Training of Trainer Desa Bengkala 20 Agustus 2016

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Agustus 2016
Training of Trainer Desa Bengkala 20 Agustus 2016

Oleh : Chairunisa Eka

Hari ketiga, 20 Agustus 2016

Kali ini saya menikmati udara lebih pagi, sebab acara dimulai lebih awal jam 9 pagi sudah harus tiba di balai desa. Sarapan kali ini saya lebih tidak semangat soalnya saya hanya sarapan roti isi madu dan secangkir teh hangat. Kenapa saya lemas? Ya, karena udaranya kali ini sangat dingin semalaman hujan gerimis menambah nikmatnya pagi yang syahdu dan harus segera meninggalkan desa bengkala secepatnya. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan selama menginap di sana. Saya tidak bisa menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan warga sekitar, waktu memang cepat sekali berlalu.

Hal yang tak pernah bisa dilupakan adalah bagaimana caranya supaya anak Kolok dan non Kolok mampu berbaur setelah mengikuti pelatihan. Apakah sudah ada perubahan atau tidaknya. Dengan tetap terrus berkomunikasi dengan Kepala Desa atau teman-teman yang sudah di kenal saat pelatihan.

Untuk menuju balai desa masih tetap dengan berjalan kaki, menikmati udara pagi yang dingin sembari menyapa satu per satu warga yang saya temui dengan ucapan selamat pagi dan senyum ceria, sumringah saja deh pokoknya bahagia mereka bahagianya kita juga.

***

Sesi I

Di pelatihan terakhir ini para peserta semakin bertambah yang hadir yaitu ada sekitar 28 orang dari yang seharusnya sekitar 20 orang. Tapi tidak apa-apa semakin banyak yang mengikuti semakin banyak yang tertarik untuk mendapatkan pengetahuan baru dari pelatihan ini, peserta diajak oleh trainer memahami pendalaman BISINDO atau kepanjangannya Bahasa Isyarat Indonesia dan juga mempraktekkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan menggunakan bahasa isyarat melalui video yang diputar.

Diharapkan peserta dapat memahami bahasa isyarat yang beraneka ragam budaya, dan istilah isyarat yang unik. Karena Bahasa Isyarat adalah pengantar tunarungu memahami Bahasa Indonesia. Semakin banya kita menghargai tunarungu, semakin banyak orang yang mau belajar bahasa isyarat semakin banyak orang yang berminat juga untuk datang ke desa bengkala sebagai jembatan pembelajar komunikasi antara anak kolok dan non kolok. Dan seperti apa kehidupan sehari-hari di sana, kitapun bisa belajar dari mereka.

Peserta di sini lebih rileks, santai, dan menikmati setiap pelatihan hingga selesai. Untuk materi Bahasa Isyarat peserta dibantu trainer dari Yayasan Tunarungu Sehjira. Peserta sangat antusias menghafal setiap gerakan demi gerakan tangan yang diberikan oleh trainer. Dengan cepat peserta mudah mengingat gerakan abjad A sampai Z, lalu perkenalan, nama, umur, dan pekerjaan. Satu per satu peserta membentuk kelompok kecil menghafal setiap gerakan abjad A sampai Z di depan teman lainnya dan trainer.

Di sini peserta sangat begitu bersemangat menyelesaikan gerakan abjad A sampai Z yang sudah dipelajarinya dari trainer. Tidak hanya sampai di situ saja satu per satu peserta mulai mengingat abjad dengan cara memperkenalkan diri. Kadang ingat kadang lupa, dan ada kejadian lucu yang membuat semua peserta terhibur dengan gerakan isyarat.

Setelah memperkenalkan diri, peserta membuat 2 kelompok kecil dari trainer untuk maju ke depan lagi. Peserta di sini diajak untuk mengikuti permainan yang diberikan oleh trainer salah satunya adalah melengkapi kosa kata melalui gerakan isyarat dan tidak boleh bersuara. Cara bermainnya cukup gampang yaitu trainer akan memberikan soal ke peserta yang ada di belakangnya, setelah itu peserta yang mendapatkan soal dari trainer harus mencolek memberikan jawaban yang sama dengan apa yang diingatnya maka jawaban tersebut harus dipindahkan ke teman lainnya yang ada di depan. Jawaban yang benar dialah yang menang dan berhasil menyelesaikan Abjad A sampai Z. Ada juga yang tidak berhasil menyelesaikan jawaban dari teman yang ada di belakangnya.

Permianan ini cukup menghibur peserta, dan dituntut untuk aktif tampil berani serta percaya diri. Dan lagi peserta lainnya yang belum ikut bermain akan diajak bermain lagi dengan permainan lain, di sini peserta dari non Kolok akan melihat langsung bagaimana percakapan sehari-hari Anak kolok melalui adegan gerakan Bahasa Isyarat, 5 peserta non Kolok dengan 2 peserta Kolok. dari semua peserta ini mereka satu persatu mencoba untuk melihat sisi lain Bahasa Isyarat yang bisa mereka pahami, semisal gelas, buku, kaca mata hitam, dan lainnya.

***

Sesi II

Peserta diberikan lembar demi lembar soal pretest tentang remaja dan kesehatan reproduksi sebelum memasuki materi tentang organ reproduksi antara laki-laki dan perempuan. Mereka menghabiskan waktu menyelesaikan lembar pretest dengan rentang waktu sekitar 10 menit.

2 peserta antara laki-laki dan perempuan maju ke depan diberikan celemek spidol yang bergambar organ reproduksi, trainer dari Udayana memberrikan penjelasan singkat mengenai organ reproduksi laki-laki dan perempuan. Bagaimana cara memproduksi bayi, dan bagaimana indung sel telur bersatu dari organ laki-laki ke perempuan. Dari sini mereka akhirnya dapat mengerti secara fakta bahwa kehamilan diluar nikah itu tidak diperbolehkan kecuali yang sudah menikah / sah secara agama boleh melakukan hubungan intim untuk dapat memperoleh bayi. Apabila hubungan di luar nikah kedapatan hamil maka perempuan tidak boleh menggugurkan kandungannya karena akan merusak organ reproduksi di usia yang sudah tidak produktif akan berbahaya dan menyebabkan kanker atau gangguan pada sel-sel telur. Untuk laki-laki rentan terhadap pola makan yang tidak tepat, ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan, tidak menerapkan gaya hidup sehat, perawatan kesehatan, dan usia. Peserta diajak untuk berdiskusi dan bijak memahami pentingnya kesehatan reproduksi bagi mereka di kemudian hari.

Permainan ular tangga GenRe salah satu alternatif menguji kemampuan para peserta, di sini peserta dibagi dalam 5 kelompok yang berjumlah sekitar 5-6 orang. Peserta harus sabar dan dilatih kepekaannya melalui permainan ular tangga di dalam blok-blok angka ini terdapat berbagai macam jenis tulisan untuk menarik peserta bersuara dalam menyelesaikan permainan. Permainan ini menghabiskan waktu sekitar 90 menit, peserta harus bisa mengikutinya hingga berhasil ke angka 36. Setelah itu peserta diberikan lagi post test tentang remaja dan kesehatan reproduksi yang mereka ketahui. Dan diakhiri dengan pembagian sertifikat, uang transport tentunya bagi peserta, dan berfoto bersama peserta sebelum pulang ke Jakarta.

Cerita tentang perjalanan saya mengisi liburan mengitari bali akan saya tuliskan kembali di catatan harian yang lain.  Ditunggu saja seperti apa keseruannya

  • view 173