UMAR (Ksatria Kardus Dari Gerbang Lor)

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 April 2017
UMAR (Ksatria Kardus Dari Gerbang Lor)

Umar namaku. Ya…Umar. Orang-orang biasa memanggilku hanya dengan sebutan ‘Mar’ kadang ada juga mereka yang baru mengenalku memanggilku dengan sebutan ‘Um’. Suka-suka merekalah selama masih enak aku mendengarnya. Aku dilahirkan oleh seorang wanita hebat yang dikirimkan Allah untuk merawatku, mendidikku dan menemaniku dalam suka dan duka. Beliau yang begitu lembut dan penuh perhatian, pekerja keras, tak pernah mengeluh dan begitu mencintaiku. Dialah ibuku. Aku biasa memanggilnya ‘Emak’. Tapi jangan pernah kau tanya siapa ayahku, karena emak tak pernah menceritakan secara detail sosok ayahku sebenarnya. Emak hanya bilang nama ayahku Ahmad dan beliau telah berpulang ke rahmatullah sebulan setelah aku dilahirkan.

Sekarang usiaku genap 10 tahun. Aku dilahirkan pada tanggal 9 Dzulhijah. Awalnya aku bingung mencari tanggal ini karena aku tak menemukan bulan Dzulhijah di kalender nasional. Setiap kali kutanya emak kenapa tanggal lahirku beda dengan tanggal lahir kawan-kawanku, emak selalu menjelaskan karena aku memang berbeda dengan mereka, aku super spesial dari mereka yang hanya spesial saja. Akhirnya aku temukan dimana tanggal lahirku. Setelah melotot hingga mau keluar biji mataku.Ternyata tulisan 9 Dzulhijah itu ada pada bagian paling bawah dari setiap angka yang ada pada kalender yang aku pajang di dinding kayu rumahku. Tulisannya kecil dan aku harus bisa membedakannya dengan kalender jawa yang juga berada berdampingan dengan tanggal lahirku.

Dan tahukah kawan, dimana letak keistimewaan tanggal kelahiranku itu? Emak dengan penuh semangat menjelaskan kepadaku bahwa tanggal 9 Dzulhijah adalah tanggal disunahkannya kita umat Muslim di seluruh dunia untuk berpuasa arafah. Dimana kita akan diberi ganjaran diampuninya dosa-dosa kita pada 1 tahun yang lalu dan pada 1 tahun kedepan. Bagi mereka umat Muslim yang menunaikan puasa arafah pada tanggal 9 Dzulhijah tersebut. Maa shaa Allah.

Aku dan emak sudah lama tinggal di Gerbang Lor ini, nama sebuah pemukiman bagi para pemulung yang letaknya tak jauh dari tempat pembuangan sampah di daerah Malang Selatan. Menurut emak sejak usiaku 3 tahun aku sudah menetap di daerah ini. Hanya bersama dengan emak. Berjuang melawan kerasnya hidup ini tanpa ada bahu kekar seorang ayah untuk tempat emakku bersandar dikala lelah dan tempatku bermanja dan mengadu dikala sedih. Kami hanya berdua. Tapi tak pernah sekalipun kulihat emak mengeluh atau meneteskan air mata karena kondisi ini. Sabar dan tegar, itulah yang kulihat dari sosok wanita setengah baya ini, panutan dan pahlawanku.

“Pipi emak basah,” ucapku suatu kali seraya mengusap pipi emak. Aku masih berusia 5 tahun dan duduk dipangkuan emak waktu itu.

Emak hanya tersenyum sekilas kemudian mendekapku. Tak pernah mengeluh.

Sekilas saat kau dengar kalimat ‘tempat pembuangan sampah’ pasti semua orang langsung menuduh bahwa kami yang tinggal di pemukiman itu adalah para pemulung. Ya benar, kami hampir seluruh penghuni pemukiman ini berprofesi sebagai seorang pemulung. Pemulung selalu di indetikan dengan sampah dan kotor kan?

Apa mau dikata memang begitulah keadaannya, setiap hari kami berkutat dengan sampah sehingga badan kami kotor dan otomatis aroma kami pun sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Itu disaat kami menjalankan rutinitas kami sebagai seorang pemulung. Tapi saat kami kembali ke rumah, kami selalu menjaga kebersihan. Setidaknya begitulah denganku. Sebelum masuk rumah RTKSSS (Rumah Teramat Kecil Sangat Sederhana Sekali), aku langsung  memutar ke belakang, menyiram tubuhku dengan air drum hasil tampungan air hujan dan menyabuninya dengan sabun paling murah yang kubeli dari warung di perempatan menuju rumahku, warung mbok Kar. Meskipun kami sehari-hari bekerja dengan sampah namun emak selalu tegas menjaga kebersihan di rumah dan lingkungan sekitar rumahku. Karena kebersihan adalah sebagian dari iman, begitu beliau menasehatiku. Dan begitu lekat dalam kepalaku karena tulisan itu terpampang besar di tembok kardus pembatas ruang tamu yang hanya diisi oleh sebuah meja dan kursi dengan kamar tidur yang hanya berisi sebuah dipan kayu yang selalu berderit dikala kami bergerak atau berpindah posisi saat tidur.

