Jodoh

Citra Agustin
Karya Citra Agustin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Desember 2016
Jodoh

Telah kulalui lima tahun tanpamu, lalu tak tahu mengapa aku merasa ada sesuatu yang menarikku sangat kuat, sesuatu yang tak bisa kutolak kemunculannya, sesuatu yang sudah lama kutepiskan, datang tanpa bisa dikompromi. Kuputuskan merenda kenangan ditemani semilir angin malam yang menggerogoti tulang, berjalan menyisiri bibir pantai, membiarkan remah-remah pasir menyentuh kaki yang sengaja kubiarkan telanjang. Tiba-tiba sebuah pemandangan mengusik penglihatanku, itukah kau, sosok yang selalu mengganggu malam-malamku. Kakiku berderap mendekat, membaui aroma parfum yang pernah menemani hari-hariku, tidak salah itu kau Arini, gugup bercampur rindu. Aku berdehem pelan, kau menoleh sembari merapatkan sweater merah muda kesukaanmu, menggosok-gosokkan telapak tangan dan menempelkannya dipipi. Aku diam melihat polahmu, aku tahu betapa kau merasakan dingin yang teramat sangat, “Apa kabar”, itu kalimat pertama yang meluncur dari bibir mungilmu, cukup membuat hatiku berdesir tak keruan. “Baik”, jawabku. Kau menyunggingkan senyum, dengan pandangan yang tertuju kedepan, menatap buih ombak dilautan lepas, kebiasaanmu yang masih tetap seperti dulu, “hanya baik”, aku terhenyak dan menyadari betapa bodohnya aku yang sedikit berkata-kata. “Dulu kita sering sekali menghabiskan waktu disini”, entah mengapa bibirku terasa kelu. “Aku merindukanmu Sugi”, aku terkesiap, seakan ada aliran listrik yang menyengat tubuhku, “kerinduan yang membawaku kembali ketempat ini, rindu yang tak pernah berkurang sedikitpun, rindu yang selalu tumbuh dan tumbuh walaupun sudah berapa kali aku coba memangkasnya. Gerangan apa yang membawamu kemari?, apakah rindu itu masih jua milikku?”, sungguh aku tak tahu harus berbuat apa, ingin kuteriakkan namamu lalu kuucapkan aku masih sangat mencintaimu Arini. Tapi tenggorakanku seakan tercekat, tak ada rentetan kalimat untuk membalas pertanyaanmu. Kita pun sama-sama terdiam dalam keheningan malam, menikmati deburan ombak, dan aku sibuk menari dalam pusaran bernama kenangan.

**
Menunggumu setelah lima tahun berselang, diiringi keyakinan yang tak pernah lepas bahwa suatu saat nanti kau akan datang entah untuk mengenang ataupun keinginan mengulang layaknya pengharapanku, dan saat ini aku merasa seperti sedang bermimpi manakala keyakinanku benar-benar terbukti, manakala aku bisa berdiri disisimu sedekat sekarang. Kau masih tampak gagah, kacamatamu masih bertengger dihidung mancung yang selalu kau banggakan, dan masih setia memanjangkan rambutmu, rambut yang membuat orang-orang memanggilmu dengan sebutan mas gondrong. Aku tak tahu harus darimana aku memulai, kikuk kurasa. Sementara angin terus berhembus, berbisik manja menelusup kedalam pori-pori kulit, dingin sekali. Tapi ini tak ada apa-apanya dibanding dengan sukacita yang sedang kurasakan, semoga kau juga begitu. Terlebih melihat senyumanmu, aku merasa dewa asmara sedang memanahku. Sedetik, semenit, kau tak kunjung bicara. Kuberanikan diri bertanya kabarmu, kata pembuka yang pas menurutku, berharap kau juga nantinya menanyakan kabarku, tapi keinginanku rupanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, kau hanya menjawab singkat, aku tersenyum getir. Spontan aku memprotes, entah apa reaksimu karena sedikitpun aku tak berani lagi memandangmu. Entah kekuatan darimana, aku berani menghujammu dengan ribuan kata-kata, mengingatkanmu tentang kenangan kita, menyatakan kerinduanku yang terpenjara oleh waktu, dan lancang menanyai rindu milikmu. Tak ada jawaban, diammu membuat hatiku teriris sembilu, bicaralah Gi, katakan apapun bukan malah diam. Tak bisa menunggu lama kuayunkan tanganku, menepuk pundakmu, dengan suara parau kukatakan bahwa pertanyaanku belum kau jawab.

