MENUNGGU PAGI #bridge

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Februari 2017
MENUNGGU PAGI #bridge

Mini bus itu menabrak motor Kawasaki Ninja ZX – 10R yang tengah melaju kencang di jalan beraspal. Jalannya licin karena guyuran hujan yang tak kunjung reda. Pengendaranya pun terpental jauh dari motor gede itu. Sementara mini bus tengah membawa beberapa penumpang itu dengan ban berderit terseret ke pinggir jalan dan berbalik arah menabrak beton pengaman di pinggir jalan.

                Tampak seorang wanita muda berlari histeris menghampiri pengendara sepeda motor. Dengan luapan emosi yang sangat dalam dia membalik tubuh seorang pemuda yang kini terkulai bersimbah darah tepat di hadapannya. Sekuat tenaga ia tahan rasa cemas, takut, bingung yang bercampur aduk menjadi satu. Susah payah dibukanya helm teropong dari kepala pemuda pengendara motor itu.

                “Tidak...semoga bukan kau...tidak,” getar suaranya di sela-sela tetes air mata yang telah membasahi pipinya.

                Setelah helm itu berhasil dibuka akhirnya ia pun tak kuasa menahan dirinya.

                “Tidak !!! Juna!!!” Raras tersengal dan spontan terduduk di atas ranjangnya. “Tidak, tidak....”

                Kedua tangan Raras meremas selimut yang tak lagi menutupi tubuhnya dan keringat dingin mengucur membasahi pakaian Raras.

                “Hanya mimpi, ini mimpi, oh syukurlah.... hanya mimpi,” batin Raras lega.

                Diusapnya wajah lelah itu dengan kedua telapak tangannya. “Kenapa aku bisa memimpikan Juna?” Kini sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.

                “Ini aneh,” gumam Raras pelan.

                Ditengoknya jam dinding di depan ranjangnya yang menunjukan pukul 1 dini hari.

                “Ah masih larut.” Raras merebahkan tubuh letihnya dan berusaha memejamkan matanya kembali. Namun di pikirannya masih teringat akan mimpi yang baru saja dialaminya.

                “Kenapa aku bisa memimpikannya?” pertanyaan itu berulang kali terngiang jelas di kepalanya.

 

 

                Pagi ini terasa begitu indah, cerah dengan awan putih yang bergantung di angkasa bak kumpulan beribu ton kapas yang melayang bebas. Raras sengaja berangkat lebih pagi agar ia bisa berjalan santai menyusuri trotoar menuju sekolah. Entahlah belakangan ini hati Raras kerap bersemu biru, mendadak sendu dan kadang bersenandung syahdu. Intensitas senyumnya lebih banyak daripada tatapan sinisnya yang kerap diperlihatkan pada Juna. Melukis bulan di dinding kamarnya pun kerap dilakukannya, hingga saat ayah menegurnya beberapa kali sampai ia tersadar bahwa ia tengah melamun.

                “Bujang manakah yang tengah membuat putri ayah jadi sering melamun dan senyum-senyum sendiri.... “ goda ayah di suatu sore saat Raras duduk seorang diri di teras depan.

Dan kedua adik lelaki Raras pun sukses membuat pipi kakaknya ini bersemu merah. “Bujang nekat, Yah, “ sahut Robi cepat. Roni pun menimpalinya dengan tawanya yang langsung meledak.

Senyumnya pun kembali mengembang kala Raras mengingat kejadian sore itu.

Jalanan lambat laun makin ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor dalam berbagai jenis dan merek. Kota ini lambat laun menunjukkan geliat perekonomian yang makin maju dan berkembang. Seiring dengan bertambahnya pembangunan infrastruktur dan bangunan pencakar langit membuat kota ini menjadi kota yang patut diperhitungkan di propinsi Jawa Timur.

Tiba-tiba langkah kaki Raras dipaksa berhenti oleh derit motor yang mendadak menghampirinya. Dialihkan pandangan Raras pada sosok tegap di atas motor besar itu dan tanpa melepaskan helmnya, Raras hafal benar siapa dia.

“Kau ingin mencelakaiku dengan berhenti mendadak di depanku?” hardik Raras sedikit kesal.

Juna membuka kaca helmnya dan melemparkan senyum jaimnya. Dan kemarahan Raras luruh tersapu semburat senyum dari bibir tipis Juna. Raras pun terkesiap mendapati dirinya menjadi lemah.

“Ayo kita berangkat sama-sama!” ajak Juna tanpa basa-basi.

“Ummm tidak, terima kasih,” tutur Raras datar seraya menundukan kepalanya ragu.

Juna pun tampak bingung dengan perubahan sikap pada diri Raras. Menolak ajakan Juna dengan sikap sedikit lembut. “Naiklah! Sebelum kupaksa kau naik dan kau pasti akan menyesal nantinya,” ancam Juna sembari melirik jok belakang motornya memberi isyarat agar Raras segera duduk dibelakangnya.

