HANYA WANITA BIASA

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Maret 2017
HANYA WANITA BIASA

Indah. Nama yang bagus bukan? Indah itu sesuatu yang  enak dipandang, memukau, menyenangkan dan lain sebagainya yang pastinya berhubungan dengan hal-hal yang menyejukan mata orang tatkala melihatnya. Itulah namaku Indah Mutia. Tapi parasku tak seindah namaku, setidaknya itulah yang kurasakan selama 20 tahun terakhir ini. Bentuk wajahku yang bulat, mata belok, hidung pesek, bibir tebal, kulit sawo matang dan rambut keriting kemerah-merahan yang senantiasa jadi bahan ejekan kawan-kawanku sejak aku duduk di bangku SD semakin membuatku terpuruk dan merasa paling menderita diatas bumi Allah ini. Hanya satu yang bisa kubanggakan, ya…setidaknya ada sedikit kelebihanku dari begitu banyak kekurangan yang kurasakan, yaitu badan ramping semampaiku yang tak pernah bisa gemuk meskipun aku menghabiskan sebakul nasi dan sebaskom sayur lodeh. Begitulah kira-kira, setiap makhluk yang diciptakan Allah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.

            Seumpama tumbuhan di taman aku adalah belukar . Tak ada yang menyiramiku agar tampak segar dan tak ada yang sudi memetikku untuk diletakan dalam jambangan porselin antik di atas meja makan.

            Menyedihkan memang, selalu mengasihani diri sendiri.

 

            Pagi itu seperti biasa setelah sholat subuh dan membereskan rumah petak yang benar-benar hanya sepetak milik bulekku, aku bergegas pergi ke pasar yang berjarak kurang lebih 1 km dari rumah bulek Sarmi. Aku agak kesiangan hari ini, biasanya jam 4.30 aku sudah melangkahkan kakiku menuju pasar namun gara-gara semalam entah mengapa aku susah tidur, orang kota bilang sih aku terkena insomnia, jadinya aku terlambat bangun keesokan harinya.

            “Ndah, berasnya habis, “ tukas bulek datar saat ku cium tangannya berpamitan.

            “Nggih bulek, “ sahutku antusias mengerti maksud bulek Sarmi yang artinya hari ini aku harus bersilaturahmi ke gudang beras koh Along juragan beras paling dermawan yang pernah aku kenal. Betapa tidak dermawan karena hanya dia yang mengijinkan kami kaum duafa untuk memunguti dan mengumpulkan sisa-sisa beras yang berjatuhan dari lubang-lubang kecil karung goni dan berserak di gudangnya.

            Akhirnya sampai juga aku di pasar Sumber Rejeki yang hampir seumur hidupku menjadi tempatku mengais rejeki dengan menjadi buruh angkut dan sesekali menggantikan tukang ikan atau tukang sayur untuk menjagakan lapaknya saat mereka harus menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu sholat. Aku bahagia dengan profesiku selama ini, tak harus terikat dengan aturan juragan. Bulek Sarmi pun tak pernah menuntutku harus pulang dengan membawa uang sekian ribu atau ini dan itu. Beliau hanya berpesan kepadaku untuk berhati-hati dan jangan sampai melupakan sholat lima waktu sesibuk apapun pekerjaanku di pasar.

Jika ada bahan makanan yang habis di rumah, bulek tak pernah menuntutku untuk membelinya. Beliau hanya menginformasikan bahwa beras habis, gula habis atau tempe mbok Yem rasanya masih seperti dulu apa sudah berubah ya…..

            Begitulah, hanya dengan isyarat tertentu tanpa menuntut aku sudah sangat paham maksud bulek.

            “Neng, bisa minta tolong bawakan belanjaan saya yang disebelah sana!” tunjuk seorang ibu setengah baya memanggilku.

            Tanpa menunggu perintah  berikutnya kuikuti arah telunjuk ibu itu.

            “Yang ini, Bu?” tanyaku sopan sembari menunjuk beberapa kantong plastik besar dan setandan pisang ambon.

            “Iya betul, “ sahut ibu itu santun menatapku dengan senyum tipisnya.

            Dengan sigap kuangkat semua belanjaan ibu itu kemudian kuantar ke sebuah mobil Toyota pick up warna coklat tua yang diparkir di samping pintu keluar pasar Sumber Rejeki. Cukup menyita energi karena jaraknya yang rumayan jauh dari toko sembako Makmur Jaya tempat dimana belanjaan beliau berada.

            “Terima kasih ya neng,” ucap ibu itu pelan seraya menyodorkan uang sepuluh ribuan 2 lembar ke arahku.

            “Alhamdulillah,” sahutku spontan. “Terima kasih, Bu.

