KISAH PUTIH BIRU

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 April 2017
KISAH PUTIH BIRU

Namanya Dion. Dia tak sekelas denganku. Kelasnya berada tepat di samping kelasku. Aku dikelas G dan dia di kelas H. Setiap hari sebelum dia masuk kedalam kelasnya, aku selalu berdiri di samping pintu kelasku bersiap untuk menyambutnya dengan senyuman termanisku yang selalu kusimpan dibalik buku yang kerap kubawa dan kututupkan di wajahku. Sudut mataku tak lekang mengikuti langkah kakinya hingga ia hilang dari jangkauan mataku.

            Namun pagi ini dia yang kutunggu tak kunjung datang. Sampai bel tanda masuk berdering pun tak kulihat Dion melintas di depan kelasku. Hatiku gelisah. Berbagai prasangka dan pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban bersliweran di kepalaku. Buku paket matematika yang sejak tadi kugunakan untuk menutup wajahku sudah beralih posisi di dadaku. Akhirnya saat kulihat Bu Siska berjalan mendekat ke kelasku. Kupaksakan untuk masuk ke dalam kelas. Namun saat langkah pertama kakiku beranjak dari samping pintu, kelebat Dion berlari menuju kelasnya membuat hatiku berdesir. Dan saat itulah mata kami bertemu. Tak bisa kuelakkan lagi namun itu terjadi. Dan aku malu…

            “Sstt….Ollie,” senggol Fanti membuyarkan lamunanku. “Dari tadi nglamun aja…”

            Aku gelagapan dan mencoba mencari kesibukan dengan membolak-balik halaman buku matematika yang sejak tadi terbuka di hadapanku.

            “Enggak,” elakku.      

            Fanti melengos tak percaya dengan jawabanku.

            Sepanjang pelajaran aku tak henti memikirkan tatapan mata Dion. Hanya sebuah tatapan mata yang membuatku gelisah. Apakah tadi hanya sebuah kebetulan atau bukan? Samar-samar sebuah harapan bahwa itu bukanlah kebetulan menyelusup mengisi ruang kosong di pojok hatiku. Selama ini aku hanya mengaguminya dan tak berharap mendapatkan balasan apa pun. Namun mengapa kini timbul harapan akan sebuah keinginan untuk mendapatkan tatapan itu lagi dan lagi….

            “Ollie!” panggil Bu Siska membuyarkan angan-anganku.

            Dan gambaran indah di langit-langit harapannku pun mendadak berguguran.

            “Eh…i..iya Bu…” sahutku gelagapan.

            Sontak seisi kelas pun bersorak sorai karena aku ketahuan melamun saat pelajaran berlangsung. Hal ini membuatku malu dan lebih dalam lagi menyusupkan kepalaku ke dalam buku paket matematika yang masih tetap di depanku.

 

 

            “Ollie, pinjam PR Fisikanya!” Yayak teman sekelas yang duduk di bangku paling belakang telah berdiri di samping mejaku.

            “Buku Fisika ku dipinjam Zaini,” jawabku datar.

            “Zaini kelas C ?” tanya Yayak memperjelas.

            “Bukan. Zaini si Cipluk kelas E,” terangku membetulkan.

            Saat itu aku berniat beranjak dari bangku namun tiba-tiba sosok itu masuk ke dalam kelasku dan mendatangi kami. Dadaku berdebar kencang dan aku pun kembali terduduk di bangkuku. Sebisa mungkin kutundukan wajahku semakin dalam.

            “Yak, ke kantin yuk.” Suara itu begitu khas di telingaku. Tanpa melihat wajahnya aku sudah sangat mengenali suara itu.

            Yayak menoleh menyambut kedatangan Dion.

            “Ollie, nanti aku pinjam bukunya ya?” pinta Yayak lagi.

             “Eh…emm iya,” sahutku tanpa mengangkat kepala. Pura-pura sibuk sembari mebolak-balik buku tulis di tanganku.

            “Ikut ke kantin yuk!” ajak Yayak memaksaku mengangkat wajah untuk sekedar menatap Dion yang saat ini berada beberapa senti dibelakang Yayak. “Dion yang traktir, iya kan Yon?”

            Kutatap mereka berdua bergantian. Bingung antara mengiyakan atau menolaknya dengan halus.

            Kini Dion tersenyum menyambut tawaran Yayak.

