Full di Sekolah atau Full di Rumah ?

Choke J.S
Karya Choke J.S Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Agustus 2016
Full di Sekolah atau Full di Rumah ?

Saya tidak tahu dari mana saya akan memulai tulisan saya ini, saya ingin bercerita laksana berkata, seperti curhat dengan seorang teman yang mengalir begitu saja. Saya ingin berbagi kisah bagaimana saya kecil dulu bersekolah. Masa sekolah dasar, saya habiskan di daerah pariwisata di Lereng Gunung Welirang Kabupaten Pasuruan. Namanya daerah wisata tentunya lebih maju dari pada wilayah-wilayah lain di Kabupaten tempat saya tinggal. Meskipun bukan masuk wilayah kota namun kehidupan saya disana jauh dari kesan tertinggal. Berbagai fasilitas mainan modern yang menjadi tren saat itu bisa saya dapatkan dengan mudah, seperti persewaan play station, game zone, persewaan scooter, kolam renang, taman bermain, sirkuit tamiya dan sebagainya. Di rumah Bapak juga sudah menyediakan nitendo, monopoli, sepeda gunung, robot dan mainan lain yang saya ingin miliki. Jika bosan saya juga bisa dengan mudah bermain tradisional di luar rumah bersama teman-teman saya, main layang-layang, masuk ke hutan mencari burung dan kumbang, bermain petak umpet, sepak bola, lompat karet  dan mainan tradisonal lainnya.

Hidup indah masa kecil saya dengan berbagai permainan tidak membuat saya terlena. Bagaimana tidak saya mempunyai kewajiban untuk belajar. Pagi hari pukul 07.00 saya harus sudah masuk kelas,  pukul 12.00 bel pulang sekolah berbunyi,  namun pukul 13.30 saya sudah harus di sekolah lagi untuk mengikuti les mata pelajaran tambahan. Jarak rumah yang lumayan jauh dengan berjalan kaki, memuat saya tidak pulang ke rumah. Ibu selalu membuatkan bekal untuk makan siang saya. Di sekolah juga tidak sepi, banyak teman-teman yang memilih untuk tidak pulang. Waktu dari pukul 12.00 sampai 13.30 saya gunakan untuk bermain bersama teman-teman di lingkungan sekolah. Les berakhir pukul 14.30 dan pukul 16.00  saya sudah harus pergi ke Taman Pendidikan Al-Quran modern  yang letaknya tepat di samping sekolah SD saya. Rentang waktu satu setengah jam biasanya saya gunakan untuk pulang, itupun hanya cukup untuk sekedar mandi, ganti baju muslim dan kembali berangkat untuk mengaji. Terkadang jika capek atau ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah saya lebih memilih membawa baju muslim dari pagi, mandi di sekolah, berganti pakaian lalu langsung mengaji, tidak perlu pulang dulu. Kegiatan belajar agama saya berakhir setelah Sholat Magrib berlangsung.

Sampai di rumah saya tidak bisa berleha-leha untuk menonton sinetron, Ibu selalu menyuruh saya menyelesaikan PR dan juga menyiapkan buku-buku pelajaran untuk esok hari, baru setelah itu saya di ijinkan menonton TV bersama keluarga. Hari-hari seperti itu saya lalui 6 hari dalam seminggu selama 6 tahun. Waktu hari Minggu pun saya tidak bisa sepenuhnya untuk bermain. Bapak memasukan saya ke sanggar seni, saya pun tak menolak, karena disana saya bisa belajar menggambar, melukis, menari dan bermain musik tradisional yang merupakan kegemaran dan minat saya. Kegiatan di sanggar dari pukul 8.00 pagi dan  selesai pukul 12.00 siang.

Jauh melihat masa SD,  saya jadi bergumam sendiri, “Kalau dipikir-pikir saya sekolah dulu sudah berkonsep Full Day School ya ?” Bagaimana tidak,  bukannya waktu saya habis di sekolah untuk belajar dan belajar. Namun bukannya saya menyombongkan diri,  hari-hari yang keras saya untuk menempuh pendikan terbayar dengan prestasi yang membuat kedua orang tua dan tentu saya pribadi bangga. Jika mudik ke rumah Nenek di desa saat lebaran,  saya adalah cucu yang paling bersinar di banding cucu-cucu nenek yang lain, Saya selalu masuk 3 besar peringkat  kelas, juara menggambar di tingkat kabupaten, dan ilmu agama saya juga tidak kalah dengan sepupu-sepupu saya yang sekolah di madrasah. Dengan padatnya jam sekolah saya, saya tidak punya waktu untuk membuang-buang waktu, untuk menongkrong, untuk mengenal rokok dan untuk mengenal hal-hal negatif lainnya, yang ada justru prestasi saya semakin bagus.

