PETAKA CINTA #chapter1

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 September 2016
PETAKA CINTA #chapter1

Tubuh itu sudah mulai membusuk dan di beberapa bagian telah dikerubuti oleh ulat dan belatung. Beberapa aksesori dan barang pribadi milik korban berserak di semak belukar tempat korban ditemukan pagi ini oleh seorang pejalan kaki. Wanita setengah baya ini tampak shok dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Betapa tidak? Karena jalan setapak ini adalah rute jalan tersingkat yang baru saja ditemukannya menuju sebuah rumah makan tempatnya bekerja. Namun kenyataan pahit menyadarkannya untuk tidak melewati jalan itu lagi.

Tampak beberapa orang polisi penyidik dan ahli forensik tengah sibuk mengumpulkan barang bukti di TKP.

Dokter Oemar yang baru saja bergabung dengan tim forensik sibuk mengambil sampel beberapa barang bukti yang masih dianggap layak untuk diperiksa di lab dari tubuh korban pembunuhan di sebuah lahan kosong di tepi hutan itu.

"Bagaimana dokter, sudah bisa kau simpulkan kasus kali ini?" tanya Devon antusias.
Dokter Oemar mundur beberapa langkah dan berdiri tak jauh dari Devon.

Setelah memasukan beberapa temuan sebagai barang bukti ke dalam kantong plastic kedap udara dokter Oemar mulai menceritakan diagnosanya. "Korban meninggal karena benda tumpul di bagian belakang kepalanya. Bisa karena pukulan atau mungkin jatuh dan menatap suatu benda tumpul. Namun sebelum itu dia mengalami penganiayaan fisik di bagian lengan, wajah dan perut. Karena ada luka lebam di lengan dan perut. Korban tidak meninggal disini, dia sudah meninggal saat dibuang di tempat ini karena tak ada tanda-tanda perlawanan ditempat ini."

"Berapa orang pelakunya dokter?" selidik Devon lagi.

"Asumsi sementara saya ada dua orang. Meski pelaku mencoba menutupi jejaknya namun jejak sepatu boot mereka tampak jelas di dekat korban." Tunjuk dokter Oemar seraya menudingkan telunjuknya ke arah kaki korban. "Pelakunya tidak professional tapi bukan berarti dia tidak pintar. Hanya karena terburu-buru pelaku tidak memperhatikan tanah disekitar kaki korban adalah tanah lembek karena genangan air hujan yang mulai mengering sehingga jejak kaki pasti akan berbekas disitu. Bisa jadi korban dibuang disini pada malam hari"

"Hmmmm....apakah pembunuhan ini sudah direncanakan?" analisa Devon membuatnya penasaran.

Dokter Oemar mengangguk pelan beberapa kali. "Mungkin. Namun kita harus mengkajinya lebih lanjut dan menunggu hasil otopsi."

"Ada beberapa residu tertinggal di kuku korban akibat cakaran sepertinya korban melakukan pembelaan diri. Kita sudah mengambil sampelnya untuk kita periksa di lab. Semoga bisa menjadi petunjuk," jelas dokter Oemar memberi harapan.

"Ya, semoga...." timpal Devon datar.

 

Selang beberapa hari akhirnya dokter Oemar menghugungi Devon. Kala itu Devon tengah bersantai bersama Marissa istrinya yang tak lain rival dalam pekerjaannya. Iya rival. Devon yang berpangkat AKP - Ajun Komisaris Polisi, harus selalu bersitegang dengan istrinya yang seorang reporter di sebuah televisi swasta terkenal di kota Jakarta.

Analisa Marissa selalu berupa asumsi dan public opinion tanpa pendalaman kasus dan bukti yang kuat. Karena setiap tindakan kejahatan harus dibuktikan setidaknya dengan 2 alat bukti yang sah agar hakim bisa menjatuhkan pidana. Namun karakter Marissa yang gigih dan tak mudah menyerah bahkan terkesan ngeyel - setidaknya begitulah menurut Devon jika sudah mati gaya kalah debat dengan istrinya - membuat Devon kalang kabut.

HP Devon berdering pelan saat Marissa beradu argumentasi dengan Devon suaminya.

"Siapa beib ? " tanya Marisa dengan panggilan sayangnya hanya saat mereka berduaan saja.

"Umm.....dokter Oemar, sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikannya," sahut Devon datar dan beringsut meninggalkan Marisa penasaran.

"Tak bisakah orang lain tidak mengganggu quality time kita?" dengus Marissa kesal. Ekor matanya masih mengikuti gerak tubuh Devon kemanapun dia pergi. Insting reporternya menggelitik ingin tahu. "Bahkan untuk berdebat denganmu pun aku tak punya waktu lagi kapten."

"Tuntutan pekerjaan, jangan merengek! Kerut di ujung mata dan bibirmu semakin bertambah 1 baris tiap kali kau merengek. Aku tak mau kau mengalami penuaan dini sayang, " goda Devon berlalu menjauh.

Marissa masih cemberut kecut.

Dan Devon tahu pasti bahwa istrinya tak kan melepaskan dia begitu saja dari pengawasannya. Akhirnya Devon mengambil kunci mobilnya dan berpamitan kepada Marissa bahwa dia harus pergi ke markasnya karena hal penting yang tentu saja tak bisa dia jelaskan padanya. Marissa pun mendengus kesal karena waktu berduaan bersama suaminya terganggu dan informasi penting yang hampir saja dia dapatkan harus menguap begitu saja.

Namun Marisa tak mau tinggal diam, dia pun berlari ke kamarnya mengambil HP yang tengah di charge sejak 30 menit yang lalu.