            “Iya, aku yang traktir. Yuk!” Dion pun memperjelas dan kembali mengajakku.

            “Maaf, aku….” kutundukan kepala tak mampu mengikuti alur cerita saat ini.

            “Hei, kenapa? Ayo ikut apa tidak?” Yayak tak sabar lagi.

            Aku masih tertunduk dan menggeleng pelan.

            “Baiklah. Ayo Yon!” Mereka pun berlalu meninggalkanku. Dan aku pun terdiam dalam penyesalan.

            Bodoh, batinku merutuk diri sendiri. Seharusnya kesempatan seperti ini tak kusia-siakan. Tapi entah mengapa hal yang begitu kuharapkan untuk bisa sekedar mengenal lebih dekat dengannya tak bisa kumanfaatkan dengan baik.

            Dan wajahku pun kubenamkan dalam lipatan tanganku diatas meja. Salah tingkah ini membuatku begitu tak nyaman. Kurasa hari-hariku tak seindah dulu lagi. Meski saat itu aku hanya menikmati keindahan itu dari jauh dan menyimpannya untuk diriku sendiri, tapi aku bahagia.

            Kuangkat wajahku kala kudengar tapak kaki seseorang mendekatiku.

            “Kau kenapa? Sakit?” suara itu sudah pasti aku kenali. Fanti teman sebangkuku.

            Kugelengkan kepalaku pelan.

            “Kau tak lapar? Ke kantin yuk. Kamu yang traktir,” ajak Fanti cengar-cengir tak mau rugi.

            Kujulurkan lidah mengoloknya. “Dasar. Kau yang ajak harusnya kau yang traktir.”           

            “Aku lupa bawa uang saku hari ini, tadi buru-buru,” mencoba beralasan Fanti menarik tanganku. “Yuk!”

            Tak kuasa kutolak ajakan si centil ini karena dia adalah teman baikku yang selalu mendukungku dalam situasi apa pun. Dan saat dia tak berada disampingku kala dia sakit atau tak masuk kelas,aku pun merasa kesepian meski begitu banyak teman di sekelilingku.

            Saat kami menyusuri koridor sekolah, tiba-tiba aku teringat akan Dion dan Yayak yang telah terlebih dahulu mengajakku ke kantin dan telah aku tolak.

            “Tunggu!” sergahku menghentikan langkah kaki.

            “Kenapa lagi?” Fanti pun terpaksa menghentikan langkahnya menatapku penasaran.

            “Aku tak bisa ke kantin. Kamu aja Fan.” Kurogoh uang saku dari dalam saku rok biruku dan kusodorkan pada Fanti. “Ini untuk mentraktirmu makan bakso.”

            “Tapi…” Fanti tak kuasa menolak sodoran beberapa lembar uang ribuan dariku. “Kau kenapa? Ollie?”

            Tak kuindahkan lagi panggilan Fanti dan kulanjutkan langkah kakiku kembali ke kelas. Namun saat aku kembali menuju kelas sebuah pemandangan yang tak bisa kuelakkanmemaksa untuk menghentikan langkah kakiku.

            Tampak olehku Dion tengah berbincang dengan seorang gadis yang tentu saja aku kenal karena dia berasal dari kelas yang sama dengan Dion. Mereka berdua berdiri di depan ruangan OSIS. Gadis itu tentu saja cantik dengan mata sayu dan bulu mata lentiknya. Ditambah lagi sebuah hidung mancung menghiasi wajah ovalnya. Kulit bersih dan rambut hitamnya yang tergerai di atas bahunya membuat sebagian kaum hawa merasa iri dan minder jika bersanding di sebelahnya. Namanya Titis dan dia membuat hatiku pedih….

           

 

            Kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang mungilku. Ranjang berukuran 1 x 2 meter itu menerima tubuhku dengan suara berderit. Seolah dia mewakili gundah di hatiku yang menjerit memohon pada Tuhan agar aku tak pernah dipertemukan dengan makhluk ciptaan-Nya yang bernama Dion.

            Berulang kali kutanyakan pada diriku apa istimewanya Dion hingga aku menjadi begitu terguncang kala kudapati dia tengah berbincang dengan seorang gadis yang belum tentu ada hubungan apa-apa dengannya. Dan apa hubunganku dengan Dion hingga aku harus menerka-nerka isi  hatinya kala kami beradu pandang waktu itu. Andai hal itu tak pernah terjadi dan rasa ini kusimpan sendiri.

