CINTAI AKU APA ADANYA

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 November 2016
CINTAI AKU APA ADANYA

“Bagaimana kita bisa mencari jalan keluar dengan baik jika kau tak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya,” pintaku sedikit memaksa.

                “Karena kau bukan membantuku mencari jalan keluar yang baik tapi kau menambah masalah, Ren,” sahutnya datar melirikku dari sudut matanya.

                Aku terdiam sesaat. Bukan menyerah tapi berpikir jurus apa lagi yang harus aku keluarkan untuk membuat Putra mau mendengarkan kata-kataku.

                “Dasar keras kepala,” selorohku mengejek

                “Itu kulakukan karena aku perhatian padamu…” ucapku lagi mencoba meyakinkan pemuda berwajah tirus dengan bulu-bulu halus yang mulai menghiasi dagu dan rahangnya.

                Putra memicingkan matanya dan berbalik menatapku tajam,” Begitukah? Caramu menunjukan perhatian padaku sungguh  aneh…!”dengus Putra kesal.

                “Dengar ini demi karirmu. Kalau kau memikirkan masa depanmu, kau pasti akan menerima pekerjaan itu. Kau sudah bersaing dengan lebih dari 2500 pelamar, kau sudah melampaui banyak tes dan sekarang kau hanya harus mengatakan iya pada perusahaan itu, kau tak mau?” cecarku memulai perdebatan panas. “Kau….kau yang aneh…”

                Aku pun bersungut-sungut beranjak dari teras belakang rumah Putra. Setelah melalui dapur dan ruang tengah, secepat kilat kusahut tas ranselku yang teronggok di atas sofa modern retro warna merah marun di ruang tamu. Berniat pergi dari rumah itu tiba-tiba Putra menghadangku dan mengurungkan niatku.

                “Selalu seperti ini. Kau selalu melarikan diri dan meninggalkanku terjebak seorang diri dengan perasaan bersalah dari semua kata-katamu yang selalu menyudutkanku,” protes Putra sembari menarik tas ransel di tangan kananku.

                Aku terlanjur kesal dengan sikap Putr dan urat ngeyelku tak terima mencoba melawan. Namun Putra tetap menghadangku dan memberiku isyarat untuk duduk. Tas ransel yang kini berpindah tangan kembali teronggok di sebelahku duduk.

                Putra memberi isyarat lagi padaku untuk diam.

                “Ok, aku akan jelaskan kenapa aku tak menginginkan pekerjaan itu lagi,” ucapnya pelan.

                Serasa terhipnotis aku pun terdiam menekuri wajah Putra menunggu penjelasan.

                “Yang pertama kau sudah tahu bahwa ternyata aku mendapatkan posisi yang tidak aku inginkan yang mengharuskan aku untuk meninggalkan negeri ini. Dan yang kedua kau minta kita untuk break dan mengganti status kita menjadi sahabat? Kau pikir perasaan bisa dirubah-rubah sesuka hati kita? Sesuka hatimu?” Putra begitu fasih menyampaikan uneg-uneg di hatinya dan alasan dia menolak pekerjaan itu.

                Aku masih terdiam karena jika aku memaksa membuka suara, aku pasti akan terkena penalty dan mendapat hukuman tidak masuak akal. Memang begitulah cara kami menyelesaikan beberapa masalah, harus  menguntungkan satu pihak dan menyengsarakan pihak lainnya. Namun seringkali aku selalu mendapat hukuman dan dia pemenangnya. Hanya karena aku selalu mengatakan semua yang ada di dalam kepalaku dan ternyata hal itu selalu membuatku berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

                Putra menatapku nanar seolah mencari kepastian dari diriku. Aku berusaha mengelak dan beringsut menjauh dengan maksud agar bisa melarikan diri darinya. Namun dia menyadari hal itu.

                “Sekarang giliranmu!” todong Putra mengejutkanku.

                “Jadi sekarang kau ingin mendengarkan penjelasanku?” memperjelas kembali.

                Putra mengangguk patuh.”Iya.”

                Awan hitam mulai berarak di langit sore itu seolah mengetahui suasana hatiku. Hati yang harus kupaksa patuh pada keabsahan logika dan keyakinan atas sebuah keraguan yang tak pernah terucap namun tergores jelas di dasar kalbuku.

                “Kuharap kau mau menerima pekerjaan itu….”

                “Bukan bagian itu, bagian dimana kau menginginkan kita break saat aku membanting tulang di negeri orang, yang kau bilang untuk masa depanku  tadi,” potong Putra cepat.

                Mulutku membentuk huruf ‘O’ demi mendapati kata-kata Putra beberapa detik yang lalu. Sungguh pedas, sepedas saos kecap kesukaanku. Huh….

