MENUNGGU PAGI #verse

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Desember 2016
MENUNGGU PAGI #verse

               It’s so unbelievable

                And I don’t want to let it go

                Something so beautiful

                Flowing down like a waterfall

                I feel like you’ve always been

                Forever a part of me

                And it’s so unbelievable to finally be in love

                Somewhere I’d never thought I’d be

Lantunan lagu Craig David mengalun sendu dalam kamar bergaya retro pop art berukuran 6x7. Tampak beberapa lukisan pop art dengan warna-warna berani, kursi retro-futuristik, sofa minimalis dan single bed dengan bantal-bantal bertuliskan smile juga laugh serta background wall paper di dinding yang bergambar rambu-rambu lalu lintas membuat ruangan itu tampak hidup dan ramai. Namun tak demikian halnya dengan apa yang saat ini dirasakan oleh penghuni kamar itu. Hatinya  kini kosong karena pelangi sudah tak mewarnai ruang itu lagi. Keindahan itu kini samar hanya berkelebat di pelupuk mata dan hitam. Meski hanya puing-puing asa yang tersisa, dengan sisa-sisa rasa itu di sudut hati dikumpulkannya dan disimpannya rapat dalam senyumnya – getir.

Juna tak habis pikir jika akhirnya dia mengalami hal ini. Patah hati.

 Senyum itu mengembang meski tampak dipaksakan.

Antara hitam dan putih sesaat berkelebat wajah dingin Raras yang menyimpan segudang lara. Dia memang kadang tersenyum dan tertawa, tapi ada sesuatu di balik itu yang tak tampak namun bisa dirasakan oleh Juna.

Sebenarnya Juna sudah pernah melihat Raras saat mengantar ayahnya pada suatu malam. Saat itu dia belum bertemu secara tak sengaja di warung Mang Sapri. Tak sadar Juna merasa takjub pada sikap sayang dan santun Raras pada ayahnya. Juna berada dalam Mercedez Benz C-Class bersama neneknya waktu itu. Saat mobil  menunggu pintu gerbang dibuka oleh tukang kebun -tak jauh dari mobil itu- Raras tengah berpamitan pada ayahnya yang saat itu baru saja diantarkannya untuk menunaikan tugas jaga malam di rumah nenek Juna. Dari balik kaca mobil yang tertutup rapat Juna bebas mengamati wajah Raras. Wajah yang membuatnya tersesat dalam kisah pahit sebuah kenyataan dan setitik rasa kagum yang perlahan-lahan berubah menjadi rasa suka yang kini telah menghujam ke relung hatinya. Dan tembang manis itupun berakhir dengan kesyahduan di hati Juna.

Malam sudah sangat larut dan Juna masih terjaga di kamarnya. Bersandar di ujung ranjang membiarkan kakinya berselonjor di lantai, dia tak menghiraukan hawa dingin dari AC di kamarnya yang semakin dingin. Sampai akhirnya dia terlelap saat jam dinding menunjukan pukul 02.00 dini hari. Masih di lantai.

 

“Kau tak habiskan sarapanmu, sayang?” tanya nenek menyadari sisa makanan di piring Juna masih banyak.

Juna menyeruput segelas susu almond sejenak. “Sudah kenyang, Nek. Aku berangkat sekolah dulu ya,” ucap Juna sembari mengecup kening neneknya.

Nenek tersenyum lembut dan mengusap kepala Juna pelan. “Hati-hati di jalan, sayang.”

Juna menjawab dengan anggukan kepala dan berlalu dari ruang makan menuju garasi.

Setelah selama 20 menit perjalanan karena jalan sedikit macet di beberapa spot, akhirnya Juna bisa memarkirkan motornya di tempat yang paling strategis di tempat parkir, yaitu di sebelah pos satpam.

Hatinya masih galau saat harus melangkahkan kakinya menyusuri lorong sekolah. Biasanya dia selalu memilih lorong yang melewati kelas Raras, namun kali ini dia harus mengambil rute memutar untuk menghindari wajah manis itu. Bukan karena takut bertemu Raras dan mendapatkan penolakan pahit melalui sikapnya. Juna hanya ingin menata ulang hatinya yang tengah terkoyak karena kisah semalam. Ini hanya bagian dari sebuah perjuangan, namun harus diakuinya bahwa ini tak semudah yang sudah dibayangkannya. Karena ini yang pertama baginya. Ya, it’s love at the first sight and it’s hard to get.

“Juna!” panggil seseorang sedikit mengejutkan Juna.

Spontan Juna menoleh ke sumber suara. Ternyata Niko  – teman sebangkunya, menyongsong dari arah kantin.

“Hey, kau sudah sarapan?” tanya Niko tersengal karena harus berlari demi menyusul Juna.

