KEMBALIKU DAN DATANGNYA

Choke J.S
Karya Choke J.S Kategori Project
dipublikasikan 13 Februari 2017
PULANG

PULANG


Selalu ada cerita saat kita kembali bersua

Kategori Cerita Pendek

86 Hak Cipta Terlindungi
KEMBALIKU DAN DATANGNYA

Bumi seakan berhenti. Gema suara dalang wayang kulit dan iringan gamelan yang mengalun bercampur aduk dengan hiruk pikuk para penjual dadakan di lapak-lapak mereka serta para penduduk yang ramai berdatangan tidak terdengar oleh mereka. Keduanya seolah dalam dimensi kosong yang dipenuhi atmosfer hitam yang kedap suara, tak ada keramaian lalu lalang, tak ada kelap kelip lampu kendaraan, tak ada gemerlap cahaya neon di lapak-lapak pedagang. Mata meraka saling menatap lekat. Saling menerawang jauh ke masa saat mereka masih bersama.

“Kamu bareng teman-teman aja, aku sendirian gak papa, “ pinta Awi “

Egaklah aku mau menemani kamu, “ jawab Kusnia

Beberapa anak MAN 1, teman sekolah Awi dan Kusnia berlalu, dengan sepeda ataupun motor mereka. Ada yang menyapa, ada pula yang sekedar membunyikan bel. Kusnia dan Awi membalas mereka dengan senyuman, meskipun wajah mereka kusam dan penuh dengan cucuran peluh.

“Tukang tambal ban masih jauh ujung andilan, kamu nanti capek hlo.” Kata Awi Sambil terus berjalan menuntun sepeda ontelnya.

“Gak papa to capek,  asalkan sama kamu, “ Kusnia mendorong sepeda dari belakang sambil tersenyum malu

“Halah di bilangin, kamu kalo gak segera nyampe rumah ntar Emak sama Bapakmu pasti marah, mereka pulang dari sawah makanan belum siap, “ Awi mencoba mencari alasan

“Hla masak aku berangkat sama  kamu, pulang kamu tak tinggal,”

Matahari semakin condong ke barat, tak banyak lagi orang yang lewat. Bedua berjalan tanpa suara, hanya deritan jeruji yang terdengar, memecah kesunyian jalan yang membelah area persawahan itu. Awi membuka obrolan.

“Orang rumah lebih memerlukan kamu, aku gak mau gara-gara............” Awi tak melanjutkan perkataannya

Tiba-tiba seorang pengendara motor GL Max berhenti tepat di samping mereka.

“Ban mu bocor, Wi ?” Huda, pengendara motor itu bertanya

“Iya Hud, kamu bisa tolong barenging Kusnia gak?” tiba-tiba Awi meminta

Kusnia menatap awi dengan tatapan memprotes

“Boleh, ayo Kus!” ajak Huda

“Ayo sana bareng Huda,” pinta Awi

Dengan raut penuh protes, Kusnia berjalan perlahan mendekati motor Huda. Kusnia malas-malas naik  jok belakang. Tak ada kata pamit dari mulut Kusnia untuk Awi, yang ada hanya mimik murung dari wajahnya. Huda dan Kusnia berlalu, menyisakan  asap kenalpot dan debu.

Kusnia lalu lalang dari dapur ke meja makan menyiapkan makanan. Ia seka keringat di keningnya, dan ia benarkan letak jilbabnya. Kusnia menghidangkan ikan pindang di meja makan yang sudah tersedia sebakul nasi, sayur rebung, sambel terasi dan satu cerek air.

“Saf, bawakan piring, sendok dan gelas !” teriak Kusnia

“Iya Mbak, “ jawab suara dari dapur belakang

Bapak masuk dari pintu samping masih mengenakan baju lusuh dan kotor yang biasa ia pakai untuk bekerja di sawah.