Raras terdiam tak mengiyakan atau menolaknya. Hatinya bimbang antara harapan palsu yang tak ingin diberikannya pada Juna dan mekarnya kuncup bunga cinta yang mulai dibiarkan menguasai hatinya.

“Baiklah, aku akan memaksamu naik ke jok motorku kalau itu memang maumu.” Juna beranjak dari motornya namun Raras menahannya dan bergegas duduk di belakang Juna.

Juna menahan senyum kemenangan di balik helmnya. Tak disangkannya jika ia bisa membonceng Raras tanpa banyak perlawanan. “Akhirnya. Satu langkah kemenangan....” batin Juna senang.

Motor pun melaju pelan menyusuri jalanan yang mulai macet di beberapa spot. Tangan kiri Raras memegang jok motor kuat agar ia tak terjatuh. Dan tangan kanannya sesekali memegang tas ransel Juna.

Pagi itu kedua hati anak manusia ini sibuk mencari pembenaran. Kepala Juna penuh dengan suka cita dan tanda tanya karena pada akhirnya perjuangannya membuahkan hasil meski hanya secuil harapan. Sementara hati Raras merasakan kenyamanan yang tak bisa ia ungkapkan, yang mengalahkan logikanya bahwa hal ini tidaklah benar dan seharusnya ia kalahkan dengan kenyataan hidup di dunia sesungguhnya bukan dalam desauan angin negeri dongeng.

“Stop! Berhenti disini,” perintah Raras cepat seraya menarik tas ransel Juna memberi tanda.

Juna pun menghentikan motornya mendadak. Sedetik kemudian Raras sudah melompat turun dari atas motor Juna tepat di  pagar samping sekolah mereka.

“Kenapa kau turun disini?” tanya Juna heran mendapati Raras sudah menginjakan kakinya di atas tanah. “Pintu gerbang sudah dekat. Kita bisa turun sama-sama dalam sekolah.”

“Tidak apa-apa. Aku bisa berjalan kaki dari sini, toh sudah dekat.” Raras melangkahkan kakinya meninggalkan Juna. Padahal sejatinya Raras tak ingin menjadi headline terbaru para pegosip di sekolahnya.

“Hey! Jadi begitu saja. Tanpa ucapan terima kasih?” sela Juna menghentikan langkah kaki Raras.

Raras pun menoleh dan membalikan badanya,kembali menghadap Juna. “Sorry, aku lupa. Terima kasih atas tumpangannya,” tutur Raras sopan.

“Kau kenapa? Seberapa keras kepalamu terbentur dinding pagi ini?” balas Juna mendapati sikap ramah Raras.

Raras tersenyum tertahan menyadari perubahan sikapnya yang menggelitik keingintahuan Juna.

“Anggap saja pagi ini aku tak mau berdebat denganmu.”

“Kenapa? Kau belum sarapan?” tanya Juna menggoda.

“Aku.....” Raras mendesah pelan. “Aku berusaha menjadi kakak kelas yang baik. Ya...anggap saja begitu.”

“Ya Tuhan.... “ Juna menatap Raras lekat. “Kau penuh dengan kejutan.”

“Terserah kau saja...” tutur Raras lesu. Kemudian berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.

Juna menggelengkan kepalanya pelan. Motornya pun bergerak maju menuju pintu gerbang sekolah. Dilewatinya Raras yang berjalan santai seorang diri. Ditolehnya sesaat Raras yang melemparkan sebuah senyuman termanisnya. Juna sadar bahwa Raras yang telah membuka sedikit hatinya tak menginginkan jika banyak orang mengetahuinya.

“Dengan siapa tadi kau berboncengan?” kejut seseorang yang tiba-tiba mensejajarkan langkah kakinya dengan Raras.

Raras terlonjak sesaat. Didapatinyan Iink teman sebangkunya kala duduk di kelas 1 dan 2 tiba-tiba melemparkan sebuah pertanyaan yang berusaha ditutupi jejaknya oleh Raras.

“Siapa? Kapan? Gak ada,” jawaban Raras melantur seolah tak mengerti pertanyaan Iink.

Cewek bertahi lalat di sudut kiri bibirnya ini mencibir mendapati jawaban Raras. Ia tahu bahwa sobatnya ini berusaha menutupi.

“Aku penasaran sekali kenapa kau turun di luar pagar sekolah tidak turun bersama-sama di dalam sekolah. Kalian backstreet ya?” tuduh Iink antusias, sesekali ditariknya lengan baju seragam Raras meminta penjelasan.

“Aisshhh, bukan siapa-siapa Ink. Sumpah.” Raras berlagak serius, menghentikan langkah kakinya mencoba meyakinkan Iink.

