SNMPTN (SBMPTN) Dilema Dokter Pangan

Candrasari Harifah
Karya Candrasari Harifah Kategori Motivasi
dipublikasikan 18 Maret 2016
SNMPTN (SBMPTN) Dilema Dokter Pangan

Dokter Pangan

Tahun 2010, mungkin sebagian orang yang masih awam dengan jurusan ilmu dan teknologi pangan. Apa sih jurusan ilmu dan teknologi pangan itu??? Itu masukknya fakultas apa??? Fakultas pertanian ya?? Itu nanti orientasinya kemana?? Gelarnya S.P juga??? Diajarin sistem tanam menanam juga?? Pertanyaan yang muncul dan selalu orang-orang dan keluarga tanyakan padaku selama ini. Hmmmm…kadang aku berfikir, ada apa dengan orang yang menimba ilmu pertanian? Apa salahnya kuliah di pertanian? Apa pertanian itu kurang tren dibandingkan dengan jurusan lainnya? apa sekarang pertanian menjadi sesuatu yang kurang wao? Masa depannya mau kemana? Kadang meresa risih, toh, mereka juga makan dari hasil pertanian. Wekekekeke…apanya yang dipermasalahkan dengan jurusan pertanian?? Banyak lika-liku antara aku, ilmu pangan bidang pertanian, dan kedokteran.

Inilah awall perkenalan ku dengan Ilmu dan Teknologi Pangan….lanjut..

OKE deh, awal mula cerita dimulai ketika aku masih duduk di bangku SMA. Masa SMA yang lagi galau menentukan pilihan hidup kedepan, pilihan masa depan mau jadi apa kedepannya. Kebanyakan dari teman-teman SMA melirik-lirik pilihan seputar kesehatan (Gizi, Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, Kebidanan, Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi dan Kedokteran Hewan), Teknik (Informatika, Perminyakan, Pertambangan), STAN, STIS, IPDN, DLL. Ruang BK pun penuh dengan anak-anak kelas 3 yang konsultasi pilihan universitas, termasuk aku. Hehehe…

Waktu aku duduk di bangku SMA, orientasi setelah lulus SMA adalah masuk perguruan tinggi mengambil jurusan Pendidikan DOKTER. Maklum,,,DOKTER adalah cita-cita masa kecil ku…Disisi lain, mungkin pengaruh dari kecenderungan dari kedua saudaraku yang notabene keduanya dokter sekaligus sebagian besar keluargaku berkecimpung di dunia pendidikan dan kesehatan. Ternyata, Eng Iing eng….Tahun 2010  adalah orientasi cita-cita DOKTER berubah. Tahun 2010, awal kuliahku menjadi DOKTER PANGAN. Hah? DOKTER PANGAN? Gimana ceritanya??

Tahun 2010 adalah awal pencarianku mencari universitas. Setiap kali mendaftar tes PTN ataupun PTS diberbagai jalur PMDK ataupun Tes Mandiri, pilihan jurusan yang kupilih adalah Pendidikan DOKTER.  Alhasil, pendidikan dokter PTS lah yang dinyatakan diterima, namun harus membayar 250 juta. WHAATTT??? 250 juta?? Hmmm...250 juta itu uang berapa lembar sendiri, kedokteran swasta antara wajar dan tidak wajar…thats right….dan itu belum termasuk uang spp yang dihitung per sks, praktikum dan lainnya lhooo…

Finally, FK PTS lah yang dilepas. Alternatif tes terakhir adalah SPMB 2010. Lagi-lagi jurusan yang dipilih tetaplah tujuan cita-cita masa kecil. Namun, belum diberi kesempatan. Akhirnya, orangtua menyarankan  mengambil Pendidikan Guru saja atau mengambil bidang pertanian. GURU?? PERTANIAN????? YA…ALLAH Tunjukkan JalanMU…

Alhamdulillah, akhirnya aku mendapatkan petunjuk untuk mengambil jurusan ilmu dan teknologi pangan. Aalasan kenapa aku memilih ilmu dan teknologi pangan, diantara karena :