“Sudah. Aku mau langsung ke kelas,” ucap Juna menghindar, karena dia tahu kalau Niko bakalan menggeretnya ke kantin untuk menemaninya sarapan.  Karena kantin juga termasuk salah satu tempat yang dihindarinya. Juna tak ingin melihat sosok Raras disana, meski hanya beberapa persen kemungkinan akan bertemu Raras , namun sebisa mungkin Juna ingin menjauh sejenak dari keramaian. Entahlah Juna kadang bingung dengan mereka yang sudah ngejogrog di kantin pagi-pagi sekali, apakah mereka tak pernah mendapatkan sarapan di rumah sebelum berangkat sekolah?

“Ayolah temani aku sarapan ya, please,” rengek Niko memohon.

“Sorry kawan, aku sudah sarapan tadi,” tolak Juna halus.

“Aku kan memintamu untuk menemaniku saja, tak perlu kau ikutan sarapan. Yuk !” geret Niko tanpa menghiraukan muka masam Juna.

Akhirnya Juna pun harus rela menemani Niko menghabiskan 2 mangkok bakso. Dan Juna bisa bernafas lega karena tak dijumpainya Raras dan teman-temannya di kantin itu.

“Kau ini sarapan atau balas dendam, Nik?” seloroh Juna menggoda kawannya yang tak pernah merasa kenyang ini.

Sementara itu Niko hanya tersenyum mengejek dari balik mangkok baksonya.

“Untuk itulah mengapa aku tadi tak sarapan dirumah, agar aku bisa makan 2 mangkok bakso Bu kantin pagi ini.” Niko terkekeh mendengar gurauannya sendiri.

Juna hanya bisa tersenyum menyaksikan pengakuan Niko.

“OK, kalau kau sudah selesai dengan mangkok keduamu bisakah kita pergi dari sini,” ajak Juna beranjak dari tempatnya.

“Sebentar, biarkan bakso yang aku makan ini dicerna dengan sempurna oleh lambungku. Minumku pun belum kuhabiskan. Sabar bung,” tahan Niko mencari alasan.

“Aaahhh…” keluh Juna memaksakan diri menemani Niko lagi.

Sampai akhirnya tampaklah Raras dengan dua orang teman wanintanya bersenda gurau dan berjalan menuju kantin. Setengah hati Juna menunduk memainkan wadah tusuk gigi diatas meja. Sesekali diliriknya Raras yang belum menyadari kehadiran Juna di tengah-tengah beberapa pelajar yang tengah kelaparan di dalam kantin.

Niko menyadari tingkah aneh Juna, “Kenapa kau ini?” tanyanya penuh selidik.

“Enggak, gak pa pa, aku cabut dulu.” Juna pun beranjak pergi.

Ternyata moment yang dipilih Juna salah, sehingga dia pun terpaksa berpapasan dengan Raras yang kini telah melihatnya. Bukannya membuang muka, entah mengapa Juna memberanikan diri beradu pandang dengan mata sendu Raras. Meskipun pada akhirnya Raras membuang muka , Juna pun berusaha menelan kembali kegalauan hatinya.

Mereka berdua tak menyadari jika saat itu ada pemilik sepasang mata lain yang tengah memperhatikan kejanggalan diantara mereka berdua. Seorang pemuda tanggung berpenampilan acak-acakan. Baju seragam yang tak bisa rapi. Senyum kecut dan tatapan mata acuh membuatnya tampak begitu marah dengan pemandangan di depannya.

 

Ayah sakit. Sebuah kalimat pendek yang begitu menakutkan dan selalu ingin dihindari oleh Raras. Padahal segala sesuatu yang berhubungan dengan ayah benar-benar diperhatikan  oleh Raras. Mulai dari makanan ayah, pakaian ayah, motor ayah, tempat yang sering dikunjungi ayah sampai sarung bantal ayah pun selalu menjadi perhatian Raras. Tapi saat ini ayah tengah sakit dan terkulai lemah di tempat tidur. Penyakit magh ayah kambuh lagi.

Untuk itu Raras dan kedua adik laki-lakinya – Robi dan Roni, harus saling bahu membahu untuk mengurus semua kebutuhan ayah dan kebutuhan mereka masing-masing. Menjadi tukang ojek pun harus dilalui Raras sepulang sekolah. Karena Robi dan Roni yang masih duduk di bangku SMP dan SD tak mungkin menggantikan ayah untuk menarik ojek. Semua teman ayah di pangkalan ojek telah mengenal Raras dengan baik, tak jarang mereka menaruh simpati pada gadis belia ini dan selalu memberikan penumpang perempuan untuk Raras. Kalaupun tak ada penumpang perempuan, mereka senantiasa mencarikan penumpang yang mereka anggap aman dan yang tidak menempuh jarak terlalu jauh. Raras sangat bersyukur karena teman-teman ayah begitu baik dan empati mereka begitu tinggi kepada keluarga Raras.

Siang ini sepulang dari sekolah sebelum Raras mencari penumpang dia memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah mewah nenek Juna. Ayah memberikan tugas kepada Raras untuk meminta ijin karena sakit. Kalaupun ayah harus diberhentikan beliau pun ikhlas. Raras semakin nelangsa kala ayah menyampaikan keinginannya tersebut. Bukan karena terancam akan semua hal yang berhubungan dengan finansial namun karena wajah letih ayah yang membuat hati Raras terasa beku.