“Aku gak percaya. Aku akan mencari tahu siapa cowok itu,” tutur Iink memaksakan diri.

Tak dihiraukan Raras yang memohon dengan raut muka memelasnya. Iink pun berlalu cepat meninggalkan Raras yang kini berteriak memanggil namanya.

“Hey, tunggu. Ink....” Raras berlari menyusul Iink namun beberapa pelajar yang berhambur kala mendengar bel tanda masuk berbunyi membuat Raras mengurungkan niatnya dan bergegas menuju kelasnya.

 

 

“Mengapa sekarang sikapnya mendadak aneh begitu?” Lirih kata-kata Juna mengalir dari mulutnya. Gemericik air kolam dimainkan oleh kedua kaki Juna yang menimbulkan riak  dan menghantam tepi kolam.

Sosok Raras kembali hadir di pelupuk mata Juna dengan semburat senyum manis yang sangat jarang ditunjukan padanya.

“Ada apa dengannya? Kuharap bukan karena lelaki yang kulihat tempo hari berbicara dengannya dan memboncengnya pulang.” Otak Juna mulai berspekulasi.

Sudah hampir setengah jam Juna menyendiri di tepi kolam. Hingga ia tak menyadari jika Neneknya telah berdiri di belakang Juna sejak beberapa menit yang lalu.

Tatapan sendu itu lekat memperhatikan sosok pemuda yang menjadi satu-satunya sandaran hidupnya saat ini. Karena hanya ada dirinya dan Juna di rumah  ini. Cucu tercintanya yang selalu ada untuknya menemani masa tuanya.

“Sayang,” panggil Nenek lembut.

Juna menoleh cepat ke sumber suara.

Nenek pun tersenyum tipis.

“Nenek!” sergah Juna seraya beranjak dari tepi kolam. “Sudah berapa lama Nenek berdiri di belakang Juna?”

Nenek kembali tersenyum memainkan ujung bibirnya. “Kau asyik melamun jadi Nenek tak mau buru-buru membuyarkan lamunanmu.”

Juna tersipu ia pun berusaha menyembunyikannya.

“Juna gak melamun, Nek. Juna sedang berpikir,” kilah Juna menutupi. “Ayo kita masuk, udaranya mulai dingin,” ajak Juna menuntun lengan Neneknya.

Nenek pun mengikuti langkah kaki Juna.

“Jadi siapa nama gadis yang tengah kau lamunkan?” bisik Nenek menggoda di sela-sela langkahnya.

“Gadis yang mana?” Juna pura-pura bego. “Nenek sok tahu...”

“Nenek kan pernah muda. Tapi kamu belum pernah tua,” hardik Nenek sembari menepuk pundak Juna pelan.

Mereka pun terbahak.

 

 

Ujian Nasional telah berlangsung dengan sangat khidmat. Raras pun tersenyum lega karena bisa melaluinya dengan benar. Setidaknya tak ada drama menjelang dan sesudah Ujian. Kini hanya detik-detik kecemasan menunggu hasil ujian.

Siang itu tengah diadakan pertandingan bola basket antara kelas 3 dan kelas 2 untuk mengisi kekosongon jam pelajaran dimasa penantian hasil ujian. Iink dan Etik pun serta merta menarik Raras menuju lapangan basket untuk ikut menyaksikan pertandingan spektakuler ini. Mereka bertiga yang notabene menyukai olah raga  ini hingga mengikuti ekstrakurikulernya tak mau ketinggalan. Meskipun kali ini hanya team dari pelajar laki-laki yang mengikuti pertandingan mereka merasa wajib untuk membela team kelas 3 sebagai wakil dari seluruh pelajar kelas 3 di SMU Negeri 4 Malang ini.

Iing dan Etik telah bersiap di barisan paling depan, mereka sibuk menceritakan jagoan mereka masing-masing. Namun Raras hanya diam mematung diantara kedua sobatnya ini. Sesekali matanya melirik team kelas 2 dimana dia mengenal salah seorang pemainnya.

“Kau kenapa? Sakit gigi?” senggol Iink menyadarkan Raras.

Raras menatap Iink sejenak dengan senyum mengambang. Sementara Etik kini berbincang dengan seorang pelajar dari kelas lain disampingnya.

“Enggak. Gak pa-pa,” sahut Raras gelagapan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Namun Iink tak menyerah begitu saja. Dia masih penasaran dengan sikap aneh Raras. Tak biasanya dia lesu kala menonton pertandingan bola basket olah raga favoritnya.

Pertandingan pun dimulai. Pemain centre memainkan bola berwarna oranye itu dengan lincahnya. Team kelas 3 menggunakan seragam basket berwarna putih dan team kelas 2 memakai seragam basket berwarna merah. Sorak sorai penonton pun mulai riuh.

