Training of Trainer Desa Bengkala 18 Agustus 2016

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Agustus 2016
Training of Trainer Desa Bengkala 18 Agustus 2016

Oleh :  Chairunisa Eka

Perjalanan menginjakkan kaki di ranah Pulau Dewata untuk pertama kalinya bagiku, Bali menyimpan begitu banyak pesona yang luar biasa. Tak hanya pantai dan sunset atau sunrise saja yang menarik bagiku. Di perjalanan ini saya menemukan pelajaran berharga yang berharap dapat menjadi manusia yang lebih baik dengan berbuat baik terhadap siapapun disekitar kita. Menjadi manusia yang berjiwa sosial, disiplin waktu, dan merubah perilaku kebiasaan jelek.

 

Bali, adalah mimpi saya pertama kali dan seumur hidup. Berbicara tentang Bali, yang saya lakukan adalah bagaimana menciptakan mimpi itu menjadi kenyataan. Kenyataan yang berbuah manis bahkan membuat saya tidak pernah lupa bahwa menjadi petualang itu butuh jiwa besar. Semua orang pun memiliki mimpi, apapun itu mimpinya. Berharap semua mimpi itu tepat di depan mata, tepat saat pertama kali menginjakkan kaki disanalah tujuan kita mengejarnya sampai mana petualangan itu di mulai.

Bali, tak hanya menjadi tempat liburan yang menarik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Banyak destinasi wisata yang sebetulnya jarang diminati orang justru membuat kita menjadi penasaran. Yaph, Desa Bengkala namanya. Meski masih terdengar sangat asing ditelinga sebagian orang. Bagiku, desa inilah saya mendapatkan begitu banyak hal-hal menarik yang jarang terdengar.

Saya akan menuliskan perjalanan hari pertama hingga hari terakhir dibuat dalam menurut kalender supaya mudah di ingat.

 

***

Hari Pertama, 18 Agustus 2016

Berangkat pukul 5 pagi dari Bandara Soekarno-Hatta dengan tujuan Denpasar, Bali. Saya pamit diantar Mama sebutan panggilan sayang saya ke Mama. Mendoakan semua perjalanan saya lancar, pekerjaan pun juga lancar. Keberangkatan pun dimulai tepat pukul 7.30 Waktu Indonesia Bagian Barat ternyata molor sedikit alias delay di dalam pesawat. Tiba di Bandara Airport I Gusti Ngurah Rai pukul 11.35 Waktu Indonesia Bagian Tengah setelah pengambilan bagasi. Banyak perubahan dalam hal perancangan arsitektur Bali yang sebelumnya saya lihat hanya melalui internet saja. Namun sayangnya masih ada yang kurang yakni toilet Nursery Room tidak terlihat disini saat saya hendak buang hajat, bahkan guiding block di terminal bandara tidak ada. Dan tulisan braille pun tidak ada sama sekali. Padahal sangat penting untuk tunanetra berpergian secara mandiri tanpa meminta bantuan orang lain.  

 

Saat keluar dari terminal sudah ada supir yang menjemput bahkan tulisan saya dan Ibu Rachmita pun tertulis besar-besar dengan kertas HVS di tempat penjemputan, 10 menit muter-muterin mata mencari nama dan ketemulah si supir tersebut. Bersama-sama menuju Kampus Udayana, Bali untuk bertemu dan menjemput Ibu Putu Suariyani, Dosen sekaligus tim peneliti, perjalanan yang ditempuh memakan waktu sekitar 25 menit menuju kampus tersebut. Setelah itu saya dan yang lainnya menghabiskan waktu sebentar untuk kunjungan makan siang di D’Cost. Bayangkan makanan di Bali sulit sekali mencari yang halal. Pun kita harus jeli memilih makanan yang tepat untuk di makan, makanan ini memang banyak di Jakarta bagi saya sih, untuk yang satu ini, lokasinya cukup jauh. Oh ya, di dalam mobil juga ada sesajen untuk menghormati para leluhur supaya mendapatkan berkah dan perjalanan selamat. Gitu kata supirnya bilang, supir ini termasuk supir sewaan, yang siap mengantar wisatawan. Banyak sekali jasa penyewaan supir, mobil, bahkan motor. Jangan ditanya kenapa jarang ada angkot, hiiksss angkot ooh angkoottt…

