Belajar Untuk Melupakan

Chairunisa Eka
Karya Chairunisa Eka  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Juli 2016
Belajar Untuk Melupakan

Malam ini adalah hari yang berat, tak mampu untuk menutup mata menikmati malam tidur yang panjang. Aku tergoda untuk menulis apa yang ada di pikiran akhir-akhir ini. Sungguh aku bingung harus merangkai tulisan awal ini harus dari mana. 

 

Entahlah semua yang telah aku lewati bagai tak berkesesudahan. Ingin sekali rasanya aku memeluk bulan namun apa daya rindu ini tak sampai dalam purnama yang benderang. Setiap kali aku ingin bertanya bintang di langit sana terus menari-nari untuk menghiburku. Menguburkan rasa sedihku yang berlaurut-larut tak ada artinya. 

 

Tempat bersandarku menorehkan semua luka yang menjadi cerita, dia ruang kosong yang bernama tembok untuk aku bagikan dalam rangkaian kisah yang sebenarnya aku benci. Rangkaian kata dusta dan terkadang pula kejujuran mencoba merobohkan takdir.

 

Bisakah aku katakan padamu wahai sang penunggu dermaga. Aku tahu kapan aku harus kembali mencoba lembar demi lembar haluan untuk mencari sandaran cinta yang baru. Meskipun aku harus mencari di tempat lain yang tak ku kenal sebelumnya. 

 

Luar biasanya ketika kamu hadir kembali, rasanya aku muak untuk terus mencaci maki diri meluapkan segala emosi yang tak pernah habis sampai saat ini. Sebegitu sempurnanya jalan yang pernah aku lewati kadang penuh berliku berkelok dan bahkan hampir menewaskan diriku ke jurang yang salah. 

 

Sampai di mana kini aku sekarang tetap aku yang apa adanya, belajar untuk melupakan siapa dan apa yang sudah terjadi. Saat ini matahari pun tak bahagia melihat awan yang tak lagi biru membara, ada raut kesedihan yang terus merintikkan kepunahan dalam balutan asa.

 

Aku percaya siapapun kamu cobalah untuk merelakan kepergianku, meskipun tak ikhlas. Dan aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk berhasil melewati semua tanpamu. Tak apa, meski langit ini mendung namamu akan selalu ada terus di dalam hati walaupun kita tak lagi bersama. Namun ingatlah kita pernah melewati badai bersama.

Jakarta, 22 Juli 2016

-C-

 

*Thumbail Sunny