Membayangkan masa SD saya, saya pun bergumam lagi “Kalau gitu memang benar,  adanya wacana Full Day School sih harus di terapkan di negara ini.”  Gumaman saya itu bukan tanpa alasan, kita lihat saja begitu banyak  berita tentang kenalakan anak-anak usia sekolah, yang merokok lah ,  yang di tangkap satpol PP karena mesum di alun-alun saat bulan puasa lah, yang NAFZA, hingga kasus pelecehan seksual, kenakalan seperti ini mungkin akan bisa diminimalisir dengan konsep Full Day School. Apalagi seperti info di internet, negara-negara dengan kualitas SDM yang bagus seperti China, Korea Selatan dan Jepang sudah sejak kapan tahu menerapkan Full Day School, jadi menurut saya memang sudah waktunya Indonesia menerapkannya.

Saya pribadi hampir mengetok palu untuk mendukung wacana Full Day School dari Pak Menteri yang baru, sampai akhirnya saya teringat riwayat pendidikan saya di sekolah menengah. Saya melanjutkan ke SLTP (sekolah lanjutan tingkat pertama) di sekolah paling favorit se-kabupaten. Sekolah dengan beragam kegiatan baik intra maupun ekstra, sekolah yang benar-benar menyibukkan dan membuat nyaman siswanya untuk belajar dan belajar. Ya..yaa...hampir sama saat saya masih SD, berangkat pagi pulang sekolah petang. Namun rutinitas itu berlangsung satu semester bagi saya. Karena suatu hal saya harus pindah domisili, tinggal di desa menemani Nenek. Desa nenek saya di daerah Blitar bagian barat, kawasan pertanian, peternakan dan pertambangan pasir.

Perubahan 180? terjadi pada saya, tidak hanya lingkungan namun juga pendidikan. Tidak ada kegiatan di sekolah sampai petang, pukul 13.00 sekolah sudah sepi, murid dan guru semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Di desa anak-anak seusia saya  mempunyai kewajiban yang lebih, tidak hanya bersekolah namun juga membantu orang tua mereka bekerja. Sepulang sekolah teman-teman saya ada yang ke sawah untuk membantu orang tuanya, mulai dari memupuk tananaman, membersihakan lahan sawah dari rumput sampai membantu memanen hasil bumi. Bagi yang peternak mereka membantu orang tuanya ngarit untuk pakan sapi, memberi makan ayam-ayamnya, atau ikan-ikan di blumbang. Ada pula yang di rumah saja membantu menjemur hasil panen, menjaga hasil panen yang di jemur agar tidak dimakan ayam atau burung, atau memasak di dapur,  menyiapkan makan malam untuk kedua orang tua mereka yang sedang bekerja di sawah atau di ladang.  Bahkan ada pula yang mencari kayu bakar atau pun membantu orang tuanya di kali mencari pasir. Baru saat malam menjelang, selepas Magrib, suara teman-teman saya dengan merdu mengalun lewat toa surau untuk tadarus Al-Quran di bimbing  seorang Guru Ngaji.

Menjadi sebuah pertanyaan, apakah cocok  Full Day School untuk anak-anak di desa seperti teman-teman SMP saya? dengan lantang tanpa bergumam tentu saya jawab tidak. Gerakan teman-teman saya turun ke sawah atau pekerjaan lain selepas sekolah bukanlah bentuk eksploitasi pada anak. Mereka senang melakukannya, mereka mengamini itu kewajiban mereka, itu sebuah budaya di desa. Seperti saya yang rela menghabiskan waktu libur untuk ke sanggar, karena saya tahu saya akan jago berkesenian, saya kan bisa jadi juara menggambar. Merekapun juga sama, rela ngarit,  karena jika nanti sapi Bapaknya beranak, anak sapinya  akan jadi miliknya. Rela membantu ke sawah karena jika hasil panen melimpah, orang tuanya akan punya banyak tabungan untuk biaya dia sekolah selanjutnya.

Bebeda daerah, berbeda pulau, berbeda  budaya, berbeda letak geografis bahkan tentu berbeda individu yang sekolah. Full Day School mungkin akan cocok untuk anak-anak kaum urban, mungkin! Sedangkan anak-anak desa biarlah mereka belajar sesuai dengan waktu yang mereka butuhkan. Namun permasalahan baru akan muncul akankah berbeda kurikulum anak kota dan desa, akan kah anak desa akan terbelakang anak kota akan semakin maju ke depan? Mengapa bingung? Bukankah anak-anak mempunyai orang tua? Orang tua adalah guru utama bagi anak. Rumah adalah kurikulum terbaik untuk anak.  

 

 

  • view 153