            “Anak bunda sudah datang rupanya,” sambut Bunda yang telah masuk kedalam kamarku.

            Kutoleh Bunda ragu dan kutarik badanku untuk duduk menunggu Bunda mendatangiku.

            “Ayo ganti baju dulu, terus kita makan siang sama-sama. Tadi Bunda masak opor ayam kesukaanmu.” Bunda duduk di sampingku seraya mengusap punggungku.

            Kupeluk Bunda manja.

            “Eeee..kenapa kesayangan Bunda ini kok loyo gini.” Bunda meraba keningku.”Gak demam kok, terus kenapa dong kok kecut gak ada senyumnya…”

            “Gak pa-pa,” jawabku menutupi.

            “Bertengkar dengan Fanti?” tanya beliau ingin tahu.

            Kugelengkan kepalaku pelan dan tanganku masih tetap merangkul badan Bunda lekat.

            “Ada masalah dengan pelajaran?” kulik Bunda masih penasaran.

            “Enggak,” gumamku hampir tak terdengar.

            “Hmmm…pasti masalah cowok nih?” tebakan Bunda membuatku tersentak.

            “Kok Bunda tahu?” tanyaku polos. Sedetik kemudian kusadari kesalahanku telah berkata jujur.

            “Tentu saja, Bunda kan pernah muda. Siapa namanya?” komentar Bunda melanjutkan.

            “Bunda kepo,” sahutku menutupi dan kuraih bantal hello kitty diatas ranjangku. Kudekap erat dan tatapan mataku menerawang jauh. Senyum Dion menghiasi bingkai hatiku.

            “Hemmm…pasti lagi mikirin dia ya?” goda Bunda lagi.

            “Iya,” ujarku pendek menoleh sesaat ke arah Bunda. Senyumku mengembang.

            “Gak ngambek lagi?” cecar Bunda masih ingin tahu seraya mendekat ke arahku.

            “Enggak. Lapar…” Wajahku memelas menatap Bunda.

            “Ayo makan!” Bunda menarik tanganku dan menggandengku menuju ruang makan.

            Di sela-sela langkah kami Bunda masih bersikukuh menanyakan namanya. Namun kali ini aku tak akan terjebak oleh kalimat pancingan Bunda.

 

            Aku berlari secepat mungkin menuju sekolahku. Tas ranselku berguncang mengikuti irama kakiku. Sesekali kutoleh kiri dan kanan sekedar mengecek ada kendaraan yang akan lewat atau tidak kemudian berlari lagi menyeberangi jalan raya. Halte angkot sedikit jauh dari sekolahku, untuk itulah aku bersusah payah mengejar waktu yang tersisa hanya 5 menit saja sebelum gerbang sekolah ditutup oleh Pak Sholeh, penjaga sekolah kami. Sekeras apa pun upayaku namun waktu yang kini tinggal beberapa detik tak terkejar olehku. Walhasil gerbang sekolah pun perlahan ditutup tepat di depan langkah kakiku yang hanya kurang beberapa langkah saja. Senyum pasrah Pak Sholeh menyambut keterlambatanku hari ini. Andai tak kulihat Bu Rinda – wakil kepala sekolah, yang berdiri di pojok kelas A dan bersendekap menatap tajam ke arahku pasti Pak Sholeh masih bisa kurayu agar aku diperbolehkan masuk kedalam sekolah.

            Sia-sia perjuanganku pagi ini hanya menghasilkan nafas terengah dan keringat yang membasahi seragam sekolahku.

            Kuatur nafasku dan sesekali mengusap peluh yang menetes di keningku. Aku harus menunggu sampai pelajaran pertama selesai untuk bisa masuk kedalam sekolah. Itupun aku harus terlebih dahulu berkunjung ke ruang BP untuk meminta surat ijin masuk kelas sebagai tiket masuk kedalam kelasku. Dan tentu saja sebelumnya harus rela mendengarkan petuah dari guru BP terlebih dahulu.

            “Kau telat juga?” Sebuah suara yang aku kenal membuatku spontan membalikkan badan.

            Aku diam menatap makhluk Tuhanyang  selalu membuatku terpesona kini berdiri tepat beberapa senti didepanku.

            “Dion,” gumamku lirih.

            “Ya?” sahutnya seolah mendengar gumamanku.