                “OK. Agar kita tidak saling menyakiti karena curiga atau ragu satu sama lain lebih baik kita break dan mengganti status kita menjadi sahabat untuk sementara waktu. Karena saat kita LDR sudah pasti akan timbul rasa ingin tahu yang bisa beralih ke rasa curiga dan akhirnya timbul pertengkaran. Karena jarak yang memisahkan kita membuat kita merasa jauh dan dengan segala cara mencoba untuk mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa kau adalah milikku. Dan sudah pasti cara yang salah pun akan kita lakukan, saling curiga dan saling kekang. Kau harus berkonsetrasi dengan pekerjaanmu disana, aku pun demikian. Dan kita sama-sama tahu bahwa kita selalu berdebat dalam banyak hal, jika ditambah satu lagi bisa tambah runyam nanti hubungan kita. Dan aku tak mau kita saling menyakiti hanya karena sebuah prasangka. Menjadi sahabat toh bukan berarti kita akan putus hubungan, kita akan tetap berhubungan. Mencintai apa adanya meski hanya sebagai sahabat bukanlah hal yang buruk,” jelasku berteori. “Kita masih bisa menanyakan kabar satu sama lain, bercerita, curhat…”

                “Cukup! Teorimu hanya sepihak. Karena aku tidak demikian. Aku selalu percaya padamu. Dan aku kira kau pun sebaliknya. Ternyata aku salah,” dengus Putra kesal dan beranjak dari hadapan ku.

                “Kau mau kemana?” tanyaku menyadari misiku kali ini gagal total. “Hei, siapa yang mengantar aku pulang?” tanyaku lagi.

                “Mang ujang,” pekik Putra kencang. “Aku masih kesal padamu.”

                “Hah? Sungguh tak bisa dipercaya.” Setengah hati aku pun beranjak pergi .

                Di teras depan tampak Bunda Dewi – Ibu Putra tengah berkebun. Kuhampiri beliau dan kusampaikan bahwa aku belum berhasil membujuk putranya. Setengah kecewa Bunda mengucap terima kasih padaku karena sudah mencoba membujuk Putra. Hanya saja bagian aku berniat memutuskan hubungan dengan Putra tak kusampaikan pada beliau. Karen kutahu bahwa bagian itulah yang membuat Putra semakin enggan menerima tawaran pekeraan itu.

                Akhirnya kulangkahkan kakiku berat meninggalkan rumah Putra.

                “Aahh, kenapa susah sekali…..teryata meminta putus secara terselubung tak semudah yang aku bayangkan,” gumamku lirih di sela-sela langkahku menuju halte yang tak jauh dari rumah Putra. Aku memutuskan untuk jalan menuju halte dan berniat pulang menggunakan kendaraan umum. Karena aku pun kesal padanya….

 

 

                Malam itu aku sibuk memikirkan semua hal yang saat ini menjejali kepalaku. Kutatap lepas langit malam. Sesekali kubidik bintang nan terang dengan bolar mataku, kutebak warna indahnya yang hanya akan terlihat jelas bila kugunakan teropong bintang bosscha. Namun malam ini aku hanya bisa menebak dan berimajinasi atas segala keindahan di atas sana. Dan aku yakin bahwa Sang Maha Indah tengah mempersiapkan skenario terindahnya untuk kefanaanku.

                Sesekali terdengar bunyi burung hantu peliharaan kakakku, Mas Ghazi. Burung hantu yang didapatnya di kebun kopi milik keluarga kami. Burung hantu jenis barn owl atau dikenal juga dengan nama Tyto Alba. Bulu wajahnya yang putih dengan mata tajam menghujam mangsanya dan ukuran tubuh yang besar dari pada jenis burung hantu lainnya membuatnya tampak begitu gagah, seperti mas Ghazi….hehe. Dia kakak angkatku.

                “Ren!” panggil ibu mengejutkanku.

                Segera kumenoleh ke sumber suara dan kudapati wanita setengah baya yang telah begitu baik merawatku dengan penuh kasih sepeninggal ibu kandungku, seorang janda muda yang kala itu menyewa sepetak kamar pada kontrakan beliau. “Iya, Bu…,” sahutku santun pada beliau yang sejak 12 tahun lalu kupanggil ibu.

                “Kau sudah makan malam?” tanya ibu lembut sesekali terdengar batuk beliau yang akhir-akhir ini semakin sering kudengar.

                “Sudah, ibu sayang,” jawabku penuh kasih sayang dan kupeluk ibu manja.

                Ibu tersenyum dan membalas pelukanku. Aku semakin dekat dengan ibu sejak kepergian ayah angkatku. Sudah sejak dua tahun yang lalu beliau pergi meninggalkan kami. Karena serangan jantung pada saat beliau mendengar berita adik bungsunya  mengalami kecelakaan, telah merenggut nyawa beliau.