            Ibu itu tersenyum sekali lagi sebelum menghilang dari pandangan mataku.

            “Awal yang baik di hari yang cerah, terima kasih ya Allah.”

  

            “Muti sayang,” lembut panggilan emak ku tatkala aku masih berumur 5 tahun. Aku ingat betul panggilan sayang emak ku itu.

            “Mutia itu artinya apa toh mak?” tanyaku kritis di sela-sela kesibukanku membantu membersihkan kacang tanah hasil panen dari kebun kecil di samping rumahku.

            Emak tersenyum lembut seraya membersihkan tanah yang mengotori tangan mungilku.

            “Mutia adalah nama perempuan pertama yang masuk surga sayang, emak dengar dari ceramah ustadz Wahid di pengajian ibu-ibu saat emak masih mengandung kamu. Jadi emak pilih nama itu agar kamu kelak bisa meniru kepatuhan dan ketaatan Mutia pada suami.”

            Oh emak, andai saja saat ini engkau masih bisa menemani hari-hariku, pasti akan terasa sangat membahagiakan hati anak semata wayangmu ini.

            Semilir angin membawa pergi kegundahan dan kerinduan hatiku pada kelembutan emakku. Meski beliau telah pergi meninggalkanku berjuang seorang diri di usia 6 tahun, tapi senyum itu tak pernah lepas dari pelupuk mataku. Kusimpan rapat dalam temaram kasihku, kasih seorang anak yang semakin hari terasah akan kejamnya dunia di rana kemiskinan dan serba kekurangan, semakin hari mengkilat diterpa panasnya kesombongan harga diri untuk bertahan dan berjuang. Kasih untuk menjadi seorang Mutia seperti harapan emakku.

 

  “Wah cantiknya, “ gumamku tertahan menatap wajah-wajah pemain sinetron yang

sungguh menawan dalam balutan busana muslimah dengan khimar panjang menutup dada dan jubah melambai menyapu lantai  berirama desauan bidadari surga menyambut gembira.

            Tak lepas tatapan kekagumanku menatap makhluk terindah ciptaan Ilahi Rabbi. Entah mengapa dadaku bergemuruh saat melihat mereka. Ingin kugapai keindahan itu namun serasa jauh, begitu jauh…

            “Andai ku bisa seperti mereka….” gumamku lirih masih pada layar televisi di depanku.

            Rupanya Rekso, teman kuli pasarku mendengar sebaris kalimat yang tak sadar telah kuucapkan. Dia yang duduk disebelahku seraya menghitung hasil jerih payahnya saat ini menatapku bingung.

            “Seperti apa, Ndah?” tanyanya cepat.

            “Hah?” tergagap aku menanggapi pertanyaan Rekso. Terbangun dari angan-anganku.

            Rekso memutar badannya menghadapku, “Kamu pengen jadi pemain sinetron toh, Ndah?” tuduh Rekso curiga.

            Aku gelagapan, bingung.

            Tiba-tiba Rekso tertawa terbahak-bahak.

            “Ndah, Ndah, mimpimu ketinggian…” selorohnya kembali menekuri hitungan ribuan uang lusuh di genggamannya.

            Aku masih diam. Kini aku sakit hati diremehkan seperti itu. Serta merta kutinggalkan Rekso yang kini acuh dengan kepergianku.

            Bersungut-sungut kulangkahkan kaki lebar-lebar agar bisa segera berlalu dari makhluk bernama Rekso itu. Sungguh terlalu. Lihat saja suatu saat nanti akan kubuktikan kalau aku bisa meraih mimpiku.

           

 Kubolak balik dan kubongkar seisi lemari pakaianku. Lemari plastik yang sudah

hampir roboh akibat sering kuperlakukan secara kasar dan serampangan itu semakin menyedihkan saat mengelurkan suara berdenyit kesakitan tatkala kubuka dan kututup sesukaku.

            “Kamu itu lagi nyari apa to Ndah?”  tanya bulek penuh selidik.

            “Oh…ah..anu…itu…bukan apa-apa kok, Bulek,” jawabku bingung seraya garuk-garuk kepala.

            “Aneh !” sergah Bulek tak percaya. “Gak nyari apa-apa kok lemarimu kayak kapal pecah gitu.” Bulek menunjuk lurus ke arah lemari pakaianku.

            “Dor !!! ketembak dech…” gumamku dalam hati.

            Mata bulek masih penuh selidik menatapku, menunggu sepatah dua patah kata keluar dari mulutku.

            “Aku,,,, aku lagi nyari baju, Bulek.” Akhirnya jawaban garing keluar juga meluncur melewati bibirku.

            Bulek hanya melirikku sesaat dan berlalu meninggalkanku yang masih menekuri isi lemari.

