Training of Trainer Desa Bengkala 19 Agustus 2016

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Agustus 2016
Training of Trainer Desa Bengkala 19 Agustus 2016

Oleh : Chairunisa Eka

 

Hari Kedua, 19 Agustus 2016

***

Sesi I

Dengan judul Training Of Trainer Pelatihan Reproduksi Sekaa Terunaa Terunii dihadiri sekitar 20 Orang peserta diantaranya peserta Kolok dan non Kolok. Dan juga ada tambahan 1 peserta dari Universitas Udayana. Hal pertama yang saya lakukan adalah berkomunikasi dengan para peserta dan menulis absensi mereka, karena nantinya para trainer inilah yang akan menyerahkan name tag peserta secara langsung. Pembukaan acara resmi dibuka oleh Bapak Kepala Desa Bengkala, Singaraja I Made Arpana, atau biasa disapa Bapak Made ditandai dengan ketukan 3x dengan mic tanda dimulainya acara, dan diwakilkan oleh Ibu Putu Suariyani (Suar) dari Universitas Udayana, mewakili Universitas Indonesia dan Yayasan Tunarungu Sehjira. Ibu Suar memberikan penjelasan trainer masing-masing sesuai dengan latar belakang, serta memperkenalkan diri di depan para peserta yang mengikuti pelatihan ini, Anak kolok tunarungu ini mereka dibantu penerjemah asli dari Desa Bengkala, namanya Bapak Kanta. Karena perbedaan Bahasa Isyarat Jakarta dan Bali sangat berbeda jauh sekali kalau saya menjelaskannya ke mereka.

Oh ya, perjalanan yang ditempuh untuk mencapai lokasi balai desa ini tidak begitu jauh dengan tempat saya menginap, sehingga bisa dinikmati dengan berjalan kaki. Badan sehat, perut kenyang sehabis sarapan menghirup udara desa di pagi hari membuat saya menjadi lebih semangat menikmati hari dengan senyuman dan rasa bahagia, tidak ada rasa canggung kesulitan berkomunikasi dengan warga sekitar desa, justru saya malah menjadi ingin lebih banyak tahu keadaan lingkungan sekitarnya yang saya lewati termasuk warga desa yang menyapa.

 

Selain itu peserta juga memperkenalkan diri, mana yang anak Kolok dan mana yang bukan anak kolok sehingga trainer bisa mengantisipasi komunikasi untuk membantu 2 orang yang berbeda ini. Bagaimana caranya menyampaikan pesan yang tepat sesuai dengan jadwal yang sudah di susun dengan baik oleh tim Udayana. Peserta digembleng untuk aktif dalam kegiatan ini, rajin bertanya dan menjawab pertanyaan dari trainer. 

Penukaran name tag ini yang paling seru menurut saya, adalah peserta mulai aktif menghapal nama teman-teman di samping kiri kanan dan belakangnya serta mengingat nama trainer yang benar. Peserta menukar name tag yang sudah disediakan oleh trainer lalu memberikannya langsung ke trainer sesuai dengan nama yang dipegangnya. Begitupun juga sebaliknya trainer dituntut untuk mengingat nama peserta. Dari sini mulai terjalin keakraban serta komunikasi di awal sesi.

Peserta diajak untuk berdiskusi dari awal sampai akhir kegiatan selesai, Peserta pun mulai bertanya-tanya apa yang akan dibuka dalam tahap sesi pertama ini ternyata peserta akhirnya dapat mengenali dirinya melalui pohon harapan dan kerikil kecemasan, menggali potensi, siapa aku, dan menggapai impian yang sudah disiapkan oleh Trainer dari Yayasan Sehjira.

Kali ini peserta diajak mengetahui apa harapannya dalam mengikuti pelatihan ini dan apa yang ingin didapatkannya setelah mengikuti pelatihan ini. Beberapa peserta kurang antusias namun ada yang mau menjawab pertanyaan dari Ibu Rachmita dan Nisa. Harapannya dari Ibu Rachmita ingin peserta dapat berkonsetrasi mengikuti kegiatan ini hingga selesai, dan mendapatkan ilmu baru yang belum dipelajarinya selama mengikuti pelatihan sampai selesai. Harapannya peserta dapat berhasil mengembangkan kemampuannya dan menjadi peserta yang aktif dalam bertanya maupun menjawab pertanyaan dari trainer. Peserta menulis nama, asal, usia, dan harapannya melalui buah-buahan yang sudah disiapkan oleh trainer. Lalu menempelkannya di pohon harapan. Banyak tulisan yang sangat bagus yaitu ingin memotivasi diri sendiri dan orang lain, menambah wawasan, serta teman baru maupun menjadi motivator, berfikir positif dan mampu mejadi orang yang terbuka.

