Sang Pemimpi : Menjadi "DIA"

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 06 September 2016
Sang Pemimpi : Menjadi

 
Memang tak mudah untuk belajar mencintaimu,
 
Bolehkah engkau mengizinkanku untuk mencintaimu?
 
Aku tahu ini sulit atau tidak itu urusanku, bisakah ?
 
Aku ingin mengungkapkan perasaan ini kepadamu?
 
Walaupun itu tidak penting bukan?
 
Yakin kamu bilang waktu amat sia-sia itu siksa?
 
Tetapi setiap detik ungkapan adalah makna
 
Aku bukan orang yang romantis untukmu
 
Kalaupun boleh jujur hati ini sulit kupendam lama
 
Ingin sekarang aku ungkapkan semua
 
Bahwa sejujurnya aku tak bisa jauh darimu
 
Atau jika suatu saat kamu menjauh dariku
 
Biarkan perasaanku terbang bersama angin
 
Semua yang ku ucapkan padamu ini adalah jujur
 
Saat hujan turun dengan derasnya
 
Harumnya bau tanah yang mengotori bajuku dan sepatuku
 
Tetapi tidak untuk cintaku yang sebegitu besarnya padamu
 
Suatu hari nanti kamu pun akan mengerti
 
Apa yang aku lakukan semua untukmu
 
Semoga terbayarkan dengan semua yang kelak kau nanti perjuangkan
 
 
***
Pernah sekali aku bermimpi tentang perasaan hati. Di dalam mimpi itu aku bertemu dengan seseorang yang kukenal, sekilas bayangan itu adalah lelaki yang pernah bersamaku dahulu. Lelaki yang pernah begitu dekat denganku. Lelaki yang dahulu pernah menggenggam tanganku, dan lelaki yang selalu setia disampingku, menemaniku saat aku sendiri ataupun takut.
 
Ada perasaan cemburu yang harus di pendam, ada perasaan terluka yang belum hilang. Sampai diujung cerita seolah mimpi itu terlihat nyata, aku merasa berada di dunia yang berbeda. Aku berjanji pada diriku untuk bahagia apapun caranya, bahagia dengan sederhana tanpanya.
 
Di cerita lainnya muncul lelaki lain yang membuatku sedikit tersenyum, bahkan bisa membuatku tertawa lepas. Caranya yang mulai mendekatiku dengan perasaan yang berbeda, semua lepas kita pun tertawa bersama, bercerita tentang hal-hal yang tak pernah kita ungkapan. Dan misi-misi kecil yang belum terwujudkan.
 
Aku tetap masih cemburu, di dalam mimpi itu pun belum hilang. “Aku harus bagaimana untuk tidak cemburu, sedangkan dia sudah bahagia sekarang”. Haruskah aku menyibukkan diriku untuk bisa melupakannya? oh tentu saja bisa meskipun itu sulit.
 
Lelaki yang di dalam mimpi itu tiba-tiba membawa seorang perempuan lain, aku bisa jadi merasa cemburu. Bukan...bukan...bukan itu yang kumaksud. Aku hanya lelah tidak mau teringat semua yang dulu pernah terjadi bahkan untuk sekarang. (ketika itu pun aku terbangun lalu tidur lagi).
 
Di kesempatan mimpi yang lain, Lalu lalang banyak orang yang lewat aku menemukan seseorang yang sedang melamun sendirian di sudut lukisan yang ada di museum, sosok itu tidak asing bagiku aku mengenalnya bahkan masih sangat teringat dengan jelas bagaimana rupanya dia. Lelaki yang dulu pernah bersamaku. Saat aku tanyakan mengapa dia bisa berada di sana. lelaki itu hanya diam memandang lukisan bergambar perempuan yang sedang menaiki ayunan diantara pohon-pohon yang berwarna warni sedang tumbuh di halaman rumah. Ya, dia tidak tahu kalau lukisan yang dipandanginya itu adalah kreasi tanganku.
 
“Hai, Bisa aku membantumu? Apakah kamu melihat sesuatu yang berbeda dari lukisan sebelumnya?” tanyaku
 
“Tidak, sepertinya aku sangat kenal lukisan ini, lukisan yang dulu pernah aku lihat entah di mana? apakah kamu mau membantuku mengingatnya?” ujarnya. 
 
“Tidak perlu, aku tidak mau membantumu mengingat lukisan itu, semua itu sudah masa lalu. kamu bahkan tidak menanyakan kabarku atau ucapan hai”. --mengapa dia menanyakan hal itu, sedangkan dia tak mau menanyakan kabar dariku? (berlari)
 
“Hei...hei..aku belum bertanya kamu sudah lari, bagaimana aku mau menjawab hai, wajahmu saja kamu acuhkan dariku, mau lari kemana lagi”.
 
Aku pun tersentak kaget dengan mimpi itu, dan bahkan sulit untuk kembali tidur. Masih terbayang apakah lukisan itu ada atau tidak hingga sekarang. Apakah sosok lelaki itu adalah nyata. Apakah dan semua pertanyaan apakah itu sangat menggangguku.
 
Aku hanya ingin menjadi ‘dia’ perempuan yang selalu ada bersamanya, untuk menggantikan posisiku yang terlepas dari genggamannya. Aku hanya berharap bisa kembali bersamanya, menemuinya, dan menemaninya itupun jika bisa. Bila sang waktu memang sudah menjadi takdir, tidak apa-apa itu pun tidak lebih hanya sekear mimpi dalam kehidupan nyata itu pun tak akan mungkin terjadi, meskipun aku hanyalah butiran debu yang sudah usang oleh masa lalu yang tak mungkin bisa diubah lagi kembali.
 
 
Jakarta, 06 September 2016
 
 
 
 
 
*Thumbail Dream