            Sekali lagi kubolak balik beberapa lembar baju dan akhirnyua kutemukan selembar jarik peninggalan emak. Raut mukaku pun mendadak cerah secerah sorot lampu strongking di balai RW.

Kutarik cepat jarik itu dan kutimang sebentar di kedua telapak tanganku. Lalu kucium pelan dan kuhirup dalam-dalam aroma jarik yang mengingatkanku pada emak ku tercinta. Tanpa sadar setetes air mata membasahi jarik itu. Namun segera kusadari nelangsa hatiku dan kuusap cepat mataku.

            Aku tak boleh mengasihani diri lagi, aku harus maju dan meraih impianku. Demi emak, bulek dan demi aku sendiri. Itu janjiku…

            Kini kubuka lebar lipatan jarik dan kusampirkan di atas kepalaku. Kugeser beberapa langkah menuju kaca kecil yang menggantung di dekat jendela. Dan senyumku mengembang demi melihat jarik yang kujadikan jilbab yang menutup kepala dan dadaku.

            “Ahhh cantiknya aku,” gumamku tanpa sadar.

            Entah sudah berapa lama aku mematut diri didepan cermin, sampai akhirnya bulek mencolek punggungku. Membuatku terkejut bukan kepalang dan melonjak tertahan di tempatku berdiri.

            “Kamu ngapain Ndah?” selidik bulek penasaran.

            “Eh anu..eng…anu bulek, itu enngg…lagi…” terbataku menjawab pertanyaan bulek.

            Bulek hanya tersenyum seolah tahu apa yang tersembunyi dalam benakku.

            “Kau ingin berjilbab?” tuduh bulek langsung seraya membelai rambut tipisku yang menjuntai.

            Aku masih diam, tersadar akan benturan ekonomi yang mengharuskan aku merubah semua model bajuku yang masih belum tertutup sempurna. Bulek memelukku mencoba menenangkan pergolakan batinku.

            “Sabar ya Ndah, pasti ada jalan keluarnya,” hiburnya menyejukan.

 

             Hari ini aku duduk seorang diri tepat di sebuah bangku panjang di samping gerbang masuk pasar. Tak hanya sekedar menunggu pelanggan atau ibu-ibu yang membawa belanjaan berat namun aku juga ingin melihat putra Pak Kiai Rohman yang konon katanya sering mengantarkan Bu Nyai.

            “Mas Naufal itu biasanya ngantar Bu Nyai pagi-pagi belanja ke pasar, begitu kau melihat wajah Mas Naufal, dijamin kau tak bisa tidur semalaman,” oceh Nunik di suatu pagi. Nunik adalah wanita penjual kelapa di pojok pasar. Dia sebaya denganku dan dia bisa dibilang reporter khusus Pasar Sumber Rejeki. Beritanya selalu update.

            Akhirnya aku pun sukses penasaran dan pagi ini aku nekat menunggunya di samping pintu gerbang. Tak kuhiraukan beberapa pedagang pasar yang kukenal menawariku membawa sebagian barang dagangnnya untuk dibawa masuk ke dalam pasar. Karena tekatku sudah bulat, aku harus menunggu anak Pak Kiai yang namanya sudah tersohor di kota ini. Terutama di kalangan gadis-gadis abg dan seumuran denganku. Bahkan ada beberapa ibu-ibu dipasar pun beberapa kali menyebut namanya. Membuatku semakin penasaran saja.

            Beberapa menit kemudian seorang lelaki muda berparas menawan dengan kulit bersih dan wajah bersinar tiba-tiba duduk di ujung kursi panjang tempatku lebih dahulu duduk.

            “Maaf, mbak, saya numpang duduk ya,” ucap lelaki itu ramah.

            “Iya silakan,” sahutku pelan. Sesaat kemudian kugeser dudukku menjauh untuk memberi ruang lebih pada lelaki itu. Kembali kualihkan pandanganku menyapu seluruh pengunjung pasar masih berharap untuk melihat putra Pak Kiai. Namun sudah hampir satu jam aku belum melihat dia maupun Bu Nyai yang biasa diantarkannya.

            “Mbak, lagi nyari seseorang?” Tiba-tiba sosok santun di sebelahku bertanya.

            Sedikit gelagapan kujawab pertanyaannya dengan senyuman. “Eh enggak Mas gak nyari siapa-siapa. Saya kerja di pasar sini saya buruh angkut, Mas,” tuturku lugu.

            “Oh…” sahutnya pendek.

            “Mas sendiri?” kuberanikan bertanya namun tak berani menatap wajahnya lebih lama.