Sesaat setelah sampai di depan gerbang, Raras menimang-nimang nyalinya untuk memencet tombol di dekat gagang pintu gerbang. Setelah terkumpul semua keberaniannya akhirnya diapun memencet tombol itu 2 kali. Dan keluarlah seorang tukang kebun dari balik pintu gerbang.

Sepertinya lelaki setengah baya itu mengenali Raras dan menyambutnya ramah.

“Ada perlu apa mbak?” tanyanya sopan.

“Maaf Pak, saya Raras, putri Pak Rusman.” Raras mengenalkan diri. “ Boleh saya bertemu dengan Ibu Rahma?”

Pak Jayus, tukang kebun itu tersenyum simpul. “Boleh, silakan masuk. Nanti mbak langsung saja ke rumah utama di gedung paling depan,” tunjuknya ramah.

“Terima kasih Pak,” ucap Raras kemudian dan perlahan berjalan masuk ke dalam halaman rumah nan megah itu.

“Konon rumah sebesar ini hanya Juna dan neneknya yang tinggal,” batin Raras di sela-sela langkahnya. Dia berharap agar siang ini tidak bertemu secara tidak sengaja di rumah ini dengan Juna. Semoga.

Belum sempat Raras mengetuk pintu rumah sebesar itu – meskipun dia melihat ada tombol bel rumah di samping kanan dekat dengan lampu hias yang menempel di dinding dekat pintu. Keluarlah seorang perempuan tua dengan kepala yang nyaris tertutup rambut putihnya. Dengan penampilan elegan dan sebuah kacamata mungil yang menghiasi hidung mancungnya, wanita ini begitu cantik di usianya yang menjelang senja. “Beliau pasti neneknya Juna,” pikir Raras pasti.

Sebelum Raras sempat mengucap salam wanita tua itu menyapanya dengan senyuman termanis yang belum pernah dilihat oleh Raras dimanapun dia berada, yaitu senyum tulus yang begitu menyejukan dari seorang wanita. “Ada yang bisa Nenek bantu?” tanya Nenek lembut.

Raras masih memandang Nenek Juna takjub.

“Maaf, ada yang biasa Nenek bantu, nak?” tanya Nenek sekali lagi.

Raras gelagapan tanpa rasa sungkan atau memang dia tak sadar, serta merta diraihnya tangan kanan Nenek dan diciumnya lembut punggung tangan beliau. Nenek setengah terkejut namun membiarkan aksi Raras tersebut.

“Maaf, saya Raras, Nek.” Raras berusaha menguasai diri. “Saya anak Pak Rusman, penjaga malam rumah Nenek.”

Raras menghela nafas sejenak. “Saya kemari berniat untuk memintakan ijin ayah saya yang tidak bisa masuk kerja malam ini karena sakit,” jelas Raras masih terpukau dengan keanggunan wanita tua di depannya.

Nenek tersenyum tenang. “Masuklah dulu, kita bisa berbincang di dalam,” ajak Nenek seraya mempersilakan Raras untuk mengikutinya.

“Maaf, Nek,” panggil Raras menghentikan langkah Nenek. “Saya … saya tidak bermaksud menolak ajakan Nenek, tapi saya harus segera kembali ke pangkalan karena saya harus mengantar pelanggan ojek saya,” jelas Raras lugu.

Nenek menghentikan langkahnya dan kembali berbalik ke arah Raras.

“Sekali lagi saya minta maaf, Nek. Ayah saya berpesan jika memang Nenek tidak bisa memberikan ijin untuk ayah saya karena tidak ada pengganti ayah saya yang bisa menjaga rumah Nenek. Ayah saya bersedia untuk mengudurkan diri dari pekerjaan ini.” Raras tertunduk lesu.

Nenek menatap lekat ke arah Raras dan tanpa disadarinya ternyata Nenek sudah berdiri tepat di depannya. Beliau memegang pundak Raras lembut. “Apakah ayahmu sudah kau bawa ke rumah sakit untuk berobat?’

Raras mendongakkan kepalanya. “Belum, Nek. Saya hanya memberikan ayah obat yang saya beli dari warung. Biasanya ayah meminum obat itu jika penyakit magh ayah kambuh,” jelas Raras seadanya.

Nenek kembali tersenyum. “Baiklah. Biarkan ayahmu beristirahat di rumah dulu sampai sembuh. Jika sudah benar-benar sembuh, ayahmu boleh kembali bekerja disini.”

Wajah Raras kembali bersinar seolah mendung yang sejak tadi berarak di wajah manisnya sirna seketika.”Benarkah, Nek?” tanya Raras memastikan.