                “Mas mu sudah pulang?” tanya Ibu lagi.

                Aku menggeleng pelan.”Belum, Bu. Mungkin Mas masih terjebak macet. Biasanya kan Mas pulang jam 9 malam .”

                Ibu terbatuk lagi, dan kali ini batuk ibu sungguh memprihatinkan. Segera kuambilkan air hangat dan kuberikan pada ibu untuk beliau minum. Namun ibu tampak tenang. Meski sudah berkali-kali aku ajak ibu untuk berobat ke dokter namun ibu selalu menolak. Beliau hanya minta dibuatkan air jahe hangat untuk menghangatkan tenggorokan beliau. Dan berulang kali pula ibu selalu berkata,”Ini hanya batuk biasa, besok pasti sudah sembuh….”

                “Ren, ibu boleh minta tolong?” pinta ibu seolah mengiba.

                Hatiku trenyuh, tak biasanya nada bicara ibu seperti ini.

                “Tentu boleh ibu, kok ibu ngomong gitu sih,” ucapku masih bermanja.

                “Ibu minta tolong…” Ibu berhenti berucap untuk sesaat, beliau nampak menengadah menatap langit. Saat ini kami berada di teras depan menuggu kedatangan Mas Ghazi seperti biasanya.

                Kutatap ibu dan penasaran dengan kalimatnya yang menggantung.

                Sejurus kemudian ibu menatapku lembut dan mengusap rambutku.

                “Jika ibu pergi nanti, tolong jaga Mas mu.”          

                Seolah tersengat arus litrik yang biasa kualami saat aku salah menancapkan stop kontak charger HP ku, aku menatap ibu tajam meminta penjelasan. “Ibu ngomong apa sih?” sahutku mengalihkan topik pembicaraan.

                “Ibu tidak hidup selamanya di dunia ini, nak. Suatu saat ibu pasti akan menghadap Yang Maha Kuasa seperti ayahmu. Ibu mengkhawatirkan Mas mu yang sampai saat ini masih belum berumah tangga. Bahkan dia tak pernah mengenalkan seorang wanita pun kepada Ibu. Jika Ibu tanya dia selalu menjawab nanti pasti akan dikenalkan kalau saatnya suidah tiba,” cerita ibu gundah.

                Aku masih terdiam mencoba mencerna kalimat ibu. Karena aku dan Mas Ghazi memang tidak terlalu dekat, dia begitu pendiam. Sejak pertama kali kulangkahkan kakiku dan masuk kedalam keluarga ini Mas Ghazi jarang mengajakku berbicara. Sesekali hanya saat kami berempat berkumpul dia biasanya membuat lelucon yang membuat kami semua tertawa. Kala itu aku masih kelas 6 SD dan Mas Ghazi kelas 1 SMU. Dan sejak aku masuk bangku SMU Mas Ghazi seolah semakin menjaga jarak denganku. Padahal aku begitu mendambakan sosok seorang kakak yang tak pernah aku miliki selama ini.

                “Ren!” panggil ibu lagi.

                “Mau kah kau menjaga Mas mu demi ibu?”

                Bibirku terkatup beku tak tahu harus berkata apa. Karena bagiku permintaan ibu mengandung makna tersembunyi.

                Pernah suatu kali ibu menanyakan kepadaku apakah Mas Ghazi itu tampan? Tentu saja aku jawab iya, jawaban seorang adik untuk kakaknya. Namun ibu semakin membuatku bingung kala beliau berkata bahwa Mas Ghazi sepertinya menyukaiku. Aku pun mencoba menjelaskan pada ibu bahwa Mas Ghazi adalah kakakku, dan aku adiknya, mana boleh kakak suka pada adiknya. Dan ibu mematahkan teoriku dengan fakta bahwa aku bukanlah adik kandung Mas Ghazi.

                “Ibu tahu bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan Putra.” Tiba-tiba ibu mengingatkanku pada teman debatku.

                Aku pun menunduk pasrah.

                “Setidaknya kau mau mencoba untuk melihat diri Mas mu dari sisi berbeda. Dari sisi seorang lelaki bukan seorang kakak.”

                “Din…din!” suara klakson mobil Mas Ghazi menyadarkan ibu dan aku bahwa orang yang tengah kami bicarakan telah tiba.

                Hal inilah yang selalu menghantuiku. Membuat hubunganku dengan Putra kadang terasa semu. Dan kuambil keputusan untuk segera mengakhiri hubunganku dengan Putra demi Ibu. Pemuda cuek yang membuatku terpesona dengan semua debatnya. Dia selalu menyanggah semua kalimatku di setiap percakapan ringan maupun berat dengannya. Seolah selalu ada celah untuk mementahkan semua argumentasiku. Aku pun sungguh tak percaya bagaimana bisa aku selalu patuh pada sorot matanya yang kadang teduh namun tak jarang pula begitu tajam menghujam logikaku hingga aku kehabisan kata-kata.

