JULLIAN #part6-end

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
JULLIAN #part6-end

     Seminggu sudah berselang, terbiasa dengan rutinitas dan kembali terjebak dalam antusias kehidupan anak rantau yang harus mengumpulkan banyak rupiah agar kelak bisa kembali ke kampung halaman dengan membusungkan dada dan senyum jumawa.
     Sudah sejak pukul 8.00 pagi hari aku memulai aktifitasku dengan bekerja paruh waktu di sebuah toko grosir milik seorang pasutri tua dari Srilanka yang telah puluhan tahun hidup di benua Amerika ini.
        “Suba udesanak, Mrs. Anjana.  Kohamada oya ada?” sapaku ceria
        Mrs. Anjana yang selalu mengenakan kain sari di kehidupan sehari-harinya tersenyum manis padaku dan menyahut lembut, “Hoday, hoday….”
        Yup, setiap pagi kuawali hariku pekerja di toko grosir ini, kemudian tengah hari kulanjutkan bekerja sebagai waiter di sebuah coffee shop yang terletak beberapa blok dari apartementku. Dan malamnya aku masih mengais rejeki di sebuah perpustakaan kota yang akhir-akhir ini ramai pengunjung terutama para mahasiswa dan pelajar. Begitulah hariku yang penuh warna berjumpa dengan begitu banyak manusia dari tiga tempat berbeda setiap harinya. Dan aku sangat mensyukurinya.
        Namun tiba-tiba pagi yang kurasa indah itu dikejutkan oleh suara rentetan desing peluru yang tiba-tiba mengacaukan suasana damai di pertokoan tempat aku bekerja pagi ini. Mr dan Mrs. Anjana yang sejak tadi berada di teras toko serta merta masuk ke dalam dan bersembunyi dibalik meja kasir.
Aku pun tercekat dan tanpa aba-aba langsung jongkok di dekat rak makanan ringan dekat jendela etalase toko, sebenarnya posisiku ini tidak menguntungkan namun sensor bahaya yang saat ini aktif di benakku memberi tanda bahwa aku tak boleh berpindah tempat atau aku akan celaka.
        “Jen! Jeniah!” panggil seseorang lantang masuk ke dalam toko grosir tempatku berlindung saat ini.
        Tubuhku semakin beringsut dan tak berani bergerak sedikitpun. Namun aku mengenali suara itu.
        “Jen!” panggilnya sekali lagi semakin lantang.” Keluarlah demi keselamatanmu.”
        “Jullian?” pekikku pelan tercekat di kerongkongan. Kepalaku mulai mendongak ke arah datangnya suara. Tampak Jullian dengan topi hitam dan senjata di tangannya celingak celinguk menyapu seisi toko dengan pandangan matanya. Dan akhirnya dia menemukanku.
        Jullian mendatangiku dan menarik tanganku membawa keluar dari toko Mrs. Anjana. Dan saat aku melewati meja kasir sempat kulirik sekilas wajah ketakutan pada kedua orang tua itu, dalam hati aku hanya bisa berkata,”So sorry, Mrs. Anjana.”
        Diluar toko Jullian melindungiku dengan sebagian tubuh tegapnya, aku berlindung ketakutan dibelakang Jullian. Tampak suasana mencekam di sekitar pertokoan tempatku bekerja, beberapa orang yang tadi sibuk beraktifitas sudah entah kemana. Tiba-tiba sekali lagi desingan peluru menembaki kami, Jullian serta merta menarik tubuhku berlindurng dibalik sebuah mobil van yang diparkir tak jauh dari toko Mrs. Anjana.
        Tubuhku tak berhenti bergetar ketakutan, sesekali kutatap Jullian meminta penjelasan namun Jullian hanya tersenyum tipis dan selalu mengatakan sebaris kata padaku,” It’s gonna be OK, Smoothy.”
        “It’s not Jullian,” batinku dalam hati.
        Sejurus kemudian sebuah sedan Volvo New S80 berhenti mendadak beberap meter dari van tempat kami berlindung. Dan pengendara didalamnya membukakan pintu penumpang seraya berteriak kepada kami agar segera masuk kedalam mobil. Namun berondongan peluru dari berbagai penjuru yang tidak bisa kami lihat terus menerus memburu kami berdua. Akhirnya Jullian melepas jaket anti peluru yang sejak tadi dipakainya. Dan tanpa aba-aba dia langsung memakaikannya padaku, aku masih shock dan hanya bisa terdiam memandang semua yang dilakukan Jullian.
