MENUNGGU PAGI #intro

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 November 2016
MENUNGGU PAGI #intro

Malam kian larut, perlahan bulan pun bergeser dari peraduannya meninggalkan sorot mata Raras yang masih menatap langit lepas. Sesekali rasi bintang biduk menyita perhatiannya. Bentuknya yang seperti gayung dan terdiri dari 7 buah bintang membuat rasi bintang ini disebut juga sebagai konstelasi bintang tujuh dan akan tampak sepanjang tahun di langit utara. Bayangkan, sepanjang tahun….

                Setengah menahan hawa dingin yang menyeruak di sela-sela gelapnya malam, hanya dengan sweater tipis membalut tubuh, Raras menyeruput segelas kopi tubruk di genggaman kedua tangannya. Sesekali ditempelkan gelasnya ke pipi untuk mendapatkan kehangatan ekstra dari kopi panas itu.

                “Eneng darimana dan mau kemana malam-malam begini kok masih keluyuran di luar rumah?  Gak takut ya, Neng, kan kalau malam-malam begini banyak tindak kejahatan dimana-mana. Apa orang tua Eneng gak nyariin?” tanya bapak tua penjaga warung kopi di pertigaan jalan dekat alun-alun kota ingin tahu.

                Mungkin karena penampilan Raras yang bisa dibilang santun membuat pak tua ini penasaran.

                Raras membalas pertanyaan bapak itu dengan sebaris senyum dari bibir tipisnya. “Saya tersesat, Pak. Beruntung bisa menemukan warung kopi super enak malam-malam begini. Jadi saya mampir ke warung Bapak,” celotehnya membuat hati pak tua berbunga.

                Raras dan Pak Tua pun tak henti memperbincangkan semua hal yang tiba-tiba sangat menarik bagi mereka berdua. Meski masih ada beberapa pengunjung warung yang asyik menyeruput kopi pilihan mereka masing-masing pak tua penjaga warung masih saja mengajak Raras berbicara seolah tak tertarik untuk berbincang dengan pengunjung yang lain. Sepertinya pak tua ini terjerat pesona senyum seperempat Raras yang di akuinya memang begitu memikat. Hehe…

                Di tengah obrolan mereka berdua yang tak berselang lama datanglah seorang pemuda mengendarai sebuah  motor gede Kawasaki Ninja ZX – 10R dengan suara halus atau bahkan nyaris tak bersuara. Karena Raras baru menyadari kehadirannya saat terdengar derit ban karena cengkraman kampas rem.

                Setelah memarkir motornya di bawah pohon akasia di samping warung kopi pemuda ini melepaskan helm nya. Dari sudut mata Raras tampaklah rambut spike klimis lelaki ini menyilaukan mata. Wow...

                Pak tua penjaga warung nampak kegirangan demi melihat sosok pemuda ini sepertinya dia  pelanggan tetap warung kopi miliknya. Disambutnya girang juluran tangan kanan pemuda ini seraya melepaskan tawa khas miliknya yang lepas dan menggelegar di heningnya malam. “Apa kabar, Mas Juna? Sudah lama tak main ke warung bapak, sibuk ya?” cecar pak tua antusias.

                Pemuda yang ternyata bernama Juna itu nampak sumringah dengan senyum lebar. Dan sesaat melirik ke arah Raras. Raras pura-pura tak menyadarinya dan masih asik menempelkan gelas kopi yang mulai menghangat di pipi kanannya.

                “Hai!” sapanya memulai obrolan. “Darimana dan mau kemana mbak, malam-malam begini kok masih berada di luar rumah?”

                Setengah menahan senyum geli karena pertanyaannya yang tak jauh beda dengan bapak tua penjaga warung Raras memaksakan kepalanya menoleh ke arah pemuda itu, Juna namanya.

                “Hai!” sahut Raras pendek seraya memamerkan deretan gigi putih cemerlangnya. “Saya tersesat……….”

 

 

                Pagi ini Raras terlambat masuk kelas – lagi. Alhasil dia harus secara sukarela memunguti daun-daun kering  pohon beringin yang berdiri kokoh menantang hari berderet rapi di depan pagar sekolahnya. Namun karena dahannya yang menjuntai indah memasuki wilayah sekolah Raras membuat tumpukan daun kering berserak di sekitar halaman sekolah. Dan menambah tugas para siswa yang sengaja maupun tak sengaja terlambat datang ke sekolah. Kali ini Raras pun termasuk dalam daftar itu lagi.

                “Ohhh capeknya,” keluh Raras melepas penat, seenaknya duduk di tepi pot bunga yang cukup besar di samping pos satpam.

                Pak Slamet satpam penjaga sekolah Raras tersenyum lebar melihat penderitaannya. “Makanya neng Raras jangan tidur terlalu malam, biar gak terlambat masuk sekolah,” selorohnya menasehati.

                Raras pun membalasnya dengan seulas senyuman manisnya. Dipaksakan tubuhnya untuk berdiri dan segera berlalu dari tempat itu sebelum didengarnya seribu satu nasehat lagi dari Pak Slamet.

