Hanya Ingin Percaya (Orang Tak Dikenal)

Candrasari Harifah
Karya Candrasari Harifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 September 2016
Hanya Ingin Percaya (Orang Tak Dikenal)

Terminal Giwangan 16 September 2016

Langit mendung, angin semilir namun belum datang  air hujan yang membahasi jalanan jogja. Pukul 3 sore, kulangkahkan kakiku menuju terminal giwangan untuk pulang ke solo. Iyah, disitulah aku naik bis dari jogja menuju kota solo. Estimasi perjalanan kurang lebih 2 jam, lebih lama dibandingkan dengan naik kereta prameks. Banyak alasan kenapa aku lebih suka naik bis daripada naik kereta, yah salah satunya bisa lebih bisa membaur satu sama lain (red: ngobrol antarsesama penumpang yang sama-sama orang ga dikenal), jikalau di dalam kereta, aku masih belum bisa membaur dengan para penumpang kereta. menurutku ada perbedaan antara penumpang bis dan kereta. jika di dalam kereta, banyak melihat para penupang yang lebih memilih untuk bermain gadget, leptopan ataupun tidur. Hal tersebut berbeda dengan kondisi di dalam bis, seringkali aku melihat sesama penumpang lebih memilih untuk mengobrol. mungkin itu alasan kenapa aku lebih menyukai naik bis dibandingkan kereta. Banyak kejadian yang aku temukan di dalam bis yang kadang mebuatku menerka-nerka, membuatku terheran-heran, salah satunya ketika naik bis dari terminal giwangan sampai ke terminal tirtonadi solo. 

Aku duduk di samping ibu ibu yang tak kukenal dan lidah ini rasanya ingin mengobrol jika disamping sama sama perempuan. Kala itu, entah kenapa rasanya nyambung aja ngobrol sama ibu samping saya.

Ibu: mbak mau kemana?

Chan: ke solo tirtonadi. Ibu mau kemana?

Ibu: saya juga ke solo turun tirtonadi. habis dari tirtonadi ada yang njemput?

chan: kebetulan saya nanti mau oper bis lagi, saya turun di univet skh

ibu: oiya? saya juga arah ke skh mbak. (tiba-tiba ibu tersebut mengangkat telepon dari saudara yang lain). sama univetnya jauh tidak?

chan: sekitar 200 m buk (ibuknya kenapa kok tiba tiba nanya begitu? dijawab ala kadarnya)

ibu: sama rumahnya bapak X?

chan: kebetulan itu tetangga saya, beliau mantan sekda kan bu?

ibu: yo wes mbak nanti pulangnya sama saya aja ya...(Ya sudah mbak, nanti pulangnya sama saya saja)_

chan: nggih buk ( sempat kutanyakan siapa beliau, siapa saudaranya, tinggal dimana, dan asal ibuk tersebut, Alhasil, jawaban yang kudapat hanya asal ibu terebut dan yang njemput nanti adiknya (tidak menyebutkan nama sang adik. Tetep aja msih postifi thingking dan positif feeling....hehehehe). 

Pukul 18.00 perjalanan transit di terminal tirtonadi solo. Aku masih ditawari ibu nya, dan jelas manut aja. kubawakan barang ibu tersebut. Kita menuju ruang tunggu dan tiba tiba ibu tersebut pamit untuk ke toilet dan berpesan kepadaku.

ibu: mbak, saya ke toilet sebentar. nanti kalau ada ketemu adek saya bilang saya lagi di toilet.

chan: iya bu (dalam hati, kok ibunya percaya aja sama aku, ngga ada khawatirnya kalau barangnya dititipin ke aku. diriku masih bertanya, siapa mereka, kenapa mereka percaya)

bapak (adek ibu) : mbak, ibunya kemana? nanti pulangnya bareng saya saja...

chan: baru ke toilet, pak. nggih pak (level was was meningkat, hape udh ditangan)

bapak: mbak, rumahmu sapa pak X mananya?

chan: masih lurus lagi pak, arah perumahan tapi bukan komplesk perumahan

bapak: sama pak M mananya?

chan: (duh itukan bapakku, kok bapak ini bisa kenal darimana, masih aja was was) iya pak, saya dekatnya rumah bapak M

bapak: deketnya sebelah mana? biyen aku sering ke rumah e

chan: (lhah kok bisa, aku aja ngga inget, akhirnya kuberanikan mengaku putri bapak M), iya pak saya putri pak M

bapak : weh mbak, kok wes gede. biyen iseh cilik cilik. mbiyen aku kerep tenis yoan sama bapakmu. (iyah mbak, kok sudah besar, dulu kamu masih kecil. aku dulu sering main tenis sama bapakmu)

chan: (kok bapak ini tau sepak terjang jaman cilik, pastilah teman bapak)

kita bertiga siap meluncur ke kabupaten . di dalam mobil selama perjalanan masih aja berbincang.

bapak: mbak, kowe yo ngambil dokter? lha mbak dan masmu juga kedokteran tho?

chan: (udh mental baja jika ada yang nanya beginian) mboten pak. saya ngambil teknologi pangan.

bapak: oalah, lha bojone mbakmu (mas ipar) itu orang wng bukan?

chan: iya pak. (si bapak ini kok tau aja, heran). bapak namanya siapa? biar nanti saya bisa laporan ke bapak saya.

bapak: bapak biyen suka ngerepotin bapakmu, dulu saya pernah pinjem sedan bapakmu, nduk

chan: (lhoh,itu kan jaman sd banget, dan aku ngga inget muka si bapak dan ngga familiar)

di akhir perjalanan,

bapak: nduk, tak turunin di depan pertigaan bangjo aja ya, saya ngga masuk gang. nanti pesenin sama bapakmu aja, dianter bapaknya mba A.

chan: (duh si bapak, masih aja ngga ngomong to the point, tapi setidaknya masih bersyukur diberi tebengan pulang) iya pak, nanti saya sampaikan ke bapak saya

Bersambung

  • view 210

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Baca tulisan mbak jadi inget tahun awal sampai tahun tengah saya kuliah. Persis mbak saya naik dari umbulharjo trus dipindah ke giwangan sampai terminal tirtonadi. Dan memang banyak cerita kalau naik bus. Nostalgia banget zaman kuliah, hehe..Salam kenal ya mbak. Saya juga orang Karanganyar, Solo, hehe..

    • Lihat 2 Respon