 

Di kerikil kecemasan peserta berhasil meredam rasa takutnya dengan mengikuti pelatihan ini. Di mana peserta salah satunya masih ada yang minim bahasa termasuk tunarungu. Untuk menjelaskan kerikil kecemasan ini sangat singkat dan sederhana yaitu apakah peserta di sini mengalami ketakutan luar biasa, atau merasakan kehilangan kepercayaan diri, dan malu mengikuti pelatihan ini. Peserta diajak menulis tentang ketakutannya melalui kertas yang sudah disiapkan oleh trainer lalu membuangnya di plastik.

 

Selanjutnya, peserta diajak berdiskusi untuk mengenali siapa aku dengan trainer Chairunisa atau Nisa. Disini peserta diajak mengenali karakternya melalui siapa aku dan menggapai impian. Kali ini peserta dapat memahami dirinya memiliki sisi postif maupun sisi negatif, bahwa peserta memiliki kemampuan untuk berfikir cepat dengan metode sederhana. Yang dapat diketahui adalah bagaimana mengajak peserta lebih dalam mengenali karakternya, menerima, dan mengubah karakternya menjadi lebih baik lagi.

 

Dari pendalaman ini peserta pun akhirnya dapat mengerti bahwa siapa aku adalah mengenali, menerima, dan mengubah dirinya melalui karakternya dengan melihat di cermin. Aku adalah aku, kamu adalah kamu. Dan dengan cepat peserta pun paham. Bahwa cermin adalah pengenal karakter peserta. Setelah dapat memahami karakter tersebut peserta dapat mengenal apa itu positif dan apa itu negatif. Positif adalah pintar, cantik, dll sedangkan negatif, adalah bodoh, malas, tuli, dll. Di sini peserta diajak berdiskusi untuk mengenali postif dan negatif dirinya apakah dia memiliki karakter yang perlu diubah atau tidak. Di positif ini peserta diajak untuk mengambil sisi ini, lalu membuang sisi negatifnya karena sifatnya tidak baik bagi dirinya, dan tidak akan bisa merubahnya.

Trainer sudah menyiapkan posttest “cita-cita” untuk di tulis oleh masing-masing peserta. Tulisan tidak boleh sama, harus sesuai dengan apa yang ditulisnya,  setelah penjelasan materi siapa aku. Selesai menulis peserta non tuli dan tuli maju satu persatu untuk menjelaskan isi tulisannya kepada peserta lain maupun trainer. 

Kemudian peserta diajak mengenali menggapai impain. Seperti apa itu menggapai impian, bagaimana mencapainya. Di sini peserta akan diajak lagi untuk berdiskusi sebelum masuk materi yang sebenarnya. Menggapai impian ini adalah untuk menggapaikan cita-citanya menuju sukses. Caranya seperti apa? Caranya adalah dengan belajar. Dimulai dari Tk hingga tamat SMA mereka harus bisa menggapai cita-citanya supaya berhasil didapatkan. Peserta di sini harus bisa memulai dirinya dengan belajar dan tidak berhenti belajar serta tidak gampang putus asa. Peserta sangat antusias menjawab ingin menjadi apa nantinya setelah lulus sekolah. Macam-macam cita-cita peserta yang lebih bagus, dan mereka sudah menyimpan cita-citanya untuk bisa membantu orang lain atau desanya.

Peserta harus dapat menyimpannya dan meneruskannya dengan tidak berhenti belajar dan berusaha. Peserta dapat memahami 10 metode cara menggapai impian menjadi nyata mulai dari berdoa, percaya diri, bekerja keras, teiliti, konsisten, berfikir postif, tidak takut gagal, sabar dalam mengalami rintangan/ tantangan/ mau bekerjasama secara tim, dan bersyukur.

Bagaimana cara meneruskan usaha itu dengan baik untuk mencapai cita-cita? Dengan begini peserta mampu berpikir melalui cara yang sederhana di mulai dari lingkungan sekitarnya, atau lingkungan rumah. Selesai menjelaskan semua materi tersebut, diakhir ini peserta wajib menulis cita-citanya melalui bintang yang sudah disediakan oleh trainer. Trainer membantu peserta apabila tidak mengerti/ memahami cita-citanya saat ini. Selesai menuliskan apa cita-cita yang diinginkannya, kemudian menempelkannya di kertas karton bergambar bulan sabit yang ada di dinding.

