SELAYANG PADANG UNIVERSITAS MERCU BUANA

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Juli 2016
Tentang Chairunisa

Tentang Chairunisa


Tidak ada alasan untuk menyerah atau putus asa hanya karena kekurangan pendengaran. Tuhan berusaha membuatku untuk menjadi orang yang BERANI & PANTANG MENYERAH dengan berkarya melalui tulisan

Kategori Acak

3.4 K Hak Cipta Terlindungi
SELAYANG PADANG UNIVERSITAS MERCU BUANA

Thumbail ini diambil tahun 2010, dengan 2 dosen dalam 1 kelas, Saya beneran nggak inget ini mata kuliah apa (tanyakan saja pada rumput yang bergoyang paling dia tahu jawabannya).

***

Siapa bilang tunarungu tidak bisa melakukan aksi yang menantang dan berguna untuk orang lain? Siapa bilang tunarungu tidak bisa berprestasi? Siapa bilang tunarungu tidak bisa berkomunikassi hanya menggunakan bahasa isyarat saja? Buktinya mereka mmenunjukkan diri untuk terus berkarya menciptakan masyarakat yang inklusi dan merubah mindset masyarakat tentang tunarungu. Mengubah pradigma para pendidik bahwa tunarungupun mampu bersekolah setinggi-tingginya.

Padahal Negara Indonesia memiliki beraneka ragam budaya, bahasa, dan adat istiadat. Negara akan menjamin UU No. 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas yang baru disahkan belum lama ini. Setiap penyandang disabilitas berhak mendapatkan dan layak memperjuangkan hak-haknya selama bertempat tinggal di Negaranya, dan mendapatkan perlindungan baik di bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan lainnya.

Chairunisa Eka adalah Lulusan dari Universitas Mercu Buana, Meruya, Jakarta. Saya sebagai penulis menyebutkan diri, karena ini tulisan yang saya buat sendiri bukan dari orang lain. Saya dulu masuk Jurusan Desain Interior pada tahun 2008. Sebelumnya saya tahun 2004 lulus dari sekolah umum, pernah masuk IKJ (Instut Kesenian Jakarta) jurusan Desain Seni Lukis, dan diterima. Selama mendapatkan pendidikan ini saya masuk di sekolah umum mulai dari TK hingga SMA. Banyak tantangan untuk bersekolah di sekolah umum yang membuat saya menyadari bahwa di luar sana masih banyak teman-teman maupun adik-adik tunarungu yang harus berjuang untuk dapat bersekolah setinggi-tingginya.

Dulu sebelum bergabung dengan Organisasi Yayasan Tunarungu Sehjira, saya lebih banyak melakukan aktivitas perkuliahan dan organisasi keagamaan di kampus. Selama berkuliah di sana ada sedikit hambatan, hanya sering miss komunikasi antara dosen, dan teman-teman. Untuk tugas-tugas kuliah bila saya mendapatkan kesulitan menangkap materi yang diajarkan biasanya saya akan bertanya dan meminta ulang penjelasan dosen di akhir materi perkuliahan, jadi kalau ada tugas yang harus dikumpulkan saya bisa lebih mengerti, dan untuk perlengkapan tugas-tugas kuliah saya selalu bertanya ke teman-teman yang lain, agar tidak ada ketertinggalan mata kuliah.

Dulu sebelum ada media sosial sebanyak sekarang, yang dilakukan untuk berkomunikasi dengan teman-teman kuliah serta dosen salah satunya adalah menggunakan e-mail, facebook, dan sms forward/ telepon.

Selama saya berkuliah di sana, saya tidak punya prestasi, saya sama seperti dengan teman-teman lainnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk kuliah. Jadi saya merasa tertinggal dan prestasi saya biasa saja. Ternyata di universitas tersebut saya bukan orang pertama yang kuliah di sana. Sebelum-sebelumnya memang sudah ada tunarungu yang berkuliah di sana.

Saya ingin jika teman-teman memasuki perkuliahan di Universitas harus bisa menempuh pendidikan dengan baik dan tidak gampang putus asa serta menyerah. Karena pendidikan hak untuk semua, siapapun bisa menempuh pendidikan tinggi dan masuk di fakultas yang sesuai dengan kemampuannya, di dorong dengan kekuatan doa orang tua dan keluarga. Kemampuan setiap tunarungu berbeda tergantung bagaimana dia mengantisipasinya, serta memperjuangkan diri untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang-orang baru yang berbeda. Menjadi yang terbaik di Universitas dambaan semua mahasiswa yakni berprestasi, di kenal, dan selalu di kenang.

