Film "Monster Inc." sebagai cermin dan model pembelajaran

Edwin Tan
Karya Edwin Tan  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Maret 2016
Film

Film animasi keren, cerita tentang kota para monster yang dihidupi oleh energi yang dihasilkan oleh KETAKUTAN ANAK-ANAK. Tetapi kehidupan kota menjadi berantakan, karena seorang anak, Boo, menyusup ke kota ini dan mengacaukan keadaannya.

Akhir ceritanya sangat menyentuh dan penuh makna karena diketemukan, ternyata yang bisa menghasilkan energi lebih besar untuk kota itu, BUKAN melalui ketakutan anak-anak, tetapi melalui tawa ceria dan lepas dari hati anak-anak.
Energinya ternyata JAUH LEBIH BESAR, dan hidup terasa jadi lebih menyenangkan bagi semua orang.

Hemmm....seandainya saja sekolah-sekolah yang ada seperti ini.

Semoga salah, tetapi ada guru yang ketika siswa mengikuti ujian dan banyak yang gagal, bukan merasa sedih tetapi malah terselip sedikit rasa bangga seolah dengan banyaknya yang gagal dalam ujian tersebut menunjukkan betapa berbobotnya mata pelajaran yang diajarkan sehingga banyak yang nggak lulus.

Lebih celaka lagi, nilai nggak lulus itu dibiarkan begitu saja dengan alasan, "Biar aja dulu dia dapet nilai jelek supaya dia tau diri dan belajar sungguh-sungguh."

Padahal, untuk dapet nilai jelek seperti itu, siswa itu udah belajar setengah mati sampe ketiduran saking kecapeannya.

Bukan sekedar tidur kecapean, tetapi malahan anak itu berjerih lelah untuk materi yang diujikan - yang nanti tidak akan berguna bagi kehidupannya. Yup, boleh nggak percaya tapi kenyataan sering membuktikan bahwa banyak materi yang diajarkan di sekolah tidak terpakai dalam kehidupan kelak.

Belum lagi, siswa itu mendapat nilai jelek karena soal ujian yang diberikan sesungguhnya bukan membentuk dan mempertajam kecerdasannya, tetapi sekedar kemampuan menghafal, yaitu materi yang hari ini diingat tetapi dua hari kemudian lupa selamanya.

Lagi pula, apakah mampu mengingat tanggal dimulainya Perang Padri lebih berguna dibanding pujian yang membangkitkan harga diri dan semangat?

Hemmm......kenapa kita sangat mengagungkan hasil dan melupakan proses?

Padahal, untuk beberapa point dari nilai yang gak lulus tersebut, yang tidak diperoleh walau sudah berusaha setengah mati, si Anak akan menerima makian dari orang tua, yang juga lebih menghargai hasil daripada proses.

Padahal, sekolah ada tempat untuk berproses dan menjadi. Kesuksesan bukanlah sebuah tempat, tetapi perjalanan berproses.

Kalo bagi saya sendiri, ujian; sebenrnya bukan untuk menguji kemampuan siswa, tetapi juga untuk menguji kemampuan guru; apakah berhasil atau nggak mentransformasi ilmu tersebut dalam kehidupan siswa.

Mungkin, banyaknya nilai gagal tersebut karena kita kurang memahami siswa sehingga mereka nggak sanggup mengerti. Mungkin, kita? ngajar dengan cara yang nggak cocok dengan gaya belajar siswa sehingga mereka sulit memahami, dan seterusnya dan seterusnya.

Belajar dari Monster Inc., kita bisa sangat yakin, akan ada banyak "energi kecerdasan dan prestasi" mengejutkan yang akan dihasilkan oleh sekolah yang dipenuhi keceriaan dan tawa lepas siswanya, dibanding oleh sekolah yang dipenuhi oleh "energi ketakutan".

Ketakutan dan tekanan, bukan cara memotivasi terbaik untuk membangkitkan prestasi, TETAPI DORONGAN dan DUKUNGAN SEMANGAT itulah yang menghasilkan energi positif dan keceriaan. Bukankah setiap kita lebih suka di dorong dan di motivasi, daripada di tekan dan dijatuhkan?

Heemmm....saya mau jadi seperti Boo,
anak kecil penyusup yang mengacaukan kehdiupan kota itu dan mengubah ketakutan menjadi keceriaan, si penghasil "energi" terbesar serta menjadikan sekolah sebagai tempat yang lebih ramah dan menyenangkan.

Tulisan ini saya tulisin dari dalam hati,
Saya sangat berharap dan berdoa, moga tulisan ini juga sampai ke hati kalian.

  • view 137