Sebelum jam istirahat peserta dan trainer pun berfoto bersama, makan siang bersama, dan bahkan mengobrol sebentar untuk melanjutkan sesi ke dua. Seru bukan? Mengobrol dengan 2 peserta (Anak kolok dan non kolok) dalam 1 desa? Ya tentu saja menyenangkan selain berrbagi cerita, merekapun berbagi curhatan tentang kegiatannya sehari-hari serta kejadiannya hari itu.

***

Sesi II

Di sesi ke II ini saya tidak bisa menyimak secara terperinci mengenai kegiatan ini alias kelaperan selesai presentasi dan menulis laporan acara hahaha, Jadi saya hanya akan menulis sedikit tentang Pendidikan Sebaya, Komunikasi sebaya, dan Konseling teman sebaya oleh trainer Universitas Udayana, Tim dari Udayana ini sekitar 3 (tiga) orang, antar lain Ibu suar, Ibu Yuli, dan Ibu Rina, yang rata-rata adalah dosen, dan peneliti.  

Di sini peserta dapat menyimak penjelesan tentang pendidikan sebaya, peserta sangat tertarik dengan materi ini karena mereka bisa mengenali setiap karakter cara perilaku, dan apa yang harus dilakukan ketika harus bertemu dengan komunitas tuli maupun komunitas baru.

Lagi-lagi peserta diajak untuk berdiskusi melalui pendidikan sebaya, bahkan mereka dapat menjawab dengan antusias, dan peserta pun menjadi sedikit penasaran, dengan tema ini, bagaimana bentuk interaksi sosial dengan teman sebaya, sahabat, dan pacar yang benar. Keterbatasan bahasa bukan menjadi kendala remaja tunarungu dalam berinteraksi dengan sesamanya karena sudah terbiasa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat maupun oral. Apabila berada di lingkungan yang berbeda anak Kolok belum begitu terbiasa berinteraksi dengan anak non Kolok, merasakan cemas, ragu, dan takut untuk berkomunikasi dengan anak non Kolok. Sehingga peran teman atau sahabat yang lebih baik komunikasinya bisa membantu untuk dapat meningkatkan kepercayaan diri, dan tidak takut untuk berbaur dan bersosialisasi.

 

Disesi ini peserta diberikan pretest tentang pendidikan sebaya apakah peserta dapat menyelesaikan lembaran post test dengan cepat sesuai waktu yang di berikan oleh trainer.

Di komunikasi sebaya ini peserta lebih dalam lagi mengetahui cara berkomunikasi yang tepat dengan pacar, teman, maupun sahabat apakah caranya sudah benar atau belum untuk menyampaikan informasi. Dari semua yang mereka dapatkan dan pelajari adalah mereka harus dapat mengenal masing-masing karakter teman sebayanya, maupun pacarnya agar tidak menimbulkan konflik. Karakter inilah yang dimulai dari lingkungan keluarga, dan keluargalah yang berperan mengubah perilaku mereka agar menjadi orang yang baik, tidak minder, maupun disegani kawan di lingkungannya. Kebiasaan dan perilaku peserta ini tidak boleh ditiru oleh teman sebaya termasuk komunikasi dengan berbicara kasar terhadap lawan bicara, karena dapat menyebabkan teman sebaya merasakan ketidakpeduliannya atau enggan bertemu untuk bermain di lingkungan tempat tinggal. Pada kasus ini mereka sering sekali terjadi kesalahpahaman sehingga menimbulkan konflik di sehari-harinya. Bagaimana caranya menyampaikan permintaan maaf dengan baik, memafkan, memberi maupun menerima kekurangan masing-masing.

Siapa yang pernah merasakan memiliki permasalahan dengan teman sebaya? Inilah yang dibutuhkan konseling terhadap perkembangan psikologis anak kolok maupun non kolok, cara pandang mereka sangat berbeda-beda dilihat dari karakter dan cara meningkatkan kecerdasan emosional, Anak kolok cenderung mudah emosi hanya karena ketidaktahuan bahkan salah menyampaikan informasi dari orang dengar.

kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Kecerdasan emosional memegang peranan penting, di mana ia mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri.