 

Sebelum perjalanan makan siang saya menemukan satu pertanyaan yang ada di kepala. “Jalanan apakah yang akses di Bali?” ternyata saya menemukannya termasuk penunjuk jalan (peta tujuan lokasi / destinasi wisata) dan running teks untuk membantu tunarungu tepat di atas lampu merah lalu lintas jalan raya, akan tetapi running teks ini tidak bisa menyampaikan pesan dalam bentuk suara khusus bagi tunanetra. Sedangkan guiding block di jalan-jalan besar saya lihat di dalam mobil jarang sekali, paling hanya ada di tempat-tempat wisata yang sudah ada guiding block nya.

 

 Apa itu running teks? Apa itu guiding Block?

Running teks adalah tulisan berjalan yang sangat berguna bagi tunarungu untuk mendapatkan pesan dan informasi dapat juga digunakan sebagai sarana iklan. Sedangkan guiding block adalah jalur khusus untuk penyandang tunanetra di trotoar.

 

Petualangan perjalanan ke Desa Bengkala pun dimulai melalui Denpasar, melewati desa pertama ke desa selanjutnya (lupa gak inget jalan desa-desa ada yang desanya kering lalu hujan kering lalu hujan lagi ya begitulah langitnya galau merana (saya lampirkan foto peta perjalanan diakhir tulisan). Waktu yang ditempuh sekitar 4 jam lebih, kebetulan saya masih menggunakan jam Jakarta, belum mengganti jam waktu Bali jadi masih merasakan jetlag setelah turun dari pesawat. Banyak destinasi menarik saat saya melewati dari satu desa ke desa lainnya. Bahkan saya terkagum-kagum sampai pening melihat jalanan yang begitu sejuk dan indah pemandangannya, jarang-jarang loh mengagumi keindahan pesona desa melewati jalan dari satu bukit ke bukit lainnya. Untuk urusan buang hajat, toilet hanya bisa ditemukan di tempat pengisian bahan bakar atau SPBU. Di desa ini banyak sekali pura, bahkan tempat sajen untuk sembahyang di depan rumah atau tokopun ada. Banyak makanan Babi di desa ini dari satu desa ke desa banyak toko yang berjualan hidangan aneka Babi, atau bisa bertanya pada orang asli Bali makan toko makanan halal dan lokasi masjid yang ada di desa.

Untuk backpacker pemula yang ingin ke Bali, lebih baik siapkan list makanan untuk destinasi wisata jika kelaparan, tidak semua makanan itu banyak yang mengandung Babi. dan jika ingin menggunakan kendaraan murah ada baiknya pilihlah motor kalau sepeda ya jelas ngos-ngosan haha. Banyak kok lokasi penyewaan kendaraan yang bisa dipakai untuk tujuan jauh seperti mobil atau bisa juga sekaligus supirnya, biar tak bingung arah pulang. Pakaian tentunya jangan lupa, dan jangan bawa barang berat disana pakaian, aksesoris, makanan untuk oleh-oleh banyak yang murah-murah tentunya bikin kalap belanja, yakin deh. Saya type orang yang gak doyan belanja, jadi bisa dibilang seperlunya saja untuk keluarga di Jakarta. 

 

Balik lagi, ke cerita perjalanan ke Desa Bengkala, hal yang menarik saya temukan adalah lokasi danau bedugul, dan pantai Lovina. kiri kanan jalan saya banyak pepohonan bahkan melewati bukit-bukit dan tempat tinggalnya monyet asli di sana yang diliarkan (foto menyusul di hari terakhir keluar Desa Bengkala). Supir dan Bu Suar panggilan akrabnya pun menceritakan secara detail apa yang saya lewati selama perjalanan. Banyak sekali rumah-rumah dan toko-toko yang memiliki tempat dupa. Bahksan saya pun belajar menghormati budaya di sana. Tidak boleh sembarangan berbicara, dan juga pula tidak boleh berkata yang aneh-aneh. 