            “Saya lagi menunggu ibu. Beliau tadi saya antar belanja, tapi saya gak dibolehin ikutan masuk. Jadi saya tunggu disini saja. Gak pa-pa kan mbak saya numpang duduk disini?” Lelaki ini mengulangi permohonannya.

            “Iya gak pa-pa, Mas, silakan.” Kutahan senyumku merasa lucu.

            “Lha terus yang bantuin bawa belanjaan ibu Mas, siapa?” tanyaku tiba-tiba seakan teringat akan beberapa ibu-ibu tua yang terengah-engah mengangkut belanjaannya.

            “Biasanya ibu minta tolong buruh angkut di pasar sini,” jawabnya tenang.

            “Tapi kan Mas ini anaknya, harusnya Mas lah yang bantu Ibu, Mas.” Entah darimana datangnya keberanian itu, tanpa sungkan kuprotes lelaki muda di sampingku. Bukannya tersinggung tapi dia malah tersenyum.

            “Kok malah senyum sampeyan, gimana sih,” sergahku sedikit sewot.

            “Ibu saya yang gak bolehin saya ikut masuk ke dalam, nanti bakalan lama dan gak selesai-selesai belanjanya, begitu kata beliau tadi,” jelas lelaki itu masih dengan sikap tenang di sela-sela senyum tipisnya yang tak pernah lepas dari bibirnya.

            “Tadi Ibu Mas belanja di sebelah mana? Biar saya yang bantuin beliau.” Aku masih tak terima.

            “Di toko Pak Haji Jaelani sebelah utara pasar,” tunjuknya bersahaja.

            Tanpa menunggu aba-aba kedua, aku beranjak dari kursi panjang dan segera melangkah ke Toko Barakah, toko milik Pak Haji Jaelani.

            Sesampainya di toko itu mataku pun sibuk menyapu seisi toko. Kucari ibu-ibu tua yang sekiranya benar-benar membutuhkan bantuanku. Setelah beberapa lama baru kusadari bahwa aku tak tahu siapa ibu pemuda berparas rupawan yang sempat kumarahi tadi. “Duh betapa bodohnya aku,” gerutuku dalam hati.

            Namun belum puas rasa penasaran mencari-cari sosok yang tidak aku ketahui itu  tiba-tiba terdengar suara lembut wanita tua memanggilku begitu jelas di dekatku.

            “Nduk, bisa bantu saya?” panggilnya begitu menyejukan. Entahlah namun aku begitu menikmati suaranya yang lembut mendayu.

            Tampak di depan mataku wanita tua yang sudah lama aku tunggu, ya beliau adalah Bu Nyai Rohman.

            “Inggih, Bu. Sini saya bantu.” Tanpa menunggu aba-aba selanjutnya kuambil alih belanjaan wanita tua itu. Dan misiku mencari ibu dari pemuda yang aku kenal di pintu gerbang pasar pun raib tak berbekas di kepalaku.

            Setelah beberapa menit menempuh perjalanan dengan beberapa belanjaan di tangan kanan dan kiriku akhirnya sampailah kami di pintu gerbang Pasar Sumber Rejeki.

            “Sudah sampai sini saja, nduk,” ucap Bu Nyai menghentikan langkahku.

            “Inggih, Bu,” sahutku pendek seraya meletakkan semua belanjaan Bu Nyai disamping pintu gerbang. Mataku pun sibuk mencari sosok putra Bu Nyai yang begitu terkenal di seantero pasar.

            Setelah menyerahkan beberapa lembar uang lima ribuan, Bu Nyai pun mengucapkan terima kasih. Namun aku tak segera beranjak dan masih betah berlama-lama berbincang dengan Bu Nyai demi melihat putra beliau. Sampai akhirnya beberapa pedagang yang memerlukan jasaku memaksaku untuk membantu mereka. Meski sudah beberapa kali aku tolak sampai akhirnya Bu Nyai pun mempersilakan aku untuk meninggalkan beliau membuatku merasa segan dan dengan berat hati berlalu masuk ke dalam pasar.

  

            “Melamun lagi…” sergah bulek mencolek pundakku.

            Kutoleh bulekku itu dengan hati gundah.

            “Bulek !” panggilku parau.

            “Hmmm…” sahutnya pelan menyerupai geraman anak macan.

            “Aku berfikir….” Ucapku tertahan sesaat. Kulempar pandangan mataku ke arah matahari yang beranjak pelan mengakhiri cerahnya hari ini.

            “Aku berfikir untuk….” ulangku lagi dan terhenti.

            Bulek mengalihkan pandangannya kearahku. “Kamu ini mau ngomong apa toh, Ndah?” tanyanya penasaran.

