G-D : Hilang

Chintya Dewi
Karya Chintya Dewi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Februari 2016
G-D : Hilang

Pict : bisikan.com

================

Terakhir kali singgah di kota ini, aku tak lagi ingin kembali. Aku juga pernah bilang bahwa aku benci suara kereta, karena ia syarat akan sebuah perpisahan. Dan perpisahan lebih sering untuk tak kembali, walaupun telah berjanji berjuta-juta kali.?Nyulayani?janji kalau tidak salah namanya.?

Tapi siapa sangka, pagi ini aku di kota ini kembali. Menantinya yang tengah menuju kemari dengan terburu-buru karena habis nyuci.?

?Lama yah nunggu?? katanya waktu pertama ia turun dari motornya. Sedikit berlari?menghampiriku yang kini tengah duduk di kursi panjang dekat pintu keluar stasiun.

?Hmm, 15 menitan lah. Nyucimu udah selesai??. Pelukannya menghangatkan. Menguapkan beberapa beban yang masih sempat ku fikirkan tadi sebelum bertemu dengannya.

?Ah, itu bisa dilanjut nanti. Kan ada pembantunya sekarang?Yuk, pulang?

?Ah, pulang? Kita nggak langsung jalan-jalan??

?Pulang dulu lah. Kamu pasti belum makan. Lagian males ah masa jalan-jalan mukanya kucel gini. Ya, walaupun tadi pagi udah mandi sebelum bernagkat, tetep aja nih iler bekas tidurnya bikin jelek?.

Ia pun tertawa. Seketika tanganku meraba-raba pipi kanan dan kiri, berkaca ke layar Hp dan melayangkan cubitan gemas terhadapnya.

?Sakit iih... ihh..Ayo pulang. Ibu udah nungguin dirumah?? ucapnya sambil berjalan mendahuluiku.

?Hmm,, ibu??

***

Rumahnya yang sederhana, dengan pekarangan yang luas. Dikelilingi banyak pepohonan besar dan kicauan burung. Menginjakkan kaki pertama kali dirumah ini membuatku bergitu canggung. Kedatanganku disambut hangat oleh wanita berusia empat puluh lima tahun-an dengan senyumnya yang hangat. Persis seperti Mas Gelar.

?Selamat datang nduk Sina. Berangkat jam berapa tadi dari rumah??. Wanita ini ibunya Mas Gelar. Senyumnya masih merekah sejak pertama kali ia menyambut kedatanganku.

?Terima kasih bu. Tadi berangkat jam 05.00 pagi bu?. Aku pun tersenyum. Dahiku berkerut ketika menyadari Mas Gelar tak ada diantara kami. Ibu yang menyadari kebingunganku mencarinya hanya berkata ?kayaknya lari kebelakang lho nduk, ngurusin cuciannya tadi. Yuk masuk. Kamu makan dulu, istirahat baru main nanti ya?.

Mas Gelar yang tetiba datang dari belakang hanya tersenyum kepadaku. Meraih tasku dengan sedikit paksaan-dan senyumnya-lagi. ?Cuci muka dulu sana, mandinya nanti aja. Makan dulu?. Dan ia pun berlalu. Entah kemana membawa tasku.

***

?Gimana skripsimu, nduk. Sudah mau selesai belum?? pertanyaan ibu membuatku berhenti mengunyah. Menatapnya dengan tersenyum. Setelah kunyahanku ku lanjutkan dan kupastikan dalam mulutku tak berisi apa-apa kujawab pertanyaan ibu.

?Belum bu. Belum tau kapan selesainya. Masih diulang-ulang terus?

?Sing semangat ya nduk. Mas Gelar juga kemarin penelitiannya setahun. Moga kamu cepet selesai biar gak dibawa stres. Mas Gelar setahun penelitian setresnya sering. Jadilah kuruse nambah-nambah kaya sekarang?.

?Nggih bu, matur suwun?

Acara makan kali ini diisi dengan beberapa pertanyaan ibu tentang aku dan kuliahku, cerita Mas Gelar dan rencana ku selama berada di kota ini. Ibu punya usaha catering, dan Mas Gelar lah yang sering jadi tukang DO kalau-kalau sedang sempat. Aku hanya mendengarkan, tersenyum, sesekali mengangguk dan berkomentar jika perlu. Ibu membuatku merasa nyaman disini. Seperti pulang, ketika telah lama pergi dan kembali ketempat ia yang menerimamu dengan senang hati.