**
“Gi”, kau menepuk pundakku, membangunkanku dari lamunan, aku terkejut bukan kepalang. “iya”, mataku bersirobok dengan matamu, aku buru-buru mengalihkan pandang, menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal, kau sukses membuatku salah tingkah. “Gi, pertanyaanku belum kau jawab”, “apa aku harus menjawabnya?”, sungguh aku tak ingin mengucapkan itu, aku merutuk mengapa bisa keluar kata-kata itu dari mulutku, terdengar sinis. Matamu berkaca-kaca, maafkan aku Arini. Aku tak cukup pintar mengungkapkan rasa. Rindu ini masih milikmu, tak pernah berubah walau empat musim coba menghapusnya.

**
Kau bukanlah Sugi yang kukenal, kau menjelma menjadi orang lain. Kau tak sehangat dulu, sebesar itukah salahku padamu. Sebisa mungkin aku menahan air mata, tak ingin kumenangis didepanmu, akan sangat menyakitkan bila air mataku tumpah tetapi kau tak menghapusnya, aku tak boleh terlihat lemah didepanmu. Rintik hujan mulai turun perlahan, sesuatu yang tak kuduga, kau menarik tanganku, membungkus lekat jari jemariku dengan punyamu, mengajakku berlari melewati gundukan pasir, berteduh di sebuah gubuk yang tak jauh dari sisi pantai, kau mengibaskan kemejamu, juga rambut gondrongmu yang tak luput dari cipratan air hujan. Aku termangu, menunggumu bersuara. “Rin”, kau memanggilku, aku seolah melambung ke udara, berputar menari-nari, akhirnya kau sudi menyebut namaku. “Orang bilang waktu bisa merubah segalanya. Apakah cinta termasuk didalamnya?”, “pertanyaan jenis apa yang sedang kau lemparkan, apakah waktu telah merubah cinta yang pernah kau gaungkan untukku?”, aku balik bertanya. Nada suaraku sedikit meninggi, ini semua karena aku takut. Takut kehilanganmu, takut akan kenyataan terburuk, takut ada wanita lain yang menggeser posisiku dihatimu. Sugi, waktu tak pernah bisa merubah cinta justru waktu tetap menjaganya.

**
Untuk pertama kalinya, aku menegurmu. Melisankan namamu. Kurasa lagi-lagi aku menyakitimu, aku tak berniat begitu Arini. Petir menggelegar, memekakkan telinga, seolah mewakili amarahmu, nyaliku ciut. Aku tertunduk lesu, berpura-pura membenarkan letak kacamata, lalu bersedekap menahan dinginnya udara malam. Hujan sepertinya masih mau berlama-lama, kuberanikan diri melirikmu, paras cantik itu terlihat murung. Bingung melanda, bagaimana aku harus bersikap. Lantas pikiranku melesat cepat, kesempatan baik tak datang berulang-ulang, aku mesti melakukan sesuatu. “Rin”, kau menoleh, tak dinyana kau juga memanggilku, “monggo, wanita dulu”, bibirmu merekah dan aku suka. “Aku ingin kita Gi”, mulutku mendadak terkunci, susunan abjad yang sudah kurangkai diotak rontok satu persatu, mataku berbinar-binar, ruhku melonjak-lonjak kegirangan, jantungku pun ikut berdegup lebih kencang dari biasanya, aku tak menyangka kau mendahuluinya, “aku ingin kita memulainya dari nol lagi, membangun kembali mimpi-mimpi kita yang sempat mati suri”, jelas dan lugas kau mengutarakan maksudmu. Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya melalui mulut, bersiap-siap melemparkan untaian kalimat yang sempat berceceran. “Rin…. aku masih mencintaimu”, suara sumbangku terbata-bata, “aku tak akan pernah melepaskanmu lagi, kehilanganmu adalah mimpi buruk, seperti katamu aku juga ingin kita”, matamu membelalak, kau mencubit pipimu, “kau tidak sedang bermimpi Rin”. Kau menjulurkan tanganmu, meraih tungkai kacamataku, melepaskannya dan memandang tepat dikedua bola mataku, kaget kurasa, menebak-nebak apa yang akan kau lakukan selanjutnya, “Gi, lewat matamu kini aku yakin, ternyata cinta itu masih kau simpan untukku. Terimakasih”. Buliran bening mengambang dikedua pelupuk matamu, jatuh membasahi pipi, kau buru-buru menyekanya, aku membisu menyaksikanmu, “Gi, apakah ini yang disebut jodoh?”, aku menggeleng pelan, jujur aku masih belum bisa memaknai hakikat jodoh itu sendiri, walaupun banyak  penjabaran mengenai jodoh bertebaran di internet ataupun buku-buku yang dijual di toko buku. “Karena sejauh apapun kita melangkah, sejauh apapun kita mencoba menjauh ternyata Tuhan punya cara untuk mendekatkan kita lagi, aku percaya pertemuan yang tak disengaja ini sepenuhnya adalah campur tangan Tuhan. Tuhan yang menggerakkan hati dan langkah kaki kita”. Perlahan aku bisa meresapi kata perkata yang kau kemukakan, teorimu tentang jodoh begitu mengena, aku mengangguk takzim pertanda sepakat denganmu, “hingga kita ada disini sekarang”, spontan aku mengucapkannya, kau tampak sumringah dengan apa yang barusan kubilang. “Berpisah denganmu telah mengajarkanku banyak hal. Aku sadar, dahulu aku begitu egois, serta merta ingin merubahmu menjadi seperti apa yang kumau tanpa pernah menyadari bahwa setiap insan punya hak untuk menjadi dirinya sendiri, maafkan aku Gi”. Kau mengembalikan kacamataku, memasangkannya, “lama tak berjumpa denganmu, matamu masih saja minimalis”, aku merengut sebal, kau terkekeh, “tapi karena mata minimalisku ini kau jatuh cinta kepadaku bukan”, aku berusaha menggodamu, kau tersipu malu, lantas cepat memalingkan mukamu, aku tahu pipimu pasti bersemu merah Arini namun sayang malam cukup pintar menutupinya. Aku termenung sejenak, mencuri pandang kearahmu, kau jauh lebih dewasa sekarang. Tak kudengar lagi suara gemericik hujan, hanya suara desahan angin dan ombak bergulung-gulung yang masih setia menemani kita, kau menyandarkan kepalamu dibahuku, “tetaplah dikananku Gi”, “tetaplah dikiriku Rin”, aku menjawab pasti, dalam lirih aku berbisik pada Tuhan, “terimakasih Tuhan telah menghadirkannya untuk menggenapkan hidupku”.