            Kuhela nafas sesaat. “Aku berfikir untuk melamar anak Pak Kiai Rohman…” belum habis kalimatku, Bulek pun tercekat beranjak dari duduknya dan menatapku garang.

            “Kamu ini nglindur toh, Ndah!” tuduh Bulek spontan. “Tapi kamu nggak tidur mosok nglindur…”

            Kubalas tatapan Bulek dengan senyum mengembang dan tekat bulat di benakku.

            “Aku serius Bulek,” ucapku pe-de.

            Bulek pun tertawa lepas dan kembali ke dipan usang kami, kembali melipat beberapa lembar pakaian yang tadi sudah aku cuci dan kujemur di atas tumbuhan perdu yang banyak tumbuh di belakang pondok kecil kami.

            “ Aku ingin memperbaiki keturunanku, Bulek. Kelak aku ingin punya anak dan cucu yang baik akhlaknya dan rupawan wajahnya. Anak Pak Kiai kan pintar mengaji dan sudah tentu baik akhlaknya apalagi paras gantengnya yang sudah terkenal di kota ini. Bahkan gadis abg sampai ibu-ibu pun sering membicarakannya di pasar. Meski aku tak pernah melihat anak Pak Kiai secara langsung tapi aku yakin pasti apa yang dibicarakan mereka itu benar,” celotehku menjelaskan pada Bulek.

            Bulek terdiam mendengarkan keinginanku. Aku tahu pasti Bulek mengira aku ini sudah tak waras lagi.

            “Besok jam 8 pagi Bulek ikut aku ke rumah Pak Kiai ya. Besok aku akan melamar Mas Naufal untuk menjadi suamiku.”

            Mata Bulek Sarmi nyaris keluar demi mendengar kalimat terakhirku. Segera beranjak dari atas dipan dan kembali mendatangiku. Kali ini dengan wajah bersungut-sungut.

            “Ndah, kamu ini kesambet jin darimana? Kamu masih waras kan?” Punggung tangan kanan Bulek memegang dahiku.

            “Astagfirullah Bulek, tentu saja saya masih waras. Karena kewarasan saya ini juga saya ingin agar saya dan keturunan saya bisa menjadi insan dan makhluk Allah yang lebih baik lagi,” cecarku membela diri.

            Dan tekatku pun sudah bulat meski terkesan nekat.

 

              Hari Jumat tanggal 1, tepat jam 8 pagi kutapakkan kakiku di atas tanah nan basah di halaman rumah Pak Kiai Rohman. Karena Bulek mendadak harus membantu acara pernikahan dikampung sebelah akhirnya aku pun berangkat seorang diri. Meski jantungku berdetak keras namun tekatku sudah bulat.

            Karena tak akan mungkin terjadi dihidupku jika harus menunggu seorang pemuda idaman seperti Mas Naufal akan bertandang ke rumahku untuk melamar seorang wanita biasa tanpa kelebihan berarti ataupun prestasi yang bisa dibanggakan. Jika hal itu tidak akan mungkin terjadi padaku, mengapa bukan aku saja yang datang melamarnya. Kalaupun lamaranku ditolak olehnya toh tak ada ruginya bagiku. Yaa…mungkin aku hanya akan jadi bahan gosipan nomor wahid di seantero pasar. Setidaknya hal itu sudah biasa bagiku.

            Setelah beberapa kali mengucap salam sembari mengetuk pintu rumah yang begitu kuat mempertahankan pakem jawa. Akhirnya keluarlah sosok Bu Nyai Rohman dari dalam rumah. Tentu saja beliau mengenalku karena aku sudah beberapa kali membawakan barang belanjaannya di Pasar Sumber Rejeki.

            “Lho kamu toh, Nduk, ayo masuk,” ajak beliau menggiringku masuk ke dalam rumah. “Tumben pagi-pagi datang kerumah Ibu, ono opo?” tanya beliau ramah dan begitu hangat.

            “Saya Indah Bu Nyai, “ Memperkenalkan diri. “Anu saya… itu…saya sowan ke rumah Bu Nyai karena ada yang ingin saya sampaikan kepada Pak Kiai dan Bu Nyai,” ujarku lancar berusaha tenang dan lebih kuat lagi menancapkan niat awalku dalam hati. Karena sebelum datang kemari aku sudah berdoa kepada Allah Sang Pemilik hati hamba-Nya agar dilembutkan semua hati makhluk ciptaan-Nya.

            Sedetik kemudian tampak lelaki tua dengan sarung dan baju koko putih membalut tubuhnya dan sebuah peci hitam sederhana menutupi kepala dengan rambut putih yang nyaris menutupi rambut hitam beliau, berjalan pelan mendatangiku dan Bu Nyai yang tengah duduk di ruang tamu.