“Teriak-teriak, jadi anak perempuan itu yang santun ! “ Bapak tiba-tiba menghardik

Kusnia menganggukan kepala seraya menunduk, Safina yang masuk dari dapur juga menunduk, takut-takut menaruh setupuk piring ke meja makan. Kusnia masuk ke dapur, mengambil gelas dan sendok lalu meletakkannya di meja makan. Terlihat Emak, Bapak dan Safina sudah duduk di kursi meja makan. Kusnia duduk di samping Safina. Sekeluarga makan dengan khidmat dan sunyi, tanpa satu suara keluar dari mulut Kusnia sekeluarga. Gemericik air mengalir dari mulut cerek berpindah ke dalam sebuah gelas memecah keheningan. Emak menuang air minum untuk Bapak. Bapak menenggak air di gelas. Makan keluarga Kusnia telah selesai, dan ini adalah waktu yang berat untuk Kusnia dan Safina. Ruang makan bagi mereka adalah ruang sidang, Meja dan kursi kayu lusuh yang sudah berumur melebihi umur Kusnia, serta penerangan bohlam 15 watt menjadi saksi bagaimana mereka melewati petang bertahun-tahun dengan tertekan. Bagi Emak dan Bapak ini adalah ajang bagaimana mendidik anak-anaknya, memberikan nasihat-nasihat, wejangan, fatwa bahkan perintah mutlak yang harus dilaksanakan oleh kedua putrinya.

Tak ada waktu spesial bagi Keluarga Kusnia untuk bercengkerama dan berdialog bersama selain di Hari Raya Idul Fitri, idul Adha dan saat makan sahur di bulan Puasa, selebihnya hanya di waktu makan petang mereka berkumpul. Tak ada sarapan bersama, pagi-pagi ba’da Subuh Bapak sudah pergi ke Sawah. Kusnia, Safina dan Emak sibuk memasak untuk dibawa ke sawah. Selesai memasak,  Emak menyusul Bapak ke sawah sambil membawkan bekal untuk Bapak. Kusnia dan Sefina bergantian untuk sarapan dan mandi, lantas mereka bergegas berangkat ke sekolah. Hari minggu pun sama, tak ada kata libur untuk Emak dan Bapak, kecuali saat mereka sakit baru libur untuk ke sawah. Keluarga Kusnia bukanlah golongan orang miskin, Bapak Kusnia adalah orang yang terpandang sebagi petani kaya, sawah yang luas peninggalan Kakek dan Nenek Kusnia terbilang luas. Mereka sekeluarga tak pernah kekurangan, meski dengan rumah sederhana namun ternak dan hasil bumi mereka melebihi tetangga-tetangga mereka.

“Kamu tadi sekolah bareng Huda ?” Emak bertanya kepada Kusnia

“Iya Mak, “ jawab Kusnia Singkat

“Motor mu apa masih rusak ?” tanya Bapak

“Masih pak, besok hari minggu, baru mau Kus bawa ke Bengkel. Sekarang sekolah pulang sore terus, ada pendalaman pelajaran buat Ujian Nasional, jadi belum ada waktu untuk membawa motor ke Bengkel, “ Kusnia menjelaskan

“Ohhh ya udah gak papa, sementara itu kamu bareng Huda aja, biar dia sekalian jemput kamu tiap pagi, kalo kamu sungkan, nanti Bapak yang ngomong langsung ke Lek Mul, bapaknya Huda, “

“Tapi pak...,” Kusnia hendak protes namun Emak segera memotong

“Huda itu rajin bantu bapaknya, tiap sore dan hari Minggu dia selalu ikut ke sawah, sebagai anak sulung borek  kacang masa depan Huda jelas, gak kayak Awi, Bapaknya cuma buruh tani, Emaknya kerjaannya cuma anam kepang, “

Emak tahu kedekatan Kusnia dan Awi. Kusnia juga tahu Emak dan Bapak bakalan melarang mereka untuk dekat, alasannya sederhana Awi dari keluarga miskin, Emak dan Bapak Kusnia tak mau punya mantu yang  menjadi beban keluarga.

*****

Langit murung, berliter-liter air tumpah ruah membasahi tanah. Awi mendekap ranselnya erat-erat, sedikit mengobati hawa dingin di tubuhnya. Dia duduk di kursi besi teras stasiun dengan jaket yang basah. Dia menunggu pintu gerbang menuju ruang tunggu di buka oleh penjaga stasiun, namun tak ada tanda-tanda adanya petugas di stasiun itu. Dia hanya seorang diri. Di rogohnya tiket keretanya menuju Jakarta, keberangkatan pukul 18.10, dia melirik jam yang tertempel di dinding stasiun masih pukul 16.00. Namun suasana nampak begitu sore karena mendung dan hujan.

