaduannya. Cahaya jingga kini perlahan berganti hitam dan mulai pekat. Semilir angin mulai kencang dan dingin. Lampu-lampu taman satu persatu menyala seolah telah diseting sedemikan rupa hingga terkesan begitu indah.

 

            Bintang tergesa mempercepat jalannya, seharusnya dia sudah membuka tokonya 30 menit yang lalu. Sampai akhirnya seorang pegawai yang juga teman Bintang telah terlebih dahulu datang dan harus berulang kali menghubunginya karena toko tak kunjung dibuka gara-gara Bintang tak menampakan batang hidungnya pagi ini.

            “Kau dimana?” tanya Aster kencang menembus mikrofon telfon seluler Bintang.

            Aster telah berteman dengan Bintang sejak mereka duduk dibangku SMP, dan karena ia harus mencari uang untuk membiayai kuliahnya, ia bekerja di toko DVD milik Bintang di waktu senggangnya. Sementara Bintang lebih nyaman untuk mencoba peruntungan di dunia usaha dan tak ada niat sedikitpun untuk melanjutkan studinya.

            “Jam berapa ini?” Bintang malah balik bertanya.

            “Ini sudah jam 7 lebih 15 menit dan toko belum dibuka,” pekik Aster gusar karena sudah ada beberapa orang pelanggan yang tengah menunggu di depan toko.

            Bintang tercekat dan bergegas kekamar mandi. Dia hanya butuh waktu 15 menit untuk mandi, berganti pakaian dan sarapan.

            Namun perjalanan ke tokonya membutuhkan waktu lama. Dan hanya taksi lah satu-satunya angkutan umum yang melewati tempat tinggal Bintang. Sementara itu di jam sibuk seperti ini tentu saja sangat susah mencari taksi kosong tanpa penumpang. Walhasil hampir 10 menit lebih Bintang berdiri di depan sebuah restaurant sea food menunggu taksi lewat. Sampai akhirnya sebuah mobil mewah keluaran terbaru Ranger Rover Sport 3.0 HSE melintas pelan dan berhenti tepat di depan Bintang.

            Bintang mundur satu langkah karena merasa tak mengenal mobil mewah itu. Kemudian pintu belakang terbuka pelan, Bintang pun melongok melihat kedalam dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui siapa yang tengah duduk di kursi penumpang. Bima.

            “Masuklah!” perintah Bima tegas seolah memberi perintah pada bawahannya.

            Bintang beringsut meyakinkan diri bahwa benar sosok di dalam mobil itu adalah Bima.

            “Kau mau semua pelangganmu menunggumu di depan toko dan pergi mencari toko lain? Masuklah!” Sekali lagi Bima memberi perintah.

            Bintang paham atas maksud Bima dan melangkah masuk kedalam mobil.

            “Pak Bastian, kita putar balik ke TokoTheStar.” Kini Bima memberi perintah kepada sopir yang dipanggilnya Pak Bastian.

            “Baik, Tuan,” sahut Pak Bastian patuh.

            Tiba-tiba Bintang merasa mengenal suara itu, sepertinya dia juga pernah mendengarnya namun entah dimana.

            “Kau selalu terlambat seperti ini?” tanya Bima memulai percakapan.

            Bintang mendongak sesaat ke arah Bima. “Tidak juga. Semalam aku sibuk merapikan pembukuan tokoku dan lupa waktu.”

            “Jam berapa kau tidur?” Bima seolah mengintrogasi Bintang.

            “Oh..jam..entahlah mungkin jam 2 pagi,” jawab Bintang setengah berpikir.

            “Kau seharusnya lebih memperhatikan jam tidurmu agar tidak sampai sakit.” Nada suara Bima meninggi.

            Bintang memutar kepalanya dengan mata melotot memandang Bima yang tanpa ekspresi dan tatapan lurus kedepan. Bintang begitu terkejut dan ia tak pernah berpikir jika Bima memperhatikan jam tidurnnya sedemikian rupa.

            “Kenapa kau?” Bima merasa risih mendapati tatapan Bintang. “Hentikan! Atau kuturunkan kau disini!” perintahnya galak.

            Bintang gelagapan dan berusaha menguasai diri. Dia benar-benar bingung dengan sikap Bima. Dia seolah penuh perhatian kepada Bintang namun ekspresinya selalu datar seolah tak perduli dengan lawan bicaranya.

            Pak Bastian yang sejak tadi memperhatikan jalan memegang kemudi kadang melontarkan senyum tipis demi menyaksikan dua anak manusia yang duduk dibelakangnya.

            “Kau sudah sarapan?” tanya Bima lagi.

            Sekali lagi Bintang terkejut namun ditahannya seraya meremat ujung tali tas rajutnya gemas dengan semua pertanyaan yang dilontarkan Bima.

            “Sudah,” jawab Bintang akhirnya. Dia tak perduli lagi akan semua maksud pertanyaan Bima. Dia hanya menjawab sekenanya agar tak terjadi salah paham dengan pelanggannya ini.

            Bima melirik Bintang sesaat. “Apakah rumahmu jauh dari restaurant sea food tadi?”

            “Iya… Tidak juga.”

            “Mana yang benar? Iya atau tidak?”

            Gigi Bintang bergemeretak samar. Kenapa dia jadi banyak omong hari ini, pikir Bintang resah.

            “Jika berjalan kaki dari rumah ke restaurant sea food tadi maka rumahku terasa sangat jauh, namun jika tiba-tiba ada orang yang berbaik hati menjemput dan mengantarku dari rumah ke restaurant sea food tadi maka rumahku akan  terasa dekat. Jadi bisa iya dan bisa tidak,” terang Bintang meluap-luap.

