KISAH MAK COMBLANG

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 September 2016
KISAH MAK COMBLANG

Tania menatap nanar pemuda di depannya. Tak kuasa namun terpaksa. Wajah melasnya mengisyaratkan beribu tanya, meski hanya jawaban semu yang bisa ditelannya.

"Maafkan aku, Nia," ucap Dipta pelan. Semburat sesal menggelora di seluruh raut mukanya.

Tania tertunduk lesu. "Meski hanya satu kesempatan ?" pintanya lagi.

"Maafkan aku." Pradipta mengakhiri ucapannya dengan tepukan pelan di punggung tangan kanan Tania dan berlalu pergi meninggalkannya seorang diri.

Tania tak kuasa menahan diri dan beranjak menyusul Pradipta. Namun langkah kaki Dipta begitu cepat hingga jarak yang dibuatnya dengan Tania begitu jauh dan ia tak mampu menyusulnya. Tania hanya bisa melihat punggung tegap Pradipta dari kejauhan diantara rombongan pejalan kaki di alun-alun kota.

 

"Kok bengong?" kejut Filana pelan.

Tania menoleh sesaat ke arah kakaknya dan melemparkan senyum termanisnya. Meski usia mereka hanya terpaut 1 tahun 3 bulan namun sikap Filana selalu dewasa terhadap adik semata wayangnya ini.

"Gimana? Sudah ketemu Dipta?" Filana menanyakan hal yang saat ini berusaha ia hindari.

Tania masih diam berusaha mencari jawaban yang tepat agar kakaknya bisa mengerti, mau mendengarkan keluh kesahnya dan tak menggurui seperti biasanya.

"Nia?" panggil Filana lagi.

"Ya, tadi aku sudah berjumpa dengan Dipta." Nia berusaha tenang. "Tapi Dipta masih tak mau mengabulkan permintaanku, kak..."

Filana beringsut mendekati adik semata wayangnya ini. Dibelainya rambut cepak adiknya lembut.

"Dipta memang teman baik kamu, tapi bukan berarti kamu punya hak mengatur apa yang menurutmu baik buat dia atau tidak," nasehat Filana mencoba membantu.

"Tapi Diana anaknya baik, Kak. Dia pintar, ramah, cantik, suka sekali menolong dan dia gak banyak ulah." cerita Tania antusias.

Filana menelan ludah getir demi mendengar celoteh adiknya. "Hmmmm....mak comblang gak boleh berpihak sepihak aja. Kamu harus melakukan survei lebih mendalam sebelum mengambil kesimpulan besar seperti itu."

"Tapi banyak cewek lain yang ngincer Dipta, Kak. Dan yang paling baik itu cuma Diana. Nanti kalau kakak ketemu dia pasti kakak juga akan berkesimpulan sama." Tania masih bersikukuh dengan pendapatnya.

"Sudah ah, mak comblang gak boleh sewot kalau misinya gak sukses. Kakak mau keluar sebentar ada acara di rumah teman. Nanti kalau ibu datang tolong kasih tahu ibu ya," ujar Filana bergegas. "Dah, adek...."

Tania menatap kepergian kakaknya masih dengan perasaan galau. Tiba-tiba muncul niat untuk menelfon Dipta dan meminta maaf namun ego super ceweknya dengan pongah menghalangi segala logika kebenaran.

 

 

Hari ini begitu cerah, awan biru berarak diangkasa, matahari bersinar terang namun tak terasa terik dan menyengat. Pun semilir angin mengalun mengikuti alur keindahan pagi ini.

Tania melangkahkan kaki santai di lorong sekolahnya. Entah mengapa beban berat dipundaknya sudah tak terasa pagi ini. Semua galau dan rasa bersalah tak lagi digubrisnya. Hari ini dia hanya ingin kembali menjalani rutinitas tanpa dibumbui rasa apapun. Bebas. Hanya bebas yang ingin dia rasakan. Ya.....bebas.