                Aku sadar benar bahwa inilah saatnya aku membalas semua jasa keluarga yang telah menyelamatkanku dari keterlantaran seorang anak yatim piatu. Meski harus kukorbankan perasaanku akan seseorang yang telah terlebih dahulu memiliki hatiku. Meski tak secara langsung namun baik ayah, ibu dan kakak angkatku memang telah lama meberiku isyarat akan hal ini.

 

 

                Siang ini begitu terik. Kulangkahkan kakiku memasuki sebuah toko buku langgananku. Adem. Begitulah yang kurasakan saat memasuki ruangan ber AC entah berapa PK.  Didalam sudah nampak riuh dengan pengunjung karena hari ini adalah hari terakhir bazar buku. Tanpa menunggu lama lagi langsung aku serbu rak buku favoritku. Komik manga jepang. Sepertinya usia bukanlah patokan bagi seseorang untuk meninjau kembali kegemarannya…hehe.

                Berulang kali kubolak balik komik manga dari satu rak ke rak lainnya. Kucari serial One Peace dan Detective Conan terbaru yang belum aku koleksi, namun belum aku temukan. Rata-rata aku sudah memiliki semua komik dalam 3 rak buku yang sudah kuobrak abrik. Bukan obrak abrik dalam arti sebenarnya, bisa-bisa diusir seccara tidak hormat aku dari toko buku itu jika hal tersebut benar-benar kulakukan.

                “Hai!” sapa seorang lelaki dari balik punggungku.

                Sontak kubalikkan badanku mencari pemilik suara yang sepertinya ku kenal.

                Lelaki berpenampilan  sederhana dengan kaos oblong putih dan celana jeans belel serta sepatu converse nya yang tak pernah luput dari pandanganku tersenyum lebar menampakan deretan gigi putih dan gingsulnya.

                Kubalikan lagi badanku membelakanginya begitu kutahu siapa dia dan kembali mengobrak-abrik rak buku di hadapanku.

                “Marah?” todongnya pendek.

                Kudiamkan dia beberapa menit sampai akhirnya kujawab pertanyaannya jengah.”Enggak.”

                Berlagak sok perhatian dibantunya aku mencari komik kesukaannku. Namun segera kutinggalkan dia mematung seorang diri memperhatikan kepergianku.

                “Rena,” keluhnya menyusulku.

                Kuhentikan langkah kakiku di depan kasir. Meski seri terbaru One Peace dan Detective Conan tak kutemukan akhirnya kujatuhkan pilihan pada Attack on Titan sebuah karya Hajime Isayama yang menceritakan tentang suatu zaman dimana umat manusia hampir punah karena serangan makhluk bernama Titan.

                Putra menghampiriku dan berdiri tepat disampingku tak dihiraukan mata selidik seorang gadis muda yang mengantri dibelakangku.

                “Aku terima pekerjaan itu, lusa aku harus berangkat dan aku memerlukan bantuanmu untuk mempersiapkan kebutuhanku disana. Well sebenarnya bunda yang memaksaku untuk menerima pekerjaan itu dan beliau juga memaksamu untuk membantuku…” selorohnya mulai menarik perhatianku.

                Kutatap wajah Putra bahagia karena akhirnya dia mau menerima pekerjaan itu dan kusimpan rasa sedihku karena harus berpisah dengannya, entah untuk berapa lama.

                “OK, tunggu disini, aku tak akan lama,” pintaku padanya untuk menungguku karena kasir di depanku sudah memberiku tanda untuk maju dan melaksanakan kewajibanku, membayar komik yang sudah aku pilih tadi.

                Putra tersenyum puas dia merasa bisa mencairkan suasana hatiku yang gundah gulana.

                Setelah menunaikan kewajibanku, Putra mengajakku menghabiskan waktu di sebuah kedai es krim langganan kami.

                “Kau mahluk Tuhan paling unik yang pernah aku temui.” Putra memulai percakapan sembari menyendok es krim banana split favoritnya.

                “Itu pujian atau ledekan?” sergahku penasaran.

                Putra memicingkan mata kanannya seraya memasukan es krim terakhir ke mulutnya. Dia memang selalu begitu tak bisa menikmati makanan dengan tenang. Entah bagaimana caranya makanan di hadapannya selalu diembatnya dengan cepat, seolah dia tak pernah mengunyahnya.

                “Jika ku katakana itu ungkapan dari lubuk hatiku terdalam kau pun pasti tak kan percaya,” gombalnya menggoda.

                “So, kapan kau berangkat? Lusa?” pertanyaan yang kujawab sendiri.

