JULLIAN #part4

Wiwit Astianing
Karya Wiwit Astianing Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 September 2016
JULLIAN #part4

     Tragedi hari itu sungguh membuat kami semua shock, hampir seluruh warga Negara bagian Oregon. Apalagi saat kudengar korban jiwa yang meninggal ada 10 orang dan beberapa orang terluka karena terjatuh saat mencari tempat perlindungan dan terserempet peluru yang entah dari mana datangnya. Sampai saat ini masih belum diketahui siapa pelakunya dan apa motif di balik serangan itu. Meski beberapa berita yang tersiar dan tercetak di beberapa stasiun televisi dan media cetak simpang siur, namun ada sesuatu yang mengganjal di benakku. Entahlah, apa mungkin dibalik serangan itu ada hubungannya dengan Jullian?

     Masih terpaku menatap nanar Jullian di depanku. Mencari jawaban dari semua hal yang menimpaku saat ini, meski Jullian hanya diam menatap jalan di lorong kecil tempat kami berada saat ini. Menghabiskan malam di sebuah cafe kecil biasa tempat kami bercengkrama dan meminum coffee latte kesukaan kami seperti dulu.

      “I am waiting, Jullian…” ucapku akhirnya memecah sepi.

     Jullian masih terdiam.

        “Aku sudah bersabar menunggu 2 hari,” sahutku lagi seraya memegang dan menatap beberapa helai rambutku.” Lihat! Sampai tumbuh uban di kepalaku…” kuhembuskan nafas jengah.

     Jullian tersenyum tipis demi mendapati gurauan kecilku. “Sure, kamu tampak lebih tua sekarang, Smoothy.” Dan diapun mengalihkan pandangannya ke arahku.

        “At first, aku mau minta maaf membuatmu terlibat dalam masalahku ini…”

        “Yeah….meski sudah terlambat,” potongku tak sengaja.

        Jullian melototiku sesaat.

        “Sorry.” Kututup bibirku rapat dan kembali menunggu penjelasan Jullian.

        “Aku sudah berbohong kepadamu mengenai pekerjaanku, mengenai banyak hal namun tidak dengan hatiku,” ujar Jullian to the point.

     “Aku terlibat dalam sebuah masalah besar yang mungkin belum pernah kau dengar, atau mungkin pernah kau lihat di film-film Hollywood saat ini.”

        Kupicingkan sebelah mataku tak percaya.”Maksudmu? Apa kau terlibat dalam sebuah tindak kriminal, Jullian?”

        “Lebih dari itu.”

        Spontan aku tercekat dan tanpa sengaja mencengkeram cangkir kopi di hadapanku. Kutelan ludahku pelan dan bersiap dengan penjelasan terburuk.

        “Apa kau telah membunuh seseorang?” bisikku sangat pelan seraya mencondongkan tubuhku mendekati Jullian.

        Jullian pun ikut mencondongkan tubuhnya ke arahku,”Yup, tidak hanya satu, more than one…”

        Serta merta aku menjerit tertahan dan manutup mulutku dengan kedua tanganku. “No!”

        “Sudah siap mendengarkan semua ceritaku, Smoothy?” Jullian mulai bersiap membongkar semua kisah hidupnya.

        Kuanggukan kepalaku pelan, setuju dan pasrah.

        

  • view 167