Wanita anggun ini mengangguk pelan. Dan tiba-tiba Raras meraih kedua tangan Nenek yang sejak beberapa menit yang lalu memegang pundaknya, digenggamnya kedua tangan itu kemudian dikecupnya haru. “Terima kasih, Nek. Terima kasih banyak. Kalau begitu saya pamit dulu.”

Setelah berpamitan Raras pun segera menghilang dengan motor bebek putihnya. Raras ingin segera menyampaikan berita gembira ini kepada ayahnya. Dia ingin berbagi cerita dengan ayah betapa anggun, cantik dan baiknya nenek Juna itu. Juna? Tiba-tiba Raras teringat akan sosok lelaki menyebalkan yang tiba-tiba menjadi begitu memikat di matanya.

“Aduh, kenapa kau selalu kambuh disaat-saat seperti ini duhai perut?” gumam Raras seorang diri diatas motornya yang melaju di jalan beraspal dengan panas yang menyengat.

 

Sekali lagi Juna memastikan dirinya bahwa kerasnya batu karang akan terkikis juga oleh terjangan gelombang laut yang tak henti menghempas dan menerjangnya. Seperti halnya masa depan terlukis jelas di atas pasir bukan di atas batu. Semua hal yang kita perbuat hari ini pun akan berpengaruh pada masa depan kita nanti. Begitulah.

Setidaknya secercah harapan akan terbalasnya rasa di dalam hati menyusup halus dalam setiap tarikan nafas pemuda ini.

“Cinta… aaahhhh layakkah rasa ini disebut cinta atau hanya sebatas suka?” batin Juna memantapkan hatinya.

“Raras!” panggilnya tiba-tiba pada seorang gadis yang berkelebat di depannya.

Gadis itu menoleh sesaat kemudian melengos meninggalkan pemuda berparas tampan ini menelan kekecewaannya.

“Kau kenapa? Siapa dia?” tanya Niko penuh selidik yang sejak tadi duduk di sampingnya.

Juna hanya diam mengatur ritme melody hatinya yang tengah naik turun tak jelas iramanya.

“Dia kan anak kelas 3, kau kenal?’ Niko masih penasaran.

“Ya,” sahut Juna pendek.

“Tapi kenapa dia seperti tak mengenalmu?” pemuda bertubuh ceking ini masih belum puas dengan jawaban sobatnya.

“Karena dia…” Juna tak melanjutkan kalimatnya, ia teringat kembali penolakan Raras akan dirinya dan itu benar-benar cerita yang rumit jika harus disampaikan pada seorang Niko. Karena Juna yakin bahwa akan semakin banyak pertanyaan nantinya yang akan keluar dari mulut Niko.

Niko tak berekspresi menatap Juna, menunggu kelanjutan kalimat Juna.

“Lupakan, aku harus ke perpustakaan. Ada beberapa buku yang aku perlukan untuk mengerjakan tugas dari Bu Tatik.” Ditinggalkan Niko yang tak sempat lagi mencecar Juna dengan segudang pertanyaan di kepalanya. Karena langkah kaki Juna begitu cepat meninggalkan Niko.

Seperti biasa perpustakaan adalah tempat paling sepi nomor 2 setelah kelas saat jam istirahat tiba. Kantinlah yang mempunyai daya magnet terbesar menyerap hampir seluruh pelajar yang merasa kelaparan atau bahkan hanya duduk-duduk santai sambil memperbincangkan banyak hal. Akhirnya Juna menemukan buku yang dicarinya setelah berkeliling ke setiap rak buku selama beberapa menit. Koleksi buku perpustakaan sekolah ini rumayan lengkap. Meja paling ujung dekat dengan jendela dipilihnya sebagai tempat untuk membuat rangkuman dari buku-buku yang dipilihnya. Untuk menghemat waktu Juna hanya mengambil bagian yang dianggapnya penting saja. Dan dalam kesibukannya membolak balik halaman buku tanpa sengaja dilepaskan pandangan matanya keluar perpustakaan dan disanalah, di sudut lorong menuju ruang guru dilihatnya Raras tengah berbincang dengan seorang pemuda yang tampak begitu akrab. Sudah dipastikan itu bukan teman sekelas Raras yang biasanya nongkrong di lapangan basket atau kantin sekolah. Siapa dia, rasa ingin tahu menggelora dalam benak Juna. Tak mungkin itu teman dekat Raras karena gadis itu jelas-jelas mengatakan bahwa dia tak mau membuang waktunya untuk sesuatu yang belum tentu bisa dimilikinya. Apakah itu hanya ungkapan penolakan Raras pada dirinya? Debar keras menyeruak menguasai hati Juna. Tiba-tiba buku di depannya menjadi sesuatu yang tak menarik baginya.

“Pantas saja dia tak menggubrisku saat kupanggil tadi, “ tuduh Juna sebal.