                Bel pergantian mata pelajaran berdering nyaring di sela-sela nafas Raras yang memburu menuju kelasnya - 3 IPA-1. Kelas paling ujung dan sangat strategis. Karena terletak diantara kantin, koperasi dan kamar mandi. Mereka menjulukinya kelas bayangan. Ya karena saat siswa kelas 3 IPA-1 meminta ijin untuk menunaikan panggilan alam ke kamar mandi, mereka selalu memutar mencari rute paling jauh. Baik itu saat menuju kamar mandi atau bahkan saat kembali ke kelas. Karena rute perjalanan mereka menuju kamar mandi harus selalu melewati koperasi atau melawan arah menuju kantin. Dan jika mereka berhasil kembali ke kelas dengan selamat itu berarti sebuah kemenangan bagi anak kelas 3 IPA-1. Namun jika tertangkap basah oleh Pak Samsul, guru yang paling disegani di sekolah, itu artinya penderitaan sepanjang tahun bagi mereka.

                “Kau terlambat lagi?” todong Etik teman sebangku Raras.

                “Hehehe….,” sahut Raras cengar cengir.

                “Sebenarnya apa yang kau lakukan tiap malam, Ras? Hampir setiap hari kau terlambat dan sering tertidur di dalam kelas,” cecar Etik menyudutkan.

                “Eits revisi Tik, aku tidur di kelas hanya saat jam istirahat,” sergah Raras membela diri.

                “Hmmm…sama saja, tapi kan kau tidur di dalam kelas.” Masih tak mau mengalah. Sampai akhirnya Bu Retno masuk kelas dengan gemulai dan memulai pelajaran kedua, Bahasa Inggris.

 

 

                Setelah selama 2 jam mata pelajaran bermain kata dan mengasah otak besar yaitu bagian lobus frontal. Dimana bagian ini salah satu fungsinya adalah mengatur kemampuan berbahasa, diantaranya dalam pelajaran Bahasa Inggris ini tentunya. Akhirnya siswa kelas 3 IPA-1 pun mendapatkan hak asasi mereka sebagai pelajar untuk beristirahat selama 30 menit. Seolah narapidana yang baru saja menghirup udara bebas mereka pun berhambur keluar kelas dengan senangnya. Dan seperti kata Raras tadi bahwa dia hanya akan tidur saat jam istirahat, dan waktu selama 30 menit itu tak akan disia-siakannya. Namun Etik memaksa Raras untuk menemaninya ke kantin dengan dalih ingin mentraktirnya.

                Akhirnya Raras pun pasrah, dengan langkah gontai diikutinya Etik menuju kantin. Dan alangkah terkejutnya Raras ternyata sahabatnya ini tak menghabiskan waktunya di kantin untuk mengisi perutnya dengan makanan yang ada di dalam menu kantin namun ternyata dia mempunyai tujuan lain. Mata sipitnya sibuk berbelanja mencari sosok seorang siswa baru yang notabene berada satu kelas dibawah mereka.

                “Tik, aku mau balik kelas saja,” sahut Raras kesal.

                “Tunggu sebentar, Ras,” tahan Etik memaksa.

                Namun kedua mata Raras yang sudah terasa berat menolak permintaan Etik. Dengan cepat Raras pun pergi meninggalkan si mungil ini dengan bibir manyun menahan kecewa.

                Karena rasa kantuk yang luar biasa Raras berjalan secepat mungkin agar dia bisa segera membayar tidurnya semalam yang hanya 3 jam saja. Meski sudah beberapa kali Raras telah menabrak pelajar lainnya yang berjalan berlawanan arah dengannya, cewek berambut cepak ini tetap melangkahkan kakinya cepat. Sampai akhirnya Raras pun tak kuasa menghindar dan menabrak seorang lelaki berperawakan tinggi yang tiba-tiba sudah berada di depannya.

                “Aduh!” pekik Raras kencang.

                Lelaki ini pun masih berdiri kokoh bagai pohon beringin di depan pagar sekolah Raras.

                Ditengadahkan kepalanya berniat mengumpat kepada lelaki yang dianggapnya telah menabraknya. Padahal sebenarnya Raras lah yang berperan besar dalam insiden itu. Alih-alih marah namun ternyata Raras hanya bisa menahan diri menyadari siapa lelaki di depannya. Lelaki dengan rambut spike klimis yang menyilaukan mata. Dia…. Juna, lelaki yang ditemuinya di warung kopi beberapa hari yang lalu.

                “Hai?” sapanya bernada tanya menyadari bahwa dia mengenali Raras.

Raras mencoba menguasai diri dan berniat meninggalkan Juna secepatnya karena tidak ingin terlibat dalam percakapan ramah tamah dengan seseorang yang ditemuinya tengah malam di sebuah warung kopi pinggir jalan, namun tubuh tegap Juna menghalangi Raras dengan sengaja.

                “Maaf, boleh aku lewat!” pinta Raras  datar pada sosok tegap di hadapannya ini

                Bukannya menepi dan memberinya jalan namun Juna bereaksi di luar dugaan, dia menyodorkan tangan kanannya memperkenalkan diri. “Hai, namaku Juna. Siswa baru kelas 2.4.  Kamu?”

                “Oh siswa baru. Kelas 2. Ok. Maaf aku mau lewat” sahut Raras sekali lagi meminta, mencoba menanggapi agar dia segera memberinya jalan.

                Namun Juna masih berdiri tegap di tempatnya semula tak menggubris permintaan Raras.