            “Ada tamu rupanya,” ucap Pak Kiai santun. “Sudah lama, Nduk?” tanya beliau lagi pelan.

            Aku berdiri sebentar menyambut kedatangan seseorang yang kami tuakan di kota ini karena ilmu agama dan wibawa beliau yang melebihi kami dan sikap hangatnya kepada setiap orang yang ditemui beliau.

            “Baru saja, Pak Kiai,” sahutku dan Bu Nyai hampir bersamaan. Kami pun tersenyum dan saling beradu pandang.

            “Ini Pak, cah ayu ini punya keperluan yang akan disampaikan kepada kita,” ucap Bu Nyai menyebutku cah ayu. Seandainya beliau tahu bahwa hanya ibuku yang telah jauh disana dan beliau saja yang menyebutku cah ayu…

            Pak Kiai Rohman menatapku syahdu. “Monggo, silakan kalau ada yang mau disampaikan!” Pak Kiai memberiku kesempatan.

            Ragu pun perlahan mulai menguasaiku. Namun segera kulibas dengan niat awalku. Dan yang kuingat hanya Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberiku keberanian sampai dengan detik ini.

            “Begini Pak Kiai.” Sesaat kuhela nafas panjang. “Hari ini saya bertandang ke rumah Pak Kiai dengan niatan untuk…. Untuk…”

            Sepasang suami istri di depanku ini masih terdiam menatapku teduh menunggu kalimatku berikutnya tanpa memotongnya dengan satu kata pun.

            “Saya berniat untuk melamar putra Pak Kiai, Mas Naufal…” Akhirnya kalimat sakral itu meluncur bebas dari mulutku.

            Hening.

            Pak Kiai dan Bu Nyai diam tak bereaksi.

            Aku terdiam menunduk dalam-dalam. Bersiap atas semua cemoohan atau makian karena telah kurang ajar datang seorang diri untuk melamar putra semata wayang mereka. Putra kebanggaan mereka yang telah mengharumkan nama mereka atas semua prestasi dan kelebihan yang dimilikinya.

            “Maafkan saya telah lancang…” ucapku pelan hampir tak terdengar masih tertunduk pasrah.

            Tiba-tiba Pak Kiai terbatuk pelan beberapa kali dan kuberanikan diri untuk menengadahkan kepala menatap mereka berdua.

            “Boleh saya tahu alasanmu melamar putra kami?” tanya Pak Kiai tenang. Sungguh diluar dugaanku sebelumnya. Demikian juga dengan wanita tua di samping beliau.

            “Saya…saya sadar akan semua kekurangan saya Pak Kiai. Saya sudah berpikir keras bagaimana saya merubah hidup saya. Terlebih lagi saya ingin mempunyai keturunan yang lebih baik dari saya. Dan yang saya tahu bahwa putra Pak Kiai adalah seorang pemuda yang memiliki semua itu. Diluar hal itu saya bersedia untuk dijadikan istri yang keberapapun…” selorohku begitu naïf karena memang hanya itu yang saat ini ada di kepalaku.

            Bu Nyai tertawa tertahan mendengar semua argumenku. Sementara Pak Kiai hanya menyunggingkan senyum kecilnya tanda bahwa beliau memahami semua kalimatku.

            “Begini Nduk, pada dasarnya siapa pun calon istri atau mantu kami, kami menyerahkan sepenuhnya pada Naufal karena dialah yang nantinya akan menjalani kehidupan itu.”

            Tatapanku masih terpaku pada cara bertutur Pak Kiai yang begitu santun.

            “Kalau kau ingin menjadi seorang makhluk Allah yang lebih baik lagi kau bisa belajar agama. Kau bisa belajar pada Bu Nyai agar bisa lebih leluasa. Namun kalau kau memang berniat untuk menggenapkan dien-mu dengan melamar anak kami, kami pun menerimanya dengan tangan terbuka. Namun keputusan mutlak ada di tangan putra kami, Naufal.” Sungguh bijaksana semua tutur kata Pak Kiai Rohman dan akupun tak merasa dihakimi atas kelancanganku ini.

            “Saat ini Naufal masih keluar kota karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, Nduk. Begitu dia datang, niat baikmu ini akan kami sampaikan padanya.” Bu Nyai ikut menimpali. “Kau sudah pernah bertemu dengan Naufal, Nduk?”

            Aku menggeleng pelan.

            Bu Nyai mengernyitkan keningnya heran. “Kau belum mengenal Naufal bahkan belum pernah berjumpa dengannya kok sudah berniat ingin melamarnya?” Pertanyaan telak yang membuatku menelan ludah beberapa kali.

