TEMPAT KEMBALI

Citranti Santosa
Karya Citranti Santosa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Agustus 2016
TEMPAT KEMBALI

Duhai, ayah ibu...

Ijinkan anak rantaumu ini menuliskan isi hatinya disini. Entah berapa jarak yang harus ku tempuh hanya untuk merasakan pelukanmu.

Entah berapa lama waktu yang harus ku tempuh hanya untuk mendengarkan cerita keseharianmu, cerita tentang betapa masih sibuknya dirimu dengan pekerjaan muliamu, cerita tentang betapa rasa lelahmu menanggapi celotehan dan tingkah nakal cucu-cucumu tapi yang nampak di sorot mata tuamu adalah kebahagiaan. Entah sampai kapan aku harus tinggal jauh darimu.

Taukah duhai, ayah ibu...
Saat lepas pendidikan sekolah menengah dimana aku sudah harus tinggal jauh darimu, di asrama, demi menuntut ilmu yang telah lama kau harapkan dariku, setiap hari, di awal masa kita berjauhan, aku sering menangis setiap pulang sekolah di kamar mandi. Alih-alih mencuci muka, atau mengambil air wudhu, selalu ada isak tangis disela-selanya agar tak ada yang mengetahui sembabnya mataku. Aku merasa nelangsa. Teman-teman yang belum aku kenal sangat, dan makanan yang seadanya, membuatku semakin nelangsa. Hingga aku selalu takut untuk menerima telefon darimu, karena aku takut tak bisa menahan isakanku saat mendengar suaramu di telefon yang pasti akan lebih membuatmu sedih.

Tapi, ayah ibu...
Mungkin aku tak tau, disana kalian juga merasakan hal yang sama, melepas anak gadis 13tahun di kota rantau. Mungkin aku tak tahu, disana kalianpun menangis dalam doa.
Sampai aku menyelesaikan pendidikan profesiku, aku adalah anak rantau selama 8tahun. Pulang ke kampung halaman adalah rutinitas dari mingguan, hingga bulananku. Selama itu, terbesit dalam benakku, suatu saat, aku ingin bersuamikan laki-laki perantau juga. Barangkali ada suatu kebanggaan tersendiri saat ditanya atau bercerita dengan sanak keluarga, tetangga, atau teman-temanmu,
“anak yang nomer dua ikut suaminya di sana, karena suaminya kerjanya pindah-pindah, atau karena suaminya harus menyelesaikan study lanjutannya di sana"

Dan, Maha Sempurna rencana Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, aku, anak nomer duamu, telah menikah dengan seorang laki-laki yang juga merantau.

Aku beruntung?
Ya, karena angan-anganku Allah kabulkan.

Tapi, ayah ibu...
Aku juga iri pada mereka-mereka yang dekat dengan orangtuanya, iri pada mereka-mereka yang tak terhitung jari dikunjungi dan mengunjungi orangtuanya, iri pada mereka yang sampai bosan kau kirimi makanan.

Maafkan anak rantaumu ini, yang terkadang tak menelfonmu, atau sekedar mengirim pesan padamu. Bukan ia lupa, bukan ia tak ingin, ia hanya sedang berpura-pura biasa saja, berjuang dalam kemandiriannya, kemandirian hatinya.

Terkadang, aku menangis dalam diam, hatiku nelangsa, melihat foto-foto kakak dan adikku yang sedang makan malam bersamamu, atau suara dalam telefon anak-anak mereka yang sedang merepotkan waktu istirahatmu. Betapa jauhnya jarak aku darimu?

Aku ingin pulang, melesat melintasi ratusan atau bahkan ribuan kilometer jarak.

Ayah Ibu...
Bukan suamiku tak memperlakukanku bagai ratu. Bukan aku tak nyaman dengan rumah kontrakan, rumah dinas, atau mess perusahaan ini. Bukan aku tak bersyukur.

Tapi, bagaimanapun, senyaman-nyamannya tempat kembali di dunia adalah pelukanmu.

Aku tau, pintu rumahmu akan selalu terbuka untukku. Untuk kami, anak-anakmu.

Barangkali kau juga merindukan kepulanganku. Barangkali kau juga menanti pesan singkat dan telefonku. Barangkali beginilah anak, yang tak mengerti perasaan orangtua hingga ia menikah.

Aku di tanah rantau ini pun, sering berharap kau mengunjungiku. Karena hal paling membahagiakan bagi perantau adalah dikunjungi keluarga, terutama ayah ibu, dan hal paling membahagiakan bagi orangtua adalah kepulangan anak rantaunya.

Suamiku adalah surgaku. Semoga kita bisa hidup bersama lagi dalam surga-Nya, dimana kita berhenti untuk saling mengunjungi, berkirim pesan singkat dan menelefon.

Surabaya; Rumah dinas; 13 Agustus 2016