            Oh ya….. ngomong-ngomong kalian mau tahu siapa nama lengkapku? Emak memberiku nama lengkap Salahuddin Umar. Kata emak Salahuddin itu nama seorang Ksatria besar di jamannya yaitu Salahuddin Al-Ayyubi. Dan nama Umar emak petik dari nama sahabat baginda Rasul yaitu Umar bin Khattab. Dan aku yakin bahwa nama yang emak berikan padaku adalah yang terbaik.

            Meski pernah sekali aku memprotes nama itu dan meminta emak untuk mengganti namaku.

            “Kenapa emak tidak memberiku nama Ronaldo?” protesku tertahan.

            “Memang apa hebatnya Ronaldo?” emak balik bertanya.

            “Dia jago main bola, Mak. Dan namanya itu keren,” jelasku lugu.

            “Lebih hebat Salahuddin Al-Ayyubi, dia telah memimpin beribu umat muslim berperang di jalan Allah tanpa rasa gentar sedikitpun meski nyawa taruhannya.” Kisah itu kembali membakar semangatku dan mengurungkan niatku untuk meminta emak merevisi namaku.

            Pernah suatu kali saat aku melipat beberapa kardus bekas yang aku kumpulkan dari beberapa tempat sampah di depan toko kelontong, tiba-tiba muncul ide di kepalaku untuk memakainya sebagai baju zirah dan tameng. Kemudian aku ambil gagang sapu yang memang sudah lepas dari kepala sapunya dan kuayunkan bagaikan pedang seorang ksatria.

            Emak yang sejak tadi sibuk memilah sampah kertas dan plastik tiba-tiba terkekeh dan menghujaniku dengan banyak pujian.

            “Wah….rupanya ksatria kardus dari gerbang lor sedang beraksi. Betapa bangganya emak. Apalagi kalau Umar bisa menjadi contoh teladan bagi anak-anak di kampung kita…,” celetuk emak senang.

            Aku pun tak sabar menyampaikan laporan harianku pada emak.

            “Tadi Umar sudah bantu si Dodit, Jaka, Nono sama Ujang belajar berhitung, Mak,” ceritaku antusias.

            “Oh ya?” kernyit emak penasaran.

            Aku mengangguk cepat. “Dodit tadi punya uang seribuan 7 lembar dapat dari jual kardus bekas selama 2 hari. Dia bilang 1 kilo biasanya dibeli Pak Barni 5 ribu dan hari ini dia jual 2 kilo, tapi karena Pak Barni saat itu gak ada di tempat, lalu sama Mas Karso cuma dikasih duit seribuan 7 lembar. Dodit gak tau, Mak, kalau 2 kilo kardus dia itu harusnya dapat uang seribuannya 10 lembar, iya kan, Mak?” cerocosku menjelaskan.

            “Terus Umar kasih tau gimana sama Dodit?” tanya emak lagi santai karena dia tahu benar bahwa putra semata wayangnya ini pasti tidak akan tinggal diam.

            “Terus… Terus aku ajak Dodit ke tempat Pak Barni, Umar yang jelaskan ke Pak Barni. Untungnya Pak Barni baik hati, Mak. Uang Dodit yang kurang 3 ribu dikembalikan lagi malah dijadikan 5 ribu sama Pak Barni. Eh terus si Jaka, Nono sama Ujang juga duitnya pada kurang… “ Masih sibuk menjelaskan. “Mereka mau minta uang lagi sama Pak Barni, Mak. Tapi mereka gak berani berangkat sendiri, Umar juga tadi yang digeret-geret…”

            “Wah hebat anak emak.” Emak mengembangkan senyum lebarnya. “Ini namanya ksatria emak. Umar ksatria kardus dari Gerbang Lor…” Emak membelai kepalaku.