Di sini saya akan menjelaskan beberapa pertanyaan tentang Hak tunarungu di Universitas saya dulu, agar seluruh elemen civitas akademika, rektor, dan dekan dapat mengubah pendidikan ini menjadi lebih aksibel dan terjamin. Mahasiswa tunarungu pun dapat menikmati pendidikannya di sana hingga lulus kuliah.  

 

Bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa di salah satu Universitas tersebut?

Tidak begitu sulit, yang jadi permasalahan di sana adalah kesulitan menangkap sebuah kuis atau pembicaraan yang diberikan dosen secara verbal. Sehingga saya tidak mendapatkan poin penting dari setiap penyampaian yang diberikan dosen. Sangat terbantu dengan adanya ragam bahasa visual, termasuk presentasi menggunakan komputer, dan LCD yang mudah di mengerti. Dari sini saya menyadari bahwa kesulitan saya sekarang bagi tunarungu di kampus saya adalah membutuhkan penerjemah bahasa isyarat untuk menerjemahkan setiap mengikuti materi perkuliahan. Saya menginginkan kedepannya Universitas ini memiliki penerjemah bahasa isyarat untuk membantu tunarungu. Sebisanya saat sidangpun membutuhkan penerjemah, karena sudah ada jaminan di dalam UU. Untuk itu Universitas dapat memahami akses dan memfasilitasi tunarungu untuk dapat menempuh pendidikan dengan baik.
 

Apakah Universitas tersebut sudah memiliki PSLD (Pusat Studi Layanan Disabilitas)?

Belum ada PSLD, padahal tunarungu di Universitas tersebut sudah banyak, tetapi masih minim akses dan informasi. Padahal keberadaan PSLD menjadi ujung tombak pelaksana terwujudnya universitas yang inklusif bagi penyandang disabilitas tidak hanya tunarungu saja. Untuk membuka PSLD belum terlaksana di kampus saya hingga saat ini, padahal sudah diajukkan tetapi masih belum ada titik temu dan pembukaan informasi tentang PSLD di kampus.
 

Apakah Universitas tersebut sudah termasuk Universitas inklusi?

Kalau menurut saya, inklusi itu untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang akseibel bagi penyandang disabilitas. Terutama akses informasi, akses menuju kampus, akses menuju ruang kelas, dan akses lainnya yang masih jauh dari kata aksibel. Karena masih banyak lingkungan kampus yang masih ada hambatan-hambatan yang harus di ubah pengelola kampus, seperti akses untuk ke bank tidak ada ram atau lift khusus untuk tunadaksa, tidak ada ram menuju ruang kelas karena masih banyak tangga di sana sini. Padahal saat itu kampus sedang dalam penambahan ruang baru dan merenovasi lingkungan kampus untuk menjadi lebih baik. Kenyataannya saya melihat sendiri belum begitu akses. Dan masih banyak Pekerjaan-pekerjaan lainnya bagi rektor dan Universitas agar menjadikan kampus yang inklusif. 
 

Bagaimana tanggapan teman-teman atau adik-adik yang sedang berkuliah di Universitas tersebut?

Banyak dari teman-teman / adik-adik yang pernah bercerita langsung ke saya mereka kesulitan mendapatkan akses mata kuliah di semester baru, pembayaran uang semester, hingga dosen yang menyebalkan dan tidak mau membantu apabila teman/ adik saya kesulitan informasi, biasanya mereka minta bantuan saya yang sudah alumni atau juga bertanya kepada Ibu Rachmita Maun harahap yang merupakan karyawan dan dosen di sana. Ibu Mitha panggilan akrabnya merupakan tunarungu pertama yang ada di sana, mereka dapat dengan mudah mendapatkan fasilitas dan informasi mengenai perkuliahan.
 

Harapan yang ingin saya sampaikan kepada Universitas Mercu Buana!

Ingin nantinya menjadi sebuah Universitas inklusi yang memadai dari segi fasilitas sarana dan prasarana yang baik. Memberikan kemudahan dan akses bagi setiap penyandang disabilitas untuk dapat menjadi orang terpandang dan dihormati di lingkungan kampus. Seluruh civitas akademika dilibatkan untuk menjadi fasilitator/ Voolunter bahasa isyarat di lingkungan kampus dengan dibiayai oleh pihak kampus bukan tunarungu, serta segera membuka PSLD sebagai pusat layanan bagi disabilitas untuk dapat berkembang di dunia kampus sebagaimana mestinya dan mendapatkan hak-haknya.