Mengisi Liburan di seputar Mengwi

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Agustus 2016
Mengisi Liburan di seputar Mengwi

Masih di hari ketiga, 20 Agustus 2016

Keluar dari Desa Bengkala kalau tidak salah waktu menunjukkan pukul 2 siang daerah Bali, saya masih menggunakan jam Jakarta. Sedangkan jam Jakarta masih pukul 1 siang. Di perjalanan saya hanya pulang bertiga di temani supir sewaan kemarin saat mengantarkan saya dan Bu mitha ke Desa Bengkala. Selama di perjalanan saya tidak tidur justru menikmati keunikan desa yang saya lewati salah satunya adalah monyet. Monyet di sini diliarkan, dan wisatawan bebas menyentuh bahkan memfoto mereka.

Saya lewat dari Desa Bengkala mengarah ke Danau Bedugul. Saya tidak ingat posisi ini di mana karena saking semangatnya menikmati monyet-monyet liar di dalam mobil. Istirahat sejenak di Danau Bedugul, supirnya curhat kalau dia belum makan siang, dia ingin makan siang sebentar sebelum mengantarkan saya menginap menuju Mengwi, Buduk. Di kiri dan kanan saya semuanya areal pepohonan bahkan sawah, sebelum memasuki kota. Oh ya, Mengwi ini dekat sekali dengan Tanah Lot untuk mencapai kesana cukup menghabiskan waktu sekitar 45 menit dengan kendaraan motor.

Sampai daerah Mengwi saya telepon teman bahkan berbalas pesan melalui Watshapp, tunggu sekitar 1 jam belum nongol juga itu grab atau gojek susah meeeennnn sinyal di sana. Malahan saya sedih Hp Cuma satu itupun servicenya gak memuaskan alias susah ngetik-ngetik tuts keyboardsnya. Belum sampai di sini saja, saya malah digoda Pak satpam bahkan abang-abang tukang bakso di Rumah Sakit Kapal sembari menunggu teman untuk menjemput.

Dialog lucu yang saya rada-rada ingat dari Abang tukang bakso

Bang Bakso : “mbaknya mau kemana, dari mana asalnya? cobain dong bakso saya, bakso halal rasa ayam bukan babi”.

Saya : “Jakarta Pak, Mengwi Pak, masa sih pak, baksonya bakso ayam bukan babi kan, tapi kok bihunnya ijo-ijo, itu bihun dari rumput laut?”.

(abang baksonya malah ketawa ngelihat ekspresi saya)

Bang Bakso : “ya kan asli neng bakso ayam kalo gerobaknya biru, yang babi gerobaknya coklat”

Saya : “oooo…”                                                                             

Bang Bakso : “neng, mana temannya masih lama jemputnya? Kasian cantik-cantik sendirian. Saya tawarin cicipin dulu bakso saya neng”.

Saya : (jiaahhh bise aje nih mang bakso) “bentar lagi bang, iya pak makasih lagi gak bisa makan berkuah-kuah”.

(kayaknya nih mang bakso bingung apaan yang berkuah-kuah hahaha)

 

Dialog dengan satpam, bang bakso, dan saya 

Pak Satpam : “yuk neng mas tawarin bakso mau nyobain gak?”

Saya : “iya pak makasih” (foto-foto)

Pak Satpam : “Neng, ayo sini baksonya dicoba aja dulu”

Abang Bakso : ?%$#@!&*(&^$$ (sambil ngeracik)

Pak Satpam : (sambil bawa-bawa mangkok bakso, busyet isinya banyak banget kayak model bakmi) “neng, mau ngga? Baksonya enak nih, masnya makan dulu ya, sini makan bareng”.

Saya : “makasih mas”. (pede bener dah tuh pak satpam, diem-diem candid kirim ke grup eh malah di bilang ganteng, deketinlah bla-bla-bla; alamak heboh kan jadinya).

 

Dan akhirnya yang ditunggu pun sudah tiba di tempat tuan rumah waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore bagian Jakarta sedangkan di Bali sudah pukul setengah 5 sore, suaminya Mba Rosta Senja yang menjemput saya ke rumahnya setelah gagal memesan gojek dan gocar. Malam minggu ini pun saya habiskan bersama keluarga mba Senja dengan makan malam bersama dan beristirahat dan merenggangkan otot-otot kaki, oh ya mba senja ini sedang hamil muda doakan beliau sehat wal’afiat tidak kekurangan apapun hingga waktunya sampai melahirkan, aamiin.

Sejuknya rumah dan sepi, jauh dari keramaian kota, membuatku “betah” kalau suasananya begini, dingin, menyegarkan dan bersih salah satu perumahan yang saya lewati seakan membawa saya flashback tentang masa kecil, keindahan lingkungan, kebebasan bermain, dan jalan yang mulus untuk bermain sepatu roda dan sepeda, kejar-kejaran atau bahkan main karet.

 

Sekaligus bercengkerama bersama keluarga kecil mba Senja begitu saya memangilnya. Seto dan Nara, salah satu orang yang ingin saya temui setahun yang lalu pun sekarang sudah ada di depan mata saya. Mereka adalaha anak-anak yang menggemaskan, penurut, dan aktif kalau menurut saya. Saya paling gemas dan suka sama Seto karena dia anak yang keingintahuannya begitu luas dan sering membuat saya terkagum kagum dengan kedewasaannya. Walaupun begitu meski masih anak-anak sikap dewasa sudah tertanam sejak dini sehingga membuatnya menjadi anak yang mandiri ditinggal kedua orang tuanya bekerja. Lain dengan Nara, kakak yang satu ini orang yang pendiam, irit kata, dan suka sekali merasa sebal karena sering diajak berantem sama adiknya sendiri ketika sedang asyik menonton TV. Pelajaran buat saya salah satu contoh pengajaran yang tepat sedari dini sudah ditanamkan mba Rosta untuk anak-anaknya termasuk jam menonton secara bergantian, praktek shalat dan hafalan untuk Nara.

Ketika saya menjadi calon Ibu dari anak-anak nantinya saya pun tidak hanya mencontoh dari mereka tetapi juga nilai-nilai pengalaman hidup yang penting membentuk karakter keluarga. Malam mingguan sudah biasa sendiri apalagi di rumah, buat saya malam minggu adalah malam perenungan mengingat 7 hari apa yang sudah saya lalui selama seminggu ini, apakah ada hal-hal baik, buruk, sifat jelek. Sekali lagi saya tidak mau merepotkan tuan rumah. Jadi saya habiskan menonton berdua dengan mba Senja sembari mengobrol mengikuti alur cerita yang ada di Disney channel dan mebalas pesan-pesan grup juga teman yang tinggal di mengwi juga untuk menemani mengitari Bali keesokan paginya. Sampai film selesai kita berdua pun tidur di kamar masing-masing hingga subuh.

 

 

  • view 240