Mengisi Liburan di Pantai Kuta

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 September 2016
Mengisi Liburan di Pantai Kuta

Hari keempat, 21 Agustus 2016

Rencana liburan saya kali ini adalah mengunjungi pantai terdekat yang masih bisa dijangkau dan dekat dengan Mengwi, pilihan saya jatuh di Tanah Lot, dan Pantai Kuta. Untuk wisata lainnya yang belum sempat saya kunjungi mungkin lain waktu bisa ke sana lagi seperti lokasi terkenal Patung Garuda Wsinu Kencana, Elephant Safari Park, Pantai Pandawa, Pantai Nusa Dua Bali, Pantai Menjangan, dan Pantai Virgin, dan Candi bentar salah satu cagar budaya resmi di provinsi Bali.

Jika ingin mengunjungi tempat yang jarang terdengar oleh wisatawan lokal maupun asing, pilihan bisa jatuh ke Pantai Nyang Nyang atau Pantai Tegal Wangi bahkan juga Pantai Gunung Payung yang bisa dijadikan lokasi buat Pre Wedding (eciiieee uhukkk….mudah-mudahan bisa prewed di sini ngarep amat dah yak).

Dan satu yang masih membekas dalam ingatan saya adalah saat melewati orang-orang yang selesai upacara adat ngaben. Hal yang saya pelajari dalam upacara adat ini adalah cara menghormati leluhur, dan orang yang yang sudah meninggal.

Selama saya mengunjungi Tanah Lot, dan Pantai Kuta saya ditemani sahabat saya dalam dunia perkoprolan eciee koprol, mungkin di sini banyak yang belum tahu apa itu koprol. Koprol adalah jejaring sosial berbasis lokasi, dan dulunya diakuisisi oleh Yahoo, sudah 4 tahun koprol shutdown, belum juga ada kebangkitan. Ya, mungkin dia sedang tertidur dengan lelap untuk bangun kembali membentuk jejaring sosial yang bisa memperbaharui mengikuti trend pengguna. Waduh kok jadi promosi begini deh.

Balik lagi ke cerita tentang sahabat saya, ada 2 (dua) orang yang saya hubungi Namanya Lenny dan Yessi orang inilah yang sudah saya kabari 3 minggu sebelum keberangkatan saya ke Bali, melalui Path maupun melalui Telegram.  Mungkin dari sebagian orang Telegram itu seperti istilah sebuah surat yang dikirim secara singkat. Padahal Telegram itu adalah sebuah aplikasi sama seperti Watshapp, teman-teman saya  di Komunitas koprol banyak yang menggunakan aplikasi Telegram mau tidak mau saya pun sebisanya dapat aktif di jejaring ini.

Lenny, adalah sahabat baik saya selama berada di Bali,  dia tinggal di Mengwi dekat banget dari rumah teman saya Mbak Rosta Senja. Kita sudah kenal lama dan baru bertemu pertama kali, kita sering ngobrol via twitter dulunya, semenjak Path booming kitapun akhirnya bisa cuap-cuap lagi bercengkerama lagi. Banyak hal-hal unik yang saya temui dari sahabat saya yang satu ini, lucu, sabar, dan bersahabat juga orang yang optimis menempuh kehidupannya secara mandiri, nggak ngekor orang lain atau keluarga. Masing-masing punya kehidupan sendiri. Dari dia saya belajar, untuk menjadi wanita mandiri itu perlu semangat memulai hari baru, memandang masa depan, dan tetap cantik alami walau tidak berdandan.

Perjalanan pertama yang saya tempuh adalah Tanah Lot, Bali menuju Mengwi sebelum berangkat saya berpamitan dengan keluarga Mbak Rosta Senja beliau tidak bisa menemani saya selama saya menikmati liburan di Bali, karena beliau sedang hamil muda. Saya dan Lenny berangkat menggunakan motor. Lho kok motor? Yaph kebanyakan wisatawan asing menggunakan motor sebagai moda transportasi mengunjungi Bali. Sahabat saya ini memang punya motor sendiri, dan tinggal bersama kucing lucu namanya Milo.