                Putra mengangguk pelan. “Bukankah itu yang kau inginkan? Kau ingin segera mendeportasiku ke Negara lain?”

                “Iya, aku sudah tak sabar,” sahutku memanaskan suasana.

                “Tapi denga satu syarat , nona,”timpal Putra cepat.”Kita LDR, no break up or what ever…”

                Aku terdiam. Berusaha menguasai diri dan  teringat kembali pada sebongkah kisah lain di rumah. Putra menyadari sikapku.

                “Atau kau sudah punya rencana lain?” tuduhnya menyudutkanku.

                Aku gelagapan.”Ummm…enggak, rencana apa? Maksud kamu?” terbata.

                Putra memiringkan kepalanya menatapku lekat.”Katakan!”

                “Sudah kubilang aku tak bisa LDR, aku pasti akan berpikir apa saja yang kau lakukan disana. Aku pasti terus curiga dan menyelidikimu….” Mencoba mencari alasan menyelamatkan diri.

                “Aku suka diselidiki, aku suka dicurigai, so what?” masih tak mau mengalah.

                “Bagaimana jika aku khilaf dan ternyata menerima cinta lelaki lain disini? Karena aku lelah mencurigaimu terus,” senyumku sinis tak mau kalah.

                Putra mendengus kesal. Dia kalah. Hore…

                “Yes! Aku menang.” Senyumku pun mengembang bebas.

                “Habiskan es krim mu. Kita harus segera pulang, aku harus siap-siap,” ujar Putra kesal karena  menanggung tanda tanya besar di kepalanya atas kalimatku . Aku tahu dia pasti merasakannya. Dia hanya berusaha menutupinya dengan kepercayaan 1000 persennya padaku.

 

 

                Hari itu pun tiba. Aku harus melepasnya pergi ke negeri orang yaitu Republik Federal Jerman atau bahasa kerennya Bundesrepublik Deutschland. Tepatnya di kota Munchen, Putra menerima pekerjaan sebagai teknisi di sebuah perusahaan otomotif asal Jerman yang memproduksi  truck, bus, mesin diesel dan turbocharger yaitu MAN AG.

                “Jaga dirimu baik-baik,” ucapnya lirih padaku. Bukankah aku yang seharusnya mengucapkan kata-kata itu?

                Aku mengangguk patuh tanpa sedikitpun membantahnya.

                Bunda Dewi merangkulku. Kami melepas kepergian seorang terkasih untuk mengejar mimpinya menciptakan product dan design otomotif mutakhir yang kerap diceritakannya di sela-sela debat berkepanjangan kami.

                Bunda tak kuasa menahan air matanya dan menangis di pundakku. Bagaimana tidak, beliau harus merelakan putra bungsu satu-satunya pergi jauh meninggalkannya, karena keempat kakak perempuan Putra yang sudah berumah tangga tinggal dengan keluarga mereka masing-masing.

                Akhirnya kini aku bisa fokus memikirkan ibuku dan Mas Ghazi.

 

                Acara televisi  hari ini terasa sangat membosankan dan aku semakin merasa kesepian karena menjadi lebih sering berada di rumah. Sejak Putra bekerja di Jerman, aku nyaris  tak pernah keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan di mall atau mencari buku di toko buku langgananku. Apalagi akhir-akhir ini ibu semakin sering sakit-sakitan. Sudah beberapa kali beliau keluar masuk rumah sakit. Aku sungguh kasihan melihat beliau. Tubuhnya yang sudah renta harus beberapa kali bertemu dengan jarum infus. Meski ibu nampak tegar, aku tahu bahwa beliau sudah lelah. Ibu hanya tak ingin membuat aku dan Mas Ghazi merasa patah semangat dan sedih memikirkan beliau.

                Dan sampai pada akhirnya, malam  ini kami harus berada di rumah sakit. Ibu masuk ruang ICU  karena pembuluh darah di kepala ibu pecah dan harus dirawat secara intensif di stroke centre. Hatiku hancur saat dokter bedah syaraf menyatakan bahwa ibu harus dioperasi. Mas Ghazi seperti biasa hanya diam tak berekspresi. Dia selalu menyimpan semua yang dirasakannya seorang diri. Aku pun ikut diam menghibur diriku sendiri.

                Bunda Dewi yang mengetahui keadaan ibu pun langsung datang ke rumah sakit diantarkan oleh Mbak Cherry kakak ke-3 Putra. Beliau menyampaikan bela sungkawanya dan mencoba menghiburku. Namun kularang Bunda mengabarkan hal ini kepada Putra. Dia harus tetap berkonsentrasi pada pekerjaan dan cita-citanya di sana. Harus.

