Karena Kamu, Aku

Chairun Nisa
Karya Chairun Nisa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Juni 2016
Karena Kamu, Aku

Siang hari Selasa dibulan April, awal bulan. Siang ini kita duduk berhadapan di meja kantin kampus mu. Sebelum kita bisa duduk bersama berhadapan seperti ini, ntah sudah berapa kali aku menolak ajakan makan siang mu. Tapi aku juga bukan manusia sombong yang sedikit pun tak tergerak hati dan jiwanya dengan usaha-usaha mu hanya untuk sekedar makan siang bersamaku. Tepat setelah 3 bulan, 4 bulan atau mungkin 6 bulan kau selalu berusaha mengajakku makan siang, aku kurang tahu pasti sudah berapa lama sejak kita berkenalan saat itu. Yang aku tahu kamu sangat berusaha keras. Dan aku suka itu.

Kita duduk berhadapan untuk pertama kalinya, kau terlihat sangat santai dengan kaos oblong berwarna silver dan jelana jeans levis, kau terlihat lebih tampan dengan rambut satu sisir mu itu. Tapi belum ada hal yang berarti dihati ku, untuk memuji penampilanmu. Seperti yang sering kulakukan saat ini setiap kali melihat penampilanmu. Mas, aku belum mencintaimu saat itu.

"aku kira kamu bakal menolak tawaran makan siang ku lagi" dia memulai pembicaraan memecah keheningan di meja kami.

" aku bukan manusia batu " celetuk ku singkat. Saat itu, aku tak ingin obrolan basa basi, aku sudah cukup lapar dan aku ingin segera makanan pesanan ku datang, dan langsung melahapnya.

" terimakasih udah mau terima ajakan makan siangku, sungguh diluat perkiraan ku " dia mulai lagi dengan obrolannya.

Aku melempar senyum simpul padanya, difikiranku hanya ada pertanyaan berapa lama lagi makanannya datang, sungguh aku sudah sangat lapar. Pekerjaan yang menumpuk sebagai petugas kebersihan di kampus tempat pria yang saat ini didepan ku, telah cukup menguras tenaga dan membuat ku semakin cepat lapar.

" kamu kelihatan gak begitu minat dengan makan siang ini. Kamu ada janji diluar? kamu kelihatan sedang memikirkan sesuatu." oceh nya.

" aku lapar, makanan nya terlalu lama datang " jawabku.

Diamku terganggu dengan tawamu yang pecah karena jawabanku. Aku tak ingin bertanya mengapa kamu tertawa, aku tak ingin ada obrolan-obrolan lebih sehingga membuat kita dekat begitu cepat. Aku diam tak berekspresi melihat kau tertawa lepas. Dan kau berusaha menetralkan tawamu saat makanan datang. Dan kita mulai menikmati makanan dan minuman yang sudah kita pesan. Mulai dari situ aku tahu kau punya senyum dan tawa yang indah. Aku menyukainya.

Makanan dan minuman pun habis seiring dengan rasa kenyang yang udah mulai terasa diperut ku. Bukan gak tahu, mata kita ada beberapa kali bertemu,saat ku tahu kau memperhatikan ku saat makan atau minum, dan kau tersenyum. Ah lagi-lagi senyuman mu saat itu ku ingat sampai detik ini kau sudah begitu dekat dengan ku.

" kalau boleh tahu apa yang  membuatmu akhirnya mau menerima ajakan makan siang ku?" ia bertanya sambil menatap tajam ke mataku.

Tatapan itu membuat sedikit grogi dan kikuk, tak ingin berlama-lama aku hanya menjawab singkat pertanyaanmu " karena aku lapar ".  Tapi jawabanku itu, tak membuat tatapan mu itu berhenti, kau semakin menatap ku tajam, dalam, mungkin telah sampai di ulu hatiku. Dan aku hanya semakin salah tingkah dan tak tahu harus bagaimana. Rasanya aku ingin pulang dan meninggalkan mu.

" aku fikir gak ada salahnya sekedar makan siang " jawabku berusaha mematahkan tatapan mu.

" trus ?" tanyanya lagi.

" ya gak ada terus terusnya, kebetulan aku lapar dan gak ada salahnya aku terima tawaran ini." jawabku sambil menyeruput es batu yang mencair di gelas kopi pesananku tadi.

" yasudahlah , mungkin makan siang ini sama sekali tak ada artinya untukmu, tapi dari makan siang ini aku tahu kau wanita yang sulit di dekati." katanya, tetap menatap mataku.

Aku diam..

Suasana kantin sangat ramai sebenarnya, ada beraneka ragam hal yang dilakukan segerombolan mahasiswa dan mahasiswa dimeja mereka selain makan. Ngobrol-ngobrol, bercanda, tertawa, nonton via laptop, bermain gitar, atau sekedar mengerjakan tugas. Mereka sepertinya sangat menikmati kebersamaan mereka, tapi suasana sunyi dan dingin terjadi di meja kita, setelah kau mengakhiri ucapan mu tadi.

Kau membayar tagihan makanan,  beranjak dari kursimu dan bergerak malas untuk pulang. Aku kira kau akan meninggalkan ku terdiam di meja makan itu, seperti orang yang terbodoh saat sudah kenyang. Tapi tidak, kau masih mengajakku untuk bersama meninggalkan meja dan keluar menuju parkiran.

Kau mengantarkan ku sampai aku tepat berdiri di samping motor matic merahku. Tapi, satu kalimat penutup dari mu masih tergiang bahkan ku ingat sampai saat ini "Kau ibarat burung merpati, semakin ku coba mendekati mu, semakin kau terbang jauh. Ah sungguh sulit mendekatimu,rasanya aku memang tak bisa mengelus lembut bulu indahmu. Bahkan sekedar untuk mendekatimu, rasanya tak mungkin." ucapan terakhirmu di senja  terakhir selasa itu.

 

bersambung....

 

  • view 126