"Sepertinya petunjuk kali ini sangat penting, aku harus menghubungi Rivat," gumam Marisa pelan seraya mencari nomor kontak Rivat di HP nya.

"Tuuut....tuutt." Namun tak ada tanggapan dari Rivat.
Marisa mencoba menelfon Rivat untuk yang kesekian kalinya namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya Marisa memutuskan untuk pergi ke rumah Rivat untuk mendiskusikan kasus ini.

Kebetulan apartemen Rivat tak jauh dari rumah Marissa hanya berkisar beberapa blok dan melewati sebuah jembatan yang dilalui kanal yang dibuat sebagai pembatas antara perumahan dan kawasan bisnis. Namun Marissa harus menelan kekecewaan karena tak bisa berjumpa dengan Rivat. Informasi tetangganya, Rivat pergi terburu-buru sejak sore hari kemarin tanpa menitip pesan apa pun. Padahal biasanya jika Rivat harus bertugas ke luar kota atau pulang ke kampung halamannya dia selalu menitipkan pesan pada tetangganya.

"Ahh rupanya kemarin sore dia nampak buru-buru keluar dari ruangan produser ternyata dia meminta ijin pada Mas Pandu, " fikir Marissa merenung. "Tapi mengapa dia tak mengabariku? "

 

Ternyata Devon tidak pergi ke markasnya. Dia membuat janji untuk bertemu dengan dokter Oemar di sebuah cafe di tepi pantai. Sesungguhnya Devon ingin menemui dokter itu di ruang otopsi agar dia bisa lebih jelas mendapatkan informasi dari dokter Oemar. Namun ternyata dokter Oemar lebih memilih cafe kecil di tepi pantai yang bernama cafe Koi sebagai tempat kami bertemu.

Setelah memarkirkan mobilnya, Devon langsung masuk ke dalam cafe dan karena kondisi yang masih sepi dan cafe itu terbilang kecil namun suasana cozy membuat pengunjungnya merasa betah, sehingga dengan cepat Devon bisa menemukan dokter Oemar yang melambaikan tangan pada Devon di bangku paling pojok dekat jendela yang mengarah langsung ke laut lepas dengan dua buah kursi kayu vintage berhadapan dengan meja bulat kecil di tengahnya.

"Maaf dok, aku sedikit terlambat karena harus mencari letak cafe ini. Aku baru tahu ternyata ada cafe vintage di area ini," celoteh Devon memulai obrolan.

"Ya, cafe ini dibangun sejak 2 tahun yang lalu, seorang teman lamaku yang pertama membawaku kesini. Lokasinya tak terlalu ramai, suasana cafe yang nyaman, dekorasi vintage yang mengingatkanku pada almarhumah ibuku karena beliau mempunyai banyak koleksi barang vintage seperti yang dipajang disini, membuatku betah berlama-lama disini. Meskipun hanya memesan secangkir kopi tubruk. " Dokter Oemar tampak antusias menceritakan kisahnya. Seperti ada chemistry tersendiri antara dia dengan cafe ini.

"Jadi bagaimana dok? Sepertinya ada hal penting yang ingin kau sampaikan?"
Dokter Oemar mengangguk pelan dan mengeluarkan beberapa lembar VER-visum et repertum dari messenger bag nya. "Ini hasil otopsi tubuh korban dan hasil lab barang bukti yang kita temukan di TKP", sodor dokter Oemar.

"Apakah hasil VER ini sudah diserahkan kepada tim penyidik lainnya?" tanya Devon penasaran seraya menerima dokumen tersebut dari dokter Oemar.

Dokter berperawakan kurus dengan kacamata baca yg nyaris jatuh dari ujung hidungnya ini menggeleng pelan.

Devon mengernyitkan dahi meminta penjelasan. "Kenapa dok?"

"Aku ingin kau orang pertama yg mengetahui hasilnya".
Suami Marissa ini pun sedikit bingung dan mencoba menguasai diri sekenanya. Karena tak biasa menerima hasil VER seorang diri. Tampak begitu jelas sorot mata paniknya menghiasi wajah oval lelaki muda berparas tampan ini.

Dan yang terucap dari bibir dokter Oemar sungguh mengejutkan. "Kami menemukan beberapa helai rambut dan residu bercak darah di balik kuku korban. Kami juga sudah melakukan tes dna terhadap beberapa barang bukti. Dan ada serat halus yang menempel di sol bawah sepatu korban yang lengket karena terdapat sisa permen karet disitu. Yaaaa, petunjuk terakhir bukanlah bukti yang kuat namun setidaknya ada kaitannya dengan kronologi bagaimana pembunuhan itu bisa terjadi."

Dokter Oemar terdiam sesaat, "Dan beberapa helai rambut yang kami temukan, setelah kami periksa dna-nya ternyata itu rambut milik Marissa yang terkait di kancing baju korban, Dev. Marissa istrimu....."

Devon tercekat.


Hening......

 

#Hai gaes

Bisa siapa saja pembunuhnya, sudah ada 4 nama yang saya sebut dalam chapter 1 ini, yaitu Devon, Marissa, dokter Oemar dan Rivat.

Ayo gaes ikutan bercerita dalam kisah ini

Sebut salah satu nama yang menjadi tersangka utama kasus ini dan chapter 2 dst akan saya kembangkan menjadi cerita yang lebih menarik lagi berdasarkan salah satu karakter yang paling besar kans nya untuk menjadi pembunuhnya.

Terim kasih.

 Salam 

  • view 182