                Sampailah waktunya. Ibu harus dioperasi secepatnya. Dan malam itu sesaat sebelum ibu masuk ke ruangan operasi, beliau mengucapkan sebuah kalimat yang akan merubah jalan hidup kami, aku, Putra dan Mas Ghazi.

                Ibu meraih jemari tangan kanannku dan menggenggamnya kuat, seolah tak ingin melepaskannya , seolah aku akan ditelan bumi dan ibu memegang erat tanganku agar aku tak pergi menjauh dari beliau. Oh Ibu….

                “Ren!” panggil Ibu pelan. “Boleh ibu meminta satu hal padamu nak?”

                Kutelan ludahku keluh. Aku bertahan agar genangan air di pelupuk mata tidak tumpah dan membuat semua jadi kacau. “Iya Ibu sayang…”

                Untuk sesaat mata Ibu menyusuri seluruh ruangan,  mencari sesuatu. Dan kembali menatapku. “Ren! Mana bunda Dewi?”

                Bunda Dewi yang berdiri di belakang salah satu perawat yang bertugas mengantar Ibu ke ruang operasi segera mendekat dan berdiri di sampingku.

                “Jeng, saya minta maaf karena harus mengatakan hal ini,” ucap Ibu makin lirih.

                “Sudah Bu, jangan terlalu dipaksa nanti saja ngomongnya.” Kuperhatikan Ibu mengernyitkan dahinya menahan sakit.

                Ibu menggeleng lemah dan melanjutkan ucapannya. “Ren, setelah Ibu pergi nanti tolong jaga Mas mu.” Ibu berhenti sebentar menarik nafas pelan. “Cobalah menganggapnya sebagai seorang lelaki dewasa yang mencintai dan menyayangimu bukan sebagai Mas mu.” Nafas Ibu makin pelan.

                Bunda Dewi tercekat sesaat. Mas Ghazi yang berdiri di ujung ranjang hanya tertunduk diam.

                “Berjanjilah Ren, agar Ibu bisa tenang di alam sana,” pinta Ibu memaksa.

                Tak kuasa, akhirnya pipiku pun basah. “Ibu….,” panggilku tak berdaya.

                “Berjan…,” Ibu terdiam mengambil nafas dalam. “Berjanjilah…”

                Tangan Bunda Dewi menepuk pundakku pelan, kualihkan pandanganku kepada wanita setengah baya yang selalu tersenyum ramah ini dan beliau pun mengangguk pelan member isyarat.

                “Ibu hanya membutuhkan semangat dan tambahan energi untuk menghadapi operasi. Jangan khawatir sayang,” hibur Bunda menyemangatiku.

                Aku pun mengangguk mengiyakan permintaan Ibu. Dan Ibu tersenyum sumringah. Aku tak pernah melihat Ibu tampak bahagia seperti ini sebelumnya. Akhirnya aku bisa berdamai dengan hatiku dan mencoba menenangkan diriku.

                Dua orang perawat yang semenjak tadi menunggu memberi isyarat kepada kami bahwa sudah waktunya mereka harus mengantar Ibu masuk ke dalam ruangan operasi. Kulepas Ibu dengan perasaan gundah. Tampak Mas Ghazi mencium kening dan tangan Ibu sebelum melepas Ibu masuk kedalam ruangan operasi.

                Namun sesaat setelah masuk ke dalam ruangan itu, dokter yang sejak tadi sudah menunggu di dalam ruangan keluar dan menghampiri kami. Raut wajahnya tampak sedih.

                “Mohon maaf, saya belum sempat melakukan operasi dan Tuhan sudah berkehendak lain. Saya ikut berduka, Ibu anda baru saja meninggal dunia,” ucap dokter bedah syaraf itu mengagetkan kami semua.

                Kami pun segera menghambur ke dalam ruangan operasi.

 

 

                Kepergian Ibu membuat kami semua patah hati dan hidup terasa hambar. Selain permintaan terakhir Ibu yang membuat aku berada di sebuah persimpangan antara cinta dan balas budi. Surat wasiat Ibu yang dibacakan setela 100 hari kepergian Ibu meminta kesediaanku untuk menerima pinangan Mas Ghazi. Dan segala impian seribu satu malam ku dengan Putra pun tiba-tiba sirna.

                “Kau tak harus mematuhi semua wasiat Ibu, Ren,” ucap Mas Ghazi di suatu siang.

                Namun ucapannya terasa getir di telingaku. Aku bisa merasakan detak kasih sayang Mas Ghazi dari setiap tatapan matanya sejak beberapa tahun yang lalu. Kasih sayangnya telah berubah dari kasih sayang seorang kakak menjadi kasih sayang seorang lelaki kepada wanita. Ibu pun bisa merasakannya. Namun hingga ibu pergi, tak ada satu katapun pengakuan dari diri Mas Ghazi.                