                “Boleh tahu nama kamu siapa?” sedikit memaksa seraya memamerkan senyum simpulnya.

                Raras tersenyum pongah, tak kuasa menahan kesal akhirnya disahutnya asal pertanyaan Juna.  “Aku Lord Voldemort.” Tak dihiraukannya raut wajah Juna yang berekspresi kecut dengan dahi yang berkerut. “Kumohon minggirlah sebelum kusihir kamu jadi batu akik. ” Didorongnya tubuh tegap itu sehingga Raras bisa melewatinya.

                Juna tercekat sesaat

. “Oh. Ok…silakan cewek tengah malam,” sahutnya seraya memberi isyarat dengan tangannya untuk mempersilakan Raras lewat.

Diurungkan langkah kakinya demi mendengar kata-kata Juna. Raras memberanikan diri menatap Juna dengan tatapan menusuk dan gemeretak giginya yang samar terdengar di telinga Juna.

                “Kenapa? Bukankah kita sudah bertemu kemarin malam di warung kopi mang Sapri ?” tanyanya menyudutkan Raras. “Aku hanya ingin mengetahui namamu. Rasanya cewek sepertimu tak layak keluyuran tengah malam sendirian.”

                Ditariknya nafas dalam menahan amarah yang telah melebur rasa kantuk Raras.

                “Apa sih maunya anak ini, sudah tahu aku tak berminat berkenalan dengannya karena tidur saat ini lebih penting bagiku, tapi bocah ini masih memaksaku. Andai tak ingat keberadaanku di sekolah ini hanya tinggal beberapa bulan saja menjelang kelulusan, pasti sudah kuhajar dia,” batin Raras menyadari. Akhirnya ditinggalkan Juna dengan rasa penasarannya. Tak dihiraukannya lagi kekehnya mengejek.

 

                                                                                                                                                          

                Raras memandangi lalu lalang kendaraan umum yang tak henti menurunkan dan membawa penumpang. Meski sudah beberapa kali angkot jurusan GA dan AD yang biasa dia naiki lewat di depan matanya, entah mengapa Raras masih enggan melangkahkan kakinya dari halte itu.  

                Rasanya Raras malas sekali pergi ke sekolah, ingin digantikannya tugas ayah mencari nafkah untuk mereka namun nasehat ayah selalu terngiang di telinga Raras. Beliau menginginkan ketiga anaknya harus selalu giat belajar dan tak pantang menyerah untuk menggapai cita-cita. Kobaran semangat ayah pun telah membakar ketidakberdayaan mereka dalam hal finansial agar Raras dan kedua adiknya bisa menyongsong masa depan meski bermandikan peluh dan darah.

                Akhirnya diayunkan kakinya menuju salah satu kendaraan umum yang siap membawanya ke sekolah.

Sekolah masih lengang dan pintu gerbang pun belum dibuka, Raras memutuskan untuk menghirup udara segar di Taman Jan Pieterszoon Coen di depan Balaikota yang berseberangan dengan sekolah Raras. Ditatapnya gedung Balaikota yang berdiri megah. Raras ingat sekali setiap ayah membawa mereka berjalan- jalan di minggu pagi, beliau selalu mengajak anak-anaknya duduk diatas rumput di dalam taman kemudian mulai bercerita mengenai sejarah Balaikota Malang ini.

Balaikota pertama kali dibangun pada tahun 1927 – 1929. Dimana sayembara perancangan Balaikota Malang dimenangkan oleh rancangan HF Horn dari Semarang dengan motto Voor de Burgens van Malang yang artinya Untuk Warga Malang. Sementara untuk rancangan interior dipercayakan kepada C. Citroen, arsitek terkenal dari Surabaya. Namun pada  Agresi Militer Belanda I saat tentara Belanda menduduki kota Malang, sebelum tentara Belanda memasuki kota, gedung balaikota sudah dibumihanguskan oleh pejuang. Dan baru setelah perang kemerdekaan gedung Balaikota Malang dibangun kembali. Kisah itu selalu melekat di hati Raras karena kota yang indah ini adalah kota kelahirannya, orang tuanya dan juga adik-adiknya.

                Matahari mulai bergeser beberapa inci dari pandangan Raras. Gerbang sekolah telah dibuka namun belum tampak pelajar berdatangan. Hari ini, setelah selama 4 hari beturut-turut bergotong royong memunguti daun kering  pohon beringin, Raras telah memecahkan rekor seluruh siswa SMU Negeri 4 Malang dengan datang paling pagi. Kecuali rekor Pak Slamet satpam sekolah tentunya. Beliau tiada tandingnya.

                Namun indahnya pagi ini buyar seketika kala sosok menyebalkan ini tiba-tiba hadir di hadapan Raras. Tanpa basa-basi dia langsung duduk di sebelah Raras. Untuk  sesaat suasana masih tenang dan mereka berdua membisu dalam diam.

                “Raras, kelas 3 IPA-1,” ucapnya tiba-tiba.” Haruskah aku memanggilmu kakak?”

                Lelaki bernama Juna ini memiringkan kepalanya  ke arah Raras. Menatap Raras, menunggu jawaban.

                Raras merasa tak mempunyai kewajiban untuk menjawab pertanyaan Juna, segera beranjak dari tempatnya duduk dan meninggalkan Juna sendiri.

