Karena Kamu, Bapak.

Chintya Dewi
Karya Chintya Dewi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 September 2016
Karena Kamu, Bapak.

Aku mengenalmu. Seumur hidupku. Tapi mereka bilang, kau baru mengenalku kurang lebih dua puluh tahun. Itupun tak penuh. Masih di kurangi dengan jarangnya kepulanganmu lima belas tahun terakhir ini.

Empat tahun terakhir, aku bersamamu. Memilih tempat sekolah lanjutanku dengan berbagai pertimbangan. Murah. Itu pertimbangan pertamaku, ketika aku memilih kota ini. Peduli apa dengan kata mereka yang tak tau dimana universitasku berada. Lagipula,bukan masalah besar kecil terkenal atau tidaknya, tapi bagaimana kau berusaha  untuk memberikan dan menjadi yang terbaik, bukan ?

Mereka bilang, aku masuk jurusan kuliahku sekarang karena profesimu. Nyatanya, ini hanyalah pelarian dari keinginanku menjadi dokter jiwa. Dan karena alasan biaya, aku memilih jurusan lain yang lebih ku kenal sebelumnya.

Kimia. Setidaknya aku mulai mengenalnya secara lebih spesifik tujuh tahun yang lalu. Dengan nilai yang patut untuk ku banggakan, aku memilih untuk masuk melalui jalur SNMPTN Undangan, yang kurahasiakan darimu – sebelum pengumuman ku diterima.

Empat tahun bersamamu terasa tak mudah. Mengenalmu seumur hidupku saja,masih belum cukup untuk membuatku mengerti akan apa yang kau kerjakan. Mengerti setiap hal yang terasa begitu menyakitkan , kadang-kadang.

Seperti pagi itu, kau membangunkanku dengan kakimu. Padahal aku baru tidur tiga jam yang lalu setelah begadang dengan laporan praktikum pertamaku, dengan tugas ilmu sosial dasar dan matematika-ku. “Tak bisakah kau membangunkaku dengan cara yang lebih baik? Aku merasa seperti seseorang yang menjijikkan bagimu ketika kau membangunkanku dengan kakimu pagi itu”. Dan tentu, itu hanya bersuara dalam kepalaku. Sejak hari itu, aku berusaha bangun lebih pagi. Bangun sebelum kau membuka mata dan siap untuk berangkat ketika jam masih menunjukkan pukul lima pagi.

“Pekerjaanku harus ku selesaikan sebelum pukul tujuh pagi”, katamu suatu sore. Ketika aku sempat protes mengapa kau mengantarku pagi-pagi sekali saat semester pertamaku. “Mending nunggu di kelas sambil sarapan atau apapun. Dari pada terlambat. Malu kalau masuk telat”, katamu melanjutkan. Aku terdiam mendengarmu. Menganggukan kepala tanpa kau tau, dan bertekad berangkat sendiri ke-esokan paginya – karena pekerjaanmu harus selesai sebelum pukul tujuh.

Aku jadi terbiasa bangun lebih pagi, berangkat setelah sholat shubuh – karena setidaknya butuh waktu satu jam untuk ke kampus dari rumah. Terbiasa menunggu jam kuliah pertama, terbiasa menunggu lebih dulu ketika sedang janjian dengan siapapun itu.

Hari-hari bersamamu menjadi lebih ringan. Aku mengerjakan apa yang bisa ku kerjakan, dan kau tetap bekerja seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan aku, akan mengganggumu ketika uangku habis, minta diantar ke suatu tempat atau sedang lapar.

Gila kerja. Gumamku suatu waktu, ketika pekerjaanmu belum selesai padahal waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku membisikkan sesuatu pada diriku sendiri,” setelah ini, aku takkan merepotkanmu lagi. Apalagi dalam hal keuangan. Dan semoga aku bisa membuatmu menikmati masa tuamu dengan baik”. Aku terus memperhatikanmu malam itu. Ketika aku baru saja selesai menikmati ‘mie instan sehat’ buatanmu karena kau tak sempat membelikanku makan malam itu. Ada yang membisikkan pengingat kepadaku kala itu, “ ia memang gila kerja. Karenanya, ia jarang pulang. Dalam satu tahun saja, kau hanya bisa bertemu dengannya empat kali, kan? Dan ia rela melewatkan lebaran idul fitrinya bersama mu, hanya karena ia  bekerja. Tapi, kau tau. Segala yang ia lakukan hanya untuk keluarganya – untukmu”.