            “Ah tidak….maksudku iya, aku terlambat…” sergahku cepat seraya mundur beberapa langkah menjaga jarak.

            “Kamu kelas G kan? Satu kelas dengan Yayak?” Dion kembali bertanya padaku.

            Kuanggukkan kepala beberapa kali. “Iya.”

            “Kenapa kau bisa terlambat?” selidik Dion ingin tahu.

            Aku masih mematung tak percaya jika aku bisa terjebak disini bersamanya. Beberapa hari yang lalu kami beradu pandang dan kini kami bercengkrama. Seolah ini sebuah angan-angan yang kerap mengisi ruang khayalan di kepalaku.

            “Hai, kau kenapa?” Dion menepuk lenganku pelan. Dan lagi-lagi aku terperanjat mendapatinya sudah berdiri hanya beberapa senti di depanku.

            Aku bingung harus menjawab apa, tubuhku kaku dan lidahku mendadak kelu.

            Dion tersenyum lucu. Pasti dia sudah berpikir hal yang konyol mengenai diriku.

            “Kau yakin taka pa-apa?” Dion memastikan lagi. “Wajahmu pucat…”

            Ah Dion sampai segitunya memperhatikan wajahku. Pucat katanya. Ke GR-an.

            “Aku baik-baik saja. Terima kasih,” ucapku formal dengan kepala menoleh kesana-kemari. Aduuuhh….

            “Ok,” sahut Dion pendek dan kedua ujung bibirnya ditarik keatas. Sebuah senyuman tertahan yang bisa membuatku tak nyenyak tidur malam ini.

            Alih-alih senang karena bisa berduaan dengan pujaan hati akhirnya aku sebal sendiri karena selalu salah tingkah dihadapan Dion. Setiap pertanyaan atau dimana ada kesempatan dia mengajakku bercengkrama aku selalu mengacaukannya dengan jawaban yang tidak pernah memuaskan. Dengan kepala tertunduk aku sesekali meliriknya mencari tahu apa yang tengah dilakukan Dion. Kadang dia berkacak pinggang, bersendekap atau berjongkok jika dia merasa lelah berdiri. Senyumnya yang tak pernah mengembang penuh seolah menjadi daya Tarik tersendiri bagiku. Badan tegapnya, juga pesona tatapan matanya yang teduh kerap membuatku melayang. Dan alangkah senangnya hatiku kala kuketahui dia pun mencuri pandang padaku.

            Harapku agar hari ini tak pernah berakhir dan hukuman kami menunggu di depan pintu gerbang diperpanjang sampai jam istirahat pertama. Tapi apalah daya saat Pak Sholeh dengan senyum lebar membuka pagar dan mempersilakan kami masuk ke dalam sekolah. Akhir hukumanku menjadi suatu hal yang sangat tidak aku ingingkan.

            Setelah menemui guru BP kami pun beriringan berjalan menuju kelas kami yang bersebelahan. Namun aku selalu mencoba menjaga jarak dengannya. Dengan kepala tertunduk kedua tanganku memegang tali ranselku. Kami pun berjalan dalam diam. Demikian juga saat aku mendahuluinya memasuki ruang kelasku. Dari ujung mataku hanya Nampak tas ransel hitam di punggungnya. Tanpa kata perpisahan atau sebuah kalimat basa-basi.

 

 

            Bangunan kokoh bertingkat ini adalah tempatku menuntut ilmu. SMP Negeri 3 Malang. Untuk bisa masuk ke SMP favorit ini saja aku harus bersaing dengan begitu banyak pelajar dari penjuru Malang. Bagiku dengan tingkat intelegensia pas-pas an adalah sebuah keberuntungan mendapatkan nilai bagus sebagai tiket masuk ke sekolah favorit ini.

            Saat ini aku duduk di bangku kelas 3, waktu yang tak sebentar untuk menuntut ilmu di sekolah ini. Dan waktu yang cukup lama harus memendam simpatiku pada Dion dimana awalnya aku tak pernah mengharapkan balasan apa pun darinya.

            Begitu banyak kenangan yang telah aku lalui di sekolah ini. Dan kisah itu akan segera berlalu saat kami harus berpisah untuk melanjutkan pendidikan di bangku SMU.