Peserta di sini mengaku lebih emosional akibat omongan teman sebaya yang menyebabkannya ikut meniru bahkan mencoba sesuatu yang belum dicobanya padahal di lingkungan keluarga mereka tidak diajarkan seperti contohnya mencoba merokok. Sedini mungkin dimulai dari lingkungan keluarga yang mendorong Anak kolok dan non kolok berperilaku baik, jujur, berkembang sesuai dengan usianya dan dilihat dari perkembangan psikologisnya. Sehingga peserta dapat merasakan kekhawatirannya di kemudian hari dalam mengatasi kecemasan maupun ketakutannya untuk menolak secara halus dengan teman sebayanya.

 

Yaph, lagi-lagi sebelum pulang peserta diberikan lembaran 5 posttest untuk ditulis, masing-masing peserta tentang teman pendidik sebaya, apakah mereka mampu meyerapkan materi yang disampaikan oleh trainer atau tidak. Dan pernah mengalami kejadian yang merugikannya atau tidak. Peserta harus menjawab jawaban tersebut dengan benar dan jujur.

Sudah selesai? oh tentu saja belum, ada 2 peserta dari Anak Kolok yang di wawancara oleh Tim Udayana mengenai gaya pacaran sehat, semacam konseling tentang teman sebaya istilahnya. Saya yang membuatkan video untuk mereka supaya tim Udayana dan Yayasan Sehjira mudah mengingat dan memahami setiap percakapan yang bisa dilihat berulang-ulang. Oh ya, untuk video ini bersifat rahassia tidak bisa diberikan dan ditonton langsung karena mencangkup masalah-masalah pribadi setiap 2 peserta ini. Jadi hanya tim saja yang bisa melihatnya.

***

Dari uraian cerita saya hari ini bahwa setiap anak kolok dan non kolok memiliki karakter yang unik, kemampuan atau pun kelebihannya, kekurangannya, maupun sisi psikologisnya. Mereka dilahirkan ke dunia ini adalah menjadi manusia yang sempurna seutuhnya mampu berguna bagi lingkungan sekitarnya. Semua orang dilahirkan sama, kehidupan yang mengubahnya menjadi pembelajar, dan mengenali setiap perubahan yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya maupun dunia luar.

Di masa mendatang mereka sudah memiliki perubahan apa yang akan dilakukannya untuk berbuat baik dan berguna bagi sekitarnya, bahkan bagi keluarganya. Berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, menjadi orang yang mandiri dan memiliki penghasilan ataupun pekerjaan yang jelas. Melihat banyaknya anak kolok dan non kolok tidak memiliki pekerjaan tetap, memacu mereka untuk lebih giat lagi bekerja menjadi orang yang sukses.

***

Selesai kegiatan tersebut pun yah, akhirnya pulang-pulang makan rujak lagi, bisa dibilang tiada hari tanpa rujak. Rujak di sana selalu menjadi makanan paling enak dan tidak akan lagi bisa di nikmati karena rasanya berbeda dengan rujak yang ada di Jakarta. Rujak ooh rujak begitulah ceritanya.

Bergegas mandi, tim akan melakukan perjalanan jauh ke Pantai Lovina menikmati makan malam di Pusat Wisata Kuliner dan oleh-oleh Kriesna. Kapan lagi menghirup bau pantai, melihat bulan purnama dari dekat? Udara yang hangat? Dan air mancur menyanyi meliuk-liuk di restoran? Dan saya menemukan pesawat tiruan bahkan wahana bermain, semua itu dalam satu gedung di pusat oleh-oleh kriesna.

 

Di pantai lovina ini dengar-dengar salah satu tempat tinggalnya lumba-lumba, jika ingin melihat secara langsung harus bisa bangun sebelum subuh berlayar di tengah lautan. Sayangnya saya tidak bisa menikmatinya karena keesokan harinya harus melakukan kegiatan lagi. Lagi-lagi sepulang dari pantai lovina saya pun diajak makan manga yang masih tersisa kemarin. Dengan halus pun saya ngacir untuk tidur, takutnya besok mules mendadak dan tidak bisa tidur gegara makan rujak mangga. Beginilah tiada hari tanpa rujak, bagaimana dengan hari terakhir? Apakah tetap makan rujak? Nantikan tulisan saya di hari terakhir saya menginap di Desa Bengkala.                                                 

  • view 245