                “Hey, aku hanya ingin berkenalan denganmu. Aku ingin tahu alasanmu keluar malam waktu itu…” pekik Juna nyaring ikut beranjak dari tempatnya duduk.

                Raras membalikan badan dan membalas ucapan Juna dengan tatapan tak bersahabat.”Aku tak mempunyai kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu. Dan… kau boleh memanggilku sesuka hatimu,” pekik Raras tak kalah nyaring. Masih kesal dengan ucapan Juna kemarin.

Ditinggalkannya lagi Juna dengan rasa penasaran yang diyakini Raras akan semakin membesar mengisi penuh kepala Juna.

 

 

                Setelah mematikan motor bebek Honda 100 cc 4 tak berrwarna putih yang merupakan motor kebanggan ayah, ayah segera turun dari atas motor dan menyerahkan kunci kontaknya kepada Raras.     

                “Langsung pulang, jangan cari penumpang lagi ya nduk,” ujar ayah menggoda Raras. Karena beberapa hari yang lalu setelah mengantar ayah ke jalan Ijen Boulevard untuk menunaikan tugas jaga malam disebuah rumah mewah, tak sengaja Raras bertemu dengan seorang ibu setengah baya yang tengah kebingungan mencari ojek. Tanpa berpikir panjang ditawarinya ibu itu dan diantarkan ke tempat tujuannya. Sampai akhirnya Raras tersesat dan memutuskan untuk singgah di warung kopi di pertigaan jalan dekat alun-alun kota dan disanalah dia bertemu dengan Juna.

                “Baik ayah.” Senyum Raras mengembang demi mendengar permintaan ayah. “Besok pagi biar kujemput ayah ya?” rengek Raras manja.

                Ayah menggeleng pelan. “Tak usah. Kau kan harus mengantar Bu Ratih dan Mbok Sarni ke pasar selepas shubuh. Jangan kecewakan pelangganmu. Kalau kau harus menjemput ayah lagi kau nanti bisa terlambat sekolah. Ayah bisa naik angkot, jangan khawatir.”

                Setelah mencium punggung tangan kanan ayahnya Raras pun berpamitan pulang.

                Seperti itulah aktifitas Raras setiap hari. Setelah kepergian Ibu, Ayah bekerja keras demi  menghidupi dan mencukupi semua kebutuhan Raras dan kedua adiknya. Pagi sampai menjelang maghrib ayah mengais rejeki dengan menjadi seorang tukang ojek. Malam harinya beliau harus menjaga sebuah rumah mewah di jalan Ijen Boulevard. Sebuah kompleks perumahan mewah yang rata-rata dibangun dengan type vila itu adalah salah satu sumber pendapatan ayah Raras.

 Tubuh tegap dan kemampuan bela diri ayah adalah modal utama menjadi penjaga rumah mewah. Sebuah profesi yang sebenarnya sangat beresiko namun apalah daya karena kebutuhan dan kewajiban yang tak bisa dielakan oleh seorang lelaki tua ini.

                Sudah lewat tengah malam dan entah mengapa mata Raras sulit sekali dipejamkan. Hati Raras terasa gundah namun tak bisa dijelaskan penyebabnya. Dibalikannya badan itu ke kanan dan kiri, ditutupnya kepala Raras dengan bantal, meringkuk, tengkurap, terlentang, entah gaya apalagi yang  dicobanya agar dia bisa segera terlelap. Semua sia-sia.

                “Huh….,” dengus Raras kesal dan beranjak dari ranjang kecilnya. Berniat ke dapur untuk mengambil segelas air hangat mungkin bisa sedikit membantu. Namun sesaat setelah keluar dari kamar tiba-tiba Raras mendengar seseorang mengetuk pintu depan.

                Setengah terkejut Raras memberanikan diri mendekat ke arah pintu.

                “Siapa?” tanya Raras dengan nada bergetar.

                “Ini ayah, nduk,” sahut seseorang dari luar.

                Raras segera membuka  pintu depan dan didapatinya ayah bersandar lesu di bahu seorang lelaki yang mengantarnya. Mereka berdua pun Raras persilakan masuk ke dalam rumah.

                “Ayah kenapa?” tanya Raras panik.

                “Ssst!” Ayah memberi isyarat pada Raras agar berbicara dengan nada pelan agar kedua adiknya tidak sampai terbangun.

                Raras melirik seorang lelaki yang mengantarkan ayah malam ini. “Kamu?” tanya Raras tercekat.

                Ayah mempersilakan lelaki itu duduk. “Mas Juna ini yang sudah bebaik hati mau mengantar ayah pulang. Ayah kurang enak badan, tadi muntah-muntah dan hampir saja pingsan kalau tidak ditolong Mas Juna,” jelas ayah memperkenalkan lelaki yang mengantarnya pulang.

                “Hai, perkenalkan nama saya Juna,” ucapnya ramah seraya menyodorkan tangan kanannya, seperti waktu itu.

                Dan setelah perkenalan sebelumnya Raras dengan Juna yang menyisakan duri  akhirnya Raras pun terpaksa menyodorkan tangan kanannya menerima perkenalan Juna. “Saya Raras,” sahut Raras merasa konyol. Apalah daya karena saat ini posisinya tidak menguntungkan.