Setiba di Desa Bengkala, saya merasa gugup karena memang jarang bertemu dengan tunarungu yang menggunakan Bahasa Isyarat Kolok. Ada rasa bahagia bisa bertemu mereka untuk pertama kali, ada rasa syukur sama-sama memiliki keterbatasan komunikasi tidak menghalangi saya untuk memotivasi mereka. Bersyukur diberi kesempatan menginjakkan kaki di Desa ini. Desa yang di mana terdapat lebih dari 2.000 keluarga tunarungu, bayangkan dalam 1 desa ini bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan dunia luar? Itulah yang saya pikirkan, apakah mereka merasa terasing dengan dunia luar? Ternyata saya salah kaprah mereka sudah jauh lebih maju dan jauh lebih baik merintis kehidupannya dekat dengan peradaban modern serta teknologi. Walaupun masih terganjal bahasa komunikasi dan sebagiannya tidak ada yang melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi.

Saya menginap selama 3 hari 2 malam di Villa Ryos Garden House milik keponakan Bapak Kanta, selama di Villa ini saya bisa menghirup udara segar yang tidak bisa saya dapatkan selama di Jakarta, malam hingga pagi hari udaranya dingin sekali, sehingga memberikan kesejukan yang membuat saya butuh kehangatan (eciieee…), maksudnya minum yang hangat-hangat gitu loh. Sampai di Villa ini tak terasa waktu sudah menjelang malam, perbedaan waktu antara Jakarta dan Bali hanya beberapa menit. Hal peertama setelah menginjakkan kaki di sini adalah merujak!!! takjub melihat mangga-mangga yang sedang berbuah banyak. Rasanya? yang jelas gak ada yang matang alhasil setelah makan rujak pun saya jadi mules, hiksss...tentunya dengan buah berlimpah ini saya 'gak nolak deh rasa lelah selama perjalanan terbayar dengan kehadiran buah yang satu ini.  Buah yang saya foto ini namanya buah mangga golek rasanya cetaarrrr asem-asem gimana gitu. Jadi saya menikmati mangga yang sering ada dimana-mana yaitu mangga biasa dengan sentuhan minuman kelapa gading yang dipetik dari pohon rasanya tidak begitu manis berbeda dengan pohon kelapa muda lainnya. Lengkap mulesnya hahaha.

Di malam hari saya menikmati makan malam di tempat yang sudah disiapkan atau bahkan malah mereka sudah lebih dulu menikmati makanan (mungkin), makanan disni jelas sangat halal karena menunya menu Indonesia yang membuat saya terkesan adalah suasananya sangat temaram, dan sepi jauh dari keramaian ibukota, saya pun ngintip-ngintip saat mereka sudah menyiapkan hidangan makan malam. Sengaja coba berbaur soalnya bingung abis foto-foto, ngobrol orangnya itu-itu lagi jadi mencoba mengobrol dengan koki café, saya diceritakan sedikit kalau café ini mereka mendapatkan investasi hasil kerjasama dengan Australia, keren. Makanannya pun juga enak, saya pun menikmati malam hari pertama dengan sempurna, dan kedinginan yang pastinya saat tidur.

 

Peta yang saya lewati mulai dari Bandar udara I Gusti Ngurah Rai menuju Desa Bengkala, Singaraja

 

 

 

Bagaimana kisah hari kedua saya di Desa Bengkala??? Nantikan cerita seru lainnya di hari terakhir kepulangan saya yang hampir 1 grup WA dibuat deg-degan takut saya ketinggalan pesawat??? 

  • view 262

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    11 bulan yang lalu.
    Baru sekali ke Bali itu pas wisata zaman SMU yang udah sekian puluh tahun silam, hehe. Emang di sana banyak banget dupa sampe pusing nyiumnya mbak.. Btw, kok itu bisa mbak banyak banget yang tuna rungu di desa tersebut? Apa karena genetik atau apa ya? Penasarann...

    • Lihat 4 Respon

  • Anis 
    Anis 
    11 bulan yang lalu.
    yang kerudung merah baju hitam cantik.
    *eh

    -
    belum baca tulisannya mbak. panjaaaaang