            Aku duduk terpekur seorang diri di taman depan kantor tata usaha. Sebuah buku paket Bahasa inggris menemani siangku. Ini adalah istirahat kedua. Lalu lalang burung gereja berterbangan di atas kepalaku. Mereka bertengger di cabang pohon kenari yang berdiri kokoh di luar pagar sekolah. Kala angin begitu keras menghembus dan menggoyangkan dedaunan burung-burung itu pun berhambur terbang berpindah ke dahan lain. Tak sadar aku pun tersenyum menyaksikan tingkah laku mereka.

            “Hai, asyik benar,” sapa seseorang mengejutkanku.

            Tak butuh waktu lama untuk mencari sumber suara dan tentu saja aku kenal suara itu. Seperti biasanya.

            “Ya ?” sahutku terperanjat.

            “Kebetulan aku dari ruang tata usaha dan melihatmu disini.” Dion menjelaskan dengan bahasa tubuh yang menunjukan bahwa memang dia datang dari ruang TU kemudian berjalan menuju tempatku berada saat ini.

            Ah tidak, mau apa dia kemari. Aku berusaha menguasai diri.

            “Aku Dion. Kau kelas G kan? Satu kelas dengan Yayak,” ucapnya lagi mengulangi kalimatnya kala kami terjebak di luar pintu gerbang. “Aku beberapa kali melihatmu tapi aku tak tahu namamu.”

            Ini Dion yang berbicara. Dia ingin mengenalku. Oh Tuhan.

            Fokus Ollie. Fokus. Kuasai dirimu.

            “Aku… aku Kholidah. Teman-teman biasa memanggilku Ollie. Iya, Yayak duduk di bangku paling belakang,” jelasku. Dan kuyakin kata-kata terakhirku seharusnya tak aku sebutkan. Aku begitu gugup.

            Dion menarik kedua bibirnya, tersenyum lepas. Aku yakin dia pasti merasakan kegugupanku. Andai saja rasa suka ini bisa kutransfer padanya, melalui Bluetooth atau Share It agar dia pun memilikinya. Sehingga dengan demikian kami bisa saling mencocokannya dengan kode verifikasi yang hanya kami miliki berdua.

            “Kau suka pelajaran Bahasa Inggris ya?” tanya Dion basa-basi seraya melirik buku paket di tanganku.

            “Oh iya, aku suka,” jawabku singkat menyodorkan buku di tanganku sesaat ke arahnya.

            “Matematika?” masih sama bertanya seputar pelajaran. Sebuah topik klasik.

            “Iya, matematika juga.” Kuanggukan kepalaku tanpa  maksud tertentu.

            “Tentu, aku sering melihatmu berdiri di depan kelasmu dengan membawa buku matematika.” Kalimatnya ini bagai sengatan listrik 1000 watt.

            Kutundukan kepalaku semakin dalam. Pipiku pun pasti sudah bersemu merah. Entahlah.

Untuk melirik pun aku tak berani apalagi mengucapkan sebaris kalimat pertanggungjawaban. Ternyata selama ini dia memperhatikanku berdiri di samping pintu masuk kelasku. Aku telah tertangkap basah saudara-saudara.

            “Ollie, kamu disini rupanya. Aku cari kemana-mana.” Fanti datang menyelamatkanku.Namun ia tak sendiri, ada Ruri, Agni dan Zaini dari kelas E pun ikut menyelamatkanku. Kurasa.

            Serta merta aku beranjak dari dudukku dan begitu senang mendapati mereka berempat. Dan sepertinya reaksiku berlebihan.

            “Ok, kalau begitu aku pergi dulu. Bye Olllie.” Dion melambaikan tangan kanannya ke arahku dan berlalu pergi.

            Tak kuasa kuikuti gerak tubuhnya sampai hilang dari jangkauan mataku. Dan tak kusadari mereka berempat tengah memperhatikanku.

            “Uhuk….” Suara batuk Agni yang dibuat-buatnya menyadarkanku.

            “Eaaa…ada yang sedang jatuh cinta rupanya. Berita besar ini,” goda Ruri santai.

            “Cieee… Ollie. Tadi Dion idola cewek-cewek dari kelas H kan? Kukira dia pacarnya Titis..” komentar Zaini menggodaku.

            Kenapa nama itu harus hadir disini saat ini. Mood ku pun langsung buruk. Raut wajahku berubah 180 derajat. Kini hanya senyum kecut yang bisa kupamerkan.

            Fanti, Ruri dan Agni terkekeh menyaksikan ekspresiku.