Aku melihatmu seharian. Hari itu hari minggu. Kuliahku libur dan tak ada kegiatan organisasi. Jika dihitung-hitung, gaji pokokmu saja takkan cukup untuk membayar semesteranku, uang jajan ku satu bulan, dan kebutuhan mereka disana. Tapi nyatanya, aku tak merasakan kekurangan apapun dari kebutuhanku. Karena kau selalu memanfaatkan peluang yang ada. Entah besar atau kecil yang kau hasilkan dari sambilanmu, kau selalu mengerjakannya di sela-sela waktu.

Pernah suatu waktu, kau belajar merakit kembali lampu yang telah mati. Dua minggu kau belajar dari temanmu, dan dua minggu berikutnya kau menerima upah dari seseorang yang memintamu membantunya waktu itu. Kecintaanmu dengan ayam pun memberimu peluang lebih,penghasilan lebih. Ketika kau masih sempat mengurus mereka dengan begitu baik di sela-dela pekerjaanmu yang begitu banyak. Dan waktu itu, ayam-ayam mu di beli seseorang. Dengan harga yang tak pernah ku bayangkan. Cukup untuk uang semesterku, uang jajanku sebulan dan sisanya kau tabungkan. Bonus dari itu, kau punya teman baru.

Empat tahun bersamamu, membuatku terbiasa untuk lebih menghargai waktu, melihat peluang yang ada dan membangun relasi dimana-dimana. Dengan siapapun. Siapapun kamu ataupun mereka.

Dan hari ini, tepat di umur mu yang ke empat puluh tujuh sembilan hari, aku melihatmu tersenyum disana. Melihatku wisuda. Dengan pencapaian yang hampir cum laude, tapi katamu beberapa waktu lalu , “nilai itu nggak ngaruh banyak. Yang penting disiplin sama waktu dan ngehargain orang lain itu perlu”. Dan mulai hari ini, tekad itu semakin bulat untuk membuatmu merasakan hari tua tanpa lelah bekerja dan menikmatinya dengan sebaik-baiknya.

Lima tahun setelah wisudaku.

Tiga bulan lagi, aku akan dipersunting teman jauhku. Yang ku kenal lewat media sosial ketika aku kelas dua SMA. Bertemu ditempatku bekerja, bagian R&D suatu pabrik kertas – dua bulan setelah hari wisudaku waktu itu. Ia hampir mirip denganmu. Yang pekerja keras, yang relasinya dimana-mana, yang menyayangiku tentunya. Sepertimu. Walaupun dengan cara yang berbeda.

Terima kasih untuk segalanya, untuk setiap pengajaran yang kau berikan kepadaku yang tak pernah kau sadari, aku belajar darimu. Terima kasih untuk setiap keringat dan do’a yang kau curahkan untuk keluargamu – untukku. Terima kasih untuk restu yang kau berikan untuknya, untuk meminangku.

Karena kau, bapakku. Yang bekerja keras, yang selalu berusaha membuat hidup anak-anaknya lebih baik daripada hidupmu dulu. Yang menjagaku sekuat tenagamu.

Bapak. Aku ingin mengucapkan sesuatu. Hal yang selama ini ku pendam, karena gengsi untuk mengatakannya kepadamu. Bahwa aku. Si foto copy-mu ini menyayangimu. Mencintaimu. Walaupun mungkin rasa sayang dan cintaku tak sebesar rasa sayang dan cintamu untukku. Dan, Bapak. Aku ingin sehidup sesurga, bersamamu.

 

 

Pict : Garasi82.com

  • view 209