When I Was Your Girl

Chintya Dewi
Karya Chintya Dewi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2016
When I Was Your Girl

Hujan kini menjadikan kita bersama. Kita pecinta hujan, tapi sayangnya kita tak pernah boleh berteman dengan hujan, biar tetep sehat katanya.?

Hari itu, mata kuliah rasanya terlalu kejam.?Ah jangan mengeluh?katamu.?Kita bukan anak SMA lagi. ?Tapi kan, tiba-tiba presentasi, tiba-tiba penurunan rumus yang satu soal aja satu folio penuh, tapi kan, tapi kan tapi kan?...dan kau hanya tersenyum.?

?Kabarin bapak, Sina pulang sama Rio aja. Lagian ujan juga, kasian kalau harus jemput?. Katamu, Sina hanya terdiam. Entahlah, terlalu berlebihan mungkin tapi Sina tak percaya. Nyatanya rumah Sina terlalu jauh, dan banyak dari mereka menolak untuk sekedar mampir kerumah.

?Eh, cepet di kabarin bapak. Keburu berangkat jemput kamu kasian?. Segera ku kabari bapak. Dan, kutunjukkan balasan pesan bapak yang membuatnya tersenyum.?

Hujan mulai reda, tapi masih menyisakan rintik hujan nya yang mulai melunak, dan semakin berkurang jumlahnya.??Ayo pulang?. Sina mengikutinya dari belakang. Selama di perjalanan, bahasan yang mereka bicarakan hanya tentang mata kuliah hari ini, persiapan ujian semester dan mantan.?

15 menit berlalu

Langit? lagi-lagi menumpahkan airnya. Membuat jalanan basah, pasangan muda-mudi yang tengah berhenti dipinggir jalan-entah sedang apa-tunggang langgang. Ia mulai memacu motornya dengan kecepatan lebih, berhenti di mini market yang masih buka. ?Rio beli minum dulu ya, Sina mau ikut masuk??

?Nggak deh, Sina nunggu aja duduk disitu, tuh?.

Ponsel Sina berbunyi, tanpa nama yang kontaknya masih ia hafal hingga kini. Hendi-sang mantan.

?Ada apa??

?Lu belum pulang ya??

?Belum. Hujan. Kenapa??

?Lu ngerebut pacar siapa lagi sekarang? Astagaaa, jangan jadi murah gitu deh?

?Maksudnya apaan sih??

Perdebatan yang tak berujung itu masih berlangsung, ketika ia keluar dari minimarket dengan dua botol minuman ditangannya. Ponsel Sina kini berada ditangan Rio, mengehentikan perdebatanku yang tak ada akhirnya.

?Hendi lagi? Jangan di urusin yah. Seharian kuliah kita itu udah capek, kalau kamu ngurusin yang kaya gini juga buang-buang energi. Nih minum?. Ia memberiku sebotol yang ia bawa. Sina memperhatikan Rio yang sedang mencari-cari sesuatu.

?Nyari apa??

?Colokan. Hp ku lowbet? kemudian ia berjalan, sepertinya ia menemukan apa yang tengah ia cari. Ia tersenyum kepada Sina, menunjukkan hpnya yang kini tengah di charge.

Detikpun terus berputar. Ia meninggalkan hpnya yang tengah di charge, dan menghampiri Sina. Tak ada kata, tak ada gerak. Hanya rintik hujan yang terus berjatuhan.

***

?Boleh belajar dirumah nggak??

?Boleh kok, dateng aja?

?Bawa temen boleh??

?Tentu?.

Hari itu, malam sebelum ujian pertama semester tiga Sina dimulai. Rio- ?mahasiswa pedalaman banyak materi? yang kebetulan kini bersama dengan angkatannya. Hujan kala itu, Rio sempat bercerita, bahwa belum lama ini Rio menjadi seorang yatim piatu, dan sakitnya kambuh. Dan yah, kuliahnya berantakan dan kini Rio harus mengulang. Sejak saat itu pula, Rio sering jatuh sakit-yang sakitnya pun menimpa Sina juga. Dengan disaksikan hujan dan angin malam itu, ada sebuah janji yang tak terucap-hanya untuk Sina bahwa Ia bertekad untuk menemani Rio, membantunya sebisa mungkin, setidaknya hingga ia wisuda nanti.

***

Tekad Sina ternyata menjadi boomerang. Membuatnya sering merasa khawatir ketika Rio tak terlihat dan tak ada kabar, membuatnya juga merasa pening ketika kuliahnya agak sedikit bermasalah. Tapi, janjiku harus terbayar, semampunya saja, meringankan bolehkan?. Kata Sina terus dalam hati ketika kekalutan itu terus mengahantui. Ketika khawatir itu terus saja hadir sebelum ia memberi kabar.

Nikmati saja, itu cukup. Jangan difikirkan, apalagi kata orang, kata seorang teman disuatu sore. Sejak kedekatan itu banyak yang mengira bahwa Sina dan Rio adalah sepasang kekasih. Sina hanya tersenyum dan bilang nggak kok ka, temanan doang.