Sebuah stasiun di tengah sawah dan derasnya hujan membuat suasana semakin suram, di tengah kesendiriannya bayang-bayang sakit hati kembali berputar-putar di angannya. Ia tak akan pernah lupa saat Bapak Kusnia melabrak rumahnya, merendahkan kedua orang tuanya dan membuat takut ketiga adiknya.. Dia ingat benar paksaan Bapak Kusnia agar Ia menjauhi Kusnia. Masih melekat bagaimana Bapak Kusnia melemparkan tiga lembar uang seratus ribuan sebagai ganti agar Ia meninggalkan Kusnia. Awi berdiri, ditengadahkan kepalanya ke arah turunnya air hujan, tak terasa air matanya ikut terjatuh, ia terisak. Sampai dia tersadar saat ada seroang wanita memeluknya dari belakang.

*****

Stasiun mulai ramai, terdengar suara orang-orang saling berdesak-desakan dengan frekuensi gemuruh hujan. Awi memeluk Kusnia erat, nafasnya tak beraturan. Poni Kusnia keluar dari jilbabnya yang kusut dan berantakan, rambut Awi lepek karena air bercampur peluh. Kubik toilet yang sempit tanpa ventilasi membuat keduanya nampak penuh keringat. Awi memandang wajah Kusnia lekat-lekat, terlihat Kusnia terengah-engah, matanya sembab namun terpancar kebahagiaan. Suara keras tiba-tiba memecahkan keasyik masyukan keduanya. Pengumuman dari toa terdengar, kereta menuju jakarta akan segera tiba. Awi sedikit panik, Ia lepaskan pelukannya, Ia kecup kening Kusnia buru-burur, ia dekatkan mulutnya ke telinga kusnia yang tertutup jilbab,

“Cintaku akan sama sampai kapanpun, aku akan kembali untuk mendapatkanmu !” Awi berbisik

Awi lalu berdiri, merapikan celananya dan menutup resletingnya, Ia angkat ranselnya di lantai tolilet lalu ia gendong, dengan tergesa Ia buka pintu toliet dan berlalu pergi. Pintu toilet tertutup kembali dengan sendirinya. Kusnia duduk di pojok toilet, Ia menunduk, air matanya pecah. Ia terisak. Ia menjerit sekencang-kencangnya namun kalah dengan suara kereta lewat yang berpadu dengan derasnya hujan. Kusnia lalu merogoh kantung roknya, mengeluarkan selembar undangan pernikahan yang tertulis besar-besar nama dia dan Huda. Ia tak mampu memberitahu Awi, Ia tak mampu menolak pernikahannya. Kusnia kembali terisak, surat undangan pernikahannya terlepas dari genggamannya, terjatuh tepat menutupi roknya yang terkena noda darah.

*****

“Emak.....!” Teriakan seorang anak kecil perempuan memecahkan dimensi gelap Awi dan Kusnia.

Iringan gamelan dan gema suara dalang kembali terdengar oleh mereka. Hiruk-pikuk para penjual dan para penduduk kampung yang berlalu lalang di sekitar mereka kembali mengusik. Seorang anak kecil berusia 6 tahunan berlari ke arah Kusnia sambil membawa gula kapas ditangan nya.

“Emak.....!” teriaknya lagi ke Kusnia, sambil bergelandotan di rok Kusnia

Anak itu memandangi Awi dengan tatapan penuh tanya. Awi membalas pandangannya  lekat-lekat, rambutnya, matanya, hidunga....

“Anak mu Wi!” suara Kusnia kembali terdengar di telinga Awi setelah sekian lama

Awi mematung kaget. Kusnia menggendong anak itu dan berlalu pergi. Di tepoknya pundak Awi. Awi tersadar, nampak di depanya tiga orang lelaki seusianya.

“Awi, kalo adikmu gak menikah dan bapakmu gak nanggap wayang kayaknya kamu gak bakalan pulang ya wi ?” sapa pria 1

“Piye kabarmu wi ?” tanya pria 2 sambil menepuk-nepuk bahu Awi

Awi tak menghiraukannya, matanya mencari keseliling, dia berlari ke arah Kusnia, pergi meninggalkan ketiga pria, yang terbengong-bengong. Awi mencari-cari Kusnia namun bayangannya hilang bersama hiruk pikuk lalu-lalang orang, lenyap dalam hitam dan gelap.

 

Gelora X B, 13-02-2017 – 01:23 WIB

  • view 85