Setelah berpamitan dengan Mba Rosta sekeluarga berangkatlah kita berdua menuju Tanah Lot, perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 45 menit. Udara yuang sejuk dan pemandangan di kiri kanan sawah yang hijau membuat mata ini segar memandang di setiap jalan yang di lewati. Tidak banyak kendaraan dan kesibukan orang-orang di sana bisa di bilang perjalanan cukup lancar. Yang unik adalah saya melewati perumahan dan pura dari satu pura ke pura lainnya, juga menyaksikan secara langsung masyarakat Bali di jalan membawa perlengkapan upacara ngaben. Menjumpai mereka untuk pertama kali, mata saya pun berkaca-kaca saat sahabat saya menceritakan asal muasal upacara ngaben.

Sesampai memasuki “selamat datang di Tanah Lot” saya pun bisa menghirup bau air laut di sana, sebelum memasuki area yang sesungguhnya saya dan sahabat saya membayar biaya masuk termasuk 2 oang dan kendaraan bermotor. Setelah itu perlahan-lahan memasuki area pasar. Begitu sampai menginjakkan Pura Tanah Lot, perasaan saya campur aduk, sayangnya saya tidak bisa turun ke puranya karena air laut sedang pasang. Jadi yaa mau nggak mau kita mencoba untuk menikmati udara dan air laut saja.

Selama hampir 2 jam mengitari tanah lot, hal yang saya dapat di sana adalah menciptakan keberagaman, bahasa asing, dan tata cara orang-orang asing bersuka cita. Entahlah, saya sulit sekali mengungkapkan semuanya karena setiap orang punya cara sendiri untuk bersenang-senang. Dan sebelum saya mengunjungi Pantai Kuta untuk menikmati sunset adalah belanja, yeay belanja lagi. Ternyata barang-barang di sini sangat murah-murah, harganyanya gak sampai 300 ribuan.

Setelah meninggalkan Pura Tanah Lot, kita berdua menuju pantai Kuta melewati jalan-jalan yang mudah dilalui hampir 2 jam perjalanan. Capek? Gak juga sih justru ngantuk dan laper hahaha…mengingat hari sudah menjelang sore dan sunset tinggal beberapa jam lagi. Di sepanjang jalan banyak yang saya lewati termasuk daerah seminyak, ubud. Kemacetan terjadi di Seminyak sampai sepanjang jalan Kuta. Waw, Bali bisa macet juga dan itu tidak berlangsung lama.

Untuk menghindari muka-muka kelaparan kita memilih istirahat sejenak di Mall Centro yang masih dalam kawasan Pantai Kuta. Motor kita parkirkan tepat di Pantai Kuta dengan berjalan kaki menuju Mall Centro, jaraknya tidak terlalu jauh sehingga kita bisa menikmati udara pantai, sangat disayangkan sekarang Pantai Kuta sudah tidak lagi terlihat bersih. Seperti yang saya lihat di internet, bersih dan cantik ternyata aslinya seperti ini, aduh!

Dan lagi-lagi saya melewati pembakaran mayat di Pantai Kuta. Saya sangat antusias sekali sahabat saya menceritakan prosesi secara langsung upacara ngaben. Dari awal sampai akhir hingga abunya di buang ke laut.

Kebanyakan orang bilang :
untuk menikmati sunrise dan sunset belum afdol kalau kamu belum menginjakkan kaki di Pantai Kuta.

Yaph, tepat sekali dan saya pun sudah bisa menikmati sunset di pantai Pantai Kuta untuk pertama kalinya. Sembari menunggu sunset 2 jam lagi waktu Bali, saya ngobrol-ngobrol sama sahabat saya di kafe J.Co tentang Bali, masa depan, dan tentu saja yang tidak boleh dilewati adalah keseruan tinggal di Bali, teman-teman Koprol, juga soal pasangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.45 sore kita meluncur ke Pantai lagi, yang kami berdua lakukan adalah mengamati matahari, mendengar suara ombak, angin yang kencang, dan foto-foto tentunya. Selama setengah jam kita menghabiskan waktu di Pantai sampai matahari sudah tidak terlihat lagi. Dan malamnya kitapun pulang kerumah masing-masing untuk esoknya melakukan aktivitas kembali.

  • view 254