***

Setelah dhuhur bersama dengan ibu dan Mas Gelar, serta aku telah mandi-lagi- akhirnya aku dan Mas Gelar hanya duduk-duduk di pekarangan belakang. Duduk di lincak tempat biasa Mas Gelar belajar. Ibu sedang pergi, katanya ada urusan. Dan siang ini, kami ditinggal berdua.

?Mas tinggal dulu yah?

?Eh mau kemana??.

Belum pertanyaanku dijawab, ia ngeloyor masuk rumah dan kembali lagi dengan tas yang tadi ku bawa.

?Nih. Kamu bawa notebook toh kaya yang aku suruh kemarin??

?Iya, bawa?. Tanpa dikomando lagi, kini ku raih ?si putih? dalam tasku. Ku nyalakan tombol power dan tersenyum padanya. ?Apalagi??

?Searching!?

?Eeh, searching? Aku kan mau liburan sebentar. Malah suruh searching?

?Liburan itu ndak berarti skripsi juga dilupain toh? Gih mulai nyari. Tethering pake punya Mas aja?.

Aku hanya tersenyum masam kepadanya, yang ia balas dengan senyumnya seperti biasa sambil sedikit mengelus kepada dan ?semangat ya?. Lalu ia, pun sibuk dengan laptopnya sendiri. Ah, Mas. Beberapa hal kecil saja membuatku merasa lebih baik jika itu tentang dirinya. Akupun kini sibuk dengan ?pencarian hal-hal aneh? untuk skripsiku.

Bosan dengan keheningan yang tercipta, aku pun mencubitnya. Membuatnya sedikit mengerang dan tetap menunduk.

?Mas...?

?hmm...?

?Mas iih, liatin aku ih. Mau ngomong nih?

Ia pun menatapku kini. ?Apa toh? Ngomong itu di denger bukan di liatin. Mau ngomong apa??

?Hehehe.. Mas, pernah ngerasa kehilangan gak? Jawabnya serius loh?

?Pernah. Waktu kamu pulang waktu itu. Ketemunya sebentar doang. Padahal kan kita bukan apa-apa toh yo, tapi ndak tau. Mas sedih pas kamu pulang kemarin. Apalagi mas ndak bisa anter sama nunggu kamu di stasiun.?

?Waah, seriusan??

?Nggak sih? jawabnya sambil cengar-cengir.

?Iiih, aku juga kok mas. Hahaha kalau inget malu. Aku keliatan banget ya nggak mau perginya. Tapi, mau gimana lagi?.

?Iya, keliatan banget itu ndak mau pulangnya. Mas ngerti kok. Ya mau gimana lagi. Kenapa toh kamu nanya kaya gitu??

?Takut mas. Aku kemarin ngerasa kehilangan. Sama ya mas-mas juga sih. Haha, deket dan tiba-tiba ilang dia gitu aja. Terus baru-baru ini juga aku hampir kehilangan temen aku. Ya, salah paham gitu. Tapi nggak jadi. Takut aja mas. Udah deket, udah sayang tapi akhirnya ilang juga, entah pake atau nggak pake alesan?. Ia diam mendengarkan. Lalu duduk-ku pun ku geser. Mendekat, duduk di hadapannya dan mentap matanya lekat-lekat.

?Mas, apa mas juga bakalan pergi? Bakalan bikin aku ngerasa kehilangan lagi kaya yang udah-udah??.

Hening. Tak ada jawaban. Ia masih terus diam. Kini laptopnya telah berpindah-tak lagi di pangkuannya. Sedetik kemudian, ia hanya tersenyum dan lagi meletakkan tangannya di kepalaku dan tersenyum.

Ah, entahlah apa jawabanmu mas. Aku tau kau terdiam karena tak mau berjanji atau apalah itu namanya. Aku tak perlu meributkan yang tak pasti bukan? Mensyukuri bahwa detik ini kita telah bertemu lagi dan melihatmu tersenyum, itu adalah hal terbaik yang bisa ku lakukan untuk saat ini.