Setelah asyik dribbling beberapa kali ke lantai akhirnya pemain centre pun membaginya pada power forward di samping kanannya. Untuk mengecoh lawan beberapa kali si jangkung ini melakukan pivot kemudian menoleh ke arah kiri seolah akan mengembalikan bola pada pemain centre. Namun ternyata bola pun dilemparkan pada shooting guard yang berada agak jauh tepat dibawah keranjang bola dan lay up kiri pun sukses mencetak score kedalam keranjang lawan.

Di menit pertama kedudukan team kelas 3 sudah unggul dari lawan. Penonton menjerit histeris kala pemain jagoannya melakukan beberapa atraksi mengejutkan. Etik yang berada di samping kananku pun tak kuasa menahan hasratnya untuk melonjak-lonjak kegirangan kala pemain jagoannya mencetak three point beberapa kali. Ya siapa lagi kalau bukan Juna. Entah mengapa kali ini Raras merasa resah dan hatinya mendadak ciut.

Sampai akhirnya bola basket itu meluncur ke arah Raras karena passing seorang pemain dari team kelas 2 dengan tenaga yang terlalu kuat hingga pemain dari team yang sama tak kuasa menjangkaunya dan bola pun bergerak lepas ke arah penonton. Hasilnya bola menghantam telak ke arah kepala Raras. Refleks tangan kanan Raras mencoba melindungi kepalanya meski bola berhasil membuat ruas lengannya memar.

Iink dan Etik menjerit kompak mendapati Raras tersungkur kebelakang menabrak beberapa pelajar yang berdiri tepat dibelakangnya. Permainan pun dihentikan sesaat.

“Hey, kau tak apa-apa?” sergah Juna yang mendadak sudah menarik lengan kanan Raras membantunya berdiri.

Matanya lekat memperhatikan wajah dan lengan Raras secara bergantian.

Raras mencoba menguasai diri karena shok dan rasa sakit yang mulai menjalar naik ke lengannya.

Tanpa mereka sadari Iink dan Etik berulang kali beradu pandang memperhatikan sikap Juna yang begitu jelas menunjukan perhatian dan rasa cemasnya. Meski muka Etik mendadak masam namun ia telah menyadari bahwa Juna si adik kelas yang telah lama diperhatikannya telah lebih dulu menjatuhkan pilihannya pada Raras sahabatnya.

“Kau taka pa-apa, Ras?” tanya Juna sekali lagi memastikan.

“Aku... tak apa-apa, thanks.” Raras belingsatan menyadari banyak pasang mata menatapnya. Dari tatapan prihatin, takjub hingga sinis.

Dan wasit pun mulai meniupkan peluitnya untuk memulai pertandingan. Juna pun pergi meninggalkan Raras yang hanya bisa menunduk pasrah menatap lengannya. Sampai akhirnya diputuskannya untuk meninggalkan lapangan bola basket secepat mungkin.

Iink dan Etik beberapa kali bergantian memanggil namanya agar tak pergi meninggalkan aksi bela pelajar kelas 3 dalam pertandingan kali ini. Namun Raras tak menggubrisnya dan tetap melangkahkan kakinya. Pergi.

Sesekali Juna melirik mencari-cari sosok Raras diantara banyaknya penonton namun ia pun harus menelan kekecewaan karena gadis manis itu telah berlalu meninggalkan sepenggal kisahnya dalam benak Juna.

 

 

 

Sejak insiden di lapangan basket itu, hari-hari penantian hasil UN dihabiskan Raras di rumah, dan seperti biasa sesekali dia menggantikan ayahnya mengantar penumpang dengan ojek kebanggaan ayah. Ia tak ingin menghabiskan waktunya hanya untuk menjadi penonton dalam class meeting di sekolahnya lagi atau menghabiskan waktu di kantin dan jalan-jalan ke mall. Karena ke mall pun memerlukan biaya setidaknya biaya makan siang agar dirinya tak sampai jatuh pingsan karena kelelahan berkeliling bersama teman-temannya.

Dan sejak saat itu pun Juna merindukan sosok gadis penuh kejutan yang kini diyakininya telah membuka sedikit pintu hati untuknya. Sudah beberapa kali ia sengaja menunggu di depan kelas Raras dan memberanikan diri bertanya kepada beberapa teman Raras namun jawaban mereka tak ada yang memuaskan sedikitpun.