  1. Basic materi jaman SMA

Okelah kalau jaman SMA sebenarnya udah dapet mata pelajaran pengolahan pangan 1 semester. Mata pelajaran yang cukup menarik karena PP ituuu salah satu dari mata pelajaran ketrampilan, khusus bidang pangan. Dalam mata pelajaran tersebut aku mendapatkan ilmu mikrobiologi industri (umum), fase pertumbuhan mikroba (log, pertumbuhan, stasioner, dan kematian). Selain itu, juga diajarkan tentang cara mengolah nata de coco, yoghurt dengan starter biang, tempe, dan tapai dari berbagai jenis singkong dan ketan. Disisi lain, PP merupakan mata pelajaran yang membosankan. Ooppss Kenapa membosankan??? Karena jadwalnya disiang hari mendekati jadwal pulang (jam terakhir), konsentrasi berkurang, sering membuatku ngantuk disaat jam pembelajaran. Terkadang aku juga menganggap TPP sebagai mata pelajaran main-main yang hanya berstatus ujian sekolah alias bukan fokus utama nasional…. Aduh maap bu guru (-__-)”. Setidaknya aku masih bersyukur…tidak sia-sia…ilmu ibu kepake juga di jenjang perkuliahan…^_^

  1. Saran

Saran yang masih kuingat dari berbagai orang: awalnya dikenalkan pilih ilmu dan teknologi pangan aja, prospek kedepan nya lumayan (banyak pabrik makanan, nantinya bisa jadi RnD, QA/QC). Kuliahnya juga enak, kuliah bisa nyambi bikin bekal makanan sendiri di lab (bikin nugget, bakso dll). Kala anak SMA dikasih bayangan kayak gitu…huaaaooooooooo….asyik jugaaaa…ga ada fisika-fisikanya (awal nya, dikasih gambaran msh ketemu fisika cuma di 1 semester MK Satuan Operasi Industri Pangan(SOIP))…hihihii..tapi setelah berkecimpung (kuliah ITP ) ilmu fisika msh sangat berguna dalam MK SATOP hingga 4 semester. SOIP dan SATOP sama cuma beda nama dan kurikulum universitasnya. Saran kedua, milih jurusan asalkan ada ketrampilannya yg bisa buka praktek sendiri (maksutnya wirausaha kali ya?). Saran ketiga, udah gapapa asalkan kuliah negeri aja, sekalipun tahun depan mau nyoba FK lagi silahkan ga masalah asalkan negeri.

  1. Pertimbangan Lain

Ya kalo dipikir-pikir Ilmu dan teknologi pangan gak ada salah nya untuk dijalani terlebih dahulu sambil menemukan jati diri mau kemana dan bagaimana. Selain menjadi QC/QA di perusahaan makanan, lulusan teknologi pangan pun bisa ke kementrian kelautan dan perikanan, kementrian pertanian, BPOM, perbankan ataupun kalo lanjut sekolah. Yahh…itu semua harus melalui proses dan berbagai macam seleksi yang harus dijalani. Selama mau bekerja keras, usaha, dan harapan, lakukanlah!! Utamanya, selalu dibarengi keyakinan  pada Allah SWT yang selalu mengiringi setiap langkah kita. Proses diluar dugaan rencanaku…tapi aku banyak bersyukur dari proses tersebut…catatan untuk diriku sendiri, kadang sesuatu yang kita tidak kita inginkan belum tentu baik menurut kita, tapi menurut Allah itulah yang terbaik. Jika rencana kita sesuai dengan apa yang kita inginkan berarti kita termasuk orang yang beruntung. Namun, ketika rencana kita tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan berarti kita termasuk orang yang lebih beruntung. Kenapa bisa kukatakan beruntung? Karena sesuai dengan rencana Allah, Allah lebih mengetahui atas kehidupan yang terjadi. Toh, manusia hanya bisa berencana tapi Allah lah yang berkehendak atas semua itu. Semua sudah ada yang mengatur, namun kita tetap harus banyak berlajar dan berusaha serta jangan lupa untuk bersyukur.

  • view 328