                “Ren,” panggilnya pelan. “Aku tak sejahat itu hingga harus merusak  mimpi-mimpimu bersama Putra.”

                Aku terperangah demi mendengar kalimat Mas Ghazi. Kutengadahkan kepala menatapnya lekat. “Tapi aku sudah berjanji pada Ibu,” ujarku mengingatkan.

                “Kau pikir Ibu akan bahagia di alam sana melihatmu menderita hidup bersamaku?”

                “Mengapa Mas bicara seperti itu?” sergahku cepat tak terima dengan ucapan Mas Ghazi barusan.

                “Aku tahu kau terikat dengan janjimu pada Ibu, tapi aku tidak. “ Kini Mas Ghazi berdiri di  dekat jendela membelakangiku.

                Saat ini aku tak bisa memberikan banyak argumentasi, antara berpasrah dan membela diri. Di kepalaku selalu bayangan Putra yang berkelebat jika aku mencoba untuk memenuhi janjiku pada Ibu. Namun di lain pihak, rintihan Ibu akan memenuhi seluruh ruang batinku tatkala aku mencoba mendekap raut wajah Putra dalam ingatanku.

                Akhirnya aku berlalu meninggalkan Mas Ghazi dan masuk ke dalam kamarku.

 

 

                Senja kelabu di sebuah penghujung hari, sepuluh tahun yang lalu pada hari dan jam yang sama adalah hari penentuan alur kehidupanku selanjutnya. Tak ada kisah yang harus disesali atau diulang kembali. Semuanya begitu indah bagiku, karena kutahu Sang Maha Pembuat Rencana telah menciptakan yang terbaik bagi setiap makhluknya, termasuk bagiku. Bedanya adalah kini aku berada jauh dari tempat penuh sejarah itu.

                Kuarahkan pandanganku ke dalam café, beberapa pengunjung nampak saling bercengkrama atau bahkan ada yang menikmati secangkir coklat panas seorang diri. Namun suasana cozy dengan sentuhan furniture industrial dan hip interior mampu menyerap pengunjung dari berbagai kalangan. Diiringi alunan musik yang tak terlalu menghentak membuat suasana café begitu nyaman.

                You still like a movie.

                You still sound like a song.

                My God, this reminds me.

                Of when we were young.

                Let me photograph you in this light.

                In case it is the last time

                That we might be exactly like we were

                Before we realized.

                We were sad of getting old……

 

                Alunan suara merdu Adelle mengingatkanku kembali akan masa itu. Masa mudaku. Ahh aku jadi merasa tua.

                Kulirik jam digital di layar HP ku. Ya aku memang tak begitu suka menggunakan aksesoris yang satu itu, jam tangan, gatal sekali rasanya pergelangan tanganku jika aku mengenakannya. Sudah hampir jam setengah Sembilan malam dan matahari sudah hampir tenggelam. Ya seperti inilah musim semi disini matahari akan terbit sekitar pukul setengah enam pagi  dan tenggelam sekitar pukul setengah Sembilan malam, dan harusnya dia sudah sampai di café ini. Kusapu seluruh ruangan dengan pandangan mataku, masih tak nampak juga seseorang yang membuat janji denganku sore ini.

                Kuhembuskan nafas jengah.”Kebiasaan,” dengusku setengah hati.

                Akhirnya kuputuskan beranjak dari kursiku namun tiba-tiba tepukan lembut di pundakku mengurungkan niatku. Kulirik dengan ekor mataku seorang lelaki tegap yang berdiri di depanku dengan senyum tipis dan wajah melasnya meminta maaf.

                “Sorry,” pintanya lirih mem amerkan deretan gigi putihnya. Dan kerlingan manjanya pun membuatku luruh.

                “Aku baru terlambat kira-kira…” liriknya pada jam tangan Timex di pergelangan kanannya. “15 menit dan kau akan pergi meninggalkanku? Hmmm…super,” ledeknya senang.

                Kuanggukan kepalaku pelan. “Waktu sangat beharga bagiku, Tuan,” seraya mengangkat secangkir lichee tea yang tersisa sedikit.

                Lelaki itu kembali tersenyum, menarik kursi dan duduk santai di depanku.

                “Kau belum memesankan coklat panas untukku?” tanyanya cepat sembari menengadah mencari-cari pelayan café. Setelah memberikan isyarat minuman yang dipesannya, karena ini adalah café langganan kami tak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan minuman penghangat tubuh, secangkir coklat belgia yang panas dan nikmat.

                “Kau tak suka coklat dingin kan?” terangku membela diri.

                “Yeah, kau pasti sudah menyiapkan jawaban itu sejak 5 menit yang lalu,” kelakarnya tak mau kalah.

                Kami berdua pun bersama melepas senyum puas.