Sore itupun dikumpulkan semua keberaniannya untuk mendatangi kediaman Raras. Meskipun Juna sudah pernah menapakkan kakinya sekali malam itu, kala mengantarkan ayah Raras yang tengah sakit, hati Juna masih was-was bagaimana jika Pak Rusman ayah Raras tak mau menerimanya atau bahkan mengusirnya. Entahlah ketakuan itu muncul seolah ia sadar bahwa saat ini ia merasa wajib untuk mengutarakan isi hatinya pada Pak Rusman bahwa Juna mempunyai perasaan istimewa pada putrinya dan ia ingin agar Pak Rusman mengetahui keseriusannya. Meskipun Juna masih berstatus seorang pelajar setidaknya ia tak ingin menjalin sebuah hubungan tanpa restu siapa pun. Ia ingin menunjukan bahwa ia adalah sosok bertanggung jawab yang senantiasa akan menjaga kepercayaan orang lain.

Pak Rusman menyambut kedatangan Juna dengan wajah sumringah dan segala ramah tamahnya. Kala itu beliau tengah menikmati sepiring menjes goreng, makanan ringan khas malang yang berbahan dasar kedelai dan banyak digemari oleh berbagai kalangan. Karena rasanya yang gurih dan harganya yang murah.

Setelah membuka percakapan dengan menanyakan kabar ayah Raras, Juna pun menyampaikan niat kedatangannya untuk mencari Raras.

“Sejak satu jam yang lalu Raras pergi bersama temannya,” jawab Pak Rusman datar. “Katanya mereka akan pergi ke Depnaker...”

Juna terdiam sejenak. “Ke Depnaker?”

“Iya Mas Juna,” sahut Pak Rusman cepat. Seakan bisa membaca tanda tanya di kepala Juna, Pak Rusma pun melanjutkan kalimatnya. “Setelah lulus SMU nanti Raras berniat mencari pekerjaan. Saya sudah membujuknya agar dia mau melanjutkan kuliah, toh saya masih kuat bekerja dan membiayai kuliahnya. Dia pun bisa kuliah sambil bekerja. Namun Raras bersikukuh menggantikan saya untuk bekerja. “

Empati Juna pada Pak Rusman perlahan semakin besar dan simpati pada Raras pun memperkuat kasih di hatinya.

“Silakan diicipi gorengan menjesnya Mas!” sodor Pak Rusman pada Juna sepiring menjes goreng yang sudah terhidang di atas meja, sekedar mencairkan suasana karena beberapa detik yang lalu Pak Rusman menyadari gurat kecewa di wajah Juna.

Kini niat awalnya untuk mencari restu ayah Raras tenggelam dalam angan. Sorot matanya mendadak lesu dan fikirannya pun gundah tak tentu arah. Selama ini dia sibuk menggoda Raras dan berusaha membuatnya menerima dirinya menjadi sosok yang bisa membuatnya bersandar dalam suka maupun duka tanpa pernah berfikir keadaan Raras dan keluarganya. Meski sudah berulang kali Raras berusaha menyadarkan Juna bahwa keluarganya adalah hal terpenting dalam hidup Raras. Sungguh Juna merasa kecil dan begitu tak berguna.

“Mas Juna!” panggil Pak Rusman membuyarkan Juna dalam angan-angan kosongnya.

“Eh iya, maaf Pak,” sergah Juna tersadar.

“Bagaimana kabar nenek Mas Juna?” tanya Pak Rusman menunjukan perhatiannya.

“Nenek sehat Pak, beliau baru bisa kembali ke Malang 3 hari lagi. Sekarang masih di Semarang menjenguk adik beliau yang sedang sakit.” Santun tutur kata Juna menanggapi.

“Baguslah kalau Bu Rahma segera kembali ke Malang. Karena saya harus segera menemuinya dan berpamitan untuk berhenti bekerja di rumah nenek Mas Juna.”

Kembali Juna dibuat terkejut oleh Pak Rusman, “Maksud Bapak? Secepat itukah Bapak akan memutuskan berhenti bekerja di tempat nenek saya?”

Pak Rusman tersenyum tipis. “Iya Mas Juna, Raras yang meminta saya untuk segera berhenti dan beristirahat di rumah saja. Toh Raras sudah mendapat panggilan kerja di perusahaan dimana temannya, anak kampung sini juga sudah terlebih dahulu bekerja disana,” jelas Pak Rusman panjang lebar.

“Maaf Pak, tapikan pengumuman kelulusan baru akan diumumkan besok. Apa di tempatnya bekerja tidak memerlukan ijazah atau dokumen pendukung untuk persyaratan diterima bekerja?” tanya Juna antusias.

“Tentu saja perlu Mas, tapi perusahaan ini baru dibuka jadi memerlukan banyak tenaga kerja. Dan in shaa Allah Raras bisa bekerja disana.” Yakin Pak Rusman menjawab kegundahan di hati Juna.

“Kalau boleh tahu, dimana Raras akan bekerja?” Juna pun memberanikan diri mengajukan pertanyaan penting ini kepada Pak Rusman.

“Di Kalimantan Tengah.”