Setelah sekian lama ditunggu, bel panjang tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar pun berdering. Seisi kelas pun keluar meninggalkan kelasnya dengan rapi dan tertib, suatu hal yang tidak dijumpai saat jam istirahat tiba. Karena tenaga mereka sudah terkuras habis menghadapi mata pelajaran demi mata pelajaraan dan kini yang tersisa hanyalah segumpal rasa lelah dan rasa rindu akan kembali pulang ke rumah.

Sekali lagi pemandangan yang tak diharapkan oleh Juna tampak di depan matanya. Raras yang biasanya pulang mengandalkan angkot yang lewat di pertigaan samping sekolah kali ini nampak berboncengan dengan pemuda yang tadi dilihatnya di sudut lorong ruang guru. Dada Juna bergemuruh meminta penjelasan namun pada siapa. Tiba-tiba asa itu pelan-pelan menyusut sirna. Dan masa depan yang tadi diyakininya tertulis di atas pasir kini nampak jelas bahwa pasir itu telah menggumpal menjadi batu yang keras.

 

Siang yang menyengat tak melunturkan semangat pemuda berkulit putih bersih yang tengah asyik membidikan kamera Nikon D3100 kesayangannya. Karena kamera ini adalah hadiah terakhir dari ibunya pada ulang tahunnya yang ke 10. Dengan resolusi 14.2 megapiksel serta sensor CMOS DX-format dengan lensa 18 – 55 mm plus kualitas full HD untuk merekam momen-momen terntentu sudah cukup luar biasa bagi seorang bocah berusia 10 tahun. Memang hobi fotografi sudah nampak pada diri lelaki ini sejak usia belia dan karena didukung oleh kemampuan finansial di atas rata-rata sehingga bisa membuatnya dengan mudah menyalurkan kegemarannya itu.

Kali ini dia rela berpanas ria di sebuah kampung yang jauh dari hingar bingar kota untuk mendapatkan foto yang sesuai dengan harapannya. Dengan angle yang pas didukung suasana khas kampung jawa pasti akan menghasilkan sebuah foto yang luar biasa. Setidaknya begitulah pikir Juna. Namun meski berbagai angle telah dicobanya, dari normal angle sampai canted angle namun dia masih belum merasa puas. Walhasil sudah beberapa kali tombol shutter pun dipencetnya. Sampai akhirnya kamera yang dibidikan menggunakan manual focus dengan memutar ring fokus ke kiri dan ke kanan menangkap objek yang tak pernah diduganya yaitu Raras.

Sekali lagi di bidiknya objek di depannya yang kira-kira berjarak 5 meter saja, namun karena banyak orang lalu lalang di depannya sehingga yang tampak hanya sebagian badan, kepala atau wajah Raras saja. Setelah beberapa kali bidik dan sangat yakin bahwa itu dia, Juna akhirnya memberanikan diri mendekati Raras. Dipaksakan egonya yang telah tersayat beberapa kali. Dikumpulkannya serpihan-serpihan kekaguman yang sempat sirna tertutup kabut kekecewaan seorang pemuda belasan tahun yang baru saja merasakan keindahan mekarnya bunga-bunga cinta.

“Apa yang membawamu kesini, nona?” tegur Juna nyaring.

Raras pun terlonjak kaget mendapati seseorang berteriak begitu kencang menyapanya. Dengan banyaknya orang yang berkumpul di lapangan terbuka ini dan hiruk pikuk mereka membuat Raras tak menyadari kedatangan Juna. Spontan Raras mundur satu langkah ke belakang. Menghindar.

“Apa yang kau lakukan disini? Kau mengikutiku?” tuduh Raras penuh percaya diri.

Juna membelalakan matanya tak percaya. Namun secepatnya dia bisa menguasai diri. Dia mengangkat kamera DSLR nya ke arah Raras. “Aku sedang mengambil foto mereka,” mata Juna menunjuk ke segerombolan orang yang membentuk lingkaran di tengah lapangan.

Raras mengerutkan alis masih tak percaya. “ Untuk apa?”

“Tak bolehkah aku mempunyai hobi?” tukas Juna menimpali.

Raras merasa terpojok dan diapun mengatupkan bibirnya rapat tak  bersuara.

Juna mengalungkan kameranya seakan tak tertarik untuk mengambil gambar dari objeknya lagi. “Ayam jagoanmu yang mana?” tanya Juna pada Raras seraya menunjuk dengan ujung dagunya pada segerombolan orang di tengah lapangan.

“Bisakah kau tak menggangguku?” sergah Raras kesal dan ia berlalu menjauh dari Juna. Masih mencoba menghindar.

Juna pun mengekor di belakang Raras.

Raras berbalik dengan mata melotot. “Kumohon pergilah,” usir Raras.

“Aku yang duluan kemari sebelum dirimu, kenapa harus aku yang pergi,” protes Juna tak menghiraukan pelototan mata Raras.

“Tak bisakah kau menerima kenyataan bahwa aku tidak menyukaimu ?” sergah Raras galak.

“Kau sendiri tak bisakah menerima kenyataan bahwa aku menyukaimu?” balas Juna masih berjuang demi rasa di hatinya.