?Masa temenan? Yakin temenan? Temananya bikin iri ya. Kamu ujian, dia nungguin di parkiran sampe selesai, padahal dia nggak ada jadwal. Hujan-hujan suka jemput ke kampus, nemenin belanja, pernah pake jaket angkatan kamu juga loh pas kuliah bareng kita dan bla bla bla ...?

Nyatanya, kita bukanlah apa-apa. Hanya Sina dan Rio saja, bukan kita. Entah apa yang tersembunyi, entah apa yang ditutup-tutupi. Sina hanya ingin memenuhi tekadnya saja, itu saja. Iya, mungkin itu saja.

***

?Rio KKN disana? Kan dingin. Nanti kalau sakit gimana??, Sina hanya tersenyum malu setelah sadar apa yang Sina katakan barusan. Rio pun demikian, terdiam, dan melanjutkan apa yang tengah ia kerjakan- ngira-ngira mekanisme reaksi.

?Nggak papa kok. Aku udah tanya-tanya. Lagian Aku dapet desanya yang nggak terlalu dalem. Jadi ya, suhunya nggak ekstrem banget. Percaya deh?

?Ya udah, terserah kamu. Lagian udah dibagiin juga desanya??

?Iya sih, hehe. Tapi kamu nanti kalau KKN jangan kesana ya. Dingin?.

?Tuh kaan, Sina nggak boleh. Rionya KKN disana malahan. Curang banget?

?Aku kan cowo. Haha, lagian kesana jauh,capek perjalanannya juga. KKN dimana aja sama aja kok. Yang penting pengabdiannya, kan??

Hari pengabdiannya tiba. Tiga puluh lima hari liburannya. Hari itu tepat dua hari setelah ujian semester berakhir. Rencana ?pamitan? pun tak pernah terlaksana. Sibuk. Dan Sina memilih pergi berlibur. Pulang, menyendiri- memikirkan jawaban atas sesuatu hal yang tak terlihat ? kita ini (si)apa?.

Sina menanti hari kepulangannya, tepat hari ulang tahunnya yang ke-22. Hari itu, waktu liburnya masih sepuluh hari. Namun entah mengapa, Sina memilih untuk segera pulang. Mencarikan kado untuknya, dan menyambutnya pulang pengabdian.

***

Kini, hari bergulung menjadi bulan. Kado ulang tahun dan penyambutannya tak pernah sampai ketangannya. Tak ada pertemuan lagi setelahnya. Sebut saja, sibuk. Ia sibuk pergi menyusuri jalan kebahagiaannya sendiri, tanpa berpamitan. Mungkin ia pergi, katanya mau jaga perasaanmu. Soalnya Sinanya udah sayang banget kayaknya sama Rio. Kata si itu, yang hanya ku jawab dengan anggukan kepala.

Nyatanya, kepergiannya yang meninggalkan lubang besar itu, masih membuat tekad Sina terus menyala, karena langkah kelulusannya masih begitu lama. Sina dan ia masih sering bertemu. Jatah sks Sina yang masih banyak dan ia pun masih terlalu banyak satu kelas bersama Sina. Sina menyaksikannya, menatapnya dengan penuh lara tak terlihat ketika bukan lagi Sina yang menemaninya melewati setiap bab mata kuliah, ketika kebiasaan dulu yang sering Rio dan Sina lakukan kini berganti orang. Lara yang Rio tinggalkan sempat membuat Sina hampir memilih untuk berhenti sejenak, berlari, atau apapun asal tak melihatnya. Nyatanya, Sina harus melewatinya. Bersamaan, dengan kuliahnya yang semakin sulit bersama dengan lara hati yang harus di tahan agar tak menangis tiba-tiba.

Waktu terus saja berlalu. Kita ini apa? Rio itu (si)apa?. Sina masih belum punya jawaban pasti untuk itu. Ada sebuah perasaan hampa ketika ia pergi, ada sebuah rasa kecewa ketika ia pergi jika mungkin karena genggaman tak terlihatku terlalu membuatnya tak bahagia. Sina berfikir bahwa rasanya selama ini terlalu baik-baik saja. Ah, mungkin ia ingin mencari sumber bahagianya yang baru bukan?

***

Dan kini, luka itu nyatanya masih ada. Ditambah dengan perihnya penghianatan seseorang yang mengaku sebagai ?teman? dengan embel-embel ?Aku tau banget sifat dia?, yang kini membuat Sina semakin lara. Sebab ?teman? itu kini membuat Hendi kembali menunjukkan sifatnya. Mengirim pesan sebanyak mungkin, menelpon tanpa henti dan mengirimkan pesan aneh-aneh ke teman-teman Sina. Belum juga laranya hilang, kini Rio telah benar-benar pergi meninggalkan Sina. Kini jemari Rio telah terisi dengan jemari gadisnya. Gadisnya yang baru ia kenal tak lebih dari dua minggu.