Sejurus kemudian Juna tercekat, hatinya makin galau. Keinginan untuk bertemu Raras pun semakin kuat. Dia ingin secara langsung mendengar semua itu dari Raras bukan dari Pak Rusman. Namun kisah sedih Juna telah dimulai dari sini. Dari sebuah gubuk sederhana di kampung yang padat penduduknya. Berita utama yang tak pernah terfikirkan bahkan oleh imajinasinya sekalipun. Raras akan pergi jauh membawa hatinya yang baru saja mengenal sebuah fase baru dalam dunianya. Cinta.

 

 

Matahari begitu malu-malu bersembunyi dibalik awan. Terik tidak, mendung pun tidak. Namun teduh diwarnai semilir angin yang menyejukan. Tampak beberapa kelompok kecil tersebar di penjuru taman alun-alun kota Malang. Ada yang duduk bersila dan santai di atas rumput, tak jarang pula yang menikmati indah dan sejuknya hari ini dengan bercengkrama di bangku taman yang banyak tersebar di alun-alun. Tempat yang begitu strategis, semua lengkap berjejer rapi mengelilingi alun-alun. Mulai dari Masjid Agung Jami’, kantor pos, sampai mall pun berderet rapi.  Tampak kolam dan air mancur di tengah alun-alun disertai riuhnya burung merpati yang terbang bebas membuat suasana alun-alun makin menyenangkan.

Di deretan bangku paling ujung tampak Raras tengah duduk bersandar dengan kepala tertunduk menekuri ujung jarinya. Tas ransel sekolahnya teronggok di sampingnya. Bangku ini sepenuhnya dikuasainya. Sesekali kepalanya diangkat menoleh ke kanan-kiri seolah tengah mencari sesuatu. Sedetik kemudian tatapannya kosong menembus waktu yang terus berdetak.

Hingga saat Juna datang mendekatinya, Raras tak menyadarinya. Juna sadar saat ini Raras tengah menikmati lamunannya. Juna pun duduk di bangku yang terletak 5 meter di hadapan Raras. Sekali lagi Juna bisa bebas menatap raut manis dengan semburat kegalauan yang tampak begitu jelas di wajahnya. Apakah esok atau lusa Juna masih bisa menemuinya hanya untuk sekedar menyapa atau menggoda seperti biasanya? Entahlah.

Selang beberapa menit kemudian Raras tersadar dari lamunannya saat gerombolan merpati tiba-tiba terbang dan mendarat tepat di hadapannya selama beberap detik dan kemudian kembali terbang karena beberapa pasang kaki-kaki kecil berlarian ingin menangkap mereka. Dan Juna pun melambaikan tangan kanannya kala Raras mendapati sosok pemuda yang akhir-akhir ini menari-nari di benaknya telah duduk manis di bangku taman di seberangnya.

Juna beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Raras. Spontan Raras menggeser duduknya memberi tempat pada Juna di dekat tas ransel yang telah menjadi saksi bisu kegundahan hati Raras.

“Thanks,” ucap Juna seraya menempatkan dirinya serileks mungkin disebelah Raras.

“Kau ingin bertemu denganku?” todong Juna datar. “Niko yang memberitahuku. Awalnya kukira dia hanya bercanda dan akupun nekat datang kesini dengan harapan bahwa itu bukanlah candaan Niko.”

“Ya, aku memang memintamu datang kemari melalui Niko. Maaf jika aku mengganggu waktumu,” ucap Raras formal.

Juna menarik ujung bibir kirinya, menatap Raras penuh dengan tanda tanya.

“Kemarin kau datang ke rumah dan ayah sudah mengatakan semuanya padamu. Aku ingin menambahkan sedikit saja....” Raras menghentikan kalimatnya sesaat kala disadarinya Juna menatapnya lekat penuh arti.

“Jangan menatapku seperti itu!” hardik Raras risih.

Cepat-cepat Juna mengalihkan pandangannya menyapu seluruh penjuru alun-alun. Dalam diam dia memohon agar Raras merubah rencananya.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Juna pelan menatap lurus ke depan.

Raras menarik nafas dalam menata laju debar jantungnya.

“Selama ini kau sudah mengungkapkan isi hatimu padaku. Namun maaf aku tak bisa membalasnya. Sudah pernah kujelaskan semua alasanya padamu. Kumohon lanjutkan hidupmu. Seperti halnya aku pun akan melanjutkan hidupku.” Raras pun terdiam kembali menekuri ujung jemarinya yang meremas-remas ujung baju seragam putihnya.

“Hanya itu? Kau mengundangku kemari hanya untuk mengatakan itu?” cecar Juna kembali menatap lekat Raras dengan sorot matanya yang penuh dengan kekecewaan.

“Ya, karena tak ada hal lain yang ingin kujelaskan padamu.” Raras menahan diri berusaha untuk bersikap manis.