            

Televisi di depanku tengah ramai menayangkan berita teroris yang berhasil dibekuk oleh Densus 88.Detasemen Khusus yang bertugas menanggulangi terorisme. Aku menyaksikan berita di sebuah rumah pengepul tempatku mengais rejeki. Sembari memilah dan memilih rongsokan di depanku, mataku tak lepas menyaksikan berita itu di televisi. Aku memang masih anak-anak. Namun keingintahuanku akan dunia luar sungguh besar. Karena impianku adalah merubah kehidupan kami agar bisa hidup layak.

            Sampai akhirnya mataku lekat menatap televisi dan karung di tanganku terlepas dari genggamanku. Tampak didalam televisi itu gambar emakku di sebelah seorang lelaki setengah baya yang dituduh sebagai teroris. Semua narasi di televisi itu habis kulahap dan kusimpan dalam kepalaku. Kulihat emak memakai sebuah baju gamis sederhana dengan khimar panjang menutupi kepala sampai dadanya. Dan perut emak buncit. Emak hamil? Dan siapa gerangan lelaki yang dituduh teroris itu?

            Namanya Ahmad. Dia divonis dalam penjara seumur hidup. Dengan tuduhan bertanggung jawab terhadap rencana pengeboman sebuah mall di pusat kota.

            “Mar, itu…itu bukannya emakmu ya.” Tunjuk Dodit seraya mengarahkan jarinya ke arah televisi.

            Nono pun menimpali histeris, “Emakmu masuk televisi, Mar.”

            “Iya,” sahutku lesu.

            Kedua temanku itu tidak mendengarkan berita di televisi dengan baik, mereka sesekali bersenda gurau dan kembali menonton televisi. Sehingga mereka tak paham benar berita apa yang telah disampaikan pembawa berita tadi.

            “Wah, Mar, emakmu hebat bisa masuk televisi. Tapi kamu kok gak ikut, Mar. “ Nono melanjutkan.

            “Iya. “ Dodit kembali mengiyakan. “Lho mana beritanya tadi kok sudah habis…”

            Dodit dan Nono mendekat ke televisi dan mengotak atiknya mencari berita dimana ada emak disitu. Namun berita itu sudah lewat tapi melekat di hatiku.

            “Hei, kalian ngapain itu!” hardik Mas Karso galak mendapati Dodit dan Nono memencet-mencet tombol televisi secara bergantian. “Ayo sana kerja-kerja!”

            Dodit dan Nono pergi menjauh dengan bibir mengerucut. Tanpa bersuara.

            Segera kusahut karung goni yang tadi tergeletak dan kutinggalkan rumah itu secepat kilat. Tak ada yang menghiraukanku karena mereka di rumah itu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mereka berlomba untuk memenuhi target mereka agar bisa membawa pulang uang lebih ke rumah. Hanya Dodit dan Nono yang memandangi kepergianku dengan raut penasaran.

            Rumahku sedikit jauh dari rumah pengepul ini, untuk itu kuberanikan diri meminjam sebuah sepeda butut milik anak Pak Barni dengan alasan ada hal penting yang harus aku sampaikan kepada emak dirumah.

            Dengan bertelanjang kaki, kukayuh sepeda itu cepat. Peluh pun telah menetes membasahi seluruh badanku. Kaos kumalku telah basah oleh keringat. Teriknya mentari tak kuhiraukan membelai kepalaku. Tekatku satu, aku harus mendapatkan penjelasan dari emak.

Kurang beberapa meter lagi aku akan sampai di rumah, tapi ujung mataku menangkap sosok emak di warung mbok Kar. Emak terduduk lesu disebelah mbok Kar yang mengusap dan menepuk punggung emak. Stang sepeda pun kubelokan ke warung mbok Kar. Kuparkir sepeda pinjaman itu tanpa menghiraukan tanah becek di jalan depan warung. Dan kulempar karung goni tadi seenaknya. Kulangkahkan kaki cepat menyongsong emak yang kini telah melihat kedatanganku. Wajah emak lusuh dengan mata sembab dan jilbab kusut emak yang basah di bagian ujungnya. Sepertinya itu bekas usapan air mata emak.

“Umar,” ucap emak serak nyaris tak terdengar.

Kulihat raut mbok Kar pun tak seperti biasanya.

Kini akutelah berada tepat didepan emak. Emak mendekap tubuh cekingku dan terisak di dadaku. Semua kata yang telah kususun dikepalaku pun mendadak buyar. Aku masih diam.

“Kau melihat berita di televisi tadi, le?” tanya emak sesenggukan.

Aku mengangguk lesu.

“Berita yang mereka siarkan itu tidaklah benar. Emak akan menjelaskan semua padamu. Apa ada yang ingin kau tanyakan?” Emak mengusap tetes air mata yang mulai mengering.