            “Hmm…saya sering mendengar cerita tentang Mas Naufal dari banyak orang Bu Nyai. Dan mereka semua bilang kalau Mas Naufal itu baik, ramah dan tampan…” Oopss keceplosan. Kukutuk diriku beberapa kali untuk kata terakhir itu.

            Pak Kiai dan Bu Nyai Rohman tertawa kecil.

            “Baiklah. Jika Naufal sudah memberikan jawaban, kami pun akan segera mengabarkannya padamu, Nduk.”

            Aku hanya pasrah mengiyakan dan segera berpamitan pulang. Dengan harapan hal ini tidak sampai tersiar ke penjuru pasar, karena saat kami berbincang ada sosok lain yang datang menyuguhkan minuman. Semoga saja…

 

             Sudah satu minggu aku menunggu jawaban dari Mas Naufal putra Pak Kiai Rohman namun tak kunjung datang. Dan aku bersyukur bahwa aksi nekatku itu tidak sampai tersebar s ke penjuru pasar. Hingga tak ada kesempatan bagi Rekso untuk membuliku habis-habisan.

            Hari telah menjelang sore, setelah menunaikan sholat ashar di mushola kecil di tengah Pasar Sumber Rejeki aku masih melanjutkan untuk mengais rejeki di tempat ini. Meski mendung hitam tak lelah menggantung di atas pasar, layaknya aku pun tak lelah menunggu pedagang dan pengunjung pasar menawarkan belanjaannya untuk kubawakan sekedar meringankan beban mereka.

            “Assalamu’alaikum,” sapa seseorang tiba-tiba mengejutkanku.

            “Wa’alaikummusalam,” sahutku cepat mencari sumber suara yang ternyata telah berada di samping kiriku.

            “Masih ingat saya mbak?” tanya pemuda rupawan ini memulai obrolan.

            Kupicingkan sebelah mataku mencoba mengingat kembali. Tentu saja aku ingat namun aku berlagak lupa untuk membuatnya penasaran.

            Kemudian aku mengangguk pelan memberi tanda padanya bahwa aku mengingatnya.

            “Mas lagi nungguin ibu Mas lagi ya?” tanyaku tanpa basa basi.

            Pemuda itu menggeleng pelan.

            “Saya baru saja belanja beberapa material di toko bangunan dan kebetulan saat lewat sini saya lihat kamu duduk melamun disini…”

            “Lho..saya gak melamun, Mas. Saya menunggu pelanggan yang memerlukan jasa angkut saya,” sergahku membela diri dengan gaya lucu.

            Pemuda itu kembali tersenyum simpul. Namun entah mengapa aku begitu senang bercengkrama dengannya.

            “Saya lihat kamu sudah berhijab jadi saya mampir ingin memberikan ucapan selamat. Semoga tetap istiqomah,” ucapnya memberikan selamat dan semangat.

            Aku tersipu malu mendapati seorang pemuda yang tak begitu kukenal memperhatikanku sedemikian rupa. Meski hanya kalimat sederhana yang disampaikan padaku namun begitu mempengaruhi diriku.

            “Oh ya kebetulan di rumahku sedang panen buah pisang. Ada beberapa tandan masih tersisa, kamu mau?” Pemuda itu menawarkan.

            Buah pisang adalah buah kesukaanku. Aku pun tak bisa menolaknya.

            “Aku mau Mas, itu buah kesukaanku” ucapku tanpa rasa sungkan. Keluar dech sifat asliku.

            “Besok aku antar ke rumahmu. Kalau boleh tahu dimana alamat rumahmu?” tanyanya lagi menawarkan kebaikan.

            Dengan perasaan ragu yang kalah oleh bayang-bayang lezatnya buah pisang kesukaanku akhirnya aku luluh dan kutuliskan alamatku di secarik majalah bekas yang teronggok di dibawah lapak seorang pedagang. Itupun setelah kupinjam sebuat bolpoint dari seorang juru parkir yang berdiri tak jauh dari tempat kami berada.

  

            Sejak pagi menjelang hingga sore datang aku masih berkutat di dalam rumah tanpa beranjak sedikitpun dari rumah petak kami. Penantian panjang menunggu jawaban dari Mas Naufal lambat laun sudah hilang dalam gerusan aktifitasku. Berusaha untuk melupakan sesuatu yang sungguh mustahil akan terwujud. Bagai pungguk merindukan bulan. Pepatah itulah yang tepat disematkan pada diriku. Dan aku ikhlas lahir batin. Kupaksakan.

            Sebenarnya hari ini aku sengaja tak pergi ke pasar karena aku menunggu sosok pemuda santun nan rupawan yang menawarkan setandan buah pisang yang akan diantarkan ke rumahku. Dan sepertinya hal itu menjadi hal mustahil nomor dua setelah lamaranku pada anak Pak Kiai Rohman. Sungguh sangat menyedihkan. Kembali mengasihani diri sendiri.