Kita ini apa? Rio itu (si)apa buat Sina?

Pertanyaan itu masih belum terjawab lara ini masih saja terus membuat hati Sina semakin berkarat. Pertanyaan itu masih saja belum punya jawaban yang tepat, tapi Sina kini merasa kehampaan yang semakin mendalam.

***

Masa itu tiba. Seminar hasil penelitiannya. Sina bertekad untuk tetap hadir. Ada atau tak ada pacarnya Rio. Lagi pula, Sina pernah berjanji sendiri bukan untuk menemaninya hingga setidaknya ia wisuda?. Pagi itu, tak terlalu terik. Tertutup awan mendung yang enggan pula menumpahkan airnya. Sepertinya bidadari dilangit sana, mandi dengan tertib, tak membuang air sedikitpun.

Sina datang dengan berbalut warna hitam. Berkerudung hitam, kemeja dan celena jins berwarna hitam. ?Huft, tenang-tenang. Pasti nggak bakalan terjadi apa-apa kok di dalem sana. Lagian, ini hati udah baikan kan?? gumamnya sendiri ketika ia telah sampai di parkiran motor. Ia melangkah masuk, menyapa beberapa? orang yang bertemu? dengannya, dan masuk ke ruang seminar. Lumayan ramai ternyata, tapi pacarnya kemana? Tak ada.

Sina duduk dibarisan belakang. Awalnya tak ada yang janggal. Hingga akhirnya air mata Sina terus mengalir, membasahi pipi, hingga kerudungnya. Ia hanya mampu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia terus membisikkan kedirinya sendiri untuk tenang, tapi semakin keras, semakin banyak pula air mata yang Sina keluarkan. Beberapa detik sebelum itu, Sina menatap Rio yang kini tengah mempersiapkan seminarnya. Dengan kemeja putih, yang dimasukkan ke celana bahan hitam, berdasi. Terlihat rapi dan tampan. Ia terus menatapnya. Seraya berucap dengan suara yang begitu kecil ?semoga lancar ya, semoga lancar. Pasti bisa lewatin hari ini dengan baik?.

Apakah Rio tau, bahwa Sina sedang menangis untuknya (lagi) hari itu?

Seminar Rio pun berjalan dengan lancar-tak begitu memang-tapi setidaknya penampilannya tak begitu buruk.

***

Satu langkah lagi, dan kau akan pergi.

Tak lama setelah seminar hasil, Rio kini ujian pendadaran. Ujian terakhir sebelum akhirnya ia memperoleh gelar sarjananya. Hari itu Sina sebagai asisten praktikum pengganti. Saat Sina datang, ia melihat Rio dan temannya tengah bersiap-siap untuk ujian pendadaran- dan ditemani pacar masing-masing. Janjiku nyatanya tak bisa ku penuhi dengan baik. Tapi ia menemanimu hingga ke gerbang akhir. Pilihanmu menuju kebahagiaan baru memang tak salah. Kau menemukan orang yang tepat rupanya.

Ingin rasanya Sina berdiri disamping Rio. Menyemangatinya seperti dulu secara langsung. Meyakinkannya bahwa ia sanggup melewati tahap ini dengan baik. Tapi, posisinya yang dulu kini telah tergantikan. Diganti dengan seseorang pilihan Rio. Sina harus belajar menerima. Bagaimanapun keadaan Sina sekarang. Bukan untuk kebagaiaan Rio, tapi setidaknya untuk kebahagiaan Sina kelak.

?Gimana kalau kita pasang target? Kamu lulus wisuda bulan Desember tahun depan, dan Maret atau Juninya aku yang di wisuda??

?Oke, siapa takut?

Dan hari itu. Minggu ke-2, Desember 2015. Rio kini di wisuda. Tak ada ucap atau setangkai bunga. Sina hanya menatapnya dari kejauhan, ketika Rio tersenyum penuh bahagia, ditemani gadis pilihan Rio sendiri.

***

Tiga bulan pasca wisuda.

Sina membuka akun facebook miliknya. Menuliskan kata-kata singkat yang terlintas di benaknya ketika ia melihat daftar siapa saja yang tengah berulang tahun hari ini. Ketika ia menemukan nama yang tak asing untuknya. Rio. Hari itu Rio berulang tahun. Entah apa yang Sina fikirkan, ia kini tengah melihat profil Rio. Menemukan foto-fotonya yang tengah naik gunung-bersama pacarnya hingga obrolan tentang ? prewedding. Dan tanpa komando, Sina lagi-lagi meneteskan air matanya untuk yang kesekian kali.

?Selamat ulang tahun Rio, semoga kali ini kau tak lagi sering-sering sakit?

I hope (s)he buys you flowers

I hope (s)he hold your hand

Give you all his hours whe (s)he has the chance

...

Do all the things i should have done when i was your girl

Bruno Mars ? When i was your man.

?

====================

pict : fyeahnady.blogspot.com

  • view 112