                Setelah sepersekian detik tangan Raras dan Juna saling bersalaman, akhirnya Juna langsung meminta diri untuk pulang karena waktu yang sudah lewat tengah malam. Ayah dan Raras mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya yang masih menyisakan tanda tanya besar di kepala Raras. Bagaimana bisa Juna bertemu dengan ayah Raras. Mungkinkah?

                “Juna itu cucu dari Nyonya Rahmawati pemilik rumah mewah yang ayah jaga. Dia sudah satu bulan lebih datang dari Jakarta dan tinggal di Malang menemani neneknya. Dan Mas Juna bilang tadi dia satu sekolahan denganmu, Ras.” jelas ayah lagi seoalah bisa merasakan rasa penasaran Raras.

                Raras menyambut kisah ayah dengan sebaris senyuman. Setelah dibuatkan segelas teh hangat untuk ayah, beliau pun Raras persilakan beristirahat di kamar depan bersama kedua adik laki-lakinya. Dan malam ini Raras tak bisa tidur sampai pagi.

 

 

                Rasa penasaran sisa semalam masih menghantui pagi Raras. Bagaimana mungkin ayah bekerja di rumah mewah nenek lelaki menyebalkan itu. Kebetulan? Hanya itu satu-satunya jawaban.

Jam istirahat kali ini Raras, Etik bersama Kaiden dan Mufti berkumpul di lapangan basket. Kaiden dan Mufti adalah teman sekelas Raras yang duduk di bangku depan mereka. Mereka berempat memang sering melakukan hal  seperti ini hanya demi membahas tugas kelompok atau sekedar bercengkrama melepas penat akan beberapa mata pelajaran yang telah mereka lalui. Beberapa pelajar yang hilir mudik di lapangan basket semakin membuat suasana hari ini semakin riuh. Apalagi ada beberapa pelajar yang nekat bermain three on three meski kadang bola basket mereka harus menyambar kepala pelajar lainnya.

                “Hey, kenapa kamu mondar-mandir di depanku sejak tadi ?” sergah Raras pada Kaiden karena sejak 5 menit yang lalu berjalan mondar-mandir di depan Raras. “Bikin pusing…”

                Mufti menarik lengan Kaiden dan memaksanya diam di sampingnya.

                Namun selang beberapa menit kemudian Kaiden mengulangi aksinya. Dan kali ini berdiri tepat di depan Raras. Seraya berkacak pinggang sobat Raras satu ini mencoba menjelaskan sesuatu.

                “Ras, apa kau tak lihat sejak tadi anak baru itu memandangimu dari seberang sana. Mencolok sekali caranya melihatmu, apa kamu gak ngerasa?” cerita Kaiden seraya memberi isyarat dengan ekor matanya pada sosok lelaki tegap di seberang lapangan basket.

Pelan-pelan Raras mendongak melewati bahu Kaiden penasaran. Dan ternyata yang dimaksud Kaiden adalah Juna.

                Tiba-tiba ada semburat jingga perlahan memenuhi kisi-kisi hati Raras. Dan perut Raras pun terasa mulas. Penyakit aneh yang sering muncul kala Raras merasakan sesuatu di hatinya.

                “Siapa sih?” tanya Etik penasaran ikut mendongakan kepalanya ke arah Juna. “Dia? Juna? Ada hubungan apa kamu sama Juna, Ras?” selidik Etik tak terima.

                “Tik.” Kucoba menenangkan Etik. ”Diantara kami tidak ada apa-apa. Jangan khawatir. Sudah yuk kita cabut saja, 5 menit lagi pelajaran dimulai,” ajak Raras kepada mereka sembari melirik arloji G-Shock entah KW berapa yang dibelinya dari hasil ojekan mengantar para ibu-ibu di kampungnya yang berangkat ke pasar setiap hari menjelang shubuh.

                “Yakin diantara kalian tidak ada apa-apa? Coba lihat caranya menatapmu?” sungut Etik dengan nada cemburu.

                “Tak ada apa-apa buat Raras, tapi mungkin ada apa-apa dengan cowok itu.” Tiba-tiba Mufti yang sejak tadi diam mulai ikut mengambil kesimpulan.

                Semburat kekecewaan begitu jelas terlihat di sorot mata Etik. Raras menyadari hal itu. Karena Etik sudah menaruh hati pada Juna  beberapa saat sebelum Raras mengenalnya. Raras mencoba mendekati teman baiknya ini dan dengan berbagai cara mencoba menghiburnya.

“Tenang Tik, Raras itu gak bakalan tertarik sama brondong, jangan khawatir. Raras lebih tertarik pada om om dengan mobil pajero sport atau fortuner…” seloroh Kaiden mencoba mencairkan suasana. Dan tawa mereka pun membahana sehingga menarik perhatian beberapa orang pelajar.

                Akhirnya saat bel tanda berakhirnya jam istirahat kedua berdering mereka berempat pun baru beranjak dari sudut lapangan basket tempat mereka nongkrong. Saat mereaka melintas di depan gazebo dimana Juna dan teman-temannya berada Raras memberanikan diri untuk melirik dengan ekor matanya dan o-oh ternyata benar, mata elang Juna masih tak melepaskan pandangannya dari Raras. Segera dipercepat lagi langkah kaki Raras menyusul ketiga kawannya.