Sekali lagi aku mengangguk mengiyakan.

“Katakan!” perintah emak lembut. Kedua tangan emak kini memegangi kedua bahuku.

“Siapa…siapa lelaki di sebelah emak?” tanyaku seolah emak sudah paham akan pertanyaanku. “Di televisi…” lanjutku.

Emak tak langsung menjawab pertanyaanku. Beliau diam seolah berpikir dan menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya padaku.

“Siapa, Mak?” ulangku.

“Beliau….ayahmu….” Akhirnya kata-kata yang sempat terbersit di kepalaku diucapkan oleh emak.

Mataku mulai berkaca-kaca dan sebisa mungkin kutahan buliran air mata agar tak jatuh menetes di pipiku. Aku terharu karena ternyata ayahku masih hidup tidak seperti yang sering dikatakan emak bahwa ayahku telah tiada.

“Mengapa emak berbohong padaku?” tanyaku lugu.

“Maafkan emak, sayang. Itu semua demi kebaikan dirimu. Emak tak mau kau menjadi bulan-bulanan masyarakat dan media jika keberadaan kita disini diketahui mereka.”

“Aku gak ngerti, Mak,” ucapku polos.

Emak menarik lenganku dan mengajakku duduk disebelahnya. Sementara mbok Kar hanya diam. Beberapa tetangga kami pun berdatangan karena telah mengetahui keberadaan kami di warung mbok Kar. Mereka pun telah menyaksikan berita di televisi hari ini. Emak tak ambil pusing dengan hal itu, emak sudah pasrah pada semua tanggapan penduduk kampung ini.

“Saat kau masih di dalam perut emak. Ujian dari Allah telah datang kepada kami. Ayahmu difitnah oleh sebagian orang yang tidak menyukai kesuksesan usaha kami. Karena ayahmu memang aktif di kegiatan keagamaan dan sering keluar kota bahkan ke luar negeri untuk ikut dalam misi kemanusiaan. Fitnah mereka sungguh keji. Ayahmu dituduh terlibat dalam jaringan teroris dan menjadi penyalur dana dari teroris luar negeri untuk membiayai semua aktifitas teroris dalam negeri,” kisah miris emak membuat hatiku pilu. Kubenamkan kepalaku dalam dekapan emak.

“Ayahmu divonis hukuman penjara seumur hidup. Dan atas permintaan ayahmu, emak dilarang memberitahumu jika ayah masih hidup. Awalnya emak menolak permintaan ayahmu, le. Tapi saat emak melihat bagaimana media menyiarkan berita tidak benar keseluruh penjuru dunia, emak akhirnya pasrah dan patuh pada ayahmu.”

“Tapi kalau ayah memang tak bersalah kenapa ayah dan emak harus takut?” Entahlah tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulut mungilku. Mungkin ini datang dari endapan kisah-kisah ksatria Salahuddin Al-Ayyubi di hatiku yang sering aku dengar dari emak.

Air mata pun kembali membasahi pipi emak. Dekapan emak semakin kuat. Tak dihiraukan banyak pasang mata yang saat ini lekat menyaksikan kisah keluarga kami.

“Ya Allah, kau benar, le.” Tangis emak menjadi. “Kami yang selama ini merasa benar atas semua tindakan kami ternyata tak lebih seperti seorang pengecut. Oh..anakku….anakku…” Tubuh emak terguncang mendekapku semakin kuat.

“Tapi itu semua karena kami ingin melindungimu. Namun ternyata kau lebih tegar dari dugaan ayahmu selama ini. Beliau pasti akan sangat bangga jika ternyata memiliki seorang putra yang berhati ksatria.”

Mata emak berbinar, meski senyum itu nampak dipaksakan. Tapi aku tahu bahwa sebagian beban di pundak emak telah hilang.

“Mak…aku ingin bertemu dengan ayah,” bisikku teguh.

Seketika emak terdiam dan menarik tubuhku dari dekapannya kemudian menatapku lekat. Mata emak mencari sesuatu di mataku.

“Kau ingin bertemu dengan ayahmu?” tanya emak mengulang permintaanku.

Kuanggukan kepala yakin.

Namun emak hanya diam dan kembali memelukku erat.

  

Ayah. Seorang lelaki berperawakan sedang dengan senyum yang selalu menghiasi wajah, rambut cepak yang selalu rapi menghiasi kepala, jenggot tipis yang tak pernah lepas menempel manis di janggut dan jambang lebat yang selalu dirapikan setiap hari karena begitu cepat memanjang dan menambah wibawa seorang ayah. Begitulah gambaran ayah yang selalu diceritakan emak sejak aku kecil hingga saat ini. Bedanya adalah bahwa dahulu emak selalu mengatakan bahwa ayah telah tiada namun pada kenyataannya adalah bahwa ayah masih hidup.