        “Jen, dengar!” panggilnya menyadarkan aku. “Jen, kau harus masuk kedalam mobil itu,” perintah Jullian seraya menunjuk Volvo warna hitam pekat. “Kau harus pergi dari sini dan ikuti semua instruksi Doughlas. Kau akan aman dan semuanya akan baik-baik saja. Trust me!”
        Aku masih diam tak merespon semua ucapan Jullian, aku hanya merasa semua ini hanya mimpi. Aku mendengar dan menyaksikan semua ini, namun lidahku terasa kelu dan kakiku terasa kaku.
        “Everything gonna be OK! Dan ingat….aku akan selalu bersamamu,” Itulah kalimat terakhir Jullian sebelum menarikku berlari menuju Volvo yang sejak tadi sudah menunggu.
        Saat kami berlari menuju Volvo yang ternyata dikemudikan oleh Doughlas, polisi yang pernah menginterogasiku waktu itu, rentetan peluru itu kembali menghujani kami. Dan Jullian berusaha menyembunyikan tubuhku dibalik tubuhnya. Akhirnya aku sampai di pintu penumpang dan Jullian mendorongku masuk kemudian menutup keras pintu tersebut sembari berteriak kepada Doughlas.”Go!!!”
        Sedetik kemudian baru ku tersadar bahwa Jullian tidak bersamaku, kucoba mencarinya di dalam mobil namun tak kutemukan.” Dimana dia? Dimana Jullian?” Kubalikan badanku mencari-cari Jullian dari kaca belakang mobil Volvo yang melaju kencang. Tampak olehku Jullian sudah terkapar di jalanan tak jauh dari van putih tempat kami berlindung tadi. “No! Noooo….”
        Daoughlas tetap melajukan kendaraan itu dengan kencang tanpa menghiraukan teriakan dan perintahku agar menghentikan mobil. Dan saat kusadari bahwa central lock belum ditekan oleh Doughlas aku pun segera membuka pintu belakang dan nekat melompat dari mobil yang saat itu tengah melaju kencang. Doughlas terkejut dan mengumpat menyadari aku sudah tidak ada lagi berada di kursi belakang mobil. Kemudian dia menghentikan mobilnya dan memutar balik untuk menjemputku lagi. Namun meski seluruh tubuhku terasa nyeri dan beberapa luka memar hasil dari lompatan gilaku tadi menghisasi beberapa bagian tubuhku aku berusaha untuk berdiri dan mencoba berlari untuk menghampiri Jullian. Tak kurhiraukan perintah Doughlas agar aku segera masuk ke dalam mobil, aku terus berlari menghampiri seseorang yang telah mengorbankan dirinya untuk melindungiku.
        Saat kusampai di dekat tubuh Jullian yang sudah terkapar tak bergerak, aku tak perduli lagi dengan ancaman bahaya didepanku. Kusaksikan darah segar mengalir dari beberapa bagian tubuh Jullian yang tertembus peluru. Namun mata Jullian yang sayu masih terbuka dan menatapku.
        “Why, Jullian?” pelan pertanyaan itu mengalir dari bibirku.” Why?”
        Jullian masih terdiam dan tampak jelas di wajahnya rasa sakit akibat banyaknya peluru yang saat ini bersarang di tubuhnya. Tampak tangannya mencoba menggapaiku untuk memberikan sesuatu dalam genggamannya.
        Kusambut tangannya yang juga berlumuran darah, dan kuterima secarik kertas bernoda bercak darah dengan air mata yang sudah membanjiri wajahku. Dan saat itulah mata Jullian menutup dan tak pernah terbuka lagi.

        “Dari Jullian untuk Jeniah terkasih,
        Terdiamku dalam sunyimu bukanlah sepi.
        Terpurukku dalam lukamu bukanlah lara
        Terhapusku dalam kisahmu bukanlah akhir nostalgi
        Merindumu dalam gelap adalah cinta….”
       

  • view 270