JULLIAN #part5

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
JULLIAN #part5

     Jullian memulai kisahnya dengan hembusan nafas panjang. "Hari itu adalah hari yang paling aku nantikan. Aku lulus dengan nilai bagus dari sebuah university ternama di Turki, Hacettepe, aku mengambil jurusan kedokteran disana. Meski aku tidak lulus dengan nilai cumlaude, namun nilaiku cukup rumayan," senyumnya sejenak." Namun apa yang kudapat saat aku kembali ke kotaku?"
     Untuk sesaat tatapan Jullian kosong, seakan beban berat tengah bergelayut di pundaknya.
     Aku berusaha mengikuti cerita Jullian dengan hati tenang.
     Tiba-tiba wajah Jullian tegang. "Aku tak mendapati seluruh keluargaku. Disana semua porak poranda. Azas kota tempat kelahiranku telah hancur dalam peperangan sengit dan seluruh keluargaku telah hangus
terbakar akibat serangan udara entah dari kubu pemberontak atau militer Suriah, aku tak tahu pasti karena beritanya begitu simpang siur." Nada suara Jullian melemah. Namun tampak begitu jelas bahwa dia sekuat tenaga menahan emosi yang mulai menguasainya.
     "Yah.....setelah kejadian itu, aku begitu marah, aku marah dan aku pergi ke Rusia. Aku bergabung dengan gerakan bawah tanah disana. Beberapa kawanku dari kota asalku telah lebih d
ahulu bergabung dan mereka mengajakku," kisah Jullian parau. Sesaat kemudian diseruputnya coffee latte miliknya.
     Dia tersenyum padaku, mengamatiku perlahan seolah tak ingin ada yang tertinggal dari matanya. Dan aku hanya diam tanpa kata membalas tatapan mata Jullian dengan semburat kecemasan yang sudah mulai menguasaiku, fikiranku dan hatiku.
     "Aku dilatih untuk mencabut nyawa seseorang lewat peluru yang aku lepaskan. Satu peluru untuk satu nyawa," jelas Jullian melanjutkan." Dan di tugas terakhirku peluru itu tidak mengenai sasaran. Dan karena itulah aku diburu oleh kelompokku sendiri."
     "Kau pasti punya alasan yang kuat kenapa kau sampai melakukan itu....?" tanyaku penasaran.
     "Sasaranku adalah anak seorang duta besar amerika untuk Turki. Dia adik kelasku di Hacettepe. Dia 2 tahun dibawahku. Namanya Khadeejah. Aku mengenalnya sebagai seorang mahasiswi yang rajin, pintar dan aktif dalam organisasi keagamaan di kampus." Jullian tertunduk layu.
     Tiba-tiba hatiku berdesir dan dingin. "Apakah Khadeejah seseorang yang begitu special bagimu?" Hati-hati kuutarakan pertanyaan itu.
     Jullian memicingkan matanya menatapku. "Why? Jealous?"
     Aku gelagapan demi mendengar kata-kata Jullian. "Nope!
Aku hanya penasaran kenapa kau begitu berani mempertarukan nyawamu demi gadis itu. That's all." Kupalingkan wajah merahku ke arah lain.
     "Smoothy, kau tak pandai dalam hal ini. Aku lebih paham dirimu daripada dirimu sendiri," seloroh Jullian mengejutkanku.
     "Tentang masalahmu di kantor polisi waktu itu. Itu adalah skenario
yang kami buat agar kau bisa pulang ke negaramu dengan selamat," ungkap Jullian akhirnya.
     "What? Apa kau bilang?" Pekikku nyaring dan
tak perduli dengan tatapan beberapa pasang mata dari meja lain.
     "Pihak intelejen USA akhirnya tahu kalau aku tidak menjalankan tugasku untuk menghabisi Khadeejah. Bahkan yang lebih parah lagi aku pun telah menghabisi anggota dari kelompokku yang ditugaskan untuk menuntaskan misiku. Aku melindungi Khadeejah dari kelompokku sendiri. Untuk itu aku mendapatkan perlindungan di negara ini. Dan kau dianggap akan menggaggu misi baruku dengan intelejen USA, untuk itu kau dideportasi dari negara ini waktu itu." Panjang lebar cerita Jullian.        
Sedikit demi sedikit aku mulai memahami semua kisah hidup Jullian.
     "Kau tak ingin mengatakan sesuatu, Smoothy?" tanya Jullian lembut sembari menyeruput sisa kopi di hadapannya.
     "Ada," sahutku cepat. "Mengapa mereka berpikir jika aku bisa membahayakan misi rahasiamu? Aku bahkan baru mengetahui semua ini hari ini. Kau tak pernah menceritakan sesuatu yang berbau rahasia kepadaku. Itu aneh."
     "Karena mereka tahu bahwa kita dekat dan aku tak perlu menjelaskan lagi bagaimana isi hatiku kepadamu...." untuk sesaat Jullian menunduk mencoba memahami ucapannya sendiri.

     “Dan kenapa kau harus kembali ke negara ini? Setelah aku bersusah payah menjelaskan kepada mereka bahwa kau tidak ada hubungannya dengan semua ini dan kau harus kembali ke Indonesia. Why ?”
     “Karena pemerintah USA yang memintaku kembali dan mereka mengirimkan permintaan maaf atas pendeportasianku waktu itu. Mereka bilang ada kesalah pahaman dalam hal itu. What should I do then? Aka perlu uang untuk memenuhi segala kebutuhan keluargaku… Dan kau hilang entah kemana Tuan Jullian,” celotehku menerangkan.
     Jullian terkekeh mendengar ceritaku dan kulempar dia dengan bungkus sachet gula yang sejak tadi kuremas-remas dengan tangan kiriku.
     “Maukah kau memaafkanku, Jen?” tanya Jullian mengiba.”Beri aku kesempatan sekali lagi, please.”


              Gerimis yang sejak tadi hanya menetes membasahi bumi kini mulai jatuh dengan intesitas tinggi dan turunlah hujan, seiring dengan permohonan Jullian yang masih mengambang dan tersapu air hujan malam itu. Jullian mengakhiri kisah kami hari itu dengan mengantarkanku kembali ke apartemenku.  Seperti biasa dia hanya mengantar sampai pintu gerbang depan. Setelah kulambaikan tangan dan masuk ke dalam gedung bertingkat 3 itu aku sadar bahwa mungkin ini pertemuan terakhirku lagi dengannya. 

 

  • view 144