"Pagi," sapa Dipta tiba-tiba dari samping kanan Tania.

Entah darimana datangnya bujang manis incaran cewek-cewek satu sekolahan ini serta merta menyapa Tania.

Tania melonjak kaget, semua keindahan pagi yang dibayangkannya buyar seketika.

"Tumben pagi-pagi sudah setor muka?" goda Dipta mencoba mencairkan suasana. Karena sejak kejadian beberapa hari yang lalu hubungan pertemanannya dengan Tania sedikit terganggu.

"Eh...aku ada janji dengan Kintan ada proyek yang harus segera kami selesaikan," timpal Tania gugup.

"Owh...Ok," sahut Dipta datar. "Kau sudah sarapan? Ke kantin yuk, aku yang traktir."

Tania berusaha menghindar. "Ummm...aku gak bisa, sorry Dip, aku buru-buru." Dia tak mau sampai Diana melihatnya bersama Dipta dan mengira bahwa dia tengah melakukan misi mak comblang. Padahal misi itu telah gagal sejak Dipta menolaknya.

"Tunggu!" sergah Dipta cepat dan mendekat. "Kau masih marah padaku?"

"Tidak! Untuk apa? Masalah kita sudah kelar sore itu, aku tak akan memaksakan kehendakku lagi padamu." Tania mencoba menjelaskan sebuah kebohongan kepada Dipta. Dia sudah berjanji dalam hati untuk melupakan semuanya sejak pagi ini namun ternyata sia-sia. Kekecewaan dan kemarahan pada Pradipta masih tersisa dihatinya.

"Ok aku cabut dulu, sorry aku sudah ditunggu," ucap Tania berlalu cepat dari hadapan Dipta.

Dipta diam tak bergeming, dia masih bisa merasakan kemarahan Tania. Meski Tania sekuat tenaga mencoba menutupinya, namun getar suara saat dia berbicara sangat jelas terbaca bahwa Nia masih marah pada Dipta.

Tania masih melangkahkan kakinya secepat yang dia bisa. Sesegera mungkin dia menuju aula untuk bertemu dengan Kintan. Namun Tania tak bisa menemukan Kintan di dalam aula. Setengah mengutuk diri sendiri Tania melanjutkan langkahnya menuju ruang seni karena Kintan memang aktif mengikuti berbagai kegiatan kesenian di sekolahan. Dan lagi-lagi Kintan tak ada disana.

"Huh, kemana anak satu ini," umpat Tania seraya merogoh tas ranselnya mencari HP miliknya.

"Hai Nia!" panggil seorang wanita dari belakang dan ternyata Diana.

Tanpa menoleh Tania sudah hafal suara siapakah itu. " Diana, " gumamnya lirih sambil menggigit bibir bawahnya yang tipis.

"Mau kemana? Buru-buru amat," sapa Diana lebih terasa seperti sebuah perintah agar aku diam di tempat dan tak boleh beranjak jika belum ada perintah darinya.

Dengan terpaksa Tania membalikan badanya menyongsong Diana yang berada beberapa langkah dibelakangnya.

"Aku tahu dimana Kintan, yuk aku antar, " tawar Diana modus.

Setengah hati Tania menekuri lorong kampus kembali bersama Diana. Beberapa kalimat sudah ia sematkan di ujung bibirnya jika Diana mulai menanyakan misi penting yang dihibahkan pada Tania. Namun kemudian Kintan muncul entah darimana dan menyerbu Diana dan Tania. Kontan mereka berdua pun melonjak kaget.

"Nia, aku mau minta tolong sama kamu, " todong Kintan serta merta.

Tania masih bingung. "Bukankah kita janjian buat ngomongin proyek seni kita? "

Kintan menggeleng cepat dan menarik lengan Tania mendekat. Sementara Diana hanya diam dengan ekspresi kecut yang nampak jelas di wajahnya.