                “Ayolah, kita harus segera mencari hadiah untuk Kasih, sebelum toko buku itu tutup karena cuaca hari ini sedikit ekstrim. Prakiraan cuaca hari ini menyatakan bahwa suhu udara akan mencapai puncaknya di -2 derajat celcius,” jelasku pada lelaki ini agar segera mengakhiri kisahnya dengan coklat panas yang masih dinikmatinya.

                Keningnya berkerut menolak ajakanku. Tak dihiraukannya ajakanku dan tetap menghabiskan coklat panas itu sampai tetes terakhir.

                “Kau jangan khawatir, aku sudah memesan buku itu dan meminta pemilik toko untuk langsung membungkusnya dan mengantarkannya ke rumah kita.’

                “Tapi kita kan belum memilih buku yang mana?” protesku cemas.

                “Kau sudah memilihnya kemarin namun karena sifat dasar wanita yang selalu memiliki banyak pilihan karena alasan yang tak jelas, akhirnya aku memutuskan untuk memilih yang kau pilih pertama,” celoteh lelaki itu semakin menambah kecemasanku.

                “Buku apa yang kau pilih?” tanyaku penasaran.

                “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia karya Koentjaraningrat,” timpalnya tegas.

                Tak kuasa kutahan rasa terkejutku, kubuka mulutku lebar tanda tak percaya.” Hello, dia masih berumur 8 tahun.”

                “So what? Aku mau dia mengenal  akar budayanya sejak dini sebelum dia mempelajari sejarah Negara lain di bangku sekolah.” Disunggingnya senyum penuh kemenangan. “Kasih toh seorang anak berusia 8 tahun yang berpikiran dewasa, tidak seperti seseorang yang aku kenal, orang dewasa yang hobi membaca komik manga jepang, komik anak-anak….”

                Kuputar bola mataku masih tak percaya.Dimana ada kesempatan dia selalu akan mendebat atau  menyindirku. Kasih adalah putri semata wayang kami, dia kulahirkan di Negara ini 8 tahun yang lalu. Namun ayah tercintanya ngotot memberi nama anaknya tipikal nama anak Indonesia. Kasih Sayang.

                Tiba-tiba suara HP ku berdering pelan. Kuraih smartphone kesayanganku itu dan kubaca sebuah sms yang membuatku tersenyum sendiri.

                “Kau terseyum tanpa sebab, jelaskan!” perintahnya ingin tahu.

                Kubaca isi sms itu,” Besok pesawatku akan mendarat di Bandar Udara Munchen pada pukul 10 pagi, tolong jemput aku dan jangan lupa ajak Kasih bersamamu. Aku kangen keponakan cantikku itu.” Kukernyitkan dahiku memeperjelas.

                Lelaki di depanku terdiam tak berekspresi.

                “Setidaknya Kasih akan sangat senang karena Pak Dhe nya datang jauh-jauh mengunjunginya dari Indonesia dan dia bisa dengan bebas membahas isi buku yang kau belikan tadi dengannya.” Kukedipkan sebelah kanan mataku dan menahan geli demi melihatnya masih diam tak berekspresi.

                Untuk sesaat kubiarkan dia terdiam dengan pikirannya.

                Setengah berbisik kuucapkan sebuah kalimat dan mencondongkan tubuhku mendekat ke arah meja. “Cintai aku apa adanya, meskipun  cinta seorang kakak pada adiknya. Itu kata-kata ajaibku buat Mas Ghazi yang membuatku menikahimu, Liebling.”

                Dan wajah layu di depanku mendadak sumringah.

                “Ya, aku harusnya mengucap terima kasih padanya karena dia tak mengikatmu dengan janjimu pada Ibu,” ucapnya serius.

                “Kuyakin Ibu tak bermaksud demikian, beliau hanya tak ingin kami anak-anaknya menjadi terpisah dan menjauh jika kami berkeluarga kelak. Beliau tahu sifat Mas Ghazi yang pendiam tak akan berani mendekat padaku jika aku berkeluarga. Namun beruntungnya kita karena Kasih telah membuat Mas Ghazi mendekat pada kita,” celotehku mendadak ikut serius.

                Putra pun beranjak dan menyodorkan tangannya ke arahku, kusambut tangan kekarnya dan kami pun berlalu meninggalkan Aroma Kaffeebar. Digenggamnya jari-jari tanganku dengan tangan kirinya dan ditepuknya lembut punggung tanganku. Sesekali ekor matanya melirikku memastikan bahwa aku masih disisinya, berjalan beriringan mengarungi keindahan dunia dan selalu bersama dalam setiap skenario hidup yang telah dipersiapkan khusus oleh Sang Maha Pencinta bagi kita hulubalang-Nya. Karena setiap kita adalah kepala laskar atau pemimpin pasukan bagi diri sendiri dan semua yang kita sayangi.

  • view 490