“Kau tahu...” Juna menghentikan kalimatnya sesaat.

Raras melirik Juna melalui sudut matanya. Hatinya kelu.

“Belakangan ini aku begitu gembira karena mengira kau telah membuka sedikit hatimu padaku. Dan hanya kau yang tahu mengenai hal itu tentunya. Sampai pada akhirnya kegembiraanku itu tergerus hancur oleh berita rencana kepergianmu ke tempat yang jauh dariku demi keinginanmu untuk bekerja dan menafkahi ayah dan adikmu.” Kepala Juna menengadah menatap langit lepas.

“Tak ada yang salah dengan hal itu karena kau hanya berusaha untuk menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tua.” Juna menarik nafas panjang, hingga desahnya terdengar jelas di telinga Raras. Sesekali diliriknya Raras melalui ujung matanya.

“Disini akulah yang salah. Tak bisa memahami keadaan. Egois itulah aku. Hanya berusaha memenuhi kebutuhanku dan memaksa orang lain untuk terjun bebas dalam kehidupanku.”

Hening. Hiruk pikuk alun-alun pun tak sampai ke telinga kedua anak manusia ini.

Kini Raras terusik oleh semua argumentasi Juna. Pandangannya beralih ke arah Juna yang masih menengadah memohon belas kasih Sang Pemilik Jagat kenamaan.

Wajah pemuda itu kini jelas terlihat di pelupuk matanya, begitu sepi dan kosong.

“Haruskah aku menyerah dengan keadaan ini,” batin Raras masih menatap Juna lekat.

Sedetik berlalu Juna pun menyadari bahwa dirinya tengah diperhatikan oleh Raras. Namun Juna masih menengadah dan memejamkan matanya pelan.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Jangan katakan jika kau terpesona oleh kata-kataku dan diam-diam jatuh cinta padaku,” tuduh Juna tanpa membuka matanya.

Raras terkejut dan segera mengalihkan pandangannya sembari membenarkan letak duduknya. Tas ransel di sampingnya ditarik dan didekapnya erat.

“Kau ini benar-benar......” gerutu Raras lirih. “Dasar!”

“Jadi kapan kau akan pergi?” tanya Juna kembali.

“Pergi kemana?” ketus Raras menimpali pertanyaan Juna. Ia masih kesal dengan kalimat Juna. Kalimat yang sepertinya mengungkapkan keadaan dirinya saat ini. Dan hatinya berusaha menolak dan tak mau mengakuinya.

“Pak Rusman bilang kau akan bekerja di Kalimantan Tengah.”

“Owh...” sahut Raras pendek. “Haruskah aku memberitahumu?”

“Entahlah, aku hanya berusaha mencari kesibukan,” seloroh Juna sekenanya.

Raras menahan diri untuk tidak tersenyum  namun gagal.

Juna pun bisa menangkap kelebat seulas senyum tipis yang berusaha disembunyikan oleh Raras.

“Baiklah, aku harus pergi.” Raras beranjak memakai ranselnya dan bersiap pergi tapi Juna telah menghadangnya dan berdiri tepat di hadapan Raras. Raras pun mundur satu langkah karena merasa jarak mereka terlalu dekat.

“Bolehkah aku meminta sesuatu?” pinta Juna bak seorang anak kecil. Matanya nanar menatap Raras seolah dia adalah hal yang sangat berharga dimuka bumi ini.

“Entahlah, aku merasa seolah kau akan meminta sesuatu yang sudah pasti tak bisa kukabulkan,” jawab Raras jujur.

“Aku memaksa.” Juna tak mau kalah.

Raras diam menunggu permintaan Juna selanjutnya.

“Kumohon jangan pergi jauh dariku!” suara Juna bergetar.

Raras bingung bola matanya berputar tak tau harus bilang apa. Karena semakin lama semakin disadarinya bahwa pesona Juna semakin menjeratnya untuk mendekat.

“Hah? Kau ini kenapa? Kemanapun aku akan pergi itu bukan urusanmu,” ketus Raras menimpali. “Aduh..... kau membuatku kesal lagi. Padahal susah payah aku ingin bersikap baik padamu.”

Dilangkahkan kakinya meninggalkan Juna.

“Ras!” Juna menarik lengan Raras cepat.

Raras pun memekik kesakitan karena lengan kanan yang masih memar akibat tragedi bola basket dicengkeram kuat oleh Juna.

Juna pun menyadarinya dan berusaha untuk meminta maaf.

“Kumohon...!” pinta Juna memelas.

Raras membalikan badannya menatap Juna. Perlahan rasa mulas diperutnya mulai menyapa. Ditahannya. Sekali lagi Raras berusaha untuk bersikap dewasa.

“Kau tahu mengapa Romeo dan Juliet tidak ditakdirkan untuk hidup bersama?” tanya Raras mendadak romantis. Sepoi angin sesekali membelai rambutnya yang beberapa kali menutupi wajah tirusnya.