“Jun…eh Na, bagaimana aku harus memanggilmu?” ejek Raras mencoba membuat Juna sebal. “Oh ya. Ummmm adik kelas.”

Juna mengerutkan kening sampai alis matanya saling beradu. “Apa yang kau coba lakukan? Mengejekku?”

“Ya, terima saja kenyataan bahwa apa yang kau lakukan ini sia-sia.” Raras bersendekap menunjukan wibawanya.

Juna mengalihkan pandangannya ke tengah lapangan. Dan semakin siang semakin ramai orang berkumpul disana.

“Dengan siapa kau kemari?” Juna masih penasaran mengalihkan topik pembicaraan.

“Apa perdulimu?” Raras masih bersikap kasar.

Juna menggaruk kepalanya semakin tak percaya dengan sikap Raras.

“Kau sedang tersesat atau sengaja datang kemari untuk ikut taruhan sabung ayam?” seloroh Juna membalas sikap  kasar Raras.

Raras melirik Juna sewot tak terima tapi akhirknya dia menyampaikan hal sebenarnya.

“Ayah sakit…. Jadi aku yang harus menarik ojek mengantarkan penumpang, dia tetanggaku, tadi dia bilang minta diantar ke pasar untuk menjual ayam jagonya. Ternyata dia membawaku kemari…” jelas Raras dengan semburat kecewa yang nampak begitu jelas pada nada suaranya. Dia pun berlagak cuek agar Juna segera meninggalkannya dan tak mengganggunya lagi.

Juna mengangguk-angguk demi mendengar celoteh Raras. Terselip rasa iba atas apa yang harus dilalui gadis pujannya dan kagum itu pun kembali menguasai akal sehatnya.

Tiba-tiba terdengar sorak sorai di tengah lapangan.

Juna pun tak mau mengabaikan momen itu, segera dibidikkan kameranya ke arena sabung ayam di tengah lapangan.

“Hey, kau tak takut dihajar massa karena kau mengambil foto mereka,” ucap Raras dengan nada khawatir.

Juna hanya melirik dengan ekor matanya dan kembali sibuk memainkan ring fokus kameranya untuk mengambil gambar yang terbaik.

“Aku sudah minta ijin pada bandarnya. Dia temanku.” Juna menjawab kekhawatiran atas ucapan Raras. “Lagipula ini bukan kali pertama aku kesini.”

“Kau berteman dengan bandar sabung ayam?” pekik Raras tertahan.

“Ada masalah denganmu?” todong Juna tenang. “Aku bisa berteman dengan siapa saja yang aku suka. Mungkin saat ini dia bandar sabung ayam, kita tak tahu jadi apa dia besok atau lusa.”

Tiba-tiba hati Raras berdesir pelan mendengar kalimat bijaksana Juna beberapa detik yang lalu. Matanya tak lepas menatap Juna yang masih asyik menekan tombol shutter kameranya.

Segera dibuangnya jauh-jauh desiran halus itu dan menjejali hati dan pikirannya dengan kenyataan hidup yang tengah dihadapinya.

“Coba kau ambil foto penontonnya, mereka tampak antusias daripada pemilik ayam jago yang akan diadu,” saran Raras seraya menunjuk beberapa penonton yang paling heboh.

Juna pun patuh mengikuti saran Raras dan mendekatkan mata kanannya pada viewfinder untuk membidik objeknya.Hatinya sedikit berbunga karena Raras tampak memperhatikan apa yang dilakukannya saat ini. Itu sudah cukup indah bagi Juna.

“Yeah bagus sekali ekspresi mereka, coba lihat!”Juna mendekati Raras dan menunjukan hasil jepretannya pada layar LCD. Raras pun patuh mengikuti petunjuk Juna karena penasaran akan hasil jepretan lelaki tak pantang menyerah ini. Sedetik kemudian disadarinya jarak wajah mereka terlalu dekat dan Raras pun segera menjauh sembari melotot marah kepada Juna.

Namun Juna yang menyadari hal tersebut tak menunjukan ekspresi apa pun dan pura-pura asyik melihat hasil bidikannya.

“Coba lihat, bukankah kita bisa berteman baik?” ledek Juna mencoba menyadarkan Raras bahwa apa yang baru saja mereka alami adalah sebuah pertemanan.

Raras menyipitkan kedua matanya memprotes kalimat Juna. “Sudah kubilang aku tak mau berteman dengan adik kelas, “ sergah Raras mengingatkan kembali.

“Ok, kalau begitu apa hubungan kita saat ini?” tanya Juna sesekali menyibak rambutnya yang tampak panjang menutup matanya kala tertiup angin. Iya ini karena dia tak memakai pomade seperti saat dia pergi ke sekolah setiap hari. Dan Raras baru menyadari bahwa Juna tampak lain dengan penampilannya saat ini. Desir halus itu pun mulai menyusup kembali ke dasar hati Raras.