Diantara kebingungannya Tania meminta penjelasan dengan isyarat matanya.

"Nia............Umm.....aku......umm, " terbata Kintan mulai menjelaskan

Suasana sekolah makin ramai dan 15 menit lagi bel masuk akan berdering nyaring.

"Aku mau kau jadi mak comblangku juga. Aku dan Diana akan bersaing secara sehat. Aku mau kau sampaikan pada Dipta kalau aku juga suka sama dia, please" Kalimat terakhir Kintan membuat seluruh persendian Tania lemas

"Tapi", sahut Tania dengan pandangan beralih ke arah Diana. Dan Diana tertunduk lesu.

 

Tania bersungut-sungut masuk ke dalam rumah, dilemparkannya tas ransel Season kebanggaannya ke atas kursi beanbag yang teronggok di sudut ruang tengah.

Saat kesadaran masih di ambang batas kekisruhan hatinya, tiba-tiba pintu depan diketuk oleh seseorang.

Hari ini semua orang sedang berkegiatan di luar rumah dan akan pulang terlambat. Hanya Tania yang pulang sesuai jadwal anak sekolahan tanpa harus mampir sana-sini. Dan dengan malas Tania menarik tubuhnya ke arah pintu depan. Ternyata Pradipta yang tengah bertamu.

"Sorry Nia, aku gak bermaksud mengganggu, " ujar Dipta menyadari raut muka Tania yang kurang bersahabat. Apalagi akhir-akhir ini ada sedikit ketidaknyamanan antara mereka berdua. Ya karena Tania mencoba menyampaikan cinta Diana pada Dipta dan sukses ditolak Dipta dengan alasan yang berbelit-belit. Setidaknya itulah yang dipikirkan Tania.

 

Tania masih menekuri kakinya tertunduk lesu, " Ada apa Dip? " tanyanya datar.

"Aku hanya ingin menitipkan sesuatu padamu. " Dipta menyodorkan sepucuk surat dengan amlop berwarna biru langit warna kesukaan Tania.

Tania tertegun sejenak dan menerima surat itu dengan hati berdebar dan tanda tanya besar bergelayut di ujung bibirnya. "Surat? "

Dipta mengangguk samar menyembunyikan gurat cemas dan malu di balik senyumnya.

"Untuk siapa? " Nia masih bingung.

Kali ini tampak keringat dingin mulai menetes pelan membasahi pelipis Dipta. Dengan memberanikan diri Dipta pun mengucapkan sebuah nama.

"Un...tuk...ummm " grogi.

 

Tania tercengang menanti jawaban.

" Untuk......untuk...umm Kak Filana " Akhirnya sebuah nama keluar dari bibir Dipta.

"Hah ? " Tania melongo, membuka mulutnya lebar demi mendapati ucapan Dipta.

Dipta berusaha menguasa diri, kini dia tampak lebih tenang.

"Aku minta tolong ke kamu Nia, tolong sampaikan surat itu kepada Kak Filana dari aku. Kuharap kamu mau jadi mak comblangku kawan, " seloroh Dipta dengan cengiran lebarnya.

Namun Tania tak bisa menguasai diri lagi, dia limbung dan badanya hampir saja terjatuh. Dipta tercekat dan berusaha menolong Tania.

"Tania, kamu gak pa-pa kan? "

Namun selang beberapa detik tatapan mata Tania nampak kosong. Hingga akhirnya....

"Sudah cukup. Hari ini juga aku berhenti menjadi mak comblang, " pekiknya nyaring. "Kalau kamu memang lelaki sejati sampaikan sendiri suratmu pada Kak Filana. Huh ! " dengus Tania kesal.

Meski Dipta mencoba menjelaskan dan merayu Tania panjang lebar agar dia bersedia membantunya, namun Tania tetap bersikeras dengan pendiriannya. Tania langsung beranjak dan pergi meninggalkan Dipta.

 

 

 

  • view 218