Pola dan Nada Bicara

Chusnus Shalichah
Karya Chusnus Shalichah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 10 Februari 2016
Pola dan Nada Bicara

Banyak hal yang masih dan sedang saya pelajari saat ini. Bukan tentang ilmu formal. Tetapi tentang cara mengolah dan menyusun huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat pembicaraan yang tepat supaya tidak menyinggung perasaan orang lain. Hal nyata yang saya amati adalah percakapan dengan pasangan (suami istri). Alasan saya membahas mengenai percakapan suami istri, karena setelah kita menikah tidak mungkin hanya mengandalkan cinta dalam segala hal. Ada hal lain yang wajib menyertai diantaranya pola hidup, pola pikir, dan pola bahasa. Saya baru menyadari bahwa mengatur tata bahasa dan mengkontrol nada bicara terhadap pasangan kita nantinya sangat penting. Bukan berarti kita wajib mempelajari EYD sepenuhnya. Bukan itu yang saya maksud.

Dalam sebuah rumah tangga, permasalahan kecil ataupun mungkin masalah besar bisa saja terjadi. Kalau kata mbak mayaseptha ?memilih pasangan hidup sama saja dengan memilih masalah seumur hidup, jadi jangan berharap setelah menikah nantinya kamu berpikir ah mungkin sifat buruk dia setelah menikah akan berubah. Karena pernikahan bukanlah kamar ajaib yang bisa mengubah sifat asli seseorang. Maka dari itu perlu untuk mengenali sifat-sifat pasangan sebelum nantinya menyesal karena tidak sesuai yang diharapkan. Ya kalau memang nanti setelah menikah bisa berubah itu bonus buat kamu.?

Sebuah contoh percakapan sederhana: Seorang suami lupa mematikan lampu ruang tamu setelah selesai mengerjakan tugas kantornya. Kemudian si istri langsung mengingatkan si suami dengan nada bicara yang sedikit kesal, ?matikan lampunya (diulang 3x). Seketika sang suami yang sudah merasa letih menjadi emosi mendengar nada bicara istri. Lalu keduanya bertengkar. Padahal seandainya nada bicara istri disusun terlebih dahulu seperti ini ?kalau lampunya sudah selesai digunakan tolong dimatikan.?

Saya banyak belajar dari hidup orang-orang di sekitar lalu bercermin melihat diri sendiri apakah nanti bisa menerapkan semua hal yang sudah saya amati. Karena ilmu tentang menikah dan rumah tangga tidak dipelajari di sekolah. Pun tidak ada sekolahnya. Saya pun sedang belajar untuk mengatur pola dan nada bicara saya untuk orang yang nantinya akan bersama saya. Semoga saya tidak sekedar menerima apa adanya tapi bisa menyesuaikan dengan keadaan sebenarnya.