Karena Kamu, Aku

Chairun Nisa
Karya Chairun Nisa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Juli 2016
Karena Kamu, Aku

Kamis di minggu terakhir Ramadhan kita, sudah tiga Ramadhan kita bersama Mas. Jika dua tahun lalu, aku selalu mengantarkan mu mudik hanya sampai di bandara. Tahun ini kita sama-sama mudik ke kampung halaman masing-masing. Setahun sudah kau mengadu hidup di ibukota, dan ntah secara kebetulan atau gimana aku juga mendapat pekerjaan di ibukota sampai menginjak bulan kedelapan.

Pesawat jam berapa kamu dek ?”  tanya nya

17.40 ,, mas jam berapa ?” tanya ku juga, saat kami cukup lama berdiam diri selama perjalan menuju bandara. Sebenarnya, bukan karena benar-benar gak tahu penerbangan kami masing-masing. Hanya saja kami sudah cukup lama berdiam diri dalam taksi yang akan mengantarkan kami ke bandara. Menuju ke kehidupan kami masing.

mas jam 21.45 sayang.” Jawabnya sambil menggenggam tangan ku yang sedari tadi ku dekap erat memeluk tubuh ku.

kamu bakal bosan menunggu pesawatmu, aku kira bakal lebih baik kamu pergi ke bandara sekitaran jam 5 nanti. Bukan sekarang, ini terlalu cepat.”  Kataku seraya memalingkan wajah ke luar jendela. Memperhatikan empat gedung tinggi di pinggiran muara angke, salah satu gedung apartemen terbaik di Jakarta.

gak apa apa sayang . Mas sengaja sekalian nemeni kamu.” Jawabnya.

Dada ku tertekan keras menahan tangis, ntah mengapa aku sedih berpisah dengan lelaki yang tiga tahun ini bersama ku. Di fikiran ku terselip cemburu , ya,, aku cemburu mengingat ia akan kembali ke kampung halaman istrinya Dia akan berkumpul dengan Istri dan anak anaknya.  Dan aku,, aku memang senang berkumpul kembali dengan ibu dan bapak di kampung, tapi aku gak bisa membohongi perasaan ku sendiri. Aku cemburu. Sangat.

Sejam lagi pesawat ku terbang, semakin berat rasanya aku melangkahkan kaki ku menuju ruang tunggu gate 14C itu. Kita berpisah persisi didepan pintu masuk menuju ruang tunggu. Aku mencium telapak tangan mu layaknya seorang istri yang akan menghantarkan suaminya. Tak ada kecupan hangat di keningku dari mu saat itu. Kau melepaskan ku dengan senyuman hangatmu yang selalu menjadi alasan ku mengapa aku merindukan mu. Sudahlah, aku pergi.

Burung besi berwarna putih bercampur hijau itu mulai meradang, suaranya kian membesar tatkala kurasakan ia mulai berjalan, perlahan meninggalkan soetta. Lindungi penerbangan ku ya Allah.

mas,, kutahu kamu saat ini masih berada di salah satu ruangan di dalam soetta, ntahlah dimana pun kamu saat ini menunggu penerbangan mu, aku hanya bisa mendoakan mu. Aku duluan berangkat sayang, kita kembali ke kehidupan kita masing-masing. Cemburu ini tak akan sedikit pun mengalahkan keinginan ku untuk mendoakan perjalananmu hingga akhirnya kamu selamat sampai tujuan. Berkumpul dengan istri dan kedua anakmu. Nikmatilah waktu mu bersama mereka. Tak mengapa dengan diriku, aku berusaha untuk iklas. Karena kusadar, aku bukan lah alasan mu untuk pulang. Selamat tinggal sayang..”

Itulah kalimat sederhana yang terselip dalam batinku,saat mesin besar dalam burung besi ini menerbangkan aku dan penumpang lainnya ke tanah kelahiran. Sampai bertemu sayang, gumam kecilku.

  • view 202