            “Kau marah?” tanya Bima menerka karena wajah Bintans yang tampak bersungut-sungut.

            Bintang terdiam dan menggeleng pelan.

            “Sepertinya kau kesal,” lontar Bima menyudutkan.

            Bintang menarik nafas panjang tak menggubris ucapan Bima dan membuang mukanya kejendela menyaksikan lalu lalang kendaraan. Sepertinya itu lebih baik, batinnya.

            “Apakah aku membuatmu kesal?” Sekali lagi Bima bersuara memancing emosi Bintang.

            “Tidak, lupakan saja,” sahut Bintang menelan ludah. Sepertinya hari ini pun akan berjalan dengan tidak baik karena tak hanya terlambat datang ke toko namun harus pula bertemu dengan makhluk Tuhan yang cukup menyebalkan ini.

            Akhirnya mobil pun berhenti tepat di depan Toko. Bintang pun segera melompat turun. Kemudian membalikkan badan dan mengucapkan terima kasih pada Bima juga Pak Bastian. Tak lupa ia membungkukkan badannya beberapa derajat sebagai tanda hormatnya lalu menutup pintu pelan dan berlalu menuju tokonya. Ia segera membuka pintunya seraya meminta maaf pada Aster dan pelanggan yang telah lama menunggunya.

            “Siapa tadi?” tanya Aster penasaran pada Bintang yang dilihatnya telah diantar oleh sebuah mobil mewah.

            Bintang melirik pada Aster dan melangkah masuk. “Itu Bima, pelanggan kita yang paling menyebalkan.”

            “Oh, cowok keren yang belakangan ini sering membeli kaset Blu-ray kita?” tanya Aster lagi.

            “Iya. Kalau bukan karena dia pelanggan kita aku sudah malas melayaninya.”

            “Tapi kau tadi menumpang mobilnya?” Aster masih tak percaya. “Dia pasti orang berada, lihat saja mobilnya itu, keren…”

            “Tapi orangnya menyebalkan,” sahut Bintangkeukeh sembari meletakkann tasnya diatas meja kemudianmerapikan tumpukan DVD lagu terbaru yang belum sempat dirapikannya kedalam rak.

            “Bintang!” panggil Aster dengan kedua tangan menopang dagunya diatas meja kasir.

            Bintang melirik dan mengangkat dagunya kearah Aster. “Hmm.”

            “Kenapa cowok itu jadi sering bertemu denganmu?”

            “Pertanyaan yang aneh,” ledek Bintang. “Dia kan pelanggan toko kita, Aster sayang.”

            “Tapi pelanggan lainnya tidak seperti itu. Sepertinya dia menaruh hati padamu.” Aster menarik kesimpulan.

            Bintang tersenyum kecut.

            “Kenapa? Kok wajahmu begitu. Apa kautidak menyukainya?”

            “Dia menyebalkan…”

            Bintang pun berlalu menuju rak DVD western song sambil membawa sekeranjang DVD yang baru saja datang dari supplier.

            Aster masih berdiri terpaku bingung campur tak percaya jika cowok yang telah dilabeli keren itu ternyata menyebalkan seperti kata Bintang. Akhirnya dia memutuskan untuk melupakannya dan membantu beberapa orang pembeli yang nampak kebingungan mencari DVD yang diinginkannya.

            Namun tidak dengan Bintang. Sesekali ia melamun mengingat semua sikap Bima padanya. Cara dia memberi perhatian itu sungguh aneh. Dan sesuatu yang tak dimengerti Bintang adalah seolah ada sesuatu antara dirinya, Bima dan Pak Bastian.

           

            Setahun yang lalu. Malam itu dingin dan gerimis membasahi bumi. Bintang berjalan pulang dari tokonya menembus angin yang berhembus kencang dan menerbangkan dedaunan pohon akasia yang berguguran di tepi jalan. Sebuah telfon mengejutkan datang dari kampung halaman 30 menit yang lalu, mengabarkan bahwa satu-satunya orang tua Bintang kini telah tiada. Ibunya terkena serangan jantung dan harus menghembuskan nafas terakhir tanpa peluk hangat putri semata wayangnya.

            Namun di tengah perjalan dari toko menuju rumah kostnya Bintang mendengar seorang lelaki mengerang kesakitan dalam sebuah lorong diantara gedung pencakar langit di pusat kota. Awalnya dia ragu untuk masuk kedalam lorong gelap itu. Sampai akhrinya ia pun nekat dan menemukan seorang lelaki terluka parah. Tanpa berpikir panjang ia pun menelfon ambulance dan mengantarkan lelaki itu sampai ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

            Setelah menelfon ke nomor yang telah diberikan oleh lelaki itu saat dia tersadar sesaat ketika didalam ambulance, Bintang pun harus pergi meningggalkan lelaki yang tak dikenalnya itu. Karena dia pun harus segera pulang ke kampung halamannya untuk menghadiri pemakaman ibunda tercinta. Sejak saat itu Bintang tak lagi memikirkan pengalaman dimalam itu karena kesedihan mendalamnya akan kehilangan seorang ibu. Kesedihan yang telah menggerogotinya selama berbulan-bulan lamanya. Hingga akhirnya tak ada kata yang tepat selain ikhlas. Ia harus mengikhlaskan semuanya dan melanjutkan perjalanan demi kehidupannya sendiri.

 

  Next chapter – Remember Love You #IHateYou

Dilihat 108