**
Kesedihan terasa melilit kuat, merambat perlahan keseluruh tubuh, pun halnya kenangan demi kenangan bergulir berurutan memenuhi ruang memoriku. Aku terpekur, tertatih berusaha menguatkan diri, hati ini memang tak pernah bisa melepaskanmu Sugi, dan aku menyadari betul kita adalah hal yang paling aku ingini. “Sugi”, disaat yang bersamaan kau juga menyerukan namaku, kau mengalah, mempersilahkanku, wanita dulu katamu. Kukerahkan semua keberanianku, aku tak perduli seandainya kau tak menginginkan kita lagi, aku hanya ingin jujur untuk diriku sendiri. Lamat-lamat kugumamkan bahwa aku ingin kita, bahwa aku ingin merajut kembali semua mimpi yang pernah kita bangun berdua. Kau tersentak, mungkin heran atas ucapanku. Aku menggigit bibir, risau menanti apa tanggapanmu. Dan kemudian kau menjawabnya, jawaban yang tak pernah kusangka. Sugi, apa aku tidak salah dengar, apa pendengaranku masih normal, apakah aku sedang bermimpi, aku mencubit pipiku, ternyata sakit Gi, aku tak sedang bermimpi, ini nyata dan aku semakin yakin manakala aku menatap sorot matamu, cinta itu masih milikku. Tak terasa air mataku meleleh, cepat aku menyekanya, mudah-mudahan kau tak salah mengartikan tangisanku, ini adalah air mata kebahagiaan karena pada akhirnya aku dan kau sama-sama menginginkan kita. Tiba-tiba sebuah pertanyaan menggelayut dikepalaku, apakah ini yang dikatakan jodoh. Sebab yang aku pahami selama ini, jodoh itu adalah sebuah pengembalian, selalu kembali kepada pemilik asalnya. Dan aku merasakan itu pada kita Gi. Tuhan yang mendorongku untuk mengunjungi ketempat ini, dan rupanya Tuhan juga melakukan hal yang sama padamu. Benar sudah apa kata orang-orang, sejatinya tak ada kebetulan. Tuhan punya maksud baik pada apa yang kita sangka sebuah kebetulan. Pertemuan yang tak disengaja ini adalah kebetulan yang indah, murni skenario-Nya. Dengan minimnya pemahamanku, aku menjelaskan padamu bagaimana jodoh, berupaya mengajakmu menyelami pikiranku. Khidmat, kau mendengarkan. “Hingga kita ada disini sekarang”, tutur ucapanmu terasa elok ditelingaku Gi, aku bersorak gembira. Perpisahan tak selamanya menyisakan lara, justru dengan perpisahan kita, aku menyadari ternyata aku memang pantas kau tinggalkan. Kuhirup napas perlahan lantas refleks meletakkan kepalaku dibahumu, mencari kenyamanan yang sempat pergi, “tetaplah dikananku Gi”, ujarku kepadamu. “Tetaplah dikiriku Rin”, balasmu lembut. Lalu sepi, hujan sudah lama pamit, tersisa lenguhan angin dan gemuruh ombak. Betapa aku mengkhayati detik demi detik yang berlalu. “Terimakasih Tuhan, untuk dia, lelaki terbaik yang Kau berikan untukku”.

  • view 142