            “Kamu kenapa sih Nda, dari tadi mondar mandir ke pintu celingak celinguk mencari sesuatu? Kamu ada janji dengan Rekso? Tumben hari ini gak ke pasar. Pasar tutup ya?” Bulek menggodaku.

            Kuhampiri Bulek dan duduk di sebelahnya untuk yang kesekian kali.

            “Bulek mau tau aja,” sahutku tak mau kalah.

            Dan sejurus kemudian seseorang mengetuk pintu rumah kami yang akhirnya kututup rapat.

            Tanpa menunggu komando dari Bulek akupun beranjak membukakan pintu cepat. Dan…

            “Assalamu’alaikum…” salam seorang wanita tua yang sangat aku kenal. Bu Nyai Rohman.

            “Wa’alaikummusalam,” sahutku dan Bulek serempak.

            “Bu Nyai!” Segera kuraih dan kucium punggung tangan kanan beliau.

            “Sehat Nduk?” tanya Bu Nyai sumringah.

            “Alhamdulillah, Bu Nyai,” jawabku pelan setelah Bulek buru-buru merebut tangan Bu Nyai untuk ikut menciumnya.

            “Alhamdulillah.” Bu Nyai pun tampak begitu gembira. “Saya senang kamu sudah berhijab, Nduk.”

            Aku tersipu malu dan mencoba menutupinya dengan segera mempersilakan beliau masuk.

            “Bu Nyai sendirian saja?” tanyaku penasaran.

            “Ada Pak Kiai dan Naufal, mereka membawa buah pisang. Rumayan besarnya satu tandan buah pisang jadi Pak Kiai dan Naufal harus mengangkatnya sama-sama. Kata Naufal kamu suka buah pisang…” kisah Bu Nyai mengejutkanku.

            Akhirnya serpihan-serpihan kisahku pun kurakit satu persatu. Mulai dari hari itu dimana aku menunggu seorang pemuda yang membuatku penasaran, bertemu dengn seorang pemuda rupawan yang awalnya tak aku kenal, aksi nekatku melamar putra semata wayang Pak Kiai, tawaran buah pisang yang akan diantar ke rumah sampai pada akhirnya kusimpulkan bahwa pemuda rupawan yang kutemui di pasar adalah lelaki yang kulamar pada hari Jumat tanggal 1 jam 8 pagi.

            Sosok tegap itupun mencul dari balik pintu bersama dengan Pak Kiai.

            Setelah mengucap salam dan meletakkan buah pisang di dekat dipan usang kami. Pak Kiai dan Bu Nyai yang telah kami persilakan untuk duduk di atas dipan pun mulai menyampaikan maksud kedatangannya.

            “Kami datang kemari berniat untuk mengantarkan putra kami Naufal yang ingin menyampaikan sesuatu kepada kamu, Nduk.” Pak Kiai mencoba menjelaskan seraya membenarkan tatanan sarungnya. Bu Nyai yang duduk disebelah beliau tak lepas melemparkan senyum termanisnya.

            Pemuda itupun kini berdiri kokoh di hadapanku. Seseorang yang aku idamkan menjadi imamku ternyata telah beberapa kali bercengkrama denganku. Keinginan naifku untuk memperbaiki keturunan baik secara rohani dan jasmani membuatku melupakan posisiku sebagai wanita yang seharusnya mengedepankan rasa malu dan hanya menunggu seseorang datang meminang bukan menjemput imamnya. Begitulah faham yang aku anut sebelum aku mendengarkan ceramah ustadz Salahudin di sebuah televisi swasta. Setelah mengetahui kisah baginda Nabi Muhammad SAW yang dilamar oleh Siti Khadijah akhirnya akupun membulatkan tekat dan meminta keberanian dari Allah untuk bertandang melamar putra Pak Kiai terpandang di kota ini.

            Masih hening. Kami menunggu Mas Naufal mengucapkan sesuatu dari balik deretan gigi putih cemerlangnya.

            “Setelah melaksanakan sholat istikharah dan beberapa kali saya bertemu langsung baik sengaja maupun tidak sengaja dengan seorang wanita pemberani yang kini menutup auratnya dengan hijab setelah mengajukan lamarannya kepada saya. Saya pun memutuskan untuk menerima lamaran Dik Indah Mutia.” Akhirnya sebuah jawaban dari semua doa dan usahaku pun kudengar langsung dari mulut Mas Naufal.

            Kini hanya detak jantungku yang terdengar cepat, sesaat kemudian hening dan bias.

  • view 275