 

 

                Siang yang terik mendadak teduh diselimuti gulungan awan hitam di atas langit kota Malang. Rintik air pun akhirnya jatuh membasahi kota bunga ini. Awalnya hanya tetes tetes kecilnya yang bergantian menembus udara dingin yang mulai menyusup ke setiap persendian. Beberapa pelajar berhambur secepat kilat menuju mobil jemputan mereka atau berlari kearah halte di pertigaan samping sekolah Raras. Bahkan ada yang berjalan santai menuju parkiran untuk mengambil sepeda gunung atau sepeda motor mereka. Dan selang beberapa menit kemudian akhirnya air pun laksana tumpah ruah di seantero kota Malang. Hujan lebat dan angin kencang tiba-tiba menyeruak mengejutkan separuh penduduk kota yang tengah berakhtifitas di luar rumah. Setidaknya Raras dan beberapa pelajar yang saat ini berdiri di lorong sekolah pun harus menunggu hujan reda.

                Etik yang sejak tadi sudah meninggalkan Raras menuju mobil jemputannya, membuat Raras menunggu terpekur seorang diri bersandar di sebuah tiang besar panyangga atap lorong sekolah. Mau tak mau Raras harus menunggu hujan reda, padahal dia sudah berjanji pada adik bungsunya untuk menemaninya mencari hewan peliharaan di pasar hewan Splendid. Dia menginginkan seekor hamster hanya karena melihatnya di salah satu televisi swasta.

                “Hai,” sapa seseorang dari balik tiang tempat Raras bersandar.

                Spontan Raras membalikan tubuhnya mencari sumber suara dan ternyata Juna sudah berdiri tak jauh di belakangnya.

                Mendadak Raras menjadi salah tingkah.

                “Boleh aku menemanimu?” pintanya ramah.

                Raras mencoba untuk menguasai diri sebelum memulai bercengkrama dengannya dan entah mengapa dia menjadi ramah begini. Raras mencium sesuatu yang menurutnya tidak benar. Raras tidak menyukai kejuatan seperti ini.

                “Tak perlu repot, sebentar lagi aku pun akan pulang,” jawab Raras datar mencoba tidak beramah tamah dengan Juna.

                Dilemparnya seulas senyum tipis menanggapi jawaban Raras.

                Raras pun berbalik memunggungi Juna lagi.

                “Baiklah.” Juna mengubah posisinya lebih mendekat dan kini telah berdiri tepat di samping Raras.

                Tiba-tiba hati Raras berdesir. Dingin.

                “Aku akan menemanimu menunggu hujan reda,” ucap Juna memaksakan diri.

                Raras hanya diam tak memprotes ucapan Juna seperti yang biasa dia lakukan. Tiba-tiba perut Raras mulai terasa mulas.

                “Kau tak apa?” tanya Juna menyadari gelagat Raras yang tak bisa diam dengan kedua tangan memegangi perutnya. Wajah Juna tampak khawatir.

                Raras mencoba menguasai diri dan menata hatinya untuk kembali bersikap dingin kepada adik kelas yang belakangan ini sering mengusik ketenangan hatinya.

                “Iya aku tak apa,” sahut Raras seolah tak tertarik.

                Suasana hening sejenak, hanya rintik air hujan yang mereka dengar dan beberapa pelajar yang mulai menatap mereka penuh selidik membuat Raras jengah. Karena sejak pertama kali menginjakan kakinya di sekolah ini, Juna sudah menarik banyak pasang mata milik kaum hawa. Termasuk Etik, sahabatnya.

                “Ummm… kau ada waktu senggang hari minggu besok?” Juna mulai bertanya lagi.

                Sungguh tak bisa kupercaya. “Seberapa keras kepalamu terantuk tembok pagi ini?” tanya Raras sinis masih mencoba menahan rasa mulas di perutnya.

                Sontak Juna terkejut dan tak bisa mencerna dengan benar pertanyaan Raras barusan.

                “Kau tak perlu bersikap sok perhatian padaku. Ingat aku kakak kelasmu dan kau adik kelasku. Jangan coba-coba melewati batas itu. Mengerti ?” sergah Raras ketus dan berlalu dari hadapan Juna.

                Namun Juna mencoba menghentikannya dengan menarik tas ransel Raras.

                “Apa ada aturannya seorang adik kelas untuk berteman dengan kakak kelasnya?” Masih sama mencoba menyudutkanku.

                “Ya, terutama untukmu.” Kutarik paksa tas ranselku. “Jangan ganggu aku!”

                Raras pun nekat menerobos lebatnya air hujan demi menghilangkan rasa mulas di perutnya.

                Juna hanya terdiam tak berekspresi menatap kepergian Raras. Entah apa yang ada dibenaknya saat ini. Apakah dia akan membenci Raras karena keangkuhannya atau mungkin dia akan melampiaskannya pada ayah Raras yang bekerja pada nenek Juna.

 Oh tidak… Tiba-tiba rasa cemas menggerogoti Raras.

