Mengenang Bapak

Nurul Hikmah
Karya Nurul Hikmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Mei 2016
Mengenang Bapak

Tadi sore sebelum balik ke Makassar iseng bongkar-bongkar lemari buku tua. Ketemu beberapa buku hariannya Bapak. Sejak Bapak meninggal, lemari majalah-majalah dan buku-buku tua milik Bapak masih ada sampai sekarang. Rasanya terlalu banyak kenangannya bagi anak-anaknya. Beberapa di antaranya Suara Muhammadiyah, Panji Masyarakat, Keluarga, Sabili, dan lain-lain. Dulu kami anak-anaknya belum bisa beli buku apa saja yang kami mau, yang sesuai dengan usia kami. Karena itu, kami baca saja apa yang ada. Termasuk majalah-majalah tadi. Saya sendiri, buku pertama yang saya khatamkan (kelas 1 SD) malah buku Tata Cara Shalat Jenazah. Buku kedua adalah KBBI (gak setebal sekarang) , dimana kata yang paling kusukai waktu itu adalah "martabat." Mungkin karena cuma beda satu huruf dengan nama makanan, hehe. Seringkali juga Bapak bawakan kami buku cerita pinjaman dari Perpustakaan.

Saya teringat beberapa tulisan teman-teman di blog pribadinya, yang bercerita tentang buku-buku yang ia baca di masa kecilnya. Terang saja nyaris semuanya tak pernah kubaca di usia kecil dulu. Bacaan harian anak-anaknya Bapak selain koran dan majalah di atas, juga buku-buku pengetahuan yang melampaui usianya. Dulu saya cuma 2 kali dibelikan buku mewarnai. Karena itu, bagi saya, the most inspiring people around me yang cerdas-cerdas, padahal dulu waktu masa pertumbuhan juga akses bacaannya sangat terbatas seperti saya, maka saya wajib belajar darinya. Supaya bisa kayak mereka. Tapi saya yakin kita sepakat bahwa yang paling membentuk kita saat ini adalah KEMAUAN untuk belajar. Zaman sekarang ketika toko buku dimana-mana, bahkan kita masih sering mikir dua kali untuk meyisihkan uang jajan demi buku. Saya harus berterima kasih sama Bapak, yang sudah mewariskan majalah dan buku tua yang bisa saya nikmati sebelum saya mampu beli buku.

Foto di atas itu Bapak saya waktu masih muda. Bapak saya ini pulang pergi kuliah ke Makassar setiap hari naik sepeda. Pergi KKN saat anak pertamanya baru usia 2 bulan. Haru sekali saya kalau dengar cerita di masa itu. Hehe. Buku hariannya Bapak yang kubaca hari ini benar-benar membuat saya berkaca-kaca. Kenapa pula baru hari ini kepikiran untuk mencari buku hariannya Bapak. Ya jelas orang yang doyan baca biasanya punya tulisan, minimal tulisan di buku harian. Di buku hariannya Bapak juga saya temukan beberapa kerangka tulisan untuk persiapan bicara depan umum. Salah satunya kerangka-kerangka khotbah jumatan dan hari raya. Bapak bukan ustadz, tapi menurut saya luar biasa tulisan-tulisan khotbah-nya di buku-buku hariannya itu, untuk ukuran orang biasa. Saya jadi membayangkan Bapak berdiri di depan banyak orang menyampaikan pokok pikiran dengan penuh percaya diri. Waktu itu saya masih kecil, ketika beberapa kali menyaksikan Bapak bicara depan umum, jika kuingat lagi sungguh samar-samar.

Kalau lagi rindu berat sama Bapak (oya, tulisan-tulisan rindu yang sering aku tulis di blog maupun sosmed itu hampir semua tentang Bapak), saya biasanya bertanya ke Mamak, Kakak, Keluarga, maupun teman-teman Bapak tentang bagaimana Bapak dulu. Tentu mereka akan bercerita. Saya akan meminta mereka bercerita. Sehingga, jika ada satu hal yang paling saya inginkan jika Bapak ada di sampingku adalah "saling mengoreksi." Dari buku harian Bapak, cerita orang tentang Bapak dan keputusan-keputusan hidupnya termasuk jika mengambil keputusan dan sedang dalam masalah, saya ingin sekali bertanya dan berdiskusi sama Bapak kenapa pilih begini dan begitu. Sebaliknya Bapak juga akan sering-sering mengajak saya berdiskusi.

Saya juga masih punya parfumnya Bapak. Pastinya sudah banyak sekali yang menguap. Parfumnya Bapak ini, kalau Bapak masih hidup, saya yakin tak akan pernah berkata padanya dengan muka datar "Pak.. Perbaiki selerata, Pak.." Hehehe. Artinya, selera parfaumnya Bapak sudah bagus menurut saya.

Bapak itu suka sekali bergaul dengan masyarakat. Saya tahu karena saya selalu ikut. Mungkin karena itu, dulu saya SMP-SMA suka bergaul dengan Bapak-bapak. Asik dengan obrolan di pos ronda, mulai dari maling ayam, padi di sawah, Musrenbang Desa, dan banyak lagi. Berhenti sejak kuliah karena tinggal di Makassar. Kalau misalnya lagi Ramadan terus pulang ke rumah, karena rumah dekat masjid, haru sekali karena teman-teman pos rondaku (baca: Bapak2) selalu minta saya singgah berbuka puasa di masjid. Karena suka bergaul ini akhirnya saya dinobatkan sebagai Duta Keluarga. Tugasnya gak repot kok, urusan pertetanggaan dan perkeluargaan. Wehehe.

Sejak 1 Januari 2001 hidupku berubah 180°. Saya sebelum Bapak meninggal sangat periang dan cerewet, berubah jadi pendiam. Hanya satu yang untungnya tak berubah hanya frekuensinya berkurang: percaya diri. Butuh proses panjang untuk kembali cerewet. Kira-kira sampai kelas 3 SMP.

Rindu lari subuh bareng Bapak. Rindu ke masjid bareng. Rindu jalan kaki bareng terus saya megang jari telunjuknya yang lancip itu. Rindu megang janggut tipisnya Bapak. Rindu baca koran bareng, terus Bapak ketiduran karena capek terus mulutnya terbuka kemudian saya dengan jahilnya masukkan makanan ke mulut Bapak. Rindu dibawakan buku, Pak. Rindu dikasih tugas mengarang sama Bapak. Rindu jadi anak kecilnya Bapak yang dibopong di punggung. Rindu semua cerita kita.

Mengenang Bapak. Benar kata orang, waktu terbang. ????

  • view 81