Skripsi Vs Menikah

Chusnus Shalichah
Karya Chusnus Shalichah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 Februari 2016
Skripsi Vs Menikah

Akhir-akhir ini banyak sekali yang menuliskan ?aku nggak sanggup lagi skripsian, pengen nikah aja?, ?aku capek di php dosen terus, pengen langsung wisuda terus nikah nggak pake nunggu nunggu dosen yang nggak jelas?. Jujur, bagi saya sendiri tulisan tersebut kurang nyaman dibaca, dipamerkan atau diramaikan di media sosial semacam BBM, facebook, twitter atau sebagai caption di instagram dengan foto wajah yang sedang galau nunggu dosen di jurusan. Bahkan saya sempat menegur secara halus disertai dengan guyonan kepada orang-orang terdekat saya, adik adik kelas saya yang saat ini sedang skripsi, mereka sempat menuliskan hal-hal semacam yang saya sebutkan tadi. Saya mengirimkan chat personal ?menikah lah ketika urusanmu dengan dirimu sendiri telah selesai?. Lalu adik kelas saya seketika menghapus status yang ia pasang di BBM. Saya pernah mengalami betapa sulitnya, betapa rumitnya hal-hal yang dialami mahasiswa yang sudah sampai tahap tugas akhir. Tetapi saya belajar untuk tidak mengeluhkannya di media sosial, saya lebih memilihnya menceritakan dengan orang orang terdekat yang saya percayai bisa memberi solusi. Misalnya saya curhat dengan kakak kelas saya yang sudah melewati masa masa skripsi. Hampir semuanya merasakan kesulitan kesulitan tersendiri tapi pada akhirnya hanya diri sendiri yang bisa menyelesaikannya. Menikah sama sekali tidak ada hubungannya dengan skripsi. Pun bukan sebagai jalan keluar skripsi akan lancar dan lekas wisuda. Skripsi dan menikah adalah dua hal yang sangat berbeda. Kalau masih tahap skripsi saja belum bisa mengatasi sendiri. Lantas bagaimana nantinya mengatasi urusan bersama orang lain ketika sudah menikah. Kalau menyatukan dua dosen pembimbing saja masih belum bisa, lantas bagaimana nantinya menyatukan dua keluarga. Urusan dengan dosen atau pihak kampus hanya sementara dan akan selesai maksimal ketika wisuda. Berbeda dengan urusan keluarga setelah menikah, akan dialami seumur hidup dan setiap urusan mempunyai penyelesaian yang berbeda beda. Bukan berarti saya menjudge atau tidak memahami perasaan mereka yang sedang dirumitkan oleh skripsi. Saya memahami apa yang dialami mereka meskipun kesulitan kami semua berbeda. Semua manusia pasti punya batas sabar yang berbeda beda dan terkadang mengeluh menjadi jalan satu satunya mengungkapkan rasa kesalnya. Hanya saja saya tidak ingin adik adik yang belum sampai di tahap skripsi, membaca keluhan tersebut menjadi menyerah di awal dan merasa ingin menikah saja.

Nikmati masa mudamu, nikmati asyiknya menanti dosen, nikmati quality time dan waktu begadangmu berdua dengan skripsimu. Dan menikahlah karena kamu telah siap dan menyediakan hatimu untuk mengurusi hidup pasanganmu.