            “Kalian jahat!” sergahku jutek seraya pergi meninggalkan mereka bertiga.

            “Lho salah  kami apa?” pekik Ruri mencari penjelasan.

            “Ahhh Ollie, pasti ada rasa nih sama Dion. Hayooo….” Zaini masih mengejarku dengan godaannya.

            “Cemburu nih yee`” Agni menimpali.

            “Cieee…cieee… Ollie.” Ruri dan Fanti ikut membuliku.

            Agni masih cekikikan, semantara Zaini masih sibuk mencari celah untuk menyudutkanku.

            “Ollie tunggu!” panggil Fanti menyusulku.

 

 

            Begitulah, itu kisah 6 tahun yang lalu. Aku tersenyum seorang diri menatap bangunan yang sudah banyak berubah ini. Meski aku menyaksikan kemegahannya dari luar pagar namun separuh hatiku masih tertinggal dibalik pagar ini. Di kelas H. Kelas pemuda belia yang kala itu digandrungi banyak wanita dari kelas A sampai H.

            Baru kusadari jika Dion adalah cinta pertamaku. Aku terlanjur jatuh hati padanya. Meski untuk memiliki senyum khas-nya itu adalah mustahil namun aku sudah cukup bahagia bisa mengenalnya dan dia pun bisa mengenalku meski hanya sesaat. Setidaknya dia sudah tahu namaku.

            Setelah puas menatap bangunan sekolah ini untuk beberapa lama, akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kota ini sudah kutinggalkan selama 3 tahun lamanya. Aku harus menempuh pendidikan S1 ku di sebuah universitas paling bergengsi di dunia, Harvard University. Aku mengambil Harvard Business School yang beralamatkan di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Dan sekolah ini adalah salah satu sekolah manajemen terbaik di dunia.

            Dan hari ini aku harus kembali di kota kelahiranku ini lagi, karena saudara sepupuku, Anis akan menikah. Dia menuntutku untuk datang karena saat pertunangannya aku tak bisa datang karena alasan study yang tak bisa kutinggalkan.

            “Jangan terlalu sering bergerak, kebayamu ini kusut jadinya,” hardikku ketus pada Anis seraya menyusuri seluruh bagian kebaya warna putih gading dengan mataku.

            “Kebaya ini gatal. Sudah kubilang aku tak mau yang terlalu banyak detail brokatnya. Masih saja disuruh pilih yang ini. Gatal…” rengek Anis manja.

            “Ah sudah terlambat untuk menyesal, sebentar lagi pengantin pria datang. Kau diam dulu. Alismu tak simetris, sini biar aku betulkan.” Aku sibuk memilih pensil alis dan mulai mengeksekusi alis pengantin wanita yang notabene adalah sepupu yang paling dekat denganku.

            “Mbak, bisa minta tolong ambilkan pensil alis yang lain, alisnya ini gak simetris, “ keluhku memberi perintah pada wanita perias pengantin. Tak kuperdulikan wajah masamnya. Aku memang tak pernah sungkan jika ada hal yang tak sesuai dengan sepatutnya. Meski Anis memelototiku aku tak perduli.

            “Kau diam saja, Nis. Daripada pengantin pria nanti protes gara-gara alis kiri dan alis kananmu tak sama. “ Anis terbahak mendengar celotehku.

            “Gimana, sudah berapa bule yang kau taklukan disana?” tanya Anis perlahan tak ingin mengganggu konsentrasiku.

            “Heemmm….” gumamku menimpali.

            “Berapa?” cecar Anis penasaran.

            “Gak ada. Sudah jangan banyak gerak dulu,” hardikku lagi.

            “Gak percaya,” sahut Anis masih tak bisa diam.

            “Aku gak suka produk luar. Aku lebih suka produk lokal,” jawabku asal.

            Anis terkekeh dan kucubit lengannya agar dia diam.

            “Pengantin wanita sudah siap?” tanya Tante Pandan –ibunda Anis yang telah masuk ke dalam kamar . Menyusul dibelakangnya Om Fahrul dan bundaku tercinta.

            “Sudah tante,” sahutku cepat dan melompat kebelakang seraya memperhatikan Anis dengan lebih seksama lagi. Mencari-cari jikalau ada kekurangan pada semua bagian dalam diri Anis, dari atas sampai bawah.

            “Mbak Hanist?” panggil Tante Pandan pada perias pengantin Anis yang ternyata bernama mbak Hanist.