Sesekali diliriknya Juna dan dengan cepat dialihkannya lagi ekor matanya jika Juna mendapati aksinya. Juna menahan senyum tipisnya kala menyadari hal itu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku?” Sekali lagi Juna bertanya pada gadis manis di sebelahnya yang membuatnya susah memejamkan mata setiap malam menjelang.

Raras menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Juna.

“Anggap saja hubungan kita ini simbiosis mutualisme.”

“Apa?” pekik Juna tertahan karena terkejut atas jawaban Raras.

Aku membutuhkanmu dan kau membutuhkanku. Jadi? Ini disebut hubungan simbiosis mutualisme. Sama-sama menguntungkan,” jelas Raras berteka-teki.

Seolah tak percaya, Juna terbahak mendengarkan argumentasi Raras. Tak diperdulikannya beberapa orang yang meliriknya dan bahkan ada yang terang-terangan menegurnya karena dianggap mengganggu konsentrasi ayam jagoan mereka masing-masing.

“Menguntungkan bagaimana? Mungkin aku menguntungkan bagimu tapi kau membuatku tak bisa tidur nyenyak tiap malam.” Juna berlagak galak dengan mata melotot menantang Raras.

“Terserah kau saja.” Raras menarik ujung bibir kirinya.

Juna menatap Raras lekat meminta penjelasan. Raras membuang mukanya mencoba menyembunyikan kalimat yang menyeruak di kepalanya. “Aku membutuhkan nenekmu agar tetap memberi pekerjaan pada ayahku dan kau membutuhkanku untuk mengisi kekosongan hatimu.”

“Ok aku harus pergi, aku tak mau tiba-tiba ada polisi patroli dan menangkapku disini hanya karena mengantar penumpang sabung ayam. Dia belum bayar tapi nanti akan kutagih di rumahnya. Aku pergi dulu.” Raras berlalu meninggalkan Juna.

“Hey, tunggu. Aku mau naik ojekmu antar aku pulang ke rumah,” pinta Juna menyusul langkah Raras dan berjalan disampingnya.

“Ahh tidak, kau cari ojek lain saja,” tolak Raras ketus.

“Bagaimana bisa tukang ojek menolak penumpangnya.” Juna masih mengekor.

“Karena dalam SOP pekerjaanku tak menerima penumpang menyebalkan sepertimu.”

“Omong kosong.” Juna tak patah semangat.

Setibanya di gang masuk kampung  tempat Raras memarkirkan motornya, tampak seorang pemuda dengan dandanan khas anak jalanan dengan rambut punk dan anting hitam bulat menghiasi kedua telinganya tengah asyik duduk di atas jok motor Raras. Raras tercekat berharap semoga lelaki itu bukan tukang palak atau geng  motor yang akan merampas motornya.

“Hey, kau akan pergi secepat ini?” tanyanya datar menatap Juna tajam.

“Ya aku harus pergi dengannya.” Juna menunjuk Raras dengan telunjuknya. “Dia teman satu sekolahku.”

“Oh..” sahutnya pendek masih tetap di atas jok motor Raras.

“Kau menduduki motornya,” tunjuk Juna memberitahu lelaki yang ternyata dikenalnya.

Setengah enggan lelaki itu turun dari motor Raras. Bahasa tubuhnya yang santai terkesan tak bertenaga memaksa Raras untuk segera mengambil alih motornya dengan sedikit memaksa. Tak diperdulikannya tubuh Raras yang menyenggol punggung lelaki itu dan membuatnya terhuyung dan hampir saja terjerebab jika Juna tak langsung menangkapnya.

“Dia pacarmu?” bisik anak punk ini pada Juna.

Belum sempat Juna menjawab pertanyaan temannya ini Raras sudah menimpali sengit. “Bukan. Saya kakak kelasnya.”

Lelaki itu kini sudah berdiri tegak di samping Juna.

“Pacarmu galak, man.” Sekali lagi laki-laki asing ini membuat Raras senewen.

Juna tersenyum senang menanggapi candaan temannya.

“Ok, aku cabut dulu, besok aku kemari lagi. Akan kubawakan pesananmu,” janji Juna penuh misteri.

Lelaki itu menepuk bahu kiri Juna pelan. “Ok, man, jangan sampai lupa ya.”

Juna tersenyum dan mengangguk beberapa kali. Sedetik kemudian ia berlalu meninggalkan Juna dan Raras.

“Baiklah kita pulang sekarang.” Secepat kilat Juna duduk dibelakang Raras sesaat setelah melepas kepergian temannya.

“Hey,” pekik Raras kencang. “Turun kau!”

“Sudah jalan saja, nanti akan kubayar dua kali lipat jika kau berhenti mengomeliku.”

Dengan terpaksa ia pun menuruti kemauan Juna menjadi penumpang ojeknya.

“Dia bandar sabung ayam temanmu itu ya?” tanya Raras sebelum dia menstarter motornya.

“Iya, kenapa? Kau naksir dia? Hah…tak kusangka seleramu anak punk,” ejek Juna menggoda Raras.