 

 

                Hari-hari berikutnya yang didapati Raras di sekolah adalah tatapan mata Juna yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Ini membuat Raras jengah. Ingin rasanya Raras mendatangi Juna dan mengungkapkan rasa hatinya bahwa dia tak menyukai sikapnya itu. Namun ego Raras sebagai seorang perempuan dan kakak kelas menahannya untuk tidak bertindak bodoh.

                Di lain pihak Raras merasa bersalah dan cemas jika hal tersadis yang telah dilakukannya pada Juna akan berpengaruh pada pekerjaan ayah. Meski ayah tak pernah sekalipun mengeluh namun setiap hari Raras harus bermain dengan rasa cemas itu.

                Akhirnya Raras memutuskan malam ini juga dia akan berkunjung kembali ke warung kopi mang Sapri.  Dengan harapan akan bertemu dengan Juna disana dan berniat untuk meminta maaf padanya. Agar hatinya bisa kembali tenang. Sehingga ayah pun tak terancam akan kehilangan pekerjaannya. 

                Baru saja Raras memesan secangkir kopi tubruk dari mang Sapri, sedetik kemudian tampak Juna datang namun kali ini dia tidak mengendarai motor gedenya. Sebuah sedan mewah Mercedez Benz C-Class diparkirnya di depan warung kopi ini.

                Sepertinya dia mengetahui kebedaraan Raras disitu dan langsung duduk disebelahnya. Tampaknya ramah tamah yang disuguhkannya beberapa hari ini hilang tertelan angin malam.

                “Kau keberatan aku duduk di sebelahmu?” tanya Juna dingin.

                Juna masih kesal akan sikap Raras beberapa waktu yang lalu. Raras pun terdiam menunduk menekuri segelas kopi di depannya.

                “Kalau kau keberatan, aku akan duduk sedikit menjauh darimu.” Juna mulai menggeser posisi duduknya.

                Mang Sapri yang melihat tingkah canggung Raras dan Juna hanya diam dan sesekali mencuri pandang.

                Sejurus kemudian Raras mengalihkan pandangannya ke arah Juna. Hanya sesaat karena hatinya mulai berdesir kembali.

                “Aku…aku minta maaf karena bersikap kasar padamu. “Akhirnya kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala Raras bisa meluncur sukses dari bibirnya.

                Juna membelalakan matanya tanda tak percaya dan kini dia kembali duduk mendekati Raras. “Apa aku tak salah dengar?”

                Raras menggeleng pelan. “Tidak. Aku kemari dengan maksud agar bisa bertemu denganmu  dan meminta maaf. Itu saja.”

                Juna melambaikan tangannya ke arah mang Sapri. “Mang, kopi seperti biasanya satu ya,” pintanya sumringah. Senyum itu pun mengembang.

                “Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah sikap dan meminta maaf padaku?” tanya Juna penasaran. Dibenarkannya posisi duduknya kembali dan saat ini wajah tirusnya hanya berada beberapa senti di samping Raras.

                Raras tak kuasa menatapnya dan mencoba beringsut menjauh namun itu tak bisa dilakukannya lagi karena posisi duduk Raras sudah berada di ujung kursi panjang ini.

                “Ya…ummmm,” terbata. “ Aku, aku sadar kalau hal … hal itu tidaklah pantas. Terlalu kasar. Maaf.”

                Mang Sapri mengejutkan mereka berdua dengan segelas kopi pesanan Juna. Dia kembali tersenyum menyaksikan mereka berdua.

                “Ok, aku sudah menyampaikan permintaan maafku. Aku harus pergi, ini sudah terlalu malam.” Raras beranjak pergi setelah membayar secangkir kopi yang telah dihabiskannya kepada Mang Sapri.

                “Tunggu! Aku akan mengantarkanmu,” sergah Juna menyusul Raras.

                “Tidak perlu, aku membawa motor. Aku tadi mengantarkan ayah dan mampir kesini,” tolak Raras selembut mungkin karena mulai saat ini dia harus menjaga sikap kepada cucu dari majikan ayahnya.

                “Ayolah, aku khawatir jika kau harus pulang sendirian malam-malam begini.”

                Raras menahan senyum geli, merasa tak pernah diperhatikan sedemikian. Raras pun menolaknya kembali dengan menggelengkan kepala. “Tidak usah repot-repot. Aku sudah biasa pulang jam segini setelah mengantar ayah.”

                “Tapi aku memaksa,” todongnya keukeh.

                Posisi Raras sudah diatas motor namun tangan kiri Juna menahan stang motornya. Raras terperanjat. “Kumohon lepaskan, aku mau pulang,” rengek Raras bak anak kecil yang memohon sesuatu kepada ibunya.

                “Tidakkah kau lelah selalu bersikap dingin padaku?” tanya Juna mendadak serius.

                “Maaf, aku tak mengerti maksudmu. Bukankah aku sudah meminta maaf padamu dan mencoba untuk bersikap ramah?” celoteh Raras membela diri.

                “Bukan itu maksudku.” Juna melepaskan cengkraman tangannya perlahan dari stang motor Raras dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.

                “Aku tahu perkenalan pertama kita menyisakan suatu goresan luka di hatimu, kau tersinggung dengan ucapanku beberapa waktu yang lalu. Tapi bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Karena pertemuan kita pertama di warung ini malam itu begitu singkat dan….”

                “Cukup , kumohon jangan diteruskan. Kita lalui saja hari-hari kedepan seperti biasanya.” Raras mulai menghidupkan motornya.

