Mumpung Masih Muda, Mumpung Belum Terbebani dengan Hidup Orang Lain

Chusnus Shalichah
Karya Chusnus Shalichah Kategori Motivasi
dipublikasikan 10 Februari 2016
Mumpung Masih Muda, Mumpung Belum Terbebani dengan Hidup Orang Lain

"Jangan mikir nanti mau jadi apa dan mau kerja dimana. Setidaknya rasa penasaran mendalami konsentrasi fisika medik tersebut harus terwujudkan. Mumpung masih muda, mumpung belum terbebani dengan memikirkan hidup orang lain, mumpung masih punya kesempatan membahagiakan orang tua sebelum membahagiakan yang lain. Bukan kah Allah akan menempatkan manusia pada porsinya masing-masing? Jadilah anak sholihah dan jadikan ilmu yang akan kamu tekuni nanti bermanfaat agar amal jariyahmu tidak terputus ketika kamu sudah tiada." Kalimat tersebut yang selalu saya ingat sampai sekarang yang disampaikan oleh dosen pembimbing saya sewaktu bimbingan skripsi.

Faktanya beberapa orang sering melontarkan pertanyaan mengapa saya melanjutkan kuliah dan mengambil konsentrasi fisika medik. Anggapan bahwa seorang perempuan yang telah menyelesaikan studi Strata I pastilah akan segera menikah dan sangat jarang yang berniat untuk melanjutkan studi Strata II. Seringkali lingkungan memang mempengaruhi kondisi seseorang, mereka yang sering disodori dengan pertanyaan yang bisa dibilang sangat menyinggung perasaan orang yang ditanya. Akan tetapi, kita tidak bisa menghindari pertanyaan yang sudah tidak asing kita dengar dan akan selalu kita dengar. Pertanyaan itu diawali dengan kata KAPAN. Bagi sebagian orang ada yang terlalu pemikir sehingga merasa gugup ketika disodori beberapa pertanyaan tersebut. Sebagian yang lain justru ingin tampil berbeda dan menjadikannya motivasi. Menjadi berbeda dengan yang lain juga tidak semudah itu. Selalu ada komentar yang akan berusaha menggoyahkan niat kita. Salah satunya adalah ketika kita dihadapkan dengan kondisi dimana teman-teman sebaya, teman seangkatan sudah mulai melangkahkan kaki menuju jenjang pernikahan sedangkan kita masih berusaha menyelesaikan studi lanjut. Semua orang bebas dan berhak menentukan pilihannya. Akan tetapi kita tidak punya hak untuk mengharuskan oranglain berada pada pilihan yang kita pilih. Yang selalu saya ingat adalah bahagiakan orangtua dahulu, kemudian boleh bahagiakan yang lain.

  • view 262