            Mbak Hanist pun buru-buru menghadirkan dirinya dan mendekat, “Ya jeng, saya disini.”

            “Oh mbak ya, apa semua sudah beres?” Tante Pandan menatap lekat Anis, putri semata wayangnya.

            “Sudah, tapi saya akan periksa lagi jeng,” jawab mbak Hanist sembari melirikku tajam. Rupanya dia tak suka dengan sikap ceriwisku.

            Bunda yang begitu memahamiku pun menarik lenganku lembut. “Ayo sebaiknya kau keluar dan temui teman-temanmu. Biar mbak Hanist yang mengambil alih urusan disini.”

            Aku pun patuh tak bisa berkutik lagi. Akhirnya aku keluar dari kamar dan menuju keruang tengah.

            Sejak kami duduk di bangku SD sampai SMA, kami selalu masuk di sekolah yang sama. Sehingga begitu banyak teman Anis adalah temanku juga.

            Kulihat Fanti sobatku mendekat dan serta merta memelukku. Sudah banyak yang berubah dari dirinya. Entah apa yang dimakannya, dia kini begitu sehat dan subur.

            “Jahat, kau datang dan tak memberiku kabar,” sungutnya berlagak marah.

            “Gak usah lebai, yang penting kita sekarang bertemu dan bisa berpelukan.” Kamipun berpelukan sekali lagi melepas rindu.

            “Ayo, kau harus bertemu dengan yang lainnya.” Fanti menarik tanganku kuat dan menggeretku menemui teman-teman yang kini sebagian besar sudah tak kuingat lagi nama mereka.

            “Ollie!” Hetty, Alifha dan Ruri kompak menyambutku dengan pekikan kencang mereka. Tak ayal sebagian tamu yang hadir pun menoleh ke arah kami.

            “Kapan datang?” Hetty mencubit pipiku. “Kamu tambah chubby aja dech…”

            “Aduh, sakit,” sergahku mengernyitkan dahi seraya mengelus pipiku pelan.

            Mereka berempat tertawa mengejekku. Kulihat si tomboi Wiwit dan Maslucha tengah khusuk duduk dibarisan paling depan menunggu calon pengantin dan penghulu datang. Mereka hanya melambai dan tersenyum padaku.

            Setelah berbincang untuk beberapa saat, aku pun pamit ingin keluar melihat apakah pengantin pria sudah datang. Karena tampak olehku Bunda dan Pak Dhe Deden bergegas menuju teras.

            Tak sabar ingin kulihat bagaimana pengantin pria calon suami Anis karena selama ini Anis tak pernah menunjukan fotonya satu pun padaku. Dia hanya bilang jika nanti dia menikah aku pasti akan tahu dengan sendirinya. Dia selalu penuh dengan misteri sejak dulu.

            Ternyata benar, iringan pengantin pria telah datang dan berbaris rapi. Namun tiba-tiba sebuah tepukan pelan dipundakku membuatku harus membalikkan badan.

            “Hai!” sapanya. Dan suara itu masih melekat kuat di benakku.

            “Ya… hai!” mataku berbinar mengetahui siapa yang telah mengejutkanku. Dion.

            “Apa kabar?” tanyanya santai.

            Serpihan-serpihan masa itu kembali terakit satu persatu memenuhi kepalaku. Senyuman khasnya, tatapan teduhnya, sapanya yang selalu mengejutkanku dan rasa itu, kekaguman yang saat itu tak mengharapkan balasan namun perlahan membuatku salah tingkah.

            “Hai, kabar baik, syukurlah,” jawabku mengamini sendiri. Masih seperti dulu, selau ada jawaban yang kadang tak begitu penting kukatakan jika bercengkrama dengannya.

            “Sudah lama tak bertemu.” Dion memasukan kedua tangan kedalam saku celananya. Dia nampak begitu formal dan tampan masih seperti dulu.

            “Ya, begitulah,” ujarku pendek.

            Untuk sesaat kami terdiam dan hanyut dalam fikiran kami masing-masing. Sesekali kami saling mencuri pandang dan saat mata kami beradu kami pun tersenyum.

            “Kau sendiri saja?” tanyaku modus. Sebenarnya pertanyaan yang seharusnya kusampaikan padanya adalah apakah kau masih sendiri?