                “Tunggu!” sergah Juna lagi. Kini kedua tangannya mencekal kedua stang motor Raras dan dia nekat menghadang Raras dengan berdiri tepat di depan motornya.

                Raras bingung campur kesal akan sikap Juna. Kembali dia menahan amarahnya dan berulang kali disematkan di kepalanya untuk mengingat ayah, pekerjaan ayah, adik-adiknya.

                “Kumohon!” pinta Raras sekali lagi.

                “Kurasa, aku menyukaimu,” ucap Juna sedetik kemudian mengejutkan Raras.

                “Hah?” Mulut Raras menganga lebar dan tanpa sadar Raras  tertawa tertahan. “Ayolah jangan bercanda, kau adik kelasku. Ok, kuanggap ucapanmu barusan adalah sebuah candaan dan sekarang biarkan aku pulang. Ini sudah hampir jam 10 malam, kedua adikku sudah menunggu di rumah.” Raras mencoba menarik stang motor dari cengkraman tangan Juna namun sia-sia. Tangan Juna semakin kuat.

                Mau tak mau Raras memasang standar motor dan turun dari atas jok motor.

                Raras memutuskan untuk menghadapinya dan menatap lekat kedua mata Juna meminta penjelasan.

                Juna pun melepaskan tangannya dari stang motor dan menghampiri Raras.

                “Aku menyukaimu, Ras,” ucap Juna sekali lagi.

                “Lalu apa pengaruhnya untukku? Aku tak ingin bersikap kasar padamu, tapi kau memaksaku,” jawab Raras ketus. “Aku tidak menyukaimu.”

                “Benarkah?” Mata Juna membalas tatapan Raras tajam. “Aku tak percaya…”

                Oh tidak perut Raras pun kembali mulas dan jantungnya mendadak berdetak kencang.

                Selang beberapa detik kemudian Raras mengalihkan tatapan matanya ke arah jalan raya. Malam semakin larut, lampu merkuri  250 watt yang menerangi jalan dekat warung kopi Mang Sapri mendadak mati.

                “Aku harus pergi,” Raras mencoba menghindar.

                “Kau hanya takut mengakui isi hatimu…” tuduh Juna membuat Raras tak terima.

                “Dengar! Aku ingin melalui sisa hari-hari disekolahku dengan benar. Aku harus lulus sekolah. Karena aku tak ingin ayah kecewa. Setiap malam aku tak pernah bisa terlelap tidur memikirkan ayah yang sedang bekerja di rumah mewah nenekmu. Aku selalu berharap agar malam segera berganti pagi tanpa aku harus memejamkan kedua mataku. Kami tidak bisa hidup seperti keluarga normal lainnya yang bisa berkumpul dengan orang tua mereka setiap malam dan menghabiskan waktu bercengkrama di rumah. Hidupku selalu menunggu pagi. Setiap hari,” Raras menghela nafas sesaat. “Kau tahu bagaimana keadaan keluargaku dan aku tak mau kita berdua menyia-nyiakan waktu kita dengan sesuatu yang belum tentu kita miliki. Jadi kumohon jangan ganggu aku dengan hal-hal seperti itu,” cecar Raras menjelaskan.

                Juna terdiam mencoba memahami kalimat Raras. Sepertinya jawaban yang didapatnya dari Raras tak seperti dugaan atau bahkan harapannya. Bujang manis bersorot mata tajam ini masih mematung di depan Raras tanpa pembelaan ataupun sanggahan. Tatapan matanya kosong. Sebuah kenyataan pahit yang harus diterimanya. Perbedaan strata keluarga, ekonomi, tanggung jawab dan prinsip tak semudah itu dipatahkan oleh sebuah rasa di dalam hati seorang anak manusia.

                Langit semakin gelap, tanpa berpamitan akhirnya Raras menstater motornya dan pergi meninggalkan Juna yang masih terdiam, mencoba memahami arti sebuah tanggung jawab seorang anak kepada ayah dan adik-adiknya. Ternyata tanggung jawab bukan hanya milik orang tua untuk anak-anak mereka. Tapi sebaliknya, setiap anak pun mempunyai tanggung jawab kepada orang tua mereka masing-masing. Itulah hidup sesungguhnya.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Karya yang setelah dibaca hingga selesai cukup ‘menipu’ sebab ini bukan romansa ABG seperti kebanyakan. Membaca karya inspirator Wiwit Astianing ini mengingatkan kita tak semua kisah cinta remaja manis dan penuh bualan. Apa yang terjadi Raras dan Juna memberi gambaran terkadang kegetiran bisa dialami oleh gadis yang seharusnya menikmati manisnya pergaulan tetapi himpitan ekonomi ‘memaksa’ Raras bergulat dengan kenyataan hidup.

    Ia bekerja dan membanting tulang demi keluarga dan masa depannya. Sehingga saat Juna menyatakan cinta Raras cukup dewasa memahami cinta terkadang terbentur dengan fakta hidup. Ia memilih fokus pada masa depannya ketimbang mengurusi perihal asmara. Tulisan yang bijak dan nyata. Bacaan segar di tengah hingar bingar tontotan televisi yang hanya menyorot anak muda yang cuma haus akan popularitas dan asmara.