“Ya, karena mereka memilih untuk mati agar bisa bersama,” sahut Juna cepat seolah ia benar-benar memahani tragedi kisah cinta mereka.

“Bukan!” Raras berlagak sok tahu. “Karena mereka tak memahami arti cinta dan jodoh sepenuhnya di tangan Tuhan.” Raras pun berlalu meninggalkan Juna yang mencoba memahami arti kalimat Raras. Sebaris kalimat itu ternyata menyentuh akal fikiran Juna meski hatinya masih berontak menolaknya.

 

 

Hari ini gerimis berselang lama, sejak pagi hingga siang hari air hujan membasahi tanah AREMA. Udara yang dingin dan jejak air hujan masih jelas terlihat di jalan raya. Motor Kawasaki Ninja ZX – 10R melaju kencang menyusuri jalan raya. Pengendaranya tampak begitu tergesa seolah tengah mengejar sesuatu.

Iya. Hari ini Raras harus pergi mengejar cita-citanya, meski hanya sebatas menjadi pekerja biasa di sebuah perusahaan swasta di Kalimantan Tengah. Juna baru mengetahuinya dari Nenek saat beliau memberitahukan pada Juna bahwa Pak Rusman malam itu telah berpamitan untuk berhenti dari pekerjaannya dan hari ini harus mengantarkan Raras ke Pelabuhan Tanjung Perak.

Namun terlambat sudah, Raras sudah meninggalkan rumahnya bersama Pak Rusman saat Juna datang mencarinya. Akhirnya diputuskan untuk pergi menyusul ke Surabaya. Hingga gemericik air hujan yang  membasahi tubuhnya yang dingin tersapu angin tak dihiraukannya.

Ia memang kecewa atas keputusan Raras untuk tetap pergi namun setidaknya Raras membiarkan Juna bisa melepasnya pergi meski hanya sebatas melihatnya di atas bus. Hal inilah yang benar-benar membuat dirinya hancur. Hati dan logikanya beradu saling mencari pembenaran untuk sekedar menenangkannya dan semuanya sia-sia.

Hingga akhirnya di sebuah tikungan tajam dengan kondisi jalan yang licin sebuah Toyota Innova hitam yang berusaha disalip oleh Juna mengerem secara mendadak. Juna panik dan tak bisa menguasai keadaan hingga dibantingnya stang motornya ke arah kanan, namun sebuah mini bus dari arah berlawanan mengalami masalah dengan rem dimana pad disc brake dan shoe kit rear brake yang tidak lagi berfungsi bahkan saat sopir berusaha menarik tuas hand brake pun tetap membuat mobil ini meluncur kencang menghantam motor Juna. Alhasil pemuda tanggung ini pun terpental jatuh dari motornya. Helm teropong yang dipakainya masih utuh dikepalanya namun darah segar mengalir dari balik helm dan beberapa pakaian Juna yang terkoyak karena bergesekan dengan aspal jalan raya.

Rintihan dari balik helm membuat beberapa pemakai jalan segera memanggil bantuan medis. Beberapa dari mereka mencoba untuk membuat Juna terjaga.

Juna merasakan tubuhnya ringan, angannya masih melayang dan kenangnya akan senyum Raras masih tampak jelas di pelupuk matanya.

“Ini bukan akhir kisah cintaku, Tuhan. Aku bukan Romeo atau Juliet yang harus mendekap cintanya dalam kematian. Aku adalah matahari yang akan menerangi hari-hari Raras meski kelak dia bukan milikku. Aku harus hidup......” batin Juna dalam sadarnya yang diam. Lalu gelap.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    7 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang getir, riil sekaligus mengharukan. Bisa dibilang cerpen kisah cinta yang dewasa terlalu dini buat dua tokoh yang masih sangat muda. Di saat banyak anak muda yang terjebak dalam romansa penuh bujuk rayu dan janji manis, karya milik Wiwit Astianing ini mengangkat sisi dewasa percintaan anak muda, bahwa tidak semua anak muda hanya melulu melihat cinta sebagai ajang bersuka cita semata.

    Dalam cerpen ini tampak kisah asmara antara Raras dan Juna sangatlah riil, dalam artian kondisi ekonomi keluarga Raras sangat memainkan peran penting dalam hubungan di antara mereka berdua. Raras yang sungguh logis memilih meninggalkan Juna demi keluarga yang ia sayangi. Juna pun rela berkorban nyawa demi menyusul Raras pergi ke luar pulau. Kisah kedua sangat mengharukan dan terlihat menyentuh di tengah banyak kisah cinta saat ini. Bahasa yang enak dan asyik menjadikan pembaca bisa menikmatinya. Terima kasih, Wiwit!