            “Tidak, aku tak datang sendiri.” Kalimat Dion terdengar begitu memekakkan telingaku meski dia mengatakannya biasa saja.

            “Owh….” ucapku gelisah.

            Haruskah kegembiraan sesaatku berubah menjadi kenestapaan secepat itu. Oh tidak Tuhan…

            “Aku datang bersama rombongan pengantin pria.” Sepertinya Dion bisa membaca kecemasanku. Tapi jawabannya ini pun membuatku penasaran.

            “Oh ya? Apakah kau calon pengantin prianya? Atau kau teman dari pengantin prianya?” selidikku ingin tahu.

            Dion lagi-lagi mengumbar senyumnya. Kini aku bisa dengan bebas menikmati kembali senyum khas itu. Begitu mempesona.

            “Iya dia teman sekaligus kakak sulungku.” Dion menjelaskan.

            Apa? Kakak sulung? Itu berarti setelah Anis resmi menjadi istri dari kakak sulung Dion berarti kami memiliki hubungan baru. Sebagai ipar?

            Tak sadar mulutku setengah terbuka tak percaya dengan sebuah kenyataan baru di depan mataku. Nilai positifnya bahwa kemungkinan besar kami bisa lebih sering bertemu tanpa harus menciptakan skenario kesengajaan atau tak sengaja. Nanun tantangan pahitnya adalah apakah ada kemungkinan aku sah-sah saja jika mencoba memikatnya dan berusaha untuk memiliki senyum khas itu selamanya.

            Kini kisah putih-biru ku berubah warna menjadi hitam pekat.

            “Aku baru tahu jika ternyata kau saudara sepupu Anis,” komentar Dion menatapku ragu.

            “Ya,” ujarku cepat dengan kepala tertunduk mencoba menghindari tatapan Dion.

            “Boleh kutanya sesuatu?” tanya Dion penuh misteri.

            “Tentu, silakan.” Kuberi celah baginya untuk menyampaikan sebuah pertanyaan.

            “Dahulu. Aku sering melihatmu setiap hari berdiri di depan kelas dan kau menutupi wajahmu dengan buku?” Tiba-tiba penyamaranku beberapa tahun lampau harus terbongkar dengan tidak elegan hari ini. “Kenapa?”

            Dan mulutku pun terngaga dengan mata terbelalak lebar menatap Dion. Entah sudah berubah warna menjadi warna apa wajahku. Yang jelas hal itu sungguh memalukan.

            Dion menatapku tenang. Ekspresi konyolku pun tak memancing sebuah tawa atau senyum di wajahnya.

            “Aku….aku…” mencari alasan menyelamatkan diri.

            “Bagaimana dengan makan malam?” Dion menawari.

            “Hah? Apa?” Aku masih bingung atas perubahan sikap Dion. Lama kami tak bersua dan kini dia menawarkan sebuah hubungan. Setelah membuatku terkejut dengan pertanyaannya tentang masa lalu.

            Sedetik kemudian rombongan pengantin pria telah masuk ke dalam rumah dan mulai mengambil posisi sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing.

            Bunda yang telah duduk dibarisan keluarga pengantin wanita memberiku kode agar ikut bergabung. Tanpa pikir panjang aku pun berniat berlalu menuju Bunda. Tapi Dion segera mengurungkan niatku.

            “Ollie, tunggu! Bagaimana? Apa kita bisa makan malam?” tanya Dion menawariku lagi.

            Sekali lagi bunga-bunga cinta di hatiku merekah menyambut kilauan cahaya kasih dari hati Dion. Dan kilauan itu mendadak redup tertutup gumpalan awan hitam yang berarak terhembus angin tatkala kusaksikan Anis telah bersanding di pelaminan dengan kakak sulung Dion.

            Mungkin tak ada larangan untuk menjalin hubungan spesial dengan adik ipar sepupuku, tapi hal ini terasa salah bagiku. Memang semua hal bisa terjadi, jika sama-sama cocok kami bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, jika tidak kami bisa mengakhirinya. Namun aku masih merasa nyaman untuk memendam rasa ini untukku sendiri. Menikmati senyum khasnya dalam setiap lamunanku dan menangkap tatapan teduhnya dalam ingatanku. Saat ini menyelesaikan pendidikan adalah nomor wahid dalam my journey list to success.

            “Hmm…mungkin lain kali. Thanks,” sahutku lirih menangkap kekecewaan di mata Dion.

  • view 132