Raras mendengus kesal karena pertanyaan seriusnya dijawab asal saja oleh Juna.

“Memang apa yang dipesannya padamu?” selidik Raras masih penasaran. “Kau bukan pengedar narkoba kan?”

“Jangan ikut campur urusan penumpangmu jika kau ingin hidup lebih lama,” ancam Juna berlagak kejam. “Sudah jalan saja, kau sudah membuang waktuku, nona.

“Hrrrrrggg, sialan nih bocah,” gumam Raras hampir tak terdengar dan diapun melajukan motornya kencang.

 

 

 Gelap makin pekat, sorot bulan pun terhalang gelombang mendung yang menggantung dan berarak tertiup oleh angin musim barat. Dengan sekali tepukan Sang Maha Agung pasti akan turun hujan karena angin ini mengandung banyak curah hujan. Dinginnya angin pun menusuk tulang belulang hingga gemeretak gigi sudah pasti terdengar jika seseorang nekat berjalan keluar tanpa sehelai benang pun membalut tubuhnya. Meski hanya orang nekat yang akan melakukan hal itu. Hal ini bukan tanpa sebab karena Malang adalah kota yang dikelilingi banyak gunung. Diantaranya adalah Gunung Bromo, Gunung Arjuno, Gunung Semeru, Gunung Kawi, Gunung Anjasmara dan Gunung Welirang. Sehingga udara sejuk hingga dingin yang ekstrim pun kadang menyelimuti kota Malang ini.

Tampak sosok tubuh tegap itu tertelungkup di atas ranjang dengan bantal menutupi kepalanya. Mencoba memejamkan mata namun hilir mudik kalimat tanya mengganggu ritme kerja otaknya. Meski sesekali terdengar dengusan tertahan namun tubuh itu tak kunjung berbalik, bantal pun tak bergeser dari atas kepalanya.

Sedetik kemudian tubuh itu terhenyak oleh sebuah ketukan lembut dari balik pintu kamarnya.

“Juna!” panggil Nenek pelan.

Juna terduduk mengatur nafas dan mencoba kembali pada kehidupan nyata bahwa saat ini dia tinggal di sebuah rumah besar dengan segelintir penghuni yang mempunyai kisah hidup tak jauh beda, merasa tersisih dengan rasa terbuang dari kehidupan indah yang kini hanya berupa kisah lama.

“Juna, sayang!” panggil Nenek mengulangi.

“Iya Nek.” Juna membuka pintu kamarnya perlahan. “Nenek belum tidur?”

Nenek tersenyum sesaat menimpali pertanyaan Juna. “Kamu sendiri? Kenapa belum tidur, besok kan kamu harus sekolah.”

Juna menarik sudut kanan bibirnya seraya bersandar di daun pintu kamarnya. “Belum mengantuk, Nek.”

“Boleh Nenek masuk?” tanya Nenek sembari memasuki kamar Juna.

“Tentu Nek,” sahut Juna lembut memberi jalan kepada neneknya.

Kemudian Nenek  duduk di atas ranjang Juna.

“Oh ya, kau kenal Raras? Putri Pak Rusman?” Pertanyaan yang tak pernah disangka oleh Juna. Dia pun menggangguk pelan tanda mengiyakan.

“Dia satu sekolahan denganku,” jelas Juna mendekati neneknya dan duduk di samping beliau. “Bagaimana nenek mengenal Raras?” lanjutnya.

“Sekitar 3 hari yang lalu dia kemari memintakan ijin ayahnya yang sakit. Dia anak yang sopan, “ komentar Nenek menilai.

“Ya,” sahut Juna pendek.

Untuk sesaat mereka berdua larut dalam fikiran mereka masing-masing. Nenek dengan sosok Raras yang sopan dan menyenangkan. Sedangkan Juna masih bergelut dengan sikap kasar Raras yang acapkali ditunjukan saat Juna mencoba mengenalnya lebih dekat. Sungguh bertolak belakang.

“Sudah malam, sebaiknya kau tidur!” ucap Nenek menepuk bahu kiri Juna.

Juna mengangguk patuh memandang neneknya yang berlalu meninggalkan Juna kembali seorang diri dalam kamarnya.

Mata Juna pun masih menyala terang dan tak sedikitpun merasakan kantuk. Semakin sulit dimengerti olehnya salah satu  spesies homo sapiens yang disebut wanita ini. Begitu pintar mengontrol karakter dan emosi mereka di hadapan masing-masing orang yang berbeda. Begitu rumit jika sudah berhadapan dengan sesuatu yang melibatkan hatinya. Begitu kuat mempertahankan idealismenya demi sesuatu yang dianggapnya utama. Begitu menyiksa jika itu berhubungan dengan cinta. Apakah itu label abadi untuk semua wanita atau hanya pada Raras saja. Tatapan Juna menerawang menembus langit-langit kamarnya. Dia berharap pagi menjelang tanpa ia harus menutup mata.

  • view 354