JINGGA

Cisca Francisca
Karya Cisca Francisca Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Oktober 2016
JINGGA

 

 Sunyi malam, bintang enggan berkedip genit. Membisu menyaksikan Ia yang tak bergeming menatap kabut tipis yang perlahan pergi.

  Muram, kopi dalam cangkir tinggal tersisa ampasnya. Ada bagian kosong, selalu merasa begitu. Ada yang hilang? Tanda tanya besar selalu muncul dalam benaknya beberapa bulan terakhir ini. Mungkinkah berkaitan denganmu?

 Gemerisik rumpun bambu menambah getir suasana. Bergoyang teratur  seiring sendu nyanyian bayu. Menjadi teman yang lebih mengerti kesendirian kali ini.

 “Dimana kamu? Disisi bumi sebelah mana?”,tanyanya merana. Sudah gilakah? Sedikit tanya meragukan tingkat kewarasannya.

Gelombang isyarat yang kau kirimkan mampu Ia tangkap dengan baik, meski sehalus langkah kabut yang tak bisa diraih dengan genggam tangan mungilnya. Desiran lembut rindu yang perlu bertaut bergumam lirih di mulut.

“Rindukah? Siapa kamu? Aku tak mengenalmu.”,ucapnya lagi pada angin dingin yang membuat ujung hidungnya memerah.

 Hanya suaramu yang Ia tahu,membisikan “Aku akan menemukanmu,bersabarlah!” lalu menghilang dengan cepat ketika ia terjaga dengan peluh bercucuran.

 Keesokannya,Ia semacam anak dara jatuh cinta. Ia bahagia menyadari ada seseorang yang mencarinya,berusaha menemukan keberadaannya,memiliki ikatan batin meski tak tahu betul siapa empunya. Tak jarang ia tampak merana. Merasa rindunya membuncah pecah dalam kepingan-kepingan kecil.

 “Sampai kapan aku harus menunggumu? Seperti apa kamu? Hanya suaramu yang kau kirim bagai sinyal yang mampu kutangkap kuat.”,ucapnya lebih untuk dirinya sendiri.

Berjarak ribuan kilometer
 “Senja yang kau lihat akan sama cantiknya dengan yang kutatap saat ini. Dimanapun kau berada,matahari yang sama akan menciptakan sebentuk jingga.”, bisik seorang pria sambil menatap riak kecil pada sungai dihadapannya.

 “Ezra,masih berapa lama lagi kau akan mematung menatap senja?”

 “Sangat lama,pulanglah dulu,aku masih ingin disini!”,jawabnya acuh sambil tetap memainkan lensa kameranya. Mencoba menemukan senja. Menangkap jingga.

 “Aku tahu,aku terlahir untuk mencintaimu,bahkan sebelum aku bisa menghirup udara segar. Perasaan ini begitu kuat. Aku akan menemukanmu secepat yang aku mampu”

 

 

Pada beranda kecil

“Ibu,lusa aku berangkat!”,katanya

“ Doa ibu besertamu, Nak!”,jawab perempuan paruh baya itu sambil mengaduk teh.

  “Terima kasih,bu!”,jawabnya disertai senyum bahagia.

  “Bolehkah ibu tahu,kenapa kau nampak begitu bersemangat?”

  “Entahlah bu, aku merasa aku akan mendapatkan kejutan dalam perjalanan kali ini.”, jawabnya

  “Percayalah pada hatimu, Nak!”,tuturnya bijaksana. “ Semoga letupan peristiwa kali ini membuat hidupmu lebih berbahagia dan berwarna.”,lanjutnya.

 

GALERI EZRA

 “Semua persiapan untuk pameran besok sudah sempurna, Ezra!”

  “Terima kasih banyak,kawan! Kau selalu tahu apa yang aku inginkan.”

   Deretan foto tentang senja di bingkai dan di tata dengan apik.

 “Ada apa dengan senja,Ezra?”

 “Kau tahu rasanya jatuh cinta? Senja sangat memahami itu. Jingganya dipadu dengan awan bisa menampilkan sebentuk cinta yang lembut, terkadang muram diliputi rindu, ungu yang sendu, atau terkadang merah,marah! Senja dalam pesona aneka jingga mampu menampilkan segala yang kau bisa gambarkan tentang hatimu, rasamu.”

        Laki-laki itu menatap Ezra,heran.

  “Hey,kau sedang jatuh cinta? Perempuan mana yang sangat beruntung ini? Tidakkah kau memperkenalkannya padaku?”

  “Aku akan menemukannya segera, aku yakin tentang hal ini.”, jawabnya sambil melangkah pergi.

  Hening ia menikmati senja dalam bingkai, meresapi kegelisahan yang menyusup diam-diam. Mencoba menangkap pesan tak kasat mata. Melahirkan sebuah keyakinan keberadaan anak manusia yang setia menghidupkan debar hatinya

  Ia terbius dalam pesona senja.

  “Ya, Kau disini!”,bisiknya lirih.

  Sebelum memilih pergi menuju sisi lain studio yang langsung menuju pantai berlatarkan senja yang ceria.

     Gadis itu berlari-lari kecil,sesekali berputar menikmati angin yang memainkan anak rambutnya, melompat kecil dan kadang berjalan dengan tekun seolah menghitung butir pasir yang menggelitik telapak kakinya. Binar bahagia meliputinya. “Kau semakin dekat denganku.”

        Debur ombak menderu, memburu pantai yang tetap membisu. Rindu datang tanpa tahu malu. Lelaki itu memutar lensanya dan menangkap siluet wajah yang  bahagia. Mengagumi jingga pada senja yang sempurna.

“Ya, akhirnya aku menemukamu, Jingga!”