Hey ... Abang Abay

Chintya Dewi
Karya Chintya Dewi Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 26 Februari 2016
Hey ... Abang Abay

Hey , . . . Abay

===========================================

Laksana Tuhan menjatuhkanmu malam itu

Dari langit ke-tujuh

Dan ketika kau jatuh,

Sayapmu patah,

Menjelma menjadi kasih tak terhingga bagi mereka yang bersamamu.

?

Langkah kakimu malam itu

Tertuju padaku

Dengan senyum sapa yang begitu menyenangkan

Dengan pesona yang tak pernah terbayangkan

?

Aku fikir, kau malaikat

Tapi nyatanya, kau sama

Seperti mereka, manusia biasa

Seperti mereka

Yang datang dengan membawa harapan

Kemudian pergi,

Meninggalkan lubang menganga yang begitu dalam

?

Sadarkah, kepergianmu menyebabkan lara?

Aku fikir, ketika hari itu kau pergi

Aku akan benar-benar kehilanganmu

Tak lagi merasa kasih sayangmu

Tak lagi merasa kau bersamaku

dan ketika kau pergi,

kau membuatku laksana manusia kopong, tak bernyawa

?

Tapi nyatanya, kau manusia yang berbeda

Berbeda dengan mereka yang pergi dan tak kembali

Berbeda dengan mereka yang kini melenggang sesuka hati tanpa pernah kembali

Kau berbeda,

kau masih tetap ada

Walau jarak membuatku tak lagi mampu menatap matamu yang meneduhkan

Menikmati senyummu yang menenangkan

Kau tetap ada

Dimanapun aku memanggilmu

Dengan panggilan apapun sesuka ku

?

Kau tetap ada,

Di posisimu seperti semula

Seperti sejak pertama, kau langakahkan kakimu menuju aku

Dengan kasih yang sama

Dengan sayang yang semakin tak terhingga

?

Dan kini, manusia kopong ini

Hidup kembali seperti sedia kala

Dengan semangat baru yang membara

Di selimuti hangat kasihmu yang tiada tara

?

Bolehkah aku meminta untuk kau tetap tinggal?

Entah hingga kapan,

Entah hingga batas waktu yang mana aku memintamu untuk tinggal

Bersamaku, bersama aku yang terlalu nyaman denganmu

Bersama aku yang kini hidup dengan nafasmu

Bersama aku yang kini hidup dengan kasih sayangmu

?

Bolehkah ku meminta kepada Tuhan?

Agar kau tetap menjadi dirimu

Tanpa topeng yang kau pasang, apalagi di hadapanku

Tanpa ketegaran yang pura-pura yang tunjukkan

Tanpa lara bekas masa lalumu yang tak terperi rasanya.

Karana, kau aku dan kita

Hanya manusia biasa yang harus tetap hidup setiap harinya

Dengan harapan baru,

Dengan kasih baru

Dengan cinta dan semangat yang baru

?

Bolehkah aku meminta kepada Tuhan?

Untuk menjagamu disana,

Untuk menopang langkahmu agar kau tetap tegak setiap harinya

Untuk menghangatkan hatimu dengan cinta kasih-Nya

Laksana cinta kasihmu yang kau berikan untuk mereka di sekelilingmu

Lebih hangat, lebih hangat Tuhan akan memelukmu dari pada itu

?

Bolehkah aku meminta kepadamu?

Untuk tetap disini,

Dengan dirimu yang sama,

Dengan setiap lekukmu yang selalu ku rindu

Bolehkah suatu hari nanti aku memelukmu?

Satu jam saja.

?

Terima kasih untuk cinta dan kasih sayangmu

Aku, mereka dan Tuhan

Menyayangimu,

Sangat.

?

?

=============================================

s389.photobucket.com

  • view 106