Emak menggandeng tanganku memasuki sebuah bangunan kokoh dengan tembok menjulang tinggi di semua sisi. Bahkan saat memasuki pintu gerbang bangunan itu pun kami harus diperiksa oleh seorang penjaga berseragam polisi. Dengan badan tegap, tatapan tajam menusuk penuh selidik mengintimidasi kami kala kami harus melalui pemeriksaan. Dan saat kami lolos dari pemeriksaan akhirnya kami diperkenankan untuk masuk dan menuju ruang berukuran 2 x 3 meter dengan sebuah meja dan dua bangku panjang saling berhadapan.

Ruangan itu kosong. Kami duduk berdampingan. Emak membawa 3 rantang nasi dan lauk untuk ayah. Sebungkus kerupuk dan 2 botol besar minuman kemasan. Sebuah sarung dan baju koko baru yang emak beli dari hasil bekerja mengumpulkan kardus bekas selama 4 bulan dibungkus rapi dalam koran bekas dan dimasukan kedalam tas plastik warna hitam.

Emaknampak bimbang dan berkali-kali kepala beliau bergerak kesana-kemari seolah tengah mencari sesuatu. Kedua lengan emak menyilang di atas meja dan sesekali kudengar emak menelan ludah. Emak begitu cemas dan aku tahu mengapa.

Sementara aku hanya diam memperhatikan segala gerak-gerik emak. Kedua kakiku yang menggantung diatas kursi kubiarkan menyilang dan berayun. Dan kedua telapak tanganku berada disamping badanku lurus menahan kursi panjang ini.

Beberapa menit kemudian masuklah dua orang lelaki ke dalam ruangan ini. Seorang polisi dan…. Ayah. Aku tahu itu ayah.

Lelaki setengah baya yang sudah pasti itu ayahku nampak begitu terkejut. Bergantian ayah menatap emak dan aku. Emak masih tertunduk dan aku menatap lekat ke bola mata ayah.

“Ayah!” panggilku sudah tak tahan lagi dan akupun berhambur berlari menubruk dan memeluk lelaki itu erat.

Ayah diam tak berekspresi.

Emak tercekat dan beranjak mendekati aku dan ayah.

“Ini Umar, Yah, anak kita…” jelas emak lirih.

Bola mata ayah membesar dan raut wajah beliau menunjukan keterkejutan yang teramat sangat. Sedetik kemudian ayah pun membalas dekapanku dan memelukku erat.

Hari ini adalah hari terbaik dari seluruh hidupku selama ini. Aku bertemu ayah. Aku masih mempunyai ayah. Ayah masih hidup.

“Umar,” ujar ayah bergetar dan begitu jelas ditelingaku.

“Iya ayah. Ini Umar. Salahuddin Umar anak ayah.” Aku masih mendekap ayah dan tak sedetik pun ingin kulepaskan.

“Mak, bagaimana bisa…?” tanya ayah pada emak.

“Dia melihat berita di televisi dan ingin bertemu denganmu, Yah.” Emak berharap semoga ayah tak kecewa dengan tindakan beliau untuk mempertemukanku dengan ayah.

“Tapi, Mak?” Ayah nampak cemas.

Tak kuhiraukan percakapan emak dan ayah. Yang aku tahu bahwa aku tak akan pernah lagi kehilangan seorang ayah. Kini aku punya ayahku.

“Putra kita adalah seorang ksatria, Yah….” Emak menepuk punggungku bangga.

Kutengadahkan kepala dan kutatap ayah dengan wajah bersinar.

“Ayah,” panggilku lagi mengulangi. “Umar tahu ayah tak bersalah. Umar tak takut, Yah. Umar akan melindungi ayah,” ucapku antusias penuh dengan kobaran semangat.

“Maa shaa Allah… Terima kasih Ya Allah.”

Ayah pun merengkuh emak dalam pelukannya. Kami bertiga larut dalam kerinduan yang mendalam. Rindu seorang ayah pada anaknya yang harus dijauhinya demi kebaikan seluruh keluarganya. Rindu seorang emak yang rela mengorbankan perasaannya demi kepatuhan seorang istri pada suaminya. Dan rindu seorang anak pada ayah yaitu pahlawan yang mencintainya dengan tulus dan cara yang berbeda.

Bagaimanapun dirimu